Skip to main content

Senin Bertanduk

"Astaghfirullahaldzim
Astaghfirullahaldzim
Astaghfirullahaldzim"

Saya harus mengulang-ulang kalimat itu untuk mencegah gebrakan meja yang memalukan. Sore tadi, langit mendung serasa tambah mendung dengan untaian kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut seorang perempuan. Ya. Betapa perempuan yang sedang emosi, sulit mengontrol diri dan kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali.

***

Siang ini saya kembali dihadapkan dengan kecewa. Setelah ekspektasi tinggi dan rasa percaya diri luar biasa yang saya hadapi pada saat menjelang tes TOEFL untuk kedua kalinya, saya harus kembali dihadapkan pada kekecewaan yang nyata. Saya memang bisa mengatasi rasa gugup, tapi saya tidak bisa mengatasi pecahnya konsentrasi akibat menstruasi yang datang justru pada saat dua puluh menit sebelum tes. Saat itu, duduk pun tak nyaman. Ditambah ruangan yang dingin, membuat saya ingin bersin terus, dan setiap kali bersin.. ya kalau perempuan pasti tahulah darah yang berdesir ketika bersin tidak hanya terjadi di dalam tubuh kala menstruasi. Saya harus menghadapi tes kedua dengan konsentrasi terbagi dua, kepala yang seperti ditikam (seperti yang selalu terjadi setiap bulan), dan pulang dengan tertidur amat lelap di kereta.

Hasilnya saya ambil hari ini. Bukan saja mengecewakan, karena ternyata hanya berbeda sepuluh poin dari hasil tes pertama (yang masih lulus sih, tapi jauh dari ekspektasi awal), tapi juga karena penulisan nama yang kurang benar, sehingga mesin pemindai tidak bisa mendeteksi huruf N dan D di nama saya. Dua huruf itu hilang, dan untuk menuliskannya kembali, saya harus membayar biaya setengah harga tes, dan menunggu sekitar dua minggu. Badan saya lemas siang tadi.

Saya kembali dengan menahan tangis. Karena saya tidak mau membatalkan puasa hanya karena emosi. Emosi sedih yang saya rasakan saya tekan kuat-kuat, berjalan ke luar gedung, menumpang ojek online, menembus Jakarta yang macet dan panas luar biasa, menuju stasiun kereta yang ramai penumpang. Setiba di Bogor, langit mendung menyambut. Rasanya ingin pulang dan membenamkan diri di tumpukan bantal, berusaha menghindari kenyataan bahwa hasil tes ini tidak lagi membuat saya percaya diri untuk memasukkan aplikasi beasiswa. Tapi saya sudah ada komitmen untuk meeting. Meeting di sore hari, akhirnya membuat saya kembali menumpang ojek menuju kantor yang masih sepi.

Satu jam kemudian, tragedi itu terjadi.
Kami hanya bertiga, melaporkan progres kinerja sambil sedikit-sedikit disela oleh tawa. Masuklah seorang yang lain, dengan muka ditekuk, dan wajah yang cemberut. Melihatnya saja perasaan saya langsung tidak enak. Perasaan yang tidak enak ini harus saya tekan, karena tadi setiba di kantor, ketika ingin meluapkan curahan hati ke rekan seruangan, ternyata beliau sudah lebih dahulu menangis karena apa yang beliau alami di akhir pekan kemarin. Kembali saya tekan rasa ingin menangis dan kecewa saya, dan mendengarkan cerita beliau sampai tiba waktu meeting.

Saya berusaha mengabaikan muka cemberut yang tidak kusut itu, bukan karena saya tidak punya perasaan, tapi saya ingin melindungi perasaan saya, agar tidak tumpah ruah berceceran kemana-mana. Meetingpun kembali berjalan.

Ternyata aksi mengabaikan itu menjadi bom waktu yang pecah dalam hitungan menit. Beliau marah, menahan tangis, dan menuduh kami mengabaikannya. Kembali ke ruangan, dan disitu semua terjadi.
Tuduhan, prasangka, amarah, membuncah di Senin sore yang seharusnya syahdu. Bahkan langit pun menahan tangis, mendung yang sedari tadi menggantung, sampai sekarang tidak kunjung turun.

Menahan semuanya, saya berusaha tuk diam. Tertawa sesekali, dengan seorang rekan yang tak lagi peduli. Ya, pada akhirnya saya belajar untuk tidak peduli, jika peduli selalu menyakiti hati. Namun diam itu tidak berlangsung lama, ketika percekcokan mulai nyata terjadi, ketika itu disaksikan oleh seorang bocah kecil, ketika saya berusaha melerai namun justru menjadi pihak yang disalahkan. Disitulah tekanan emosi saya kalah oleh hawa nafsu yang memuncak: amarah.

Nada saya tinggi, yang kini saya sesali. Tapi saya lakukan itu karena kesal.
Kekesalan saya hanya satu, kenapa beliau tidak mau mendengar! Saat meminta maaf, sudah cukupkan permintaan maaf itu pada permintaan maaf dan pengakuan salah. Bukan malah membela diri, terus menerus berbicara, minta didengar, dan mengalihkan kesalahan pada orang lain. Saya tidak habis pikir.

"Memang semua orang harus selalu menyambut mbak? Memang semua harus bilang 'Haaaaaaai apakabaaaaarrrrr' tidak! tidak semua orang punya energi sebanyak itu untuk terus bersikap baik kepada orang" apalagi kalau orangnya datang sudah dengan muka ditekuk, tambah saya dalam hati.

Beliau masih membela diri dengan berkata bahwa tidak tahu apa yang sedang dibahas, minta dijelaskan apa yang sedang dijelaskan.. sepengetahuan saya, ketika ada orang datang terlambat dalam satu diskusi dia yang harus menyesuaikan diri. Bukan memaksa forum untuk memutar ulang kaset rekaman dan menjelaskan satu persatu duduk permasalahan yang sedang dibahas. Begitulah pentingnya organisasi bagi mahasiswa, agar tahu adab dan etika rapat.

***

Sudah fitrahnya bagi perempuan untuk tidak memikul beban hidup keluarga. Itulah kenapa Allah mengutus laki-laki untuk menjadi pemimpin dan bertugas memberi nafkah. Karena ketika perempuan diberi tugas terlalu berat, hati nya lebih banyak berperan dalam menghadapi masalah ketimbang logika. Kecuali dia cerdas, dia bisa mengimbangi emosi dan logika itu dengan baik. Akibatnya fatal; pekerjaan yang tidak selesai, rentetan komplain dari klien, nama baik perusahaan/organisasi.. bahwa setiap orang dalam satu badan mempunyai peran penting yang apabila peran itu diabaikan hanya karena urusan di dalam rumah tangga, akan berakibat pada kepentingan orang lain.

Saya menyesali adanya komunikasi yang buruk di ruang ini. Satu-satunya sebab komunikasi yang buruk itu adalah: Abai!
Kenapa abai? Karena merasa tidak penting, merasa apa yang dikerjakannya jauh lebih penting, ketimbang hanya duduk dan berdiskusi.

Sayang sekali, semua pekerja mestinya tahu, bekerja keras dengan tanduk menerobos tulang hingga ke tanah tidak akan ada artinya jika tanpa strategi. Bukan lagi jamannya kerja keras namun bodoh sekarang ini.

Merasa benar sendiri, itupun satu faktor pecahnya masalah. Merasa dirinya yang paling banyak berkorban, paling berat cobaannya, merasa hidup orang lain lebih mudah untuk itu dia harus diberi ruang pengertian paling lebar,.

Saya mencoba untuk berdiskusi dengan beberapa orang.. bukan tentang orang ini, tapi tentang hal lain, namun diskusi itu kembali mengarah kepada orang yang sama, dengan keluhan yang sama. Bahwa beliau sudah menimbulkan keresahan yang sama pada nyaris semua pihak yang pernah terlibat pekerjaan dengannya.
Sekarang saya paham pentingnya mendengarkan.

Jika saja beliau mau mendengarkan suaranya sendiri. Mau mendengarkan tindakannya sendiri. Mau melihat dirinya sendiri, pasti beliau akan merasakan jengah yang sama yang kami-kami rasakan.

Terus terang saya marah. Karena ini bukan pertama kali terjadi. Sifat merasa benar sendiri, terlalu cepat menghakimi, terlalu cepat bereaksi, yang merugikan orang lain. Jika saja saya tidak ikut diseret sebagai penyebab masalah, saya tidak mungkin menulis ini dengan detail dan gamblang, padahal saya tahu tulisan ini bisa ditemukan oleh siapa saja.

Tapi saya tidak peduli.

***

Masalah yang bertubi-tubi hari ini, ditutup dengan malam harinya, sepulang saya dari Botani Square. Membeli seperangkat masker, gel lidah buaya, dan scrub bibir, membuat hati saya agak lapang. Langit saya sempat kembali cerah, ketika memesan ojek online.. dan lima kali ditolak dengan alasan berbeda-beda.

Saya menghela napas, satu.. dua.. tiga.. memesan lagi, dan Alhamdulillah berhasil. Sesampai di rumah, tangis saya tumpah ruah di atas sajadah, dan benarlah kata Ustadz Hanan Attaki: Ketika sedang ada masalah, katakan Alhamdulillah. Karena kalau kita punya masalah, solat itu rasanya nikmaat sekali. Berdoa, mengadu, curhat ke Allah rasanya nikmaat sekali. Coba kalau lagi gak ada masalah, kan lupa. Tapi jangan nunggu punya masalah dulu baru inget Allah.. 

Karena beberapa minggu belakangan ini, sejak sakit yang saya derita mulai stabil, saya agak menjauh dari Allah.. agak kurang mengaji, tidak lagi hapalan, malah nonton Netflix terus-terusan. Apalagi sekarang tontonannya Lucifer Morningstar, si Iblis yang memberontak dan menyalahkan ayahnya (tuhan) atas semua yang terjadi.

Hmmm,
Tapi berhenti berlangganan Netflix itu kok ya beratttt...

***

Bogor, 22 April 2019
Sambil menunggu gel lidah buaya menyerap, lalu saya lanjutkan dengan rentetan produk lain yang saya timpa-timpa di lapisan wajah ini. Demi masa depan yang lebih cerah.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …