Skip to main content

Mempersiapkan Generasi Penakluk Roma

Bisyarah Rasulullah SAW masih berlaku, dan Roma masih belum takluk. Sekarang ini, nampak belum ada tanda-tanda bahwa generasi inilah yang akan menjadi penakluk Roma. Oleh karenanya, tugas kita menyiapkan generasi itu kelak. Adalah tugas semua perempuan. Yap. Saya, kamu, dan semua perempuan muslim di muka Bumi.

Syaratnya apa?

M.A.U.

Jadi yang mau saja.
Yang mau punya anak turun berperang. Yang mau lihat anaknya luka biru memar-memar karena latihan. Yang mau menghadapi kemungkinan melihat anaknya mati dalam peperangan.

Terdengar mudah tapi sulit, sama kayak masuk surga. Pingin masuk surga, tapi berharap jalan tol.
Terdengar mudah, tapi saya yakin tidak ada ibu yang sanggup membayangkan (bahkan hanya membayangkan) anaknya meninggal mendahuluinya.

Kecuali ibu-ibu yang sedari dulu sudah sadar akan adanya bisyarah ini. Bisyarah itu apa? Bisyarah adalah berita bahagia yang disampaikan Allah melalui Rasulnya, jauh sebelum itu terjadi.

Saya mau, tapi caranya bagaimana?

Belajar untuk melepaskan ikatan dengan dunia., minimalism adalah salah satu metode yang paling pas yang bisa seseorang pelajari. Ada banyak teknik yang bisa diikuti dan dikombinasi (kalau satu teknik terlalu ekstrim dan teknik lain terlalu mudah).

Teknik Kon Marie, mengajarkan untuk berbicara dengan benda-benda saat menyortir dan menyingkirkan barang. Teknik Four Box, memilah barang menjadi empat kategori; yang akan disimpan, didonasikan, dijual, dan diperbaiki.

Tujuan menerapkan benda-benda itu adalah untuk memberi waktu akan perubahan ekstrim dalam hidup seseorang. Kita tahu bahwa berubah itu tidak mudah, apalagi merubah kebiasaan. Semakin tua, seseorang semakin mencintai rutinitas dan rasanya janggal jika tidak melakukan rutinitas tersebut. Kemudian mengeluh, hidup kok gini-gini aja.. padahal sendirinya yang susah merubah kebiasaan. Bukankah Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu yang merubah dirinya sendiri? 

Memulai menjadi minimalist adalah perjalanan panjang yang harus memiliki tujuan, dan mempersiapkan generasi penakluk Roma, bisa menjadi tujuan bagi seorang ibu minimalist. Ibu yang minimalist tidak disibukkan dengan belanja online, beli-beli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Hidupnya tidak disesaki oleh barang-barang sehingga dia punya cukup ruang untuk berpikir. Ibu minimalist tidak mengorientasikan hidupnya pada benda ataupun koneksi yang tidak membuatnya bahagia. Dia tidak akan membuang waktunya untuk bergosip, karena sadar bahwa waktunya terlalu berharga.

Minimalism mengajak perempuan untuk mengenal dirinya sendiri, karena jujur saja, kebanyakan perempuan sebenarnya tidak tahu apa yang dia mau. Saya jadi ingin riset tentang ini..
Ibu yang tahu apa yang dia mau, akan mempersiapkan diri untuk mengejar impiannya itu. Ibu yang tidak tahu apa yang dia mau, mudah terjebak pada rayuan maut para marketer dan celoteh tetangga. Minimalism is a way to be a determined woman. 

***

Seorang muslim harus meyakini kebenaran bisyarah yang sudah diajarkan padanya, karena itu pasti terjadi. Nabi kita tidak pernah berbohong, dan tidak pernah mengatakan sesuatu yang sia-sia.

Mulai sekarang, belajar dulu melepas keterikatan. Berhenti mencintai sesuatu secara berlebihan. Jika seseorang sudah menguasai minimalism, dengan sendirinya dia akan menguasai perasaannya sendiri. Sehingga, kelak ketika punya anak pun, dia tidak akan pernah lupa bahwa seorang anak hadir untuk mengemban tugasnya sendiri, dan dirinya (si ibu) hanyalah dititipi anak ini. Mungkin tugas anak ini lah yang kelak akan memimpin pasukan mengalahkan Roma. Maka jangan jadi Ibu yang membuat anaknya enggan melangkah karena takut air matanya menjadi penghalang surga.

***

Bogor, 15 Januari 2019
Ini Selasa tapi rasanya masih kayak Senin. Happy!

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …