Skip to main content

Hello, May!

Maybe the reason that I'm #overthemoon is not because of that one genuine question, but because of the fact that I am successfully submitted my scholarship application. I've never been a scholarship girl for my entire life. I never had a chance to get free money when the chance was plenty. I was too stubborn to apply and too lazy to get the ass of my bed during college. So yeah.. even if I am one of those kids in the executive board, or largest adventurer club, or whatever organizations I was involved (which is plenty), I am definitely not one of the scholarships worthy. Document collection, administrative tasks, aren't my things. So yeah.. I'm settled.

But somehow I managed to submit this application. This makes me on top of the mountain by the time I hit the button, and then the question came in, and I fly higher.

The energy remains. And now, after series of disappointment back in office, I have to face my self (again). Struggling with all bad things in my head. Why did she do that? What's on her mind? Does she ever think about it? Does she ever had a heart, or just too stubborn to think and consider of anyone else. But then.. a cinnamon roll and fresh water soothe me. Won't take a long time to calm this fire, babe.

***

I talk about my self way too much these days. I guess.., dealing with a self-centered guy makes me prioritizing my self more. I almost forgot how to put my need first before others. To be back, I have to write this thing down, and slam the effing door.

Because.. you know.. one can only deal with one thing if she got enough supply for her power. And this one is mine. Talking. Babbling. Writing. Pages of thought.

***

There is this podcast, that moved me this morning. And this wasn't the talk, like I used to listen on my way to and back from office. This was a pray. A pray that beautifully recited. I got so moved that I played in on repeat for more than 15 minutes. The voice, the tone, and the way he recited this pray.. was so beautiful I can feel hope in it.

That's when I add one more wish list, of what type of husband I wanna be with. I have added love Him, love me, not fat, and now I got one more. They say you will never get what you want until you define what is it that you want. So I'm working thru the list, and its harder than making daily to do list. The pray led my mind back to two years ago, when I woke up that morning, in Southern side of Sumatera, village by the river near the sea. Whenever I see, I see water, and I loved it more than I loved any other villages I have visited. That's when I know, what kind of retirement place I want.

See..
I am too full of dream. I took a personality test, and it says that I'm a dreamer which I don't deny.
I have to keep the kid in me, I won't let her go no matter how many birthdays I'll have.

***
Bogor, May 2nd
Hello May.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …