Skip to main content

Membangun Benteng

Bismillahirahmanirahiim.. 
Ini bukan undangan pernikahan tapi mulai besok, Insya Allah saya akan mulai membangun benteng. Benteng ini akan saya beri nama, Benteng Konstantinopel. Kenapa Konstantinopel? Karena kisah ini dibacakan sejak saya masih kecil, dan sejak itu saya mengganti bacaan saya dari majalah bobo dan komik Monica dan buku Gulliver's Travel, ke buku-buku hadits milik Papa. Waktu itu Papa juga baru hijrah, baru beberapa tahun hijrah dan langsung membeli rangkaian buku-buku Islam, tafsir dan terjemahan Al-Quran, termasuk buku Sirah Nabawiyah. Favorit saya adalah buku hijau Sirah Nabawiyah (baru-baru ini saya melihat lagi buku ini di toko buku dekat rumah, saat memegangnya ada rasa haru pingin beli tapi takut liat price tag jadi saya simpan lagi) dan buku hadits bersampul coklat. Saat itu umur saya sepuluh tahun, dan belum kenal Harry Potter.

Dalam buku Sirah Nabawiyah, saya senang membaca bagian perjuangan Rasulullah SAW beserta para sahabat; yang dipanah saat sedang solat, yang diseret dengan kuda di kedua kakinya secara berlawanan arah, kisah-kisah itu saya baca berulang-ulang. Sedangkan dari buku hadits bersampul coklat, saya hanya baca bagian Armageddon; bagaimana munculnya Dajjal nanti, bagaimana dia akan berbuat kerusakan di muka bumi, hingga turunnya Isa Almasih. Bagian turunnya Isa Almasih ini saya baca berulang-ulang juga. Begitulah anak-anak, bisa mengulang satu cerita berkali-kali baru merasa bosan. Rupanya jadi orang berumur ni salah satu cirinya adalah cepat bosan.

Kisah tentang Konstantinopel diselipkan dalam buku dongeng berjudul Api Kecil dan Setetes Air. Kisah pertemanan Si Api kecil di dalam rumah dan setetes air yang datang dari hujan dan menempel di jendela. Pertemuan singkat mereka menghadirkan cerita, dan nyanyian hingga syair perpisahan. Saya suka sekali bagian perpisahan ini, ada rasa sedih yang saat itu tidak bisa saya jelaskan dan jelas belum pernah saya rasakan. Tanpa tahu bahwa belasan tahun kemudian perasaan itu jadi akrab dengan saya. Haha

Singkat cerita, Konstantinopel adalah sejarah Islam pertama yang saya baca dan saya kagumi. Selanjutnya, saya semakin kagum dari cerita-cerita yang difilmkan, dan terselip harap bisa menyambangi tanahnya kelak.

Tapi untuk sekarang.. Satu tahun sudah saya tinggal di rumah ini. Tanggal satu Januari 2018 lalu saya memutuskan untuk pindah dari rumah kontrakan, meninggalkan Kak Puji yang lagi pusing-pusing nyiapin nikahan. Saya masih ingat rasa takut, ragu, sedih, yang campur aduk ketika pertama kali memindahkan semua barang-barang dari rumah kontrakan ke mobil pick up yang dipesan kebanyakan (saya pesan satu mobil yang datang dua mobil, sebal sekali). Beberapa tetangga sudah mulai mengisi rumah-rumah mereka, terutama sebelah kanan saya yang juga adalah cowok single yang kerja di perhotelan di Jakarta.

Tetangga kami yang lain sudah memagari rumahnya, kecuali kami berdua. Bisa dibilang rumah saya dan tetangga sebelah kanan ini adalah satu-satunya rumah yang belum dipagari di blok kami. Saat itu sebenarnya saya sudah menemukan tukang yang bisa mengerjakan, dia yang mengerjakan dapur saya dengan baik. Tapi saya pikir-pikir lagi, tinggal sendirian di perumahan begini kalau sudah dipagar akan semakin sendirian. Jadi saya mulai berkomunikasi dengan tetangga sebelah kanan (sebut saja Mas D). Beliau pun ternyata belum ada rencana tuk bangun pagar. Jadi rencana bangun pagar ya saya batalkan, dengan catatan, kalau mau bangun pagar saling berkabar, supaya tukangnya bisa barengan jadi dapat harga lebih murah.

Satu tahun berlalu, rencana itu baru terwujud. Meski agak meleset dari ekspektasi. Karena tukang yang disewa oleh Mas D, galaknya bukan main. Saya takut dengan matanya yang selalu merah, dan cara bicaranya yang seperti teriak. Saya juga tidak suka dengan caranya yang memburu-buru pembayaran, belum juga deal sudah minta uang DP. Akhirnya tukang itu saya batalkan, dan saya kembali ke tukang yang setahun lalu mengerjakan dapur. Alhamdulillah, bapak ini baik sekali, mau kasih harga yang tidak terlalu jauh berbeda dengan yang diberikan setahun lalu.

Mulai besok mereka akan mulai pekerjaan. Insya Allah jika Allah berkenan, saya ingin sekali bentuknya menyerupai pagar benteng. Trus diwarnai crimson peak, supaya mirip benteng di Kota Tua Malaka. Membangun benteng itu penting untuk setiap muslim. Supaya tidak gampang tergoda dan supaya yang bisa menembus masuk hanya orang-orang tertentu, terpilih, dan pemberani saja.

***

Minimalism Class yang saya ikuti Sabtu kemarin me- recharge energi saya untuk kembali decluttering. Rupanya benar yang diajarkan Islam, bahwa hakikat ilmu bukan terletak pada informasi baru, tapi pada mengolah rasa terhadap memaknai informasi itu. Kita bisa saja sudah tahu tentang aqidah dan akhlak, tapi jika tidak diulang-ulang, perasaan pentingnya aqidah dan akhlak itu bisa hilang dan terlupa. Begitupun minimalism. Baru kemudian saya ingat, terakhir saya decluttering, itu nyaris enam bulan yang lalu. Jyaha..

***

Besok Senin. Akhir pekan saya kali ini benar-benar menyenangkan. Besok Senin, dan kita mulai lagi. Saya mulai membangun benteng, kamu mulai berlatih tuk menembusnya, yaa..


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert