Skip to main content

Connecting the dots between Minimalism, Astrology, and Islam.

Siapa sangka, pencarian saya tentang Tuhan yang dimulai sejak lima tahun lalu berbuah manis. Jika saya tidak banyak mendengar ceramah agama (yang dari dulu memang rada anti kecuali kalau dipaksa di sekolah), saya tidak akan pernah tahu bahwa apa yang saya alami sekarang ini adalah bagian dari barakah ataupun hikmah. Saya pun tidak pernah benar-benar tahu apa arti barakah maupun hikmah sampai  kemarin, berangkat ke kantor dengan suasana hati yang mendung, karena mendapati darah haid di hari kedua Ramadan, saat sedang bahagia-bahagianya Ramadan.

Let me tell you my story about this journey. 

***

Semuanya bermula delapan tahun yang lalu, saat saya pertama kali menjejakkan kaki keluar negeri. Vietnam, negara asing pertama yang saya kunjungi bersama dengan beberapa orang kawan demi menjajaki gua terbesar di dunia. Kami menempuh perjalanan sehari semalam untuk sampai ke tengah negara Vietnam yang terbentang antara Hanoi sampai Saigon, menumpang bis malam, tidur bertumpuk di satu kamar penginapan, dan mencoba menyuap pemerintah lokal. Tentu saja usaha kami gagal, tapi dari situ pertanyaan-pertanyaan ini semakin menggeliat tidak nyaman.

Saya adalah anak lulusan Madrasah, yang kemudian bergaul dan menjadi bagian dari organisasi Mapala terbesar ketiga di Indonesia. Saya mengikuti semua ritme pergaulannya, ikut sebagai utusan untuk pertemuan Mapala se-Indonesia, dan terus terjerumus makin ke dalam. Di Vietnam, saya duduk bersama rekan se per-Mapalaan yang menenggak bir-bir kaleng untuk menghabiskan sore, tertawa sana-sini. Bahagia? Ya. Tapi saya merasa ada yang janggal saat duduk dan melakukan serentetan dosa yang tidak ingin saya sebut di sini, yang terlalu malu bahkan hanya untuk diingat kembali. Hati saya tidak tenang, tapi tubuh saya ingin tetap. Belakangan baru saya tahu, bisikan tidak nyaman ketika kita sedang berbuat dosa, itu namanya iman. 

Sepulang dari sana, berbekal pengalaman paling pahit yang tidak ingin saya ingat kembali, pelajaran melalui luka paling dalam tentang dikhianati dan dibenci, saya mulai bertanya-tanya.. dimanakah Tuhan? Kenapa Dia tidak menolong saya...? Apa Dia benar ada?

Pertanyaan itu bungkam, karena saya harus menghadapi ujian-ujian semester dan dengan motivasi yang tidak sampai setengah toples. Berkuliah di Fakultas Pertanian ketika passion menginginkan jurusan Diplomasi semacam Hubungan Internasional, adalah mimpi buruk yang baru saya syukuri sekarang.. Allah selalu punya jalan-Nya yang tidak akan kita mengerti, berat di jalani, tapi pada akhirnya akan kita syukuri. 

Memasuki fase tingkat akhir, kegamangan saya makin nyata. Apapun yang saya coba buktikan untuk manusia, seperti selalu gagal. Saya harus menelan pahit getir ditertawakan, dianggap remeh, dan dibuang pelan-pelan. Yang datangnya justru dari orang-orang yang selama ini saya bela, dan saya anggap teman setiap kali orang-orang dari masa lalu saya datang berkunjung dan menunjukkan betapa tidak pantasnya saya bergaul dengan mereka.

Saat itulah ketika saya memutuskan untuk backpacker ke luar negeri, memenuhi ajakan seorang teman.. well, tadinya kami bertiga tapi jadinya hanya berdua. Perjalanan itu adalah awal, semua kesadaran ini bermula. Tidak habis rasa syukur saya, bahwa bahkan dengan kelakuan yang sangat tidak tahu diri itu, Allah masih mau menggiring saya menuju-Nya. Saya pikir saya sudah tidak pantas, tapi Allah membuktikan bahwa Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

***

Perjalanan saya bermula dari mencari Tuhan, dan berakhir (tapi belum benar-benar berakhir), menemukan diri saya sendiri. Semakin saya mencari-Nya, semakin saya mengenal diri saya.

Ketika saya tersesat, tidak ada seorang pun yang membantu saya menemukan jalan, alat komunikasi terbatas, dan itu adalah kawasan red district (yang lagi-lagi di Vietnam. Dari semua negara yang dikunjungi saat trip itu, di Vietnam lah akhirnya saya menemukan jalan untuk kembali shalat). Sejak merasakan pertolongan Allah secara langsung kala tersesat (literally lost), saya baru mengerti pentingnya shalat. Tapi saat itu baru sampai tahap berterima kasih, saya benar-benar bersyukur dan satu-satunya cara untuk mengungkap syukur adalah dengan shalat.

Maka ketika saya kembali dari perjalanan itu, kembali ke dunia perkuliahan, kembali melanjutkan kuliah yang sempat mandek satu semester karena ingin bersenang-senang menikmati umur, dan menemukan jalan buntu, saya kehilangan sensasi butuh shalat nya itu. Karena dulu shalat adalah sarana bersyukur, dan meskipun saya tahu saya harus bersyukur terhadap tangan, kaki, anggota tubuh normal, anggota keluarga utuh, tetap saja beban kuliah dan tuntutan harus lulus membuat saya mudah lupa terhadap semua nikmat itu. Kepala saya isinya hanya keluhan, lagi-lagi pertanyaan, gimana nih Ya Allah.. 

Sekejap kemudian saya sudah berada di pekerjaan yang secara total merubah hidup saya. Pekerjaan yang lama saya idam-idamkan. Bertemu dengan banyak watak serta karakter, belajar dari mengobservasi banyak hal, dan menjalani peran luar biasa besar yang tidak pernah saya bayangkan semuanya. Semua terjadi terlalu cepat sampai saya lupa untuk bernapas, hingga lagi-lagi batu besar kembali menghantam saya, dan membuat saya merangkak kembali pada-Nya.

Pertanyaannya masih sama.. why me? 

Minimalism
Keputusan saya sudah bulat untuk mempelajari ilmu Allah ketika justru saya masih kurang begitu familiar dengan ceramah-ceramah agama. Allah tahu itu, dan Dia menunjukkan kepada saya cara lain, cara yang lebih saya sukai; Minimalism.

Bergaul bersama para conscious consumer dari berbagai latar belakang berbeda, yang disatukan dari pelatihan yang hanya beberapa hari, menjadi pertemanan yang tidak ada batas waktu expirednya, dan masih rajin bertemu di kedai kopi jika salah satu dari kami sedang berkunjung ke Indonesia lah yang membawa saya pada kesadaran ini. Mereka mengenalkan Minimalism pada saya, merekomendasikan buku untuk saya baca. Perjalanannya saya tulis di sini. Blog yang sebenarnya saya agak malu kalau diungkit lagi, karna dulu pernah saya pasangi widget apa gitu berlogo IPB di bawahnya, trus lupa cara ngilanginnya gimana.

Sejak dulu jika mempelajari sesuatu, saya selalu ingin tahu dari akarnya., pertanyaan kenapa selalu saya ingin jawab dari hal-hal terkecil yang menjadi sebab terjadinya suatu kejadian. Maka ketika saya mendapati pernyataan bahwa dalam konsep Minimalist, benda pun berkomunikasi dengan pemiliknya, mereka menangkap getaran dan juga memberi getaran yang ditangkap oleh tubuh manusia. Pertanyaan itu, membawa saya ke teori selanjutnya yaitu string theory. Teori yang melihat semesta dalam empat dimensi yang saling berkesinambungan dan memberi dampak pada satu sama lain.

Astrology
Hal ini kemudian bergulir ke ilmu perbintangan yang saya yakini selama ini., bukan saya meyakini adanya ramalan bintang, itu tentu hal yang teramat berbeda dari Astrology yang diusung oleh para tetua. Tapi tentang bagaimana karakter manusia bisa dipengaruhi oleh tata letak planet, matahari dan bulan ketika kelahirannya. Keyakinan saya sederhana, tentu ada alasan kenapa orang jaman dulu, yang tidak begitu punya banyak sumber informasi, bisa menciptakan satu sistem perbintangan yang berkaitan dengan sifat manusia. Atau setidaknya, kenapa kok mereka bisa kepikiran gitu loh, bahwa posisi planet dan bintang bisa berkaitan dengan sifat manusia. Jaman dulu kan makan saja susah harus berburu, sempat-sempatnya mikirin planet dan bintang. Dari situ saya mencoba menulikan telinga dari mereka yang menertawakan Astrology, dan yang mengatakan bahwa Astrology bukan science tetapi hanya pseudo-science. Saya terima masukannya, tapi saya tidak berhenti mencari. Dan mereka yang menertawakan Astrology karena kutipan di majalah-majalah tentang kondisi keuangan atau percintaanmu bulan ini, ya silakan saja tertawalah yang banyak. Mereka itu memang pantas untuk ditertawakan. Tapi tidak untuk Astrology saya.

String Theory yang saya temukan dari jalan Minimalism, berkesinambungan dengan teori efek gelombang Elektromagnet yang diciptakan dari posisi planet terhadap indera janin yang menyerapnya sehingga membentuk karakter. Saya masih ingin menggali lebih dalam tentang ini, tapi semakin saya membaca, semakin saya terkesima dibuatnya, tentang betapa ALLAH menciptakan ini semua dengan begitu rapi, begitu teratur.

Di Buku Scientific Basis of Astrology (1992), tulisan Dr Percy Seymour, seorang Astronom yang juga mempercayai adanya pengaruh Astrology terhadap Psikologi manusia, saya menemukan fakta bahwa ilmuwan jaman itu demi melihat kepala burung dalam sangkar selalu bergerak ke arah Tenggara pada waktu-waktu tertentu, dapat membawa mereka kepada serangkaian percobaan yang membuktikan adanya pengaruh gelombang elektromagnet terhadap sistem navigasi burung. Orang awam (atau yang males mikir) kalau ditanya kenapa burung bisa menemukan jalan pulang, bahkan bisa menemukan sarangnya yang sama persis di pohon yang tepat diantara jutaan pohon di hutan belantara? pasti hanya akan menjawab karena dia sudah hapal jalan, atau karena dia bisa melihat, dan menyangka bahwa satu-satunya sistem navigasi burung adalah indera penglihatan. Tapi tidak demikian. Pengaruh gelombang elektromagnetik terhadap sistem navigasi hewan, sangat kuat sekali terlihat, sehingga mereka bisa menemukan dengan tepat jalur mudik migrasi mereka.

Nouman Ali Khan
As the final dot, Allah menuntun saya pada video di youtube. Saya menjadi tergerak untuk mendengar ceramah agama dan yang pertama saya dengar/tonton adalah Nouman Ali Khan. Dari video Ted Talk tentang Minimalist, lalu ke String Theory, hingga akhirnya Allah melembutkan hati saya seolah berkata this is time.. Sudah waktunya bagi saya untuk kembali ke essence, tentang makna dari semua yang diatas tadi saya pelajari. Video berjudul Allah is light upon light, sukses membuat saya tidak berhenti berpikir, terjaga sepanjang malam, takjub dengan kesinambungan satu temuan dengan temuan lain. Pada rentang waktu yang tidak berdekatan, dari orang-orang yang justru tidak saling berkenalan, hingga jalan yang seperti terpisah-pisah.

To connect the dot, saya kemudian ikut mendengar ceramah-ceramah lain termasuk dari penceramah Indonesia. Yang ternyata luar biasa ilmunya. Banyak ilmu baru yang baru saya dapati, dan ilmu lama yang saya dengar kembali tapi baru saya resapi. Dan tentu saja, reaksi pertama ketika baru mendapat satu ilmu adalah membaginya di sosial media, jadi saya dulu sibuk mengcapture potongan-potongan ceramah untuk memaksa orang lain ikut mendengar. Lama-lama, saya merasa tidak perlu melakukan itu. Bukan karena tidak perlu, tapi karena.. ya mungkin belum dulu.

Karena saya perlu waktu untuk mengolah dan mencerna semua ini. Perjalanan yang diawali dengan pertanyaan adakah Allah, justru mengajak saya untuk mengenal diri sendiri. Partikel penyusun tubuh kita ini, sama dengan partikel penyusun benda mati yang ada di sekeliling, hingga membentuk Bumi, membentuk Galaksi, membentuk Semesta. Partikel kita, sama dengan partikel matahari. Bahwa mereka saling berinteraksi, tentu saja dalam satu vibrasi. Kita tidak bisa melihat utas tali yang menghubungkan diri kita dengan benda langit, tapi kita bisa merasakan bahwa koneksi itu ada.

Semakin saya penasaran, semakin saya menemukan bahwa apapun yang terjadi di sekeliling kita, adalah buah dari perilaku kita selama ini. Energi baik yang dikeluarkan, akan kembali dengan baik. Senyum dibalas senyum, murung dibalas murka. Sesederhana itu sebenarnya, dan apapun yang kita ingini di dalam hati, pasti akan datang kepada kita dalam bentuk yang kita tidak akan pernah tahu, tapi yang pasti dia akan datang, karena merasa terpanggil.

Menemukan Allah, lalu menemukan diri sendiri, adalah penemuan yang harus ditemukan bagi setiap manusia. Tua atau muda, cepat atau lambat, setiap orang punya jalan dan caranya sendiri. Terinspirasi boleh, tapi bukan berarti harus sama. Jika kelak kita punya anak, ajarkan anak kita untuk menemukan Tuhannya dengan cara yang dia senangi, karena Allah pun menuntun kita untuk menemukan-Nya dengan cara yang kita senangi. Bukan dengan ditakut-takuti, tidak solat nanti dosa, disiksa di neraka, Allah marah, dan lain-lain yang malah menimbulkan image pemarah bagi Allah Yang Maha Penyayang.

Saya jatuh cinta kini dengan cara Allah menunjukkan kebesaran-Nya pada saya. Saya merasa yakin pada apapun yang Dia rencanakan untuk saya, karena saya belum pernah kecewa selama mengikuti skenario-Nya. Saat ini saya hanya ingin menyebarkan pemahaman ini seluas-luasnya, mengajak sebanyak mungkin orang untuk mengenal Tuhannya, dengan cara mereka masing-masing.

Karena percayalah, setelah kita menemukan Dia, semuanya akan terasa ringan. What's not to light kalau pada akhirnya ini semua akan habis, akan pergi dan mati. Masalah akan selesai, kebahagiaan akan sirna, begitu terus hingga ajal menjemput. Tidak akan pernah ada bahagia permanen atau kesedihan paten. Isn't this life just a game, He said? 

***

Dan barusan saya diselingkan dengan satu video tentang doa dari channel Bayyinah Institute, doa yang paling banyak diucapkan pada Bulan Ramadan:

Ihdinasshirotul mustaqim. Tunjukkan kami pada sirottul mustaqim, atau jalan yang lurus.

Bagaimana kalau ternyata, jalan yang lurus itu ternyata sama dengan jalan vibrasi di mana partikel atom satu dengan yang lain terkoneksi?

***

Bogor, 08 May 2019
Sebaik-baik seorang teman, adalah yang mengingatkanmu untuk selalu mengingat-Nya. Mengingat-Nya, memuja-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Sesederhana itu sebenarnya cara untuk bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert