Skip to main content

Mencintai-Mu

Sebelum ini saya pernah menulis tentang kebingungan saya mengenai cara mencintai seseorang karena Allah. Terus terang konsep ini sudah lama saya dengar, tapi tidak pernah benar-benar saya pahami.

Sebagai anak sulung yang bandel dan suka berbuat onar, sejak SMP saya sudah mengenal pacaran, waktu itu saya kelas 2 dan pacar saya kelas 3. Namanya Ruli, yang kemudian diberi julukan aneh oleh mama saya. Orang tua saya jelas tidak setuju anaknya sudah pacaran di umur yang masih sangat kecil itu, papa sampai membelikan buku berjudul 'Pacaran Islami, Adakah?' produksi majalah muslimah yang beken pada masanya: Annida. Saya tidak peduli, karena toh kami hanya sebatas pulang berdua- jalan kaki - dan berkirim surat selagi jam istirahat. Geli geli tolol.

Hubungan itu tidak lama, hanya terhitung bulan, karena pada satu malam, saat saya mengikuti malam tarbiyah another way from our parents untuk berusaha mengubah anaknya jadi muslimah taat-bersama dengan seorang sahabat, saya mendapati hal paling menyakitkan dalam dua belas tahun pertama dalam hidup saya: dikhianati. Itulah patah hati pertama yang saya rasakan. Sahabat saya, ternyata diam-diam berkirim pesan mesra melalui sms, (waktu itu hape kita masih jadulan, nokia 3360 gitu, dan suka saling cek inbox kalau lagi ketemu). Rupanya si Ruli itu bilang ke saya kalau dia sudah mau tidur dan menyudahi pembicaraan melalui sms dengan saya, tapi sebenarnya dia chat dengan sahabat saya.

Haha tapi saya dan sahabat saya sampai sekarang masih bersahabat dekat.. sangat dekat bahkan anak-anaknya seperti juga selalu senang kalau saya ada di tengah-tengah keluarga mereka.

But my point is, ever since I knew love.. I never knew how to love because of Allah.

Menurut saya agak naive kalau orang pacaran, terus bilang aku mencintai mu karena Allah. Because deep down.. just admit it.. you love him because he's handsome, he's tall, and gorgeous. 

Sampai minggu kemarin akhirnya saya mengerti, caranya mencintai karena Allah. Yaitu bukan dengan suka dulu sama orangnya baru trus bilang ih saya suka kamu karena Allah. Atau bukan juga dengan suka sama orangnya, lalu buru-buru mendekati Allah dan minta supaya dijodohkan dengannya. Tiba-tiba hijrah gitu kan, supaya deket sama Allah, supaya doanya di ijabah supaya dijodohkan dengan laki-laki yang diidamkan. No no. 

Dari ceramahnya Ust Hanan Attaki yang super mindblowing (se-mind blowing ustad2 lain yang sering saya dengar sebelum tidur), cara mencintai karena Allah, itu adalah mencintai dia karena dia mencintai Allah. Gitu ngerti gak?

Jadi ni, kamu belum kenal siapa laki-laki/perempuan ini, kamu belum tertarik juga, yaa mungkin dia cakep, tapi perasaanmu biasa saja ke dia. Kenapa perasaanmu biasa saja? Karena kamu sedang dalam proses menjaga hatimu, untuk tidak jatuh ke sembarang tempat. Sampah aja ada tempatnya, masa hati berceceran. Seiring berjalannya waktu, kalian jadi kenal, entah itu karena pertemanan di kampus, pertemanan di lingkungan tempat tinggal, atau tempat bekerja. Kamu teguh dengan bentengmu yang berdiri tegap, menjaga diri untuk tidak menginginkan apa yang bukan hakmu, karena kamu tidak mau Allah kecewa sama kamu. Kamu bisa melakukan itu karena kamu super sayang sama Allah, cinta sama Allah, saking sayang dan cintanya, kamu takut sekali mengecewakan Allah.

Lambat laun kamu semakin kenal laki-laki/perempuan yang biasa-biasa saja ini. Lalu kamu tahu kebiasaannya, kamu tahu kesukaannya, hobinya, karakternya, dan boom.. tiba-tiba kamu melihat dia punya rasa cinta yang sama besar untuk Allah. Kamu tahu dia rajin ibadah, dan kamu juga tahu betapa dia menjaga dirinya, untuk tidak terjerumus ke hal-hal yang Allah tidak suka, bukan saja karena dia takut dosa dan masuk neraka, tapi juga karena dia tidak mau mengecewakan Allah. Kamu bisa ikut merasakan rasa cinta yang besar kepada Allah, dan saat itu juga.. perasaan itu datang menghantuimu yang kamu simpan dan kamu sampaikan kepada Allah. Dzat yang sama, yang kalian berdua cintai.

Mungkin ya bisa juga kamu jatuh cinta duluan ke orang itu, karena fisiknya atau kecerdasannya, lalu kamu menumbuhkan cintamu pada Allah setelahnya, dan keduanya berjalan beriringan. Tapi untuk yang ini saya belum terlalu yakin.

Ketika saya mendengar konsep ini, saya baru sadar.. kenapa Allah 'mengosongkan' hati saya selama beberapa tahun belakangan dari cinta-cinta yang salah. Dari cinta-cinta sementara, yang tidak akan beranjak kemana-mana selain ke kubangan dosa. Karena Allah ingin mengajarkan saya tentang cara mencintai-Nya. Dan kesadaran ini bisa bikin saya menangis berjam-jam, sadar bahwa.. itu tanda Allah masih sayang sama saya padahal dosa saya setinggi langit. Kalau Allah tidak sayang lagi, kenapa mau membuat saya jatuh cinta kepada-Nya.

***

Saya butuh seseorang yang bisa diajak berdiskusi tentang Dia. Tidak tertawa ketika saya bilang 'aku gak pernah bokek. Kan ada Allah' seperti reaksi yang kerap saya terima setiap kali mengucapkan kalimat itu.
Seseorang yang bisa merasakan takzim yang sama, ketika menengadahkan wajah ke langit luas, bertaburan bintang, dan yang ada di kepala adalah kebesaran Allah dalam menciptakan ini semua. Ketika melihat satu atau dua hal yang seperti 'kebetulan' tapi sepertinya sudah direncanakan dengan begitu rapi dan teliti, bisa menghembuskan napas haru yang sama, dan dirasakan bersama tanpa perlu pakai kata.

Saya tidak butuh orang sombong. Yang hanya memikirkan tentang dirinya sendiri, menganggap dialah yang terhebat dan bisa mengabaikan orang seenaknya. Yang tidak pernah menyapa, kecuali sedang butuh, dan menyangka selalu bisa berlaku demikian kapanpun dia mau. Saya hanya butuh orang cerdas yang lembut hatinya. Bukan sebaliknya.
Untuk bisa menemukan dan ditemukan oleh orang seperti ini, maka terlebih dahulu saya harus berlaku seperti ini. Hukum kekekalan energy, remember? 

***

Tulisan ini akhirnya saya buat, setelah kemarin nonton live kajiannya Ust Salim A Fillah di Bandung, dan tergerak untuk ikut menuangkan pikiran. Saya juga merasa perlu berterimakasih pada teknologi dan penggiat teknologi, yang memudahkan ilmu mengalir dengan mudahnya.

***

Bogor, 28 April 2019
Dua hari menjelang deadline aplikasi beasiswa, dan akhirnya berhasil saya submit dengan penuh tanda tanya. Apapun itu, tujukan semuanya untuk Allah.. demikian sahabat saya berpesan, sebelum saya mengklik tombol submit. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert