Skip to main content

Kalau suka jalan-jalan, coba baca ini. Dikit doang..

Gw pernah dengar di salah satu ceramahnya Nouman Ali berkata, bahwa manusia itu pada dasarnya menyukai keindahan dan kesempurnaan, karena ruh mereka awalnya adalah bagian dari Sang Pencipta. Ruh adalah cahaya, sebagian kecil cahaya Allah yang dititipkan di tubuh manusia. Karenanya, manusia senang dengan keindahan karena Allah juga senang keindahan. Manusia cenderung menyempurnakan sesuatu dan tidak pernah puas, karena Allah Maha Sempurna. Semua yang dilakukan itu seperti manifestasi dari keinginan ruh untuk kembali ke asalnya.

Manusia ingin pasangan, karena dia butuh cinta. Sulit bagi manusia tuk hidup tanpa cinta bagai kembang tak berbunga, oh begitulah kata para pujangga.. karenanya mereka butuh pasangan. Kenapa mereka butuh cinta dan kasih sayang? Karena muasal ruhnya, adalah Sumber dari semua cinta dan kasih sayang di alam semesta.

Seperti insting gitu.. hujan turun dari langit, mengalir ke sungai terus ke laut. Insting air tuk kembali ke asal. Gaji masuk ke rekening, lalu mengalir sampai supermarket. Insting uang tuk kembali ke asal.

Trus pernah kepikiran gak, kenapa manusia suka sekali jalan-jalan. Coba sebut (dalam hati aja tapi) satu orang aja yang gak suka jalan-jalan yang kamu kenal. Orang yang paling rumahan pun kalo di ajak jalan-jalan pasti senang.

Kenapa orang suka jalan-jalan?
Bisa jadi itu bagian dari insting, bahwa sebenarnya manusia hidup di sini, adalah sebagai satu perhentian rest area dari perjalanan yang sangat panjang. Ini tu cuma berhenti sebentar doang, sebelum lanjut ke perjalanan yang masih ada dua perhentian lagi sebelum sampai di final destination. Ruh kita sebenarnya tahu tentang itu, makanya dia pingin mengingatkan dengan cara ingin ingin terus jalan-jalan. Bukankah dalam setiap perjalanan kita pasti memetik hikmah yang.. pasti ada saja yang baru. Entah itu baru tahu, atau baru paham.

Jadi sebenernya kalau dipikir-pikir, ruh kita itu pinter guys. Dia mencoba tuk berkomunikasi dengan akal pikiran kita. Tapi kalau kitanya bebal, ya susah dianya juga capek. Coba kurang-kurangin lah itu ketawa ketiwi gak jelas. Apalagi panen daging guling.. tapi dagingnya daging bangkai temen sendiri.. Males akutu dengerin yang gitu-gitu. Udah gak guna, ngabisin waktu, gak ada pinter-pinternya pula. Mending mainan action figure. Enak diem.

***

Bogor, 1 Maret 2019
Akhirnya MARET! aku sudah tak bisa berkata-kata

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …