Skip to main content

Menemukan-Mu

Awalnya saya merasa janggal ketika tahu bahwa mualaf, atau orang yang baru memeluk Islam, terhapus dosa-dosanya dan seperti terlahir kembali. Kadang terpikir bahwa.. wah enak banget ya jadi non-muslim. Tinggal masuk Islam lalu apapun dosa yang dia lakukan di masa lalu, langsung bersih. 

Sampai kemudian saya tahu, bahwa yang sulit itu bukan masuk Islam nya. Tapi perjalanannya. 

***

"The pursuit of happiness is the lowest pursuit of all. The next level is the pursuit of meaning. Then again and again, and the highest pursuit is the pursuit itself. If life is a road, then there must be the end. The destination. And what is our destination? That our destination is the road itself. To follow the straight path as we recite from the first surah in the Quran, that leads to Allah. The pursuit is the pursuit itself. The road is the destination. And what happens if the road is the destination? To be able to walk the straight path? Is to be bettering our self each and every day.."

Kurang lebih itu ringkasan ceramah yang saya dengar dari Nouman Ali Khan beberapa bulan lalu. His religius lecture is what bring me here, to the path that I am so profound that I'm living. 

Saya harus lahir dari keluarga biasa-biasa saja, bukan para muslim yang taat, bahkan Ibu saya dulunya tidak bisa membaca Al-Quran, lalu jatuh dari mobil dan lumpuh hingga harus operasi yang nyaris membuat saya kehilangan nyawa atau separuh kewarasan, lalu menjalani masa remaja sendirian lepas dari orang tua hingga dewasa, menemukan cinta yang salah dan ditinggalkan begitu saja setelah tahun demi tahun berlalu, backpackeran ke negeri-negeri sebrang sendirian untuk mencari makna dan membuktikan kebenaran Tuhan, hingga akhirnya, menemukan damai pada satu malam gelap yang saya sendiri tidak mengerti kenapa saya bisa membuka video itu.

Pernah saya berpikir, jika memang menjadi muslim sebegini susahnya, lebih baik saya dilahirkan sebagai non-muslim saja. Lalu nanti ketika saya sudah cukup umur, saya akan memeluk Islam dan bertaubat. Tapi setidaknya saya sudah pernah menikmati hal-hal yang terlarang bagi saya selama ini.

Usaha orang tua saya untuk membuat saya menjadi muslimah yang taat - semenjak kecelakaan yang membawa papa untuk hijrah - ternyata tidak semudah memasukkan anaknya ke sekolah berasrama, yang notabene paling terkenal di kotanya. Ya, saya memang menjalani sekolah berasrama yang mengharuskan kami untuk berpakaian sebagaimana muslim-muslimah yang taat. Membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan, tidak boleh bawa alat komunikasi atau majalah-majalah duniawi, terbatas akses internet dan televisi, dan diajari solat mengaji sambil terus menerus dijejali pelajaran yang mengharuskan kami mendapat nilai tertinggi Ujian Nasional se-provinsi.

Kami berhasil, sebagaimana nama sekolahnya, kami berhasil menjadi para cendekiawan. Yang diharapkan untuk menjadi insan cendekia yang mengusung tinggi nilai-nilai agama. Tapi sayang, bapak dan ibu guru yang budiman, kalian bisa membelenggu kami dengan aturan yang begitu ketat, mengontrol jumlah shalat kami dengan buku absen yang tidak boleh ada huruf M apalagi A, tapi kalian tidak akan pernah bisa memiliki hati dan pikiran kami. Mungkin kurang lebih itu yang ingin disuarakan oleh saya dan rekan-rekan seangkatan saya.

Saya tidak bangga untuk berkata begini, but this is the truth, lepas dari sekolah itu, sebagian dari kami meneruskan menjadi orang baik, muslim dan muslimah taat, berpakaian tertutup dan lebar, sebagian lain bahkan tergabung dalam organisasi Islam terbesar di negeri ini. Namun tidak sedikit juga dari kami yang pada akhirnya memutuskan untuk menanggalkan separuh pakaian, menunjukkan jati diri kami yang sebenarnya, bermain musik di kelab malam, memproduksi musik yang sarat makna pemberontakan, dan menegasikan keberadaan Tuhan.

As it turns out, "parents can't make their children to be good. They need to find it them self." (believe me, I got that quote from Chloe Decker, - the detective in Lucifer series, S3E5- lol).

Makanya kalau ada ceramah-ceramah kajian, ustadnya suka nanya.. "nikmat apa yang paling nikmat bagi kita?" lalu jamaahnya mulai menebak-nebak, ada yang bilang hidup, nafas, udara, air, tapi sang ustad akan jawab dengan "nikmat iii...man" seperti guru TK membungkam celoteh para muridnya.

Bukan mudah jika seorang non-muslim memeluk Islam, jalan yang membawa dia datang kesini pasti bukan jalan yang menyenangkan. Like.. they wake up one day and they decided to be Muslim. There must be something in their path, something bitter, hurtful, and scary that lead them the way. Pain is the strongest teacher, dan saya gak mau lagi mendapati hal menyakitkan hanya supaya mau merangkak kembali mendekati Allah. Not again. 

Perjalanan menemukan-Nya tidak mudah, perjalanan sesudahnya juga tidak mudah. Makanya ada doa yang disarankan tuk terus dibaca, supaya jangan disesatkan setelah diberi petunjuk.. karena susahnya menjaga hidayah itu tetap ada, to keep the lights on is very unbearable. Apalagi kalau cahayanya masih lemah, masih remang-remang, gampang mati kalau tidak didukung oleh lingkungan yang berusaha ikut menjaga cahaya itu.

Saya kalau dengar cerita orang-orang yang hijrah, yang menemukan Allah, menemukan hidayah, itu kadang ikut tersentuh dan menangis, dan bersyukur. Bersyukur terlahir dari keluarga muslim, meski itu seminimal hal yang bisa saya pegang.

Ini baru seperti tahap pertama, saya baru kembali solat sejak pulang dari backpacker-an lima tahun yang lalu, dan baru mulai mengenal Allah sejak patah hati tiga tahun yang lalu. Belum lama, dan baru saja memutuskan untuk memanjangkan jilbab dengan sukarela pelan-pelan. Beruntung dulu saya pernah pakai jilbab panjang, setidaknya selama tiga tahun di sekolah, jadi masih ada lah satu pcs yang masih saya punya dari jaman SMA itu.

***
Kata Nouman Ali Khan, Allah is Light upon Light, that there are two kinds of lights, one is physical light, the other is spiritual light. Physical light is what the eye can see, and spiritual light is what the heart can see. The source of physical light is the Sun, it shines upon our universe, for the entire planet. And the spiritual light is Allah Himself, the Light for the entire universes, (there's actually the statement in the Quran, but I forget the ayah.. something like thirty-five in Surah An-Nur, or fifty-three..). 

Ever since I found this light, the one that Allah gave me in my darkest night, I feel.. light. I feel like there's nothing I couldn't handle. Allah made me face it, so I must have had the strength to carry it. He believes in me, than why would I doubt my self. Why would I worry about uncertain things, when I have Him planning everything for me. Seriously, that is the most beautiful feeling ever. I wish I had it earlier.

Finding Him is one way, walking to Him in His path, is another way.

Saya ingin membagi kebahagiaan saya menemukan-Nya dalam tiga tahun terakhir ini. Perjalanan yang jika saya ingat-ingat waktu itu, rasanya kok berat sekali, tapi sekarang kalau ditengok lagi malah jadi.. yah segitu doang.. 

My only dream is just to be a mother (and a wife). That I will be part of the Generation of Roman Conquerors. I wanna be smart enough to realize that Earth is the slightest road that we took of all eternity, I have to leave some legacy when I have to return back to oblivion. The best legacy is the smart, strong, brave children who believe in Allah. They could be everything, they could be a filmmaker, graphic designer, advertiser, chef, soldier, police, as long as they have strong foundation to Allah, then my task is over. 

Saya dulu pernah nulis tulisan berjudul Tanda-Tanda Kemunculan Generasi Penakluk Roma, yang saya pikir salah satu tandanya adalah si Keluarga Gen Halilintar yang fenomenal itu. Gara-garanya saya baru tahu tentang mereka awal Februari kemarin, dan langsung suka, dan saya mencari tahu siapa saja pengikut-pengikutnya, dan saya kagum karena kebanyakan pemuda Islam yang kayak santri-santri gitu lah. Baru sekarang saya menyesal, yang saya lakukan itu random sampling tanpa purposive sampling, yang bisa dibilang hanya satu per seratus. Yang menyadarkan saya justru cringe video nya Picky Picks, ternyata efek keluarga itu menjerumuskan ratusan bahkan ribuan anak untuk bergaya-gaya ala hypebeast, kumpul-kumpul bawa kamera dan lupa pada esensi. Sedih. Bahkan ada yang umurnya udah empat puluh tahun lagi, masih kumpul ama bocah-bocah, ngeyutub, dan mempertontonkan kehidupan sehari-harinya. Ya tuan..

***

Percaya adanya Allah itu satu hal, hal lain adalah percaya pada rencana-Nya, even when we had no clue what's in the store. Tapi saya percaya itu, dan saya ikuti aturan main-Nya. Seolah seperti ingin bilang, "tahap pertama adalah kamu harus kuat dulu, temukan Aku dulu, lalu kuatkan pijakan. Jalanan selanjutnya akan ada guncangan, yang kalau kamu kuat berpijak, kamu akan selamat.."

Saya hanya ingin selamat, di dimensi manapun ruh saya berada.

***

Bogor, 29 April 2019
Bulan ini hampir tiap hari pulang kantor basah kuyup kehujanan, untung saya punya banyak sepatu.



Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert