Skip to main content

Family can be this tricky

Entah kenapa tiap kali nonton videonya Atta dengan keluarganya, gw nangis. Terakhir gw nangis gara-gara nonton video mereka nge-reaction video klip yang (gw lupa judul lagunya) tentang perjalanan hidup mereka dan pesan-pesan kehidupan dari ayah mereka untuk jadi lirik. Nonton video klip itu, Pak Halilintar nangis sampai gak bisa ngomong.. sekalinya bisa ngomong beliau cuma berbisik pelan.. "Abi inget Bang Atta.." men.. 

***

Gw gak bisa bilang sepenuhnya paham dengan apa yang dia alami, karena bisa jadi yang gw alamin ini cuma sepersekian dari yang Atta alamin. Ibaratnya gw yang baru 'segini' aja, udah mesti bangun benteng kuat-kuat, pakai topeng berlapis-lapis, menulikan telinga pada suara-suara sumbang yang hanya bisa melecehkan tapi tidak membangun, dan menutup pintu dari semua kode-kode yang masuk yang seolah-olah ingin menawarkan cinta padahal sebenarnya cuma mau manfaatkan.

Jadi lebih berhati-hati, menarik diri, tidak mau terlalu terbuka, takut terbuka tapi pingin sharing, pada siapapun tanpa terkecuali.

Kita beda sama anak-anak yang.. katakanlah anak tunggal gitu ya, atau anak yang gak punya banyak adik/kakak kandung jadi bisa punya perhatian penuh dari orangtuanya untuk dirinya sendiri. Anak-anak yang tidak takut berbagi apapun dengan orang tuanya, karena tidak perlu takut diinterupsi dengan tangisan adik lain yang lebih membutuhkan, teriakan adik lain yang minta tolong, tidak perlu takut mamanya terdistraksi ketika kita lagi antusias-antusiasnya cerita. Sehingga.. kita memilih pergi.

Berbeda dengan Atta, di umur 13 tahun gw sudah keluar dari rumah, kalau Atta kan udah dapat omset 1 milyar. Gw keluar dari rumah untuk sekolah SMA, yang sengaja disekolahkan jauh-jauh untuk beberapa alasan, dan gw yakin alasan-alasan itu adalah baik.

Atta mungkin baru ngerasain keluar dari rumah di umurnya yang baru-baru ini, dan langsung beli rumah besar. Hidup susahnya dijalanin dari dia masih kecil, kalau gw kan dari kecil ya biasa-biasa aja. Susah nggak, kaya juga gak juga, tapi gw ngerasain perjuangan tinggal di asrama, kontrakan kumuh, kos-kosan, sampai akhirnya beli rumah di sini.

Gw tahu rasa gak enaknya ketika lagi kangen rumah, tapi gak bisa pulang.
Bukan gak bisa pulang karena jauh, jarak, ongkos, atau waktu. Tapi gak bisa pulang karena tahu kalau pulang cuma bakal bikin rusuh rumah, berantem dan bikin rumah kayak neraka.

Kita, sebagai kakak, walau seangkuh apapun wajah yang kita tampilkan, ketika rumah rusuh berantem dan tidak nyaman, tidak mau disalahkan. Kita gak mau dibilang sumber keributan atau biang kerok. Kita selalu merasa kita ini kakak, adek lah yang mestinya nurut dan gak harus sopan sama yang lebih tua. Gua dari kecil udah ngalah untuk bisa ngehidupin lu semua.. (gitulah kira-kira, but not really happen to me kalo yang ini). Jadi mau gimanapun kita gak akan pernah bisa minta maaf duluan, dan si adek dengan ego setinggi itu, bocah yang masih darah muda gitu, juga gak bakalan minta maaf. Jadi demi kemaslahatan bersama, kita yang pergi, menahan rindu, melihat dari jauh, sambil membekukan rasa ingin pulang. Tapi jauuh di dalam hati, ada rasa bersalah yang ingin berontak keluar. Rasa bersalah yang membuat siapapun yang lagi nyetir menepi menyingkir. Rasa bersalah karena merasa, gara-gara gw rumah yang dulunya harmonis sekarang kacau berantakan.

Ketika dinding penghalang untuk pulang itu bernama ego, maka gak ada pilihan lain bagi kami, selain terus berjuang di luar sini, pakai topeng berlapis-lapis menuju satu kata: sukses. Kita harus sukses biar bisa jadi panutan. Biar langkah keluar ini tidak sia-sia. Biar yang tertawa bisa bungkam.

Tapi sepi.
Sudah sampai di atas, di puncak, gak banyak orang yang mengerti. Bahkan ketika punya pasangan pun, belum tentu dia mengerti. Apalagi kalau dapat pasangannya pas sudah di puncak, gak jarang mereka yang datang menawarkan basa-basi itu ya biar cuma dapat project lagi.

Melindungi diri adalah jalan supaya dijauhi. Lebih baik dijauhi daripada dikelilingi orang-orang yang menguras energi, yang selalu harus dihibur demi tawa palsu. Yang harus diberi pengertian dan telinga untuk mendengarkan demi rasa kompak yang entah apa pondasinya.

Ada rasa iri ketika melihat dari jauh.. ohh.. adik-adik gue bisa seakrab itu ya ke satu sama lain, bisa seseru itu dan sehepi itu. Kenapa kok kalo sama gw gak bisa.. ada rasa iri yang diam-diam bisa menimbulkan tangis kalau lagi kangeen banget trus salah satu dari mereka ada yang bilang 'i miss you..' tapi gak bisa pulang karena ada orang yang selalu berwajah masam kalau kita disana. Walaupun adik ada satu, dua, sepuluh, lima belas, kalau satu aja.. satuuuu aja benci sama kita.. tu rasanya gimana ya.. sesak gitu. Tapi sebagai kakak pertama, gak mungkinlah kita tunjukin. Pura-pura bahagia adalah solusi, dan itu capeknya bukan main. Beruntung kalau masih bisa nangis pas pintu kamar ditutup dan lampu dimatikan, kalau sudah gak bisa nangis?

Atta sudah dapat yang dia mau, tapi dia masih muda, jadi kesempatan masih terbuka lebar lagi, the unknown road for him to take, dan itu bisa membawa dia kemana saja.
Gw pun sudah dapat yang gw mau. Mimpi-mimpi masa kecil gw yang sesederhana bisa ngunci rumah sendiri dan keluar menuju kantor setiap pagi, pulang ke ruangan kosong yang gw bebas bisa ngapain aja, mau makan di kasur, di lantai, di loteng, bebas..

Tapi masih ada rasa bersalah pada adik yang pernah kita bikin salah tu ada. Menggelayut tanpa tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Tidak mungkin juga minta maaf, karena sudah ribuan kali dicoba, gak bisa kita yang minta maaf. Awkward and weird. Super weird. Mungkin si Atta lebih tough lagi karna adik yang dia hadapi cowok, dan dia pun sama-sama cowok.

Makanya gw selalu nangis liat video jaman dulu mereka, yang seru banget berdua, karena emang berdua itu paling mirip, dan yang paling mirip biasanya paling rentan. Jadi inget adik gw sendiri gitu.. gak tahu deh.. bahkan for worst.. ada rasa kayak.. gw yang ngerusak masa depan dia gitu..

and nothing that I can do to fix that mistake. 

Dari awal gw liat keluarga mereka, sebelas anak, adakah karakter middle child yang keluar,. ternyata makin lama diikuti makin keliatan karakter middle child ada di mana. Dan memang dianya adalah middle banget. Dan itu jadi keuntungan buat dia karena dia di tengah, dia bisa ngerangkul ke yang bungsu-bungsu, yang kebanyakan cowok, tapi bisa get along dengan kakak cowok terdekatnya. Sedangkan Atta kan ke geng bungsu kejauhan, udah gak nyambung, tapi geng terdekat dia cewek semua.

Sedih sih ngeliatnya, tapi banyak pelajaran banget yang bisa diambil. Terutama nanti kalau punya anak banyak, gw mesti.....

ya masih belum tahu juga si gimana formula yang tepat supaya walau punya anak banyak, tapi anak pertama gak akan merasa terabaikan. Kalau Kirana yang manis itu kan gak merasa terabaikan karena ibuknya baru punya dua.. belum ketahuan kalau nanti punya yang ketiga keempat gimana.

***

Orang gak mungkin ngeliatin ke publik tentang ketidakharmonisan keluarganya.
Yang pasti tidak ada gading yang tidak retak,
Cuma masalahnya, netijen jaman sekarang yang gak cerdas itu sekalinya nemu yang gak retak langsung di highlight, menjadikan dasar untuk menuduh semua keharmonisan itu palsu.

Terserah apa katamu lah gengs,
Gw cuma bisa berdoa, semoga kita semua dijauhkan dari prasangka buruk. Karena itu yang paling sulit dikendalikan, apalagi kalau sudah emosi banget. Prasangka buruk. Bisa aja sibuk seharian kita ibadah, solat ngaji puasa dan sedekah, tapi trus malemnya berprasangka buruk ke keluarga orang, menuduh yang macem-macem bahkan hanya dalam pikiran., bisa bisa luntur ibadah seharian.

Wallahu 'alam.

***

Bogor, 4 Februari 2019
The free trial month is over, and today is Monday but tomorrow is holiday. So... cheers to the happy February.. (which started with a disaster weekend from a disaster text message that blow up my mind and mood and made me can't decide which drink to buy, either caramel milk tea or honey bubble milk tea, so I chose both).

Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …