Skip to main content

Asal Muasal Domain Minimalist Indonesia dot com

Sebuah pengingat datang dari Rumah Web Indonesia, tempat saya membeli domain ini, untuk membayar tagihan yang jatuh tempo pada tanggal 5 Juli 2019. Berarti, dalam tiga puluh hari sejak pemberitahuan itu datang, web ini genap berusia dua tahun. Maka dari itu, malam ini saya ingin menuliskan tentang awal kepindahan saya dari blog lama (hsuciandari.com) ke sini, yang sebenarnya di dasari oleh rasa sakit hati yang sangat perih. #halah

***

Juli, 2017

Saya sedang duduk di ruang tengah bersama adik dan orang tua saya, menonton televisi yang sebenarnya tidak kami tonton, karena kami terlalu sibuk dengan ponsel masing-masing. Televisi dibiarkan menyala hanya agar ada suara yang menemani hening kami yang tersedot di layar yang kami genggam.

Sebuah gambar melintas, datangnya dari seseorang yang diam-diam saya taksir. Saat itu baru satu tahun saya mengenalnya dan sudah merasa ada klik yang mengganjal. Tapi saya terlalu takut untuk mengungkapkan duluan, kalau-kalau ini hanya perasaan sementara non permanen, yang sifatnya pelarian karena terlalu takut untuk sendiri. Gambar itu lumayan menyakitkan hati, karena dia -orang yang saya taksir diam-diam itu- memamerkan foto dengan wajah cantik tersenyum manis sambil menunduk dan diberi judul foto dengan amat romantis. Singkat, tapi cukup untuk membuat hati saya seperti dihantam palu, sesak bukan main karena harus menahan tangis.

Malam itu juga saya menyelesaikan rangkaian serial F.R.I.E.N.D.S, yang 10 season lamanya. Jadi bertubi-tubi lah kesedihan yang saya rasakan. Saking sedih dan sesaknya, tapi tidak boleh menangis karena tidak boleh terlihat sedih, saya sekuat tenaga mengalihkan pikiran kepada hal lain: Apa yang akan saya lakukan sepulang dari sini. Waktu itu suasananya miriplah dengan sekarang, lagi lebaran. Dan saya sudah menghabiskan waktu cukup lama di rumah orang tua, sehingga punya cukup waktu untuk mengatur ulang strategi apa langkah yang harus saya ambil sekembalinya ke Bogor nanti. Melanjutkan pekerjaan dan tanggung jawab, tentu saja. Tapi harus ada hal lain. Hal yang bisa membantu saya mengalihkan pikiran dari urusan tentang percintaan yang entah kenapa makin kesini makin menimbulkan tanda tanya.

Saya habiskan malam itu untuk browsing, dan menemukan dua hal: Scientific basis of Astrology, dan Minimalism.

Minimalism sudah saya dengar lebih dulu di awal Januari, sepulang dari Ogan Komering Ilir, di kedai kopi waralaba di jantung ibukota. OKI merupakan salah satu perjalanan yang membuka pikiran saya akan kebesaran Tuhan, yang membuat saya jatuh cinta berulang kali pada kebaikan manusia, dan kebaikan Tuhan melalui manusia. Saya menceritakan pengalaman perjalanan itu pada dua orang kawan yang juga saya temui dalam perjalanan -dalam suatu pelatihan di Bali- dan mereka adalah dua perempuan hebat dengan latar belakang ilmu yang berbeda dengan saya, suku dan agama pun kami berbeda. Merekalah yang mengenalkan saya pada minimalism pertama kali, dan cerita tentang itu pernah saya tulis di awal blog ini.

Selepas scrolling down tanpa akhir dari web ke web, blog ke blog, video ke video, akhirnya saya memutuskan untuk membeli domain baru, dan menghapus domain lama. Saya putuskan, di domain baru ini yang saya tulis hanya tentang Minimalism, Decluttering, dan Simple lifestyle. Walaupun kenyataannya, tetap saja saya tulis hal-hal lain juga. Yaa semacam curcol-curcol tak penting lah.

Semangat untuk menulis tentang Minimalism ini yang kemudian menjaga saya untuk tetap 'hidup'. Karena setidaknya, saya punya rencana untuk esok hari. Saya tahu apa yang setidaknya ingin saya lakukan, dan punya motivasi untuk menemui matahari. Saya kemudian memperbanyak membaca artikel demi artikel tentang minimalism, mempelajari cara setiap orang mempraktekkannya, yang berbeda-beda, dan itu lebih dari cukup untuk membuat saya move on hanya dalam hitungan hari. Dalam dua hari, saya sudah bisa melepaskan perasaan yang menggantungi saya pada seseorang yang tidak jelas siapa dia.. dan sudah bisa meng-unfollow instagramnya.

Setelah membeli domain, saya bertekad untuk pindah tempat tinggal. Waktu itu rumah yang sedang saya beli belum selesai dibangun, jadi saya masih tinggal di kost-kostan. Di perkirakan rumah itu akan selesai dibangun dalam 6-7 bulan ke depan. Jadi, saya memutuskan untuk pindah ke rumah kontrakan, yang kebetulan (walau tidak ada sesuatu yang kebetulan) ditawari oleh seorang kakak kelas. Kami bertemu karena pekerjaan, walaupun sebenarnya tidak pernah benar-benar bekerja sama, tapi karena saya orangnya sok akrab, jadilah kami berkawan. Saya mengontaknya, bertanya apakah tawaran tuk ngontrak bareng masih ada, dia bilang walau sudah hampir setahun tinggal disitu, tapi masih ada kamar kosong, saya meminta tuk pindah, dia setuju, dan pembayaran akan saya bayarkan padanya setiap bulan.

Dan selanjutnya, cerita itu bergulir sebagaimana yang saya tuliskan di blog ini, berakhir di tulisan ini: A Wedding speech for D&A.

Begitulah awalnya, halaman ini kemudian menjadi teman setia saya, tempat saya mencurah-curahkan pikiran yang tidak bisa saya diskusikan pada sembarang orang, karena kebanyakan hanya tawa dan ejekan yang saya dapat.

***

Juni, 2019

Dua tahun selepas malam yang penuh pembelajaran itu.. saya mendapati diri berada di posisi yang serupa, dengan cara pandang yang benar-benar berbeda. Jika saya lihat kebelakang, ingin rasanya saya mampu menulis lirik lagu atau puisi yang syahdu, untuk bisa menggambarkan rasa terimakasih saya pada lembutnya cara Allah menuntun saya untuk 'pulang'.

Meskipun sedari kecil saya sudah dikenalkan dengan Allah, diajarkan untuk sholat, puasa dan beribadah, untuk selalu berdoa dan memohon pada Allah jika punya keinginan, tapi saya tidak pernah diajarkan bagaimana rasanya dekat dengan Allah. Bagaimana cara menemukan Allah, dan bagaimana cara agar bisa selalu yakin dengan rencana Allah.

Melalui serangkaian cerita yang saya tempuh sejak Vietnam, sejak backpackeran, lalu jatuh hati pada seseorang diam-diam, dan kemudian berhasil mengentaskan perasaan itu diam-diam pula, saya menjadi sedikit memahami.. bahwa ini semua adalah cara Allah agar saya kembali 'pulang'.

Sejak pindah rumah, belajar mengenai minimalism, menonton video-video TED talk dan jajarannya, saya akhirnya menemukan jawaban justru dari video-video ceramah yang tidak lazim saya tonton. Mempelajari banyak hal di luar sana, yang sebenarnya di agama sendiri juga sudah diajarkan sejak dulu kala.

Allah Yang Maha Mengetahui cara menuntun saya, cara mengajari saya untuk menemukan tujuan sesuai fitrah. Saya yang dulu termasuk feminis garis keras, yang menolak pembedaan gender dan menuntut persamaan hak, kini mundur teratur dan menyadari bahwa menentang fitrah bukan hal mudah karena memang bukan sesuatu yang perlu untuk dilakukan.

Saya masih berambisi untuk mengubah dunia, ya. Saya masih ingin untuk berkontribusi besar pada lingkungan, ya. Tapi saya menemukan cara lain, yang lebih mulia yang paling penting: lebih disukai oleh Allah.

Dalam dua tahun selepas malam itu saya kemudian belajar bahwa, hal yang paling penting dalam hidup di dunia ini adalah mendapat suka-Nya Allah, dan bukan murka-Nya. Apapun asal Allah senang.

Bagaimana caranya?
Dengan menambatkan hati, untuk bermimpi menjadi bagian dari ibu yang melahirkan Generasi Penakluk Roma. Saya memindahkan mimpi saya, dari menjadi seorang perempuan berkarir (yang masih abu-abu juga sebenarnya karir seperti apa yang saya inginkan waktu itu), menjadi seorang perempuan berkarir dalam rumah tangga yaitu menjadi seorang ibu.

Menjadi seorang ibu yang kelak akan menceritakan kisah-kisah kepahlawanan para Nabi pada anak-anaknya. Yang menjadikan Khulafaur Rasyidin sebagai pengantar tidur dan penyuntik semangat agar anak-anak mau menirukan kepahlawanan mereka. Yang menuturkan cerita tentang kebaikan Allah ketimbang amarah dan azab Allah jika mereka menolak untuk beribadah. (Semoga Allah mudahkan cita-cita ini).

Meski saya tahu bukan mudah itu semua tuk dilakoni, karena tentu sebagai perempuan saya akan dibebani dengan tanggung jawab lain, mulai dari urusan kebersihan rumah sampai isi perut seisi rumah, tapi saya yakin, dengan kekuatan yang Allah beri, yang sekarang Allah sedang latih saya untuk bisa berada di level itu, pasti dengan ijin-Nya saya akan mampu.

Memiliki mimpi tersebut, menjadikan waktu 'kosong' saya semakin berarti. Saya bersyukur diberi 'kekosongan' ini karena dengan begitu saya jadi punya banyak waktu untuk mempelajari banyak hal yang sempat luput. Atau hal-hal yang saya pikir saya ketahui, padahal hanya sedikit sekali yang saya ketahui. Semakin di gali, maka semakin banyak yang saya tahu harus saya pelajari. Untuk itu saya bersyukur sekali masih diberi sendiri oleh Allah, agar bisa banyak-banyak menggali ilmu, agar nanti siap ketika disuruh menjadi madrasah, bagi pahlawan-pahlawan kecil yang haus akan pengetahuan.

Jika dilihat kebelakang lagi, apabila dua tahun yang lalu Allah langsung 'memukul' saya dengan kesadaran ini, tentu nalar saya menolak mentah-mentah. Luka hati saya terlalu angkuh untuk serta merta mengakui bahwa saya ini perempuan, yang nantinya akan berumahtangga, dan mungkin akan mengorbankan mimpi-mimpi saya. Karena reaksi pertama yang timbul ketika seorang perempuan sakit hati, biasanya adalah untuk membalaskan dendam dengan menjadi sukses sesukses mungkin. Belajar setinggi-tingginya, meraih jabatan setinggi-tingginya, dan melupakan dunia percintaan yang hanya akan membawa sakit hati.

Cara Allah menuntun saya untuk terhindar dari pikiran seperti itu.. membuat saya teramat bersyukur saya punya Allah. Maha Lembut.. Maha Merencana.

***

Kenapa generasi penakluk Roma?
Karena sabda Nabi tidak pernah berbohong. Dan kita lihat sendiri bagaimana geliat perkembangan Islam saat ini, yang semakin ditekan justru semakin berkembang. Butuh waktu kurang lebih 800 tahun sejak Rasulullah SAW bersabda bahwa kota Konstantinopel dan Roma akan jatuh ke tangan kaum Muslim, untuk kemudian Kota Konstantinopel benar-benar ditaklukan oleh Muhammad Al-Fatih. Jarak dari pembebasan Konstantinopel ke tahun kita sekarang ini baru 566 tahun, belum genap 6 abad. Jika Al-Fatih bisa menyelesaikannya setelah upaya terus menerus dari generasi ke generasi, ya bisa jadi kita pun akan butuh waktu kurang lebih sama dengan pencapaian beliau. Jadi.. masih ada waktu. Bagi perempuan seperti saya, yang jelas tidak begitu berguna di medan peperangan, maka melahirkan para pahlawan yang kelak akan berada di baris terdepan, pahalanya Insya Allah sama dengan jihad.

Jangankan disuruh perang, disuruh latihan demo pas masa orientasi kampus saja saya pingsan..
Heran juga kenapa bisa lolos satu tahun masa pembinaan pecinta alam..
Ternyata saya lebih bingung tentang jati diri saya sendiri ketimbang kebingungan saya tentang alam semesta, apalagi astrologi. So many things to learn.. so little time. 

***

Minimalism, sebuah prinsip yang mengawali saya pada tujuan ini, tidak akan saya tinggalkan. Meskipun kesannya kebarat-baratan, tapi Islam pun punya contoh minimalist, walau dalam bahasa berbeda, yaitu Zuhud.

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik seorang yang zuhud. Disebutkan bahwa benda yang beliau miliki sepeninggal beliau, hanya sedikit sekali. Karena beliau, of all people, tahu bahwa tidak ada yang penting di dunia ini, selain Ridho Allah, ampunan Allah, dan berimannya umat manusia. Agar kita semua sama-sama selamat di negeri akhirat. Negeri di mana selamanya adalah satu-satunya waktu yang kita tahu. Semoga Allah senantiasa mengampuni kita, karena hanya dengan ampunan-Nya kita bisa terjauhkan dari azab api neraka.

Jadi setelah malam ini, saya akan menutup laptop dan kembali ke kamar tidur, menjalani dua malam terakhir di rumah orang tua, dan kembali ke Bogor dengan setangkup tanggung jawab yang harus diselesaikan. Lalu tujuan baru apa yang ingin saya emban? kali ini terus terang saya belum tahu. Tidak seyakin dua tahun lalu kala melangkah menuju kabin pesawat, hati saya riang dengan rencana pindah rumah and the idea of having a housemate for the first time in my life. Kali ini, saya hanya akan membawa sedikit bekal dan cita-cita. Untuk memberesi apa yang telah saya mulai, lalu mulai merancang apa yang ingin saya selesaikan sejak kecil.

***

Merauke, 9 Juni 2019
Jika ada yang keberatan dengan istilah Generasi Penakluk Roma yang saya tulis disini, saya akan senang sekali untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, kalau-kalau itu akan menenangkan hati kalian. Tapi satu hal tentang argumen dan pendapat; kalian harus punya dasar yang kuat untuk bisa menentang ataupun mendukung satu mosi. Setidaknya itu yang saya pelajari di kelas Debat bersama Association of Critical Thinking saat SMA dulu.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert