Skip to main content

Allah Wants you to feel something

Kalau boleh kita me-majas personifikasi kan Allah, mungkin di setiap kesulitan yang kita temui, Dia seolah berkata.. “jangan jauh-jauh. Tetap dekat. Nanti kamu celaka”

Dia dengan Maha Penyayangnya, sayang sekali sama hamba-Nya. Dia selalu rindu, setiap kali sang hamba menjauh. Maka dia kirimkan pengingat demi pengingat dalam berbagai bentuk.

Ada yang datang dengan pilu, ada yang datang dalam bentuk tawa haru.

Ini untukmu, hamba-Ku. Agar kau tidak tersesat dan menjauh.” Lalu doa-doa sedetikpun dikabulkan. Hujan diturunkan. Langit diteduhkan.

Aku selalu mengingatmu, maka ingatlah Aku dalam setiap langkahmu. Agar kau selamat”

Dalam Ke-Maha Kuasaan-Nya, Dia masih selalu peduli terhadap hamba-Nya. Selalu ingin hamba-Nya dekat, tidak tersesat, tidak celaka.

Ada kiriman ujian mendarat di meja makan. Piring yang mestinya tersaji rapat, kini lengang seakan menguap. Sang Ibu tertatih tuk memasak - namun tangannya bergetar tak kuasa mengangkat nampan. Sang ayah terduduk lemas, tak mampu bahkan sekedar bertukar tatap. Sang anak lantas bertanya.. dimana kasih sayang Allah padanya? 

Jawabnya sederhana. Tersembunyi dalam tatih langkah Sang Ibu menyajikan sayur mengepul. Terbalut dalam bantuan ringan, seperti membantu menggerus bumbu dapur. Meletakkan posisi ayah yang terduduk kaku. Menyuapi mereka satu persatu.

Jika kita mau menilik lebih dalam,
Ada dan akan selalu ada kasih sayang Tuhan di setiap cobaan. Di setiap malam yang kita habiskan dalam diam. Ada dan akan selalu ada, cara untuk menemukan Dia di dalam setiap asa. 

Allah hanya ingin kita merasakan sesuatu. Merasakan perih agar bisa menghargai bahagia. Merasakan pahit agar bisa menghargai manis. Merasakan duka, agar bisa menghargai tawa.

Ada dan akan selalu ada,
Jika kita bersedia tuk selalu membuka mata
Pada kebaikan yang tak kunjung reda.
Dia hanya ingin kita jatuh cinta
Pada-Nya, Sang Pemilik Segala Rasa.

***
Bogor, 15 April 2019
Senin hujan sejak meeting tadi pagi. 

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…