Skip to main content

Memory

Seorang gadis kecil bertanya pada ibunya, "Bu, hendak jadi apakah aku ketika dewasa nanti?"

Sang Ibu dengan lembut tersenyum seraya mengajak sang anak mengalihkan pandangan. Mereka berdiri berhadapan dengan hamparan perbukitan hijau nan luas, membentang indah bersisian dengan biru danau tanpa garis batas. Lantas sang Ibu mulai berkisah..

***

Nak, lihatkah kau pada bukit kecil di sudut sana? Sang anak mengangguk di kaki bukit itu, hiduplah seorang anak gembala. Sehari-harinya membawa kerbau milik ayahnya, pergi mencari rerumputan yang tumbuh subur di padang gembala. Anak kecil itu bermimpi suatu hari, akan pergi menjelajahi Bumi, dengan menumpang seekor burung besi. Dia tak tahu, nak.. bahwa burung besi bukanlah seekor burung. Dipikirnya burung besi, sama dengan kerbau yang sedang ia tumpangi.

Sambil bersiul setiap hari ia menunggui para kerbau menikmati santapannya. 'Krauk.. Krauk.. Krauk..' begitu terdengar oleh sang anak. Suara renyah, yang selalu mampu membuatnya lapar. Jika matahari telah tinggi, ia akan berlari menghampiri ladang padi milik ayahnya. Menyantap nasi putih yang mengepul panas, bersama lauk pauk sederhana namun tiada tara nikmatnya.

Kau tahu.. mimpinya hanya satu: melihat dunia lain selain padang rumput ini. Ia ingin tahu, seperti apa wajah ibu kota. Seperti apa rumah bapak presiden. Seperti apa rasanya menumpangi tumpangan yang tidak berasal dari hewan. Mimpinya melambung tinggi, namun teramat sederhana. Suatu hari, ia berhasil pergi membawa sekantong mimpi. Dengan iringan doa dari Sang Ibu, anak kecil itu pergi menjauhi padang rumput dan tumbuh dewasa. Kini, ia tak lagi memimpikan menumpangi burung besi. Tak lagi membayangkan seperti apa bentuk rumah bapak presiden. Kini ia telah berubah, bukan lagi seorang anak yang memimpi. Ia menjelma menjadi seorang dewasa yang penuh rindu.

Kini keinginannya hanya satu: ia ingin kembali melihat gembalanya. Menumpangi punggung kerbau, bersandar malas sambil bersiul-siul. Ia rindu pada bau rumput yang terbentang luas. Bukit-bukit yang ia naiki sambil berlari, ia rindu tertawa lepas dengan kekhawatiran sebatas dimarahi bapak ibu.

Mimpinya kembali sederhana. Ia ingin pulang. Ia rindu kampung halaman. Ia ingin menikmati kembali masa kecilnya, yang penuh dengan suapan nasi hangat.

Ibu itu kini mengalihkan pandangan dari hamparan perbukitan, menatap lembut wajah anaknya yang masih penasaran.

Kau bebas menginginkan apa saja. Kau boleh menjadi siapapun yang kau suka. Tapi ingatlah, sayang. Bahwa keinginan-keinginanmu, akan selalu sederhana. Kini kau putri kecil Ibu yang manis dan menggemaskan, besok lusa kau akan menjadi wanita mandiri cerdas luar biasa. Keinginanmu, apapun itu, pasti akan selalu sederhana. 

Untuk itu Ibu berpesan padamu, nak.. Nikmatilah hal-hal sederhana di hadapanmu saat ini. Detik ini, akan berlalu dan tidak akan pernah kembali. Kau bisa melewatinya dengan nikmat dan syukur tanpa batas, atau dengan sambil lalu, lewat begitu saja. Tapi suatu nanti kelak kau pasti akan memutar kembali memori lama mu ini, dan merasakan rindu yang membuncah. Hari ini, detik ini, kau sedang menentukan apa yang kelak akan kau rasakan, jika rekaman memori ini melintas di hadapmu kembali; menyesali dan ingin kembali, ataukah tersenyum sambil melambai pergi karena tahu waktu ini pernah kau nikmati.

***

Bogor, 24 Juni 2019

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …