Skip to main content

Ramadan adalah Harapan

Saya sadar ada banyak sekali penulisan memalukan di blog ini setiap kali saya menulis dalam Bahasa Inggris. Saya memang begitu sejak dulu. Pede sekali berbahasa asing, meski tidak begitu mahir. Saya masih ingat sekali, waktu masih kecil, kelas 1 SD.. saat itu kami tinggal di Bogor, di rumah kontrakan sempit yang banyak anak kecil. Saya punya teman main, tapi tidak banyak karena mereka laki-laki semua. Sebagai makhluk yang teralienasi, saya sudah mulai membiasakan diri untuk bermain sendiri. Beruntung saya punya teman khayalan, dua orang, yang sudah menemani sejak usia saya lima tahun.

Namanya Hanas dan Lana, mereka berasal dari awan. Mereka ini selalu ada untuk mengajak saya bermain. Tapi mereka tidak bisa berbahasa Bumi. Jadi, setiap kali saya bermain dengan mereka, saya harus menggunakan bahasa asing. Benar-benar bahasa asing. Acuciwotelikuha, etc etc. Saya berbicara sendiri, dengan bahasa asing tersebut, menulis surat dengan tulisan, yang sebetulnya lebih mirip jika disebut sebagai gambar monitor denyut jantung.

Mungkin dari situ ayah saya melihat bakat terpendam saya, dan mulai mengkhususkan saya untuk bisa berbahasa asing beneran. Meski bisa masih terlalu umum, tapi over confidence saya masih melekat. Susah lepas.

***

Ceramah yang di upload oleh channel Bayyinah Institute menampilkan Nouman Ali Khan berbicara tentang a loan to Allah. Isi ceramahnya berbicara seputar sedekah, keutamaan berinfaq, and so on, and so forth. Yang ada di pikiran saya justru, kenapa Allah begitu menekankan pentingnya memberi, pentingnya bersedekah..? Apa sebenarnya dibalik perintah zakat?

Saya sering mendengar tentang, berzakat membersihkan harta, berbagi, membantu yang kurang mampu, berbuat baik, mendapat pahala,.

But still.. why? 

Setelah melalui lamunan pemikiran panjang lumayan panjang, akhirnya saya menemukan satu simpul yang mengaitkan semua keutamaan itu: detaching. 

Manusia diutus ke Bumi sebagai sebuah hukuman. Diusir dari surga yang penuh kenikmatan, karena melanggar satu larangan. Di Bumi, kehidupan yang dijalani adalah kehidupan hukuman, yang tentu punya banyak tantangan serta godaan. Salah satu tantangannya adalah menjadikan dunia ini sebagai satu-satunya keindahan, sehingga lupa dengan keindahan di surga. Sudah menjadi sifat manusia untuk mudah sekali melekat dengan apa-apa yang membat dia senang, dan Bumi ini punya banyak cara untuk membuat manusia merasa betah dan tidak ingin pergi.

Manifestasi dari kelekatan itu terwujud dari apa yang dimiliki, jika dia punya banyak uang, maka dia akan senang, uang membuatnya betah hidup di Bumi karena merasa memiliki segalanya.

Untuk menjaga supaya manusia tetap berada di jalur yang benar, Allah memberi petunjuk, caranya adalah dengan bersedekah. Tidak sampai disitu, Allah juga menekankan bahwa pemberian yang paling utama adalah memberi barang yang paling kita sayangi. Karena ada aksi melepaskan ikatan ketika seseorang memberikan apa yang dia sukai. Detaching inilah yang sebetulnya membantu manusia untuk pelan-pelan mengingat kembali, bahwa Bumi ini adalah jalan paling pendek yang akan ditempuh untuk pulang. Pulang ke mana? Ke Surga, di mana semua ruh kita berasal. Allah pun tidak ingin hambanya tersesat, jalan pulang ke kanan, dia malah belok kiri, terus lurus ke neraka.

Donating as the form of detaching, can also make other people happy. Dan di ceramah lain saya pernah mendengar, bahwa membuat orang lain bahagia adalah salah satu sumber rejeki. (Makanya komedian atau artis penghibur bayarannya mahal, karena mereka bikin orang bahagia dan terhibur kali ya, haha). Hence the promise of Allah, untuk melipat gandakan sedekah menjadi 10 kali lipat dari yang diberikan.

Detaching, juga menghilangkan perasaan memiliki berlebihan, posesif lah. Kalau sudah memberi, mengeluarkan apa yang ada di dalam kantong, berarti seseorang telah melalui perjalanan batin yang menyadarkan dia bahwa sebenarnya ini semua bukan miliknya, melainkan hanya titipan. Pikiran seperti itu akan membantunya untuk melawan penyakit hati yang paling buruk: jealousy. 

Orang jealous itu karena apa coba? Karena mereka tidak bahagia dengan yang dimiliki, selalu membanding-bandingkan, dan terlalu terikat dengan hal-hal fisik duniawi. Jealousy juga yang membuat iblis dikutuk selama-lamanya. Yang membuat Yahudi benci dengan Islam (karena mereka pikir Rasul terakhir yang diutus adalah dari kalangan mereka, tapi kenyataan berkata lain), dan yang membuat Iblis berbahagia di dasar lautan jika ada dua manusia yang menikah berhasil bercerai. Bahaya cemburu itu. Keterikatan luar biasa terhadap dunia bisa menimbulkan cemburu yang teramat sangat, karena orang lain akan selalu lebih dari kita.

Ini kaitannya erat dengan praktek minimalism, karena inti utama dari minimalism adalah untuk bisa hidup se-minimal mungkin dari benda-benda yang menumpuk, supaya bisa fokus ke hal lain yang lebih besar untuk dipikirkan, ketimbang hanya memikirkan besok beli baju model apa lagi, beli kursi model apa lagi, padahal gak pernah dipake.

***

Ramadan adalah harapan, setidaknya bagi jiwa yang masih berharap untuk dimaafkan. Kadang ada juga orang yang merasa dosanya udah terlanjur besar, jadi beyond help, jadi yasudah saja keep going. 

Sungguh ya, kalau kita diberi alarm setiap kali melakukan dosa besar, pasti kita sudah malu dan ketakutan karena tahu hukuman bagi dosa besar. Dan mudah sekali bagi kita tuk berbuat dosa besar, seringan kapas. Bahkan dosa besar itu juga yang bisa menghalangi kita dari keberkahan Allah, dan doa-doa yang kita bisikkan. Setiap orang kan pasti punya doa, punya keinginan yang dia harap sekali tuk terwujud, jika dosa besar itu yang menghalangi jalan dari terwujudnya doa, sungguh malang sekali hidupmu, nak..

Tubuh kita berasal dari tanah, makanya betah berada di Bumi dan melakukan hal-hal ke-Bumi-an. Tapi Ruh kita berasal dari langit, dari sisi Allah, makanya dia rindu sekali untuk kembali ke sana. Dan dia tahu, untuk bisa kembali ke sana, dia harus berbuat baik dan menjauhi larangan-Nya. Maka setiap kali berbuat dosa, Ruh selalu gelisah dan menyuruh tubuh untuk berhenti. Tubuh yang baik akan mudah mendengar peringatan itu, langsung bertaubat, memohon ampun. Tubuh yang sudah terlanjur rusak, akan semakin membungkam suara Ruh yang makin kecil dan tidak terdengar.

Ramadan adalah harapan, tempat para Ruh yang ada di dalam tubuh baik untuk memohon ampunan. Jika disertai dengan sedekah yang terus menerus, maka tubuh akan terbiasa untuk melepaskan ikatan dari Bumi ini satu persatu, pelan pelan. Jika sudah begitu, ringanlah sudah langkah kita untuk memasuki tahapan selanjutnya dalam hidup. Bisa apa saja bentuknya, karena perjalanan ini tidak akan berhenti sampai di kubur saja. Masih ada iliyyin atau sijjin, masih ada hari kebangkitan, masih ada hari perhitungan, yang ribuan tahun lamanya. Kita akan berjalan, di atas Bumi yang milyaran kali lebih besar kelak jika dibangkitkan, hidup di Bumi mungkin hanya setengah hari terasa di sana.

Tidak penting apa yang sudah kita capai hingga hari ini, jika itu tidak membuat kita jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga aku, kamu, kita semua, menjadi orang-orang yang senantiasa berkompetisi dengan diri sendiri, terus memperbaiki diri, hingga nanti pantas untuk berhadapan dengan Allah, dan tersenyum berkata, Ya Allah.. I believe in you all these times. 

***

Bogor, 1 Ramadan 1440 H
Sahabat saya, namanya Ilma pernah bilang, keinginan kita akan terwujud, jika apa yang kita inginkan berada di garis yang sama dengan apa yang Allah inginkan. Lalu saya berkesimpulan sendiri, since we never know what Allah wants, itu adalah cara kita supaya berpasrah dan percaya pada kehendak-Nya. Pasti indah.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert