Skip to main content

Jalan Hijrah

Kesannya sekarang ini sudah banyak pemuda-pemudi yang memilih jalan hijrah. Artis-artis, politisi, sampai anak-anak muda biasa yang kita kenal dalam sepermainan. Yang dulunya rambut gondrong awut-awutan gak karuan, sekarang memelihara jenggot dan bercelana cingkrang. Cewek yang dulu dikenal suka gonta-ganti pacar, sekarang berjubah panjang lebar dan berwarna gelap.

Di luar dari mereka yang memilih jalan hijrah, banyak juga yang nyinyir. Ya wajarlah ya, apalah arti sebuah gerakan tanpa nyinyiran pemirsa. Ada yang bilang itu cuma musiman, ada yang bilang tidak semestinya diumbar, bahkan ada yang bilang itu cuma pencitraan.

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi tentang jalan hijrah yang bisa ditemukan oleh setiap orang. Termasuk.. kamu. :)

***

'The only constant is change', bahwa perubahan adalah pasti terjadi. Setiap orang mengalami fase hidup berbeda dan dia akan bertransformasi dari satu pribadi ke pribadi lain tanpa disadari. Kalau kita lihat orang yang begitu-begitu saja dari dulu, mungkin dia juga sebenarnya berubah dalam pikirannya, tapi tidak ditunjukkan dari sikapnya.

Hijrah juga adalah jalan berubah, berpindah dari satu kebiasaan lama yang buruk ke kebiasaan baru yang baik. Yang dulunya jauh dari Allah, jadi dekat dengan Allah. Selayaknya setiap perubahan, tentu hijrah pun ada pemicu nya.

Yang sedih adalah, hampir semua orang yang memutuskan hijrah yang saya temui, terpicu oleh satu hal yang sama: pain. Rasa sakit yang pernah mereka derita, membuat mereka merangkak kembali memohon ampun pada Tuhan mereka. Ada yang sakit karena fisik, ada juga yang batin. Tapi itu wajar sih ya, jarang ada orang yang benar-benar dilimpahkan nikmat, dari yang tadinya foya-foya dengan uang tanpa batas, lalu tiba-tiba suatu pagi dia bangun dan memutuskan hijrah tanpa sebab. Walau ada saja mungkin orang di luar sana yang dikehendaki demikian, kan Allah Maha Berkehendak, Dia memberi hidayah pada orang yang Dia kehendaki.

Pada satu titik pertumbuhan usia, kita akhirnya sadar bahwa kita tidak bisa mengontrol segala hal.

Kita bisa saja berencana, akan menikah setelah prestasi A tercapai, lalu membeli tanah, membangun rumah, punya anak, dan hidup bahagia.
Ternyata kenyataan berkata, prestasi itu tidak kunjung kita capai, tidak juga meski bertahun-tahun sudah mencoba. Padahal, prestasi itu adalah syarat untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya; menikah. Di sisi lain, sebenarnya kita bisa menikah dulu, karena sudah ada orang yang bisa dilamar/berpotensi melamar, dengan tabungan yang cukup.
Sekarang tantangannya adalah, apa langkah yang akan kita ambil, ketika kenyataan tidak sesuai dengan tahapan rencana yang sudah kita susun rapi?

Akan menunggu sampai tercapai prestasi itu dulu, dan bersikeras tuk hidup sendirian sampai bertahun-tahun kemudian?
Atau meluweskan emosi dan mengikuti jalan rencana Tuhan?

Kadang pergulatan batin yang seperti itu yang bisa melunakkan hati seseorang untuk berhijrah. Untuk bersujud lebih lama, dan berdoa lebih panjang dari biasanya. Untuk  bertanya pada Sang Maha Kuasa., jalan inikah yang Kau pilihkan untukku?

***
Kalau kita adalah seorang perencana, terbiasa mengatur hidup sedemikian rupa, tentu akan lebih sulit mengikuti keinginan semesta ketimbang mereka yang hidupnya ngikut arus saja. Maka disitulah tantangannya. Ketika keinginan tidak sesuai kenyataan, semesta akan menguji, seberapa keras kepalakah kamu?

Can we change your mind? 

***

Di sisi lain seseorang yang hijrah bisa juga karena terinspirasi. Padahal hidayah itu datangnya dari Allah, tapi Allah memberi kredit pada seseorang, sebagai sumber inspirasi orang lain yang akhirnya memutuskan untuk hijrah.

Seorang pendakwah bisa berdakwah selama berjam-jam, membahas kitab demi kitab, tapi tidak satupun yang menyentuh hati si orang yang ingin hijrah ini. Rasa kantuk terus menyerang, dia bosan, dia mendengar sambil menggerutu, walhasil, tidak ada pelajaran yang dia dapat. Keluar dari masjid, dia menyesali waktu yang terbuang habis, turun ke jalan, dan kembali pulang.

Di rumah, dia bertelepon dengan kawannya di kejauhan. Menceritakan hari-harinya, sebagaimana sang kawan menceritakan hari-harinya. Lalu, tanpa sengaja, tercetuslah satu kalimat dari kawan di seberang sana, ketika si orang ini mulai mengeluhkan hidupnya yang terasa membosankan. Si kawan itu berkata 'Kamu kayak gak punya Allah aja sih'. Dan lalu dengan kalimat itu dia tertegun, merasa sesak di dada, dan sholat sambil bercucuran air mata.

Allah menyebut diri-Nya sebagai Cahaya, Cahaya di atas Cahaya, sebagaimana dikutip dari Surah An-Nur. Saya pernah juga tulis di blog ini, bahwa ada 2 jenis cahaya: Cahaya fisik, dan Cahaya non fisik. Cahaya fisik yang bersumber dari matahari, yang membuat kita bisa melihat benda-benda di sekitar kita. Cahaya Non-Fisik, bersumber dari Al-Quran. Allah menurunkan serpihan cahaya-Nya melalui Al-Quran, untuk bisa menyatu dengan serpihan cahaya-Nya yang ada di dalam diri setiap manusia. Ruh manusia terbuat dari Cahaya Allah. Ruh manusia, ribuan atau  milyaran tahun lalu, pernah berkomunikasi langsung dengan Allah. Ruh manusia, diturunkan ke Bumi dalam oblivion, lupa. Untuk itu Al-Quran datang bukan untuk membuktikan keberadaan Tuhan, melainkan sebagai pengingat. Bahwa kita, pernah bersaksi, Allah adalah Tuhan kita.

Ketika Cahaya dari Al-Quran itu bersentuhan dengan cahaya di dalam diri kita, ketika itulah kita memutuskan untuk mempertahankan perasaan damai dan sejuk itu selamanya. Dengan cara apa? Dengan hijrah. Menanggalkan semua pakaian buruk, menggantinya dengan yang baru dan lebih baik. Meninggalkan kebiasaan lama yang tidak mendekatkan diri pada-Nya, dan terus menerus berusaha memohon ampun siang dan malam, atas dosa-dosa yang telah lampau, ketika masih hidup dalam oblivion. 

Saat seseorang sudah mengecap nikmatnya iman, dia akan merasa bahwa tidak ada nikmat lain yang lebih indah ketimbang hidayah.

Makanya pernah juga ada yang bilang, bahwa rasa tidak nyaman ketika kita berbuat dosa, itu adalah iman.
Rasa tidak nyaman ketika mendengar musik-musik yang menghentak (padahal dulu tidak bisa lepas), adalah iman.
Rasa tidak nyaman ketika menonton film demi film, tv show demi tv show secara marathon, adalah iman.

Jika itu terjadi, berdoalah agar diberi keistiqomahan. Seorang kakak kelas saya beberapa minggu lalu pernah berkata, memutuskan untuk hijrah itu mudah. Yang sulit itu istiqomah. 

***
Setiap orang hebat pasti pernah melalui masa sedih. Masa di mana semua seperti tidak berarti. Hilangnya makna dalam perjuangan, merasa lelah ini sia-sia. Dia merasa bingung, hampa, dan tidak tahu mau kemana. Seperti hilang arah, dan tidak punya tujuan.

Jika itu terjadi, ketahuilah bahwa Rasulullah pun pernah demikian. Maka beliau menyepi di Gua Hira, dan mendapat wahyu untuk pertama kali. Perasaan sedih dan hampa itu, bukan omong kosong yang harus kamu bungkam dengan lari atau menutup telinga dengan musik menghentak. Perasaan itu adalah tanda, bahwa Ruh mu sedang merindukan cahaya di mana dia berasal.

Tidak perlu curhat panjang lebar ke manusia, apalagi mencari-cari orang yang merasa bernasib sama, to join your pity party dan kalian menangis bersama. Oh trust me, been there, done that. Sungguh kalau saya ingat bahwa saya pernah begitu, saya jadi malu sendiri. Tapi untungnya waktu itu saya masih muda sekali, masih awal dua puluhan, bahkan belum dua lima, sedangkan lawan saya sudah lebih dari empat puluhan dan masih begitu.

Umur tidak menjamin hidayah seseorang. Seseorang bisa saja mengklaim pernah mengikuti kajian ini dan itu kala muda, lalu sekarang menanggalkannya dengan alasan logis. Tetap tidak bisa menjadi pembenaran bagimu berhenti untuk mencari hidayahmu sendiri. Berdoalah agar kita selalu menjadi bagian dari orang-orang yang dikehendaki untuk mendapat petunjuk. Karena kalau Allah sudah berkehendak untuk tidak memberi petunjuk, sama saja kita dibuat buta dan tuli, dan tidak mampu lagi mengecap nikmatnya iman. Jika sudah begitu, dunia akan menjadi satu-satunya tujuan.

Dan siapapun yang menjadikan dunia sebagai tujuan, akan habis tertelan masa dan terjerat dalam kubangan putus asa. Karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua pasti akan pergi.

***

Bogor, 25 May 2019
Siapapun yang mencintaimu, akan senantiasa mengingatkanmu untuk sholat. Akan menarikmu kembali kala kau jauh. Dan akan mendoakanmu dalam diam malam yang dia habiskan berdua dengan Tuhannya. Berdoalah agar kau dapat orang yang seperti ini. Dia yang bisa berjalan bersamamu, dari Bumi ini, hingga ke Negeri Surga nanti.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert