Skip to main content

Maka Menikah Adalah...

Sore ini saya mendapat pesan singkat dari seseorang yang sudah bulat keputusannya untuk berpisah dari pasangan resminya. Pernikahan yang belasan tahun lalu diawali dengan kalimat syahadat, diikuti dengan ikrar komitmen, kini berakhir di meja pengadilan. Saya hanya bisa menarik napas dalam, membalas dengan doa-doa dan harapan kebaikan, lalu menyimpan ponsel di dalam tas. 
Sore itu saya duduk sendirian di food court mall dekat kantor, menunggu hujan reda sembari menyeruput bubble tea tanpa gula. Pikiran saya campur aduk.

***

Kenapa ya, orang mau berselingkuh?” tanya sepasang teman yang sudah menikah selama beberapa tahun dan dikarunia dua orang anak. Pertanyaan itu dilayangkan pada saya, yang belum berpengalaman sama sekali. Saya hanya tersenyum kecut, tahu bahwa pertanyaan itu akan berbeda jawabannya bagi setiap orang.

Beruntung bagi teman saya ini, mungkin mereka berdua adalah sama-sama orang yang menjaga komitmen. Yang sepakat untuk meninggalkan petualangan cinta di meja akad, sehingga tidak pernah terbersit sedikitpun di benak mereka untuk mencari persinggahan lain, meski hanya untuk sementara.

Bisa jadi kekuatan komitmen mereka berasal dari kekuatan mereka berpegang teguh pada janji Allah. Entahlah,. tapi saat pertanyaan itu dilayangkan, satu-satunya jawaban yang ada di kepala saya hanyalah;

Mungkin karena dua-dua nya kerja, jadi sudah tidak bisa saling sharing.. pulang ke rumah sudah capek..” sampai di situ saya berhenti. Melanjutkan sendiri di dalam kepala saya, tentang pasangan menikah yang sama-sama bekerja. Meskipun kondisi begini tidak bisa disama ratakan pada semua pasangan, karena banyak juga yang tetap harmonis meski keduanya bekerja, dan banyak juga yang patah retak padahal salah satu tidak bekerja.

Sore tadi juga saya dan atasan pergi menonton film di bioskop, Milly dan Mamet, drama komedi yang dibalut oleh konflik rumah tangga sehari-hari. Film yang berhasil membuat saya bertepuk tangan girang, karena ringannya cerita dan sarat makna yang dibawakan oleh bintang-bintang berkelas.

Pergumulan batin seorang ibu rumah tangga, yang ingin bekerja, dan bosan di rumah karena suami sibuk mengejar impian dan cita-cita. Sederhana tapi kompleks. Sederhana, tapi bisa menjadi bencana. Dan ini yang ingin saya bahas di sini, tentang betapa pernikahan tidak seindah dan semanis yang kita (para gadis) bayangkan.

***
Kekuatan sebuah rumah tangga terletak pada pondasinya, yaitu ibu. Seorang perempuan adalah tiang bagi tegaknya sebuah rumah. Ibu senang, seisi rumah akan senang. Ibu sedih, seisi rumah berantakan. Dulu saya pernah menulis tentang ambisi seorang perempuan, baiknya ditinggalkan di meja akad. Tapi mungkin prakteknya tidak semudah itu ya.. buktinya saya juga belum.......

Saat ini, media seolah berlomba mempertontonkan kebahagiaan, hanya dengan membuka genggaman, kebahagiaan seluruh perempuan di muka bumi sepertinya bisa kita akses. Melambungkan keinginan dan harapan tinggi dan jauh, sampai membuat sedih jika tidak tergapai. Mudah bagi perempuan untuk merasa iri dan ingin seperti orang lain, karena kemanapun mata memandang, yang terlihat adalah kebahagiaan yang berserakan. 

Seperti halnya teman-teman saya yang sudah menikah, kerap berkata betapa enaknya hidup sebagai saya. Bisa bepergian kemanapun dan kapanpun saya suka, tanpa ada orang melarang, tanpa perlu memikirkan harga barang, asal mau langsung berangkat. Padahal kenyataannya tentu tidak seperti itu. Mereka tidak pernah tahu bahwa lari-pelarian ini semua adalah untuk menghadirkan ramai yang mereka peroleh secara cuma-cuma, di rumah bersama dengan rengekan manja anak-anak. Atau omelan ibu mertua. Atau keluh kesah sang suami. Karena yang mereka lihat hanya di permukaan, dan itu sama bahagianya dengan bahagia yang mereka punya. Sebenarnya. 

Pernah suatu ketika saya bertanya pada sahabat saya yang baru menikah kurang lebih dua tahun, tentang apa yang dia rasakan setelah menikah. Dia menjawab “saya tidak pernah merasa sebahagia itu, dan tidak pernah juga merasa sesedih itu..” ujarnya malu-malu. Dia menjelaskan kemudian, bahwa perasaan bahagia yang dia rasakan, jauh lebih bahagia ketimbang yang pernah dia rasakan, dan juga sebaliknya. Saya manggut-manggut sok mengerti.

Pada kesempatan lain, saat saya menemani seorang teman lain yang tengah membeli kado untuk suaminya dalam rangka ulang tahun pernikahan mereka yang nyaris satu dekade, dia bercerita pada saya tentang perjuangan di lima tahun pertama pernikahan. “Wah itu perjuangannya, Hilmaaa… luar biasa. Saya punya pacar, dia pun punya pacar. Setiap hari berkelahi, menangis.. tidak ada yang mau mengalah.. tapi Alhamdulillah, lewat tahun ke lima, semuanya mulai mereda, masing-masing mulai bisa mengendalikan ego.. sebelumnya mah.. hhh..” ujarnya gemas mengenang masa lalu. Beliau juga bercerita tentang duka nestapa yang sempat mereka lalui saat situasi ekonomi sedang buruk, saat menghadapi pertanyaan miring sanak saudara, dan kesedihan-kesedihan lain yang beliau ceritakan sambil menangis. Saya pun ikut mengambil tissue mendengarnya, tidak terbayang bagaimana kecamuk perasaan seorang perempuan jika melewati itu semua, tapi orang yang duduk di hadapan saya telah melaluinya. “Menikah itu.. pokoknya mengendalikan ego. Udah itu aja..” ujarnya sambil menyeka sisa-sisa airmata. Lalu saya bertanya lagi, jika situasi sedang sedemikian buruk, dan suami tidak bisa menjadi tempat mengadu, dan dia merasa tidak pantas untuk curhat ke orang lain meskipun itu saudara sendiri karena sama saja dengan membuka aib rumah tangga, dan tidak bisa juga bercerita pada ibu karena tidak ingin membuat ibu sedih, lalu.. apa yang beliau lakukan? Jawabannya membuat saya menahan napas.. 

Saya sholat, Ma. Menangis sambil berdoa, diam-diam..” air matanya kembali mengalir. Air mata saya pun ikut jatuh tiba-tiba. Saya menelan ludah. 
Suami mbak juga tidak tahu kalau mbak menangis?” tanya saya memastikan, dia menggeleng.
Tidak, kan saya di kamar, sholat sendirian..” jawabnya lagi.

Saya terdiam. Sampai hari itu saya masih berpikir bahwa menikah berarti punya teman bicara sepanjang usia. Yang bisa saya ceritakan tentang apa saja, tempat saya mengadu tentang apa saja. Hal itu sekarang saya lakukan sendirian, setiap sehabis sholat, saya menceritakan hari saya pada Allah, sambil mengharap bahwa suatu saat jika saya sudah menikah, saya bisa menceritakan hal-hal seperti ini ke suami saya.

Rupanya saya salah. Justru setelah menikah, aktivitas curhat ke Allah adalah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk menenangkan diri dan menyelesaikan masalah. Justru menikah bukan berarti menggantikan posisi Allah sebagai sebaik-baik tempat curhat. Justru menikah itu, menghadirkan masalah baru untuk dicurhatkan kepada Allah. Sampai di situ saya membenarkan, bahwa Allah memang selalu rindu pada hamba-Nya. 

Sejak itu saya berkesimpulan, bahwa menikah sejatinya adalah hidup yang kita jalani saat ini, tapi ditambahi dengan satu orang yang menjadi sumber riak emosi kita. Jadi yaa harus membiasakan diri dulu sekarang ini selagi masih sendiri, biar kuat besok kalau hidup sendiri, tapi ada orang lain.. bingung gak tuh.

***
Menikah sedang menjadi topik yang paling sering dibahas akhir-akhir ini. Karena beruntutan pernikahan sahabat dan saudara sepupu, membuat saudara-saudara saya semua bertanya-tanya siapa yang kelak akan menjadi pasangan saya. (Bersiaplah wahai calon suami, banyak pasang mata tertuju padamu. HAHA). 

Mendengar semua cerita pernikahan dari berbagai sudut, dari yang baru satu tahun menikah sampai yang lebih dari dua puluh tahun, mendengarkan cerita pernikahan yang dijodohkan, yang pacaran tahunan, hingga yang menikah dengan teman sendiri, membuat saya akhirnya sampai pada titik menyerahkan semuanya pada Allah. Siapapun dia, asalkan Allah yang kirimkan, saya bersedia. Beberapa kali memang saya menolak ajakan untuk menikah, bukan karena saya pemilih, tapi simply karena mereka tidak menjadikan Allah sebagai utama, bahkan salah satunya menafikkan adanya Allah. Karena di titik ini saya melihat sendiri, betapa Allah Maha Membukakan Rejeki pada mereka yang mengikuti ketentuan-Nya. Bagaimana pasangan yang tadinya tidak punya apa-apa, sekarang hidup serba berkecukupan. Saya tidak lagi khawatir dengan masalah finansial, karena yakin ada Allah yang mencukupi hamba-Nya. Cukuplah Allah sebagai penenang, dan hati akan tenang ketika mengingat Allah. 

Lalu, ketimbang bertanya-tanya dan sibuk membuat syarat ini dan itu untuk calon pasangan, saya cenderung untuk menanyai dan meyakinkan diri sendiri, bahwa jika ujungnya sudah dekat, apakah saya sudah siap?

Menanyai diri sendiri dengan pertanyaan itu, membuat saya berhenti menebak-nebak, dan mulai berbenah diri. Berbenah jadwal, (minimal jadwal tidur biar lebih teratur), berbenah rumah, dan berbenah pola pikir. Dipikirnya menikah semudah berteman. Yah.. walaupun lebih mudah menikah dengan teman. #loh
***

Hati saya masih ikut merasakan sedih yang dibawa dari pesan singkat sore tadi. Perpisahan dalam pernikahan adalah hal yang paling dibenci oleh Allah SWT, tapi saya tidak berhak tuk turut campur apalagi membawa-bawa nama Allah dalam kehidupan pribadi beliau. Terlebih, dulu ketika saya diceritai tentang masalah rumah tangganya, satu-satunya yang saya usulkan adalah berpisah. Jadi saya pun turut andil dalam perpisahaan beliau. Sekarang barulah saya tahu, jika syaithan yang berhasil mewujudkan perpisahan ini, tengah berbahagia di dasar laut, berdampingan dengan singgasana Iblis sang Raja Syaithan. Ya.. saya pun turut andil, tapi saya kini hanya bisa mendoakan. Semoga Allah dengan ke-Maha Murah Hati-an Nya mau memaafkan beliau, memuluskan jalannya, dan menunjukkannya jalan pulang yang terbaik. 

Kita semua ini hanya sedang mencari tempat berpulang. Mendefinisikan berulang-ulang, apa itu rumah. Sebagian menemukannya dalam dekap seorang pasangan, sebagian menemukannya dalam tawa hangat keluarga. Pada intinya kita ini ingin menemukan tempat untuk pulang. Untuk bersandar, dan meredam bising yang berkecamuk di dalam pikiran.

Bogor, 2 Januari 2019
Selepas perjalanan panjang, tidur di kereta mahal semalam, lalu pulang dan langsung ke kantor, dan kembali pulang diringi hujan. Rumah ini kosong seperti biasa, tapi hati saya lebih penuh dari hari-hari kemarin.



Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …