Skip to main content

What’s in my mind before long weekend happen

Kalau kita tahu bagaimana cara manusia mengabulkan permintaan, mestinya kita juga bisa lihat bahwa cara Allah mengabulkan permintaan jauh lebih mudah dari itu.

Saya memperhatikan bagaimana tukang siomay yang nyaris tiap malam saya beli. Beliau tidak pernah memberi saya satu siomay gratis. Padahal saya bisa dibilang hampir tiap malam membeli dagangannya. Bahkan ketika di rumah sedang ada tamu, dan kami membeli dalam jumlah tiga kali lebih banyak dari biasa, mang siomay itu tidak juga menawarkan butir gratis. Tidak bahkan untuk menggenapkan harga tiga puluh ribu lima ratus menjadi tiga puluh ribu.

Kenapa tidak?
Simply, karena saya tidak pernah meminta. Ketika tetangga saya ikut membeli, dia meminta satu butir lebih, diberi dengan cuma-cuma oleh mang siomay itu.

Setelah saya mengerti, barulah saya paham.. kang siomay mungkin paham keinginan saya tuk mendapat butir gratis, tapi enggan memberi jika tidak diminta.

Cara kerja Allah bisa saja diibaratkan demikian, tapi tentu tidak sebanding karena ke-Maha Murahan-Nya jauh melebihi segala yang makhluk bisa beri. Dalam satu waktu Allah tidak memberi yang kita inginkan, karena kita memang tidak meminta. Di waktu yang lain Allah melimpahkan karunia-Nya dengan cuma-cuma, bahkan ketika kita tidak meminta. Karena Allah tahu kapan hamba-Nya membutuhkan sesuatu.

Ketika kita butuh oksigen, Allah tahu kita butuh oksigen. Maka tanpa diminta, Dia berikan seisi Bumi dipenuhi oksigen. Ketika kita ingin rumah baru, Allah tahu kita ingin rumah baru, tapi tanpa rumah baru pun kita masih baik-baik saja. Beda dengan oksigen, yang kalau tidak diberi kita bisa mati. Maka Allah menunggu sampai kita meminta. Kadang tidak cukup dengan meminta saja. Allah ingin melihat kita berusaha, sungguh-sungguh menunjukkan bahwa kita ingin punya rumah baru. Ketika Allah rasa cukup kesungguhan kita, barulah Dia mendatangkan barakah nya dari arah yang tidak terduga-duga.

Kenapa begitu?

Karena hal-hal yang sifatnya keinginan, itu hanya sementara. Ada karena nafsu. Tanpa meminta, atau menunjukkan kesungguhan untuk meminta, adalah tanda bahwa sang hamba belum begitu yakin dengan apa yang dia ingini. Kelak jika diberi, dia akan menyia-nyiakan pemberian itu karena tak cukup waktu tuk merawatnya. 

Butuh rasa cinta yang memadai bagi seseorang untuk bisa merawat sesuatu yang dia punya. Tanpa rasa cinta, manusia yang mudah lupa ini akan mudah membuang apa yang dulunya dia kira adalah sumber bahagia baginya. Rasa cinta datang ketika keinginan bertemu dengan kebutuhan. Diwujudkan dengan permintaan yang memohon menghamba, pada Sang Maha Kuasa.

Allah pasti mengabulkan segala doa, karena Dia sudah berjanji melalui firman-Nya. Kita hanya harus yakin dan menunjukkan kesungguhan bahwa kita benar menginginkan itu, dan akan merawatnya dengan baik jika kelak terkabulkan.

***
Hari ini saya mendapat bahagia bertubi-tubi. Meski pagi di awali dengan misuh-misuh karena kesal dengan pengendara ojek online yang saya tumpangi ke kampus., dibarengi dengan terik matahari yang menyengat padahal baru jam sembilan, dan jarak jalan kaki naik-turun tangga yang harus saya tempuh demi mengambil selembar kertas.

Ketika itu semua terlewati, saya masih menyempatkan diri naik ke lantai tiga sebuah mini market, tuk membeli buku anak-anak. Seorang anak kecil yang saya kenal melalui cerita, berulang tahun kemarin. Keringat saya yang banjir begitu sampai di lantai tiga dan berpacu dengan waktu dalam memilih buku dan mengejar waktu tuk tiba di kantor dalam waktu yang tidak terlalu terlambat, akhirnya terbayar malam ini. Si bocah bahagia dengan buku barunya, ibunya mengirim video dan gambar bagaimana dia memeluk bukunya seolah tidak ingin terpisah. Duh.. benar ya.. anak itu penyejuk hati.

Siapa tahu dengan begini, Saya bisa tunjukkan pada Allah, bahwa saya benar-benar menginginkan sejuk yang semacam itu. Hahaha.

***
Besok long weekend, dan saya sudah menolak dua ajakan keluar rumah. Karena saya berniat tuk menyepi, jauh dari hedonisme, dan memulihkan hati.

Memulihkan hati dari harapan palsu, dari sumber sumber informasi yang kalang kabut tidak jelas juntrungannya, dan dari janji indah masa depan yang sebetulnya masih tertutup kabut.

Sekali waktu, saya kira perlu bagi kita tuk menemukan ruang berpikir.
Berpikir dalam dalam
Berpikir dalam diam.

***
Bogor, 18 April 2019
Dan saya sudah beli tiket mudik, yang paling mahal seumur hidup

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2