Skip to main content

A Tale of a Confuse Girl

She doesn’t know who she is. She thinks she knows, but all she sees is a fragile-lost girl in her pajamas. People keep telling tales of finding who you are and embrace it. Thus, one would possess a power in a weight of the world. But how will she embrace who she is if she didn’t know who is she in the first place?

Mirror mirror on the wall..” she whispers. Only silence, for the mirror isn’t belong to the Evil Queen. Mirror can’t tell anything but to show her her reflection. A confused young woman who wouldn’t know what she’s about to have.

Just like the others.. she’s searching for her happy ending. One that she hold so dearly for so long. She barely remember her childhood, hence she needs to re-trace it from some toys. She had this super power - she wants to call it this- a super power to erase bad memories. That she totally able to forgot all terrible things ever happened to her. It’s simple. She just chose to not remember and puff! It’s gone.

She knows she has to put some faith. That she has to believe that she will find her true love and get her happy ending. The world promises everyone a happy ending, she must have a portion in it. 

One thing she didn’t realize. She haven’t yet to learned one basic lesson of all: sincerity.

She befriends only to those who benefits her.
She only talk to stranger if they offer her some good talk.
She won’t help unless there’s something she would get.

Little did she know, she isn’t being kind. Its not kind if one expect something in return.
She need to learn what sincerity is, before she take a big jump. To another lesson I myself haven’t yet to figure.

Well, mate. This story won’t end here. Amidst of her confusion and fragility, she’s quite succes in developing her image. People are following her, copying her, and adore her in silent. She didn’t know that, neither the people won’t reveal anything about the good things in her. Because they are too busy fighting their own insecurities that they don’t know how to raise another. 

It doesn’t matter. Because I will tell you all of it. Now its about her, next will be about the woman who keep copying her and be the worse version of her.

***
Bogor, March 4th
First Monday of March 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert