Skip to main content

Adultery

Sebelum menulis tulisan ini, saya sempat duduk diam memandang layar kosong ini selama lima belas menit. Bukan hal yang biasa saya lakukan, karena biasanya saya sudah tahu akan mulai dari mana ketika akan menulis. Tapi hari ini.. lagi-lagi saya mendapat pelajaran luar biasa, tentang cara Allah menjawab suatu doa.

***

Sengaja saya tidak menyetel alarm, karena saya ingin punya cukup tidur sebelum berangkat ke Bandung untuk meeting besok. Lagipula saya sedang tidak puasa, jadi ya saya pikir tidak apa sedikit curi-curi waktu tidur dan melewatkan sahur, toh belum ada orang lain yang bergantung pada masakan saya untuk makan sahur ini.

Lewat pukul delapan saya baru benar-benar beranjak dari kasur. Mendapati pesan dari atasan yang meminta saya untuk menyiapkan perlengkapan meeting hari ini juga, yang langsung saya iyakan tanpa berpikir dua kali, karena memang seharusnya saya siapkan dari kemarin. Padahal sengaja tidak saya siapkan, karena berasumsi di sana mungkin akan ada alat-alat yang memadai.

Padahal hari ini saya sudah berjanji akan bertemu dengan seorang kakak kelas, dua tingkat di atas saya, dan waktu SMA saya benar-benar kagum padanya. And she still her self even now. Tidak berubah walau sedikit. Jadilah saya bangun pagi tadi, memulai hari seperti biasa, nyuci nyapu ngepel nyetrika, lalu beli beras dan masak nasi yang banyak. Hari ini saya kebagian tugas menyumbang nasi untuk buka puasa bersama di perumahan, yang terpaksa harus saya lewatkan karena memilih untuk buka puasa dengan kakak kelas saya. Sudah lama juga kami janjian untuk bertemu nyata, tapi tidak pernah terealisasi.

Tahu-tahu sudah jam dua lewat dan saya belum mandi. Masih membenahi rumah dan seisi kulkas, karena akan ditinggal tiga hari. Keringetnya sudah seperti ngegym dua jam. Selepas mandi dan mengantar nasi ke tetangga, saya berangkat ke kantor untuk menyiapkan alat-alat yang akan dibawa besok.

***

Kereta datang terlambat, lewat pukul empat baru ada pengumuman jelang kedatangannya. Saya menunggu empat puluh menit untuk kemudian bertolak ke Stasiun Sudirman. Rasa ngantuk luar biasa membuat saya tidak banyak bertanya, ketika kereta yang ditunggu tiba, saya lalu masuk dan duduk, lima menit kemudian tertidur pulas.

Tiga puluh menit perjalanan, masinis menginformasikan bahwa waktu berbuka telah tiba. Para penumpang segera mengeluarkan air dari tas-tas mereka, dan menenggaknya pelan. Saya pun ikut-ikutan mengeluarkan cilok yang dibeli di pinggir stasiun, yang dari tadi saya simpan di tas. Padahal sebenarnya saya sedang tidak puasa.

Entah apa karena asam lambung yang naik lagi, atau memang karena sedang haid, atau karena kecapekan seharian beberes rumah, tapi sore itu saya mengantuk sekali. Kepala berat, diangkat pun sulit. Sampai kemudian saya membuka ponsel, dan disitu ada pesan dari salah seorang rekan kerja, yang entah kenapa kemarin saya baru kepikiran dia. Kami lama tidak berkontak, dan kemarin tiba-tiba saya teringat padanya, karena dia pernah mengedit foto yang ingin saya gunakan untuk halaman website kantor.

Tiga pesan, dan semuanya dihapus.
Iseng saya membalas dengan singkat; apatuuh,

Tidak lama berselang, dia membalas dengan rentetan panjang teks demi teks yang membuat saya terbelalak. Intinya, dia ingin mengenalkan saya dengan seseorang dengan niat mengajak menikah.

Buru-buru saya memasukkan ponsel ke dalam tas, diam dan kaku.

***

Mereka sudah selesai makan ketika saya tiba. Sambutan hangat dari kakak-kakak kelas yang ternyata memang sedang ngumpul ini membuat saya lupa dengan pesan tadi. Pesan yang hanya saya balas dengan wadaw, kirain mau ngirim harga. Dua jam kemudian saya benar-benar menyimpan ponsel di tas, dan tidak ingin menengoknya sama sekali.

Tapi sejak dari kereta hingga tiba di restoran, saya tidak berhenti membatin. Bertanya pada Allah, bagaimana seharusnya saya merespon ajakan ini. Saya tidak berani langsung menolak, takut mengambil keputusan tanpa melibatkan Allah. Tapi tidak mungkin juga saya terima, karena selain belum berpengalaman dengan taaruf-taaruf begini, saya pun ingin memercayai hati ketika menentukan pilihan dan hati saya langsung menolak.

Sambil terus bercengkrama dan menanyakan kabar satu demi satu, saya terus menerus berbisik pada Allah, bagaimana ini..

***

"Ilma, I need your advice. How should I respond to this?"
Pesan singkat itu saya kirim beserta screenshot cuplikan pesan yang tadi, di perjalanan pulang menuju Stasiun Sudirman. Berharap sahabat saya yang usianya lebih muda namun lebih bijak dari saya itu bisa memberi masukan yang tepat tentang cara memilih menggunakan hati. Padahal ini bukan sesuatu yang besar, ini hanya langkah awal, hanya mengajak berkenalan yang akan mengarah ke sana. Tapi saya tidak ingin gegabah dengan menganggap enteng perihal ini.

Jawaban Ilma sederhana, katanya tidak ada yang salah dengan mengikuti kata hati, jika insting menolak ya turuti.

Saya masih terdiam lama sampai abang ojek meminggirkan motor dan meminta saya turun. "Sudah sampai, mbak.." ujarnya pelan. Saya hanya ber-oh kaget dan mengembalikan helm sembari mengucapkan terimakasih.

Pada akhirnya jawaban itu saya temukan dari kakak kelas lain, yang tidak sengaja bertemu di stasiun menunggu kereta yang sama. Sore tadi saya sempat ingin berkomentar di akun instagramnya, ketika dia memposting lokasinya di lokasi yang sama yang sedang saya tuju. Tadinya mau saya ajak pulang bareng, tapi urung berkomentar karena saya terlalu ngantuk untuk ngetik.

Obrolan mengalir deras. Tentang diri masing-masing, tentang teman-teman lama kami, tentang rencana-rencana yang semakin ngeblur. Sampai akhirnya kami tiba di satu topik yang mengerikan, tentang dunia perselingkuhan.

Rupanya kakak kelas saya ini bersentuhan langsung dengan pelaku selingkuh - apa si yang kata orang pelakor pelakor itu loh - runut cerita detail dia jabarkan pada saya yang terbelalak mendengarkan. Kaget setengah mati, karena pelakunya berada di sekitar kami, dan dengan enteng menceritakan perselingkuhan mereka ke istri yang suaminya dia selingkuhi. Dia mahir menutupi jati diri pacar yang ternyata suami sahabatnya itu selama bertahun lamanya. Saya menahan napas mendengar cerita itu, tidak sanggup membayangkan psikologis seorang perempuan yang tega merebut suami sahabatnya sendiri. Pun saya tidak sanggup membayangkan psikologis sang istri yang setiap kali melihat suaminya, akan terbayang hal-hal indah nan romantis yang sahabatnya ceritakan pada dia. Membayangkannya saja saya ingin menangis dan gemas.

Topik berlanjut ke hal-hal lain mengenai perselingkuhan. Tentang seorang temannya yang taaruf, memilih laki-laki yang terlihat baik, rajin solat, dan baik agamanya, namun ketika menikah dan punya anak, usia anaknya baru beberapa minggu, suaminya berubah drastis. Cuek dan dingin. Tidak peduli pada istrinya, meskipun sang istri sudah mencoba untuk meminta maaf berkali-kali. Usut punya usut, ternyata si suami selingkuh, bertemu perempuan lain dalam suatu agenda pelatihan selama dua minggu berturut-turut. Ingat ini saya jadi sedih.

Betapa serius ternyata masalah perselingkuhan di dunia pernikahan. Kakak kelas saya mengarahkan ke akun instagram yang membocorkan rahasia terdalam orang-orang yang berselingkuh. Saya berjanji akan membacanya suatu nanti.

***

Saya pernah membaca bukunya Paulo Coelho yang berjudul Adultery (buku itu lagi dipinjem sekarang, lupa sama siapa). Intinya tentang perempuan tiga puluhan, yang hidupnya lengkap dengan harta, suami dan anak-anak, tapi masih saja terasa kurang. Sehingga dia memutuskan untuk berselingkuh, dan mulai menemukan gairah baru.

Sebegitu serius urusan perselingkuhan ini, sehingga tidak bisa digeneralisir siapa sebenarnya yang cenderung akan berselingkuh, suami atau istri. Kans nya sama besar di keduanya.

Laki-laki, apalagi yang sudah beristri, mudah menggoda perempuan. Dia sebetulnya hanya mencoba-coba, masih bisa gak menaklukan perempuan lain. Toh dia main aman, kalau ditolak, di rumah masih ada perempuan yang akan menyambutnya dengan pelukan hangat. Kalau diterima, ya lumayan ada percik-percik semangat baru.

Perempuan, apalagi yang suaminya gak romantis, mudah sekali terjebak dalam bujuk rayu buaya. Sudah naluriah hati perempuan itu gampang luluh. Digombalin sedikit langsung mencair kayak Kutub Utara kena Global Warming.

Hubungan yang melibatkan hati, sifatnya dua arah. Jika berbalas maka berlanjut, jika tidak berbalas ya sudah cari lagi.

Mendengar semua cerita itu di gerbong commuter line, terus terang membuat saya takut. Sejak dulu hal yang paling tidak bisa saya tolerir adalah perselingkuhan. Saya takut dikhianati oleh orang yang mengucap janji di depan ayah saya, di depan Allah dan para malaikat. Jika dia saja bisa mengkhianati saya, bagaimana orang lain..

Saya kembali memikirkan pesan teks sore tadi sepanjang perjalanan pulang dari stasiun. Sudah lewat pukul sepuluh malam, namun jalanan masih begitu ramai, bahkan macet panjang menuju rumah saya yang searah dengan wisata air terjun.

Saya tidak ingin menolak mentah-mentah tanpa berdiskusi dengan Allah, tapi diskusi yang paling nikmat itu sembari sujud atau setelah sholat, dan saya sedang tidak bisa sholat. Maka saya hanya beristigfar, membatin, meminta petunjuk. Saya tentu tidak ingin salah pilih. Saya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun selama nyaris empat tahun belakangan. Hubungan yang terakhir itupun malu jika saya mengingatnya. Saya menghindari hampir semua orang dari kehidupan lama saya, bukan karena saya jadi ikut-ikutan membenci mereka, tapi karena mereka mengingatkan saya pada diri saya yang dulu. Yang saya tidak sukai.

Sejak itu datang orang silih berganti, mencoba-coba peruntungan tapi tidak pernah menetap. Lama-lama saya membangun benteng. Phisically and emotionally. Benteng yang membuat saya betah berlama-lama di rumah sendirian. Memutuskan untuk berhenti jadi pekerja lapangan, dan bekerja rutin Senin sampai Jumat, pukul sembilan sampai pukul lima. Tidak keluar rumah kecuali kerja, tidak keluar kota kecuali meeting. Bahkan long weekend yang dulu selalu saya kejar untuk berlibur kemanapun saya suka, kini lebih banyak saya habiskan di rumah. Membaca buku, atau sekedar ngebabu.

Benteng saya cukup nyaman, tapi sesekali datang orang menakut-nakuti bahwa kenyamanan menyendiri adalah momok yang menakutkan. Bisa membuat seseorang menjadi terlalu sulit untuk didekati. Akhirnya saya kembali membuka diri. Dengan jarak yang saya ukur dengan pasti.

Pelan-pelan saya mendekati Allah. Berduaan dengan-Nya setiap kali ada yang datang menakut-nakuti. Atau ada yang singgah sebentar, lalu pergi lagi. Setiap kali takut, setiap kali sedih. Allah selalu punya cara untuk menjawab ketakutan saya.

Lalu malam ini, Allah tunjukkan cara untuk melihat satu masalah. Cerita-cerita perselingkuhan itu terlalu horor sehingga saya meyakinkan diri sendiri, untuk hanya memilih orang jika saya benar-benar kenal dengan orang itu. Taaruf memang artinya berkenalan. Tapi bagaimana caranya berkenalan jika dibatasi waktu, sekian bulan sudah harus menikah. Bagaimana kita bisa leluasa mengetahui tentang seseorang jika ukurannya bisa dihitung dengan alat ukur matematika.

Tapi ada hal lain yang saya ambil dari hari ini,
Bahwa keajaiban bisa terjadi setiap hari, datang sewaktu-waktu, tanpa kita duga arah datangnya. Bukti kuasa Allah ada di situ. Jika kita yakin dan terus percaya.

***

Bogor, 12 May 2019. 00.37
Aku takut sekali di selingkuhin, atau ditinggalin. Makanya sepanjang jalan tadi aku berdoa, minta supaya suamiku nanti tidak akan pernah selingkuhin aku, dan sebaliknya. Tapi trus tiba-tiba hujan gerimis, dan aku pulang membawa infocus sama kertas plano yang terpapar bebas. Kalau hujan dan mereka kebasahan, bisa runyam dunia persilatan. Jadi aku berdoa lagi pada Allah, meminta supaya tidak hujan dulu. Dan benar, gerimisnya hilang sampai saya tiba di rumah. Masuk ke dalam, menaruh barang-barang, dan mulai membersihkan muka, ketika hujan turun dengan derasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert