Skip to main content

Cara Mbenerin Keran Mesin Cuci

Mesin cuci di rumahmu air nya kecil? Jangan dibiarin! Karena selain bisa boros listrik, mesin cuci mu juga jadi cepet rusak nantinya karena mesinnya dipaksa kerja berjam jam padahal seharusnya cuma 45 menit. 

Berikut langkah saya dalam membetulkan keran mesin cuci yang alirannya kecil:

Pertama, periksa filter mesin cucinya. Kalau kotor, segera dibersihkan.
Kedua, kalau sudah dibersihkan dan masih kotor juga, kamu perlu cek keran nya. Cabut selang mesin cuci (ya pasti sudah dicabut lah kalau sudah ngecek filter), lalu buka keran seperti biasa. Kalau alirannya kecil dari kerannya, berarti memang keran nya bermasalah. Kalau alirannya normal, berarti ada sumbatan di selang mesin cucinya. Segera ganti yang baru. Untuk mesin cuci otomatis satu tabung, selang baru satu set harganya 60.000

Ketiga, pastikan aliran air itu memang lebih kecil dr keran lain. Kalau keran lain alirannya kenceng dan cuma disitu saja yg kecil, kemungkinan keran nya memang bermasalah. Keran besi memang seringkali tersumbat di dalamnya sehingga alirannya kecil. Coba ke toko keran dan minta keran yg bagus tuk mesin cuci. Pedagang yg jujur akan kasih kamu rekomendasi. Kalau kata pedagang mesin cuci kerannya mesti yg stainless steel, tp tukang keran biasanya rekomendasiin yg plastik dan lebih murah. Terserah kamu pegang mazhab yang mana.

Keempat, baca buku panduan untuk menyusun ulang bagian bagian selang yang menempel di keran. Jangan sampai salah ya.

Good luck!

Me?
I’m no luck. Ni mau ke toko tempat dulu beli mesin cuci, mau manggil tukang mesinnya ke sini tuk benerin


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …