Skip to main content

Wednesday night, on January 9th

Kenapa kita harus berlatih untuk memilah keinginan dan mengutamakan kebutuhan? Karena Allah pun mengabulkan kebutuhan, bukan keinginan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang hamba-Nya benar-benar butuhkan, sedang si hamba itu tidak mengetahui.

***

Jam 11.11 wow.. saya lagi nulis ini trus lihat jam ternyata 11.11 tepat. Bless you. 

Jam 11.11 dan saya menyerah dari usaha untuk tidur, bangun, ke dapur, menyeduh teh panas yang nyaris tumpah di laptop barusan bikin bulukuduk saya merinding, dan makan satu potong pia terakhir yang saya bawa dari Gorontalo. Saya gak tahu kalau masih ada tersisa satu, dia nyelip diantara tumpukan barang-barang (benaran mesti mulai declutter ini sih).

Saya tidak tahu bagaimana rasanya mengidam, tapi sepertinya saya sudah mengalaminya setahun terakhir ini. Baru setahun terakhir ini, setiap kali jelang rutinitas bulanan, nafsu makan saya mendadak aneh. Aneh dan langka. Kemarin paru dan keripik balado, kemarinnya lagi Aunty Anne's, sekarang martabak. Tapi bo udah jam sebelas yak.. masa iya mesti keluar.. jalan kaki pula. Kenapa juga yang keliling perumahan malem-malem tuh tukan nasi goreng tek-tek, bukan martabak tek-tek.

Saya baru mengalami ini setahun terakhir, di waktu yang sama saat saya benar-benar praktik minimalism. Berarti benar bukunya Marie Kondo, bahwa ada efek detox pada setiap orang yang mulai declutter dan itu bisa bentuknya fisik atau kebiasaan. Misal tumbuh-tumbuh jerawat yang tidak biasa, bahkan ada yang diare. Kalau saya ya berarti ini; peningkatan nafsu makan jelang lebaran period.

Barusan entah kenapa saya keluar mengejar tukang nasi goreng. Padahal gak lapar sih sebenernya, tapi ngebayangin kok enak. Save by the portal. Beruntung portal di blok saya sudah di tutup. Abang nasi goreng tidak lewat sampai depan rumah, jadi saya tepuk2 tangan pun dia gak denger itu karna di jalanan dianya. Balik arah, kecewa tidak, senang pun tidak. Biasa saja.

Ngomong-ngomong soal lebaran, saya tadi siang masak cumi segar, pakai bumbu saos tiram dan bawang putih sama saos sambal sedikit, dan rasanya jadi kayak bumbu sarden. Enak kalau kata saya sih, dipasangkan dengan tumis pokcoy bawang putih juga yang ternyata lebih segar dan sedap ketimbang pake bawang komplit. Nah apa hubungannya dengan lebaran? Gak ada. Pingin aja gitu.

***

Mood kalau mau kedatangan tamu bulanan tuh gini ya. Mendadak merasa ditinggalkan semua orang gitu.. padahal mah memang tiap hari begitu, gak mendadak.

***

Salah ni mestinya minum sleepwell tea biar abis ini langsung tidur.
Saya tuh punya empat teh di rumah ini, tinggal sendirian tapi sok tumpukin banyak minuman. Ada teh kuning, teh hijau dipegang erat erat dor, teh earl grey, dan teh tidur. Teh tidur itu terbuat dari bunga myristiceae dan mimosa, (iya baca di tulisan komposisinya, gak tahu dah bunga apa itu). Jadi sungguh cita rasanya teramat sangat... aneh. Saya sudah coba minum tawar, minum pake gula, sama-sama aneh. Terakhir saya anggap itu obat, jadi diminum cepat. Biar bisa tidur nyenyak.

***

Big day tomorrow, yayy! Apa yang biasa seseorang lakukan kalau big day? Kalau saya.. overthinking, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi berikut penanganannya, membuat skenario-skenario sendiri yang 85% tidak pernah terealisasi, lalu tidur selepas solat subuh.

Ini saya kok jadi lapar beneran, padahal tadi gak serius-serius amat ngejar tukang nasi goreng. Masa iya masak jam segini. Saya jadi suka masak setahun terakhir. Sejak punya dapur sendiri, saya langsung beli seperangkat alat masak, dan langsung bereksperimen yang tentunya gagal di masa-masa awal percobaan, dan makin membaik kini. Alhamdulillah sekarang sudah bisa masak daging, kalau dulu telur aja gosong.

***

Selamat tidur ya gais, semoga kalian terhibur. Maaf tulisan kali ini sangat tidak ada manfaatnya. Semoga kalian bahagia, dan sukses menjalani hari esok. Besok saja dulu, lusanya nanti saya doain lagi.

Semoga Allah menyukai kita,
Aamiin..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …