Skip to main content

YOU

Apparently, in order to find God, first we need to remove each other from each other’s life. As it turns out, you’ve become somebody that blocked my way, and vice versa. -to the people who I have removed from my life.

***
Tulisan kali ini terinspirasi dari serial thriller berjudul YOU yang dibintangi oleh Penn Badgley. Benar-benar seperti kelanjutan dari serial Gossip Girl yang berakhir 2012 lalu. Awalnya motivasi saya menonton ini tak lama setelah tayang di Netflix, hanyalah karena Penn Badgley. Rupanya setelah saya baca sinopsisnya, saya justru makin penasaran dengan alur ceritanya karena mengisahkan tentang seorang manajer toko buku yang jatuh cinta pada seorang (calon) penulis perempuan yang datang untuk membeli buku. Peran si wanitanya dimainkan oleh Elizabeth Lail (yang kalo diliat-liat malah mirip Dakota Johnson), dan lebih pas dipasangkan dengan Badgley ketimbang Blake Lively.

Totalitas akting Penn Badgley di sini sungguh mengagumkan. Mungkin juga dia lebih mudah menghayati peran kali ini karena sudah terlatih sebagai Dan di Gossip Girl. Peran Joe di serial ini hanya pendalaman karakter Dan, yang lebih berani mengambil tindakan.

Serial ini hanya terdiri dari sepuluh episode dalam satu season. Cukup untuk sekedar menemani akhir pekan. Kalau kamu suka cerita romans, tapi tidak mau terlalu mellow, suka dengan smart conversation, yang juga ada adegan yang gak ketebak, maka serial ini cocok untuk kamu. 

And here is what I got:

People.. are puzzle. They are hard to tell. A good guy can be a psyco, a bad guy can be a baby. You really can’t judge people by its cover, hence it’s what we always do. 

I have so much to tell in my mind. But I’m too damn sleepy to write. Typos over and over again, and am tired to deleting and retyping. So, my point is.. Have a good person for you, based on what they’re believe in. If they believe in God, then there’s nothing to worry about. If all they believe is love.. then you should be careful. They may kill you if you don’t love em back.

Untill tomorrow,

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …