Skip to main content

Two things I’m really not good at

Room full of chatter. My mind cant proceed with over load information. One thing I’d understand, is that they think singleton is miserable.

I dont argue that. Naturally human needs company, someone to love and be loved. But that doesnt make singleton as miserable as they think, instead., singleton is the best way to love one self before another. Only happy people can do that.

Little did they know, we all will be alone eventually. Even if we end up together with our loved one until old and grey, there are more probability that we will end up hating each other. Or at least that’s what I see from my grandma and grandpa. They never have anything to argue for. One opinion from my grandmother, is ten rebuttal from my grandfather. And not in a nice way.

Relationship that was once built from love, could be gone within second. Kids., that we nurture since they were seeds, will eventually chose job over their parents. Busy week at work, can’t make it to the hospital in time, no phone call because nothing to talk about and office is more important. Kids will grow up and have their own family to take care. They’ll come and visit once in a while, AFTER they settle the job.

I understand that marriage is important. (Now I understand it more since my grandfather wants to see his birth town in Solo and none could take him there, unless me but I have no power to handle the drive and the old man one at a time). But getting married doesn’t mean you’ll stop being alone. It won’t make you feel less lonely, because none can. You still can get lonely and miserable even in marriage. Dude, that happen a lot. Getting married just to feel less alone, is the most miserable reason of all. You need to take care of your heart first before giving it to somebody else.

I have a weird way on dealing with families. Not really good, because all the thing I’m good at, is being a loner. I can cover that up in front of most people, to be less of a loner, but at the end of the day, when the sun is set, I demand my space.

Do you know what else is annoyingly weird? Box of motion pictures called: tv. I hate that thing (unless its a world cup match). I hate all those stupid soap opera. Did you know what soap opera do to the teenager in remote area of Central Kalimantan? They barely have electricity unless if they can afford a generator which will on at night. They watch this soap opera, and they demand their parents to buy them big bike; just like on tv. 

The parents bought them anyway. With loan.

***
I have too much in my head. Too much to share that I cant share it all.
***
Pamanukan, April 5th
Only this time I really wish I have a husband who can take my grandpa to Solo with me. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert