Skip to main content

Late Night Confession [Boring Content!]

Kali ini, untuk pertama kali dalam hidup, muncul keinginan untuk menarik kembali doa yg pernah saya panjatkan. Bukan karena menyesal. Tapi karena baru sadar, bukan begitu cara kerja doa.

Jadi bagi yang datang ke blog ini untuk membaca hal-hal tentang minimalism, bersiaplah kecewa. Meski memang semangat awal membuat web ini adalah minimalism, dalam perjalanannya tetaplah ini adalah diary. Diary orang yang pingin jadi minimalist.

***
Sekitar dua - tiga tahun lalu, saya memiliki satu keinginan besar. Keinginan itu sangat besar yang membuat saya sangat sedih dan rapuh karena keinginan itu tidak kunjung terwujud. Saya ingin sesuatu yang tidak saya miliki (ya iyalah). Bahkan tanda-tanda bahwa saya akan memiliki itupun belum ada. Sekali waktu tanda seperti akan dikabulkan itu datang.. tapi tipiiis sekali. Setipis prasangka dan realita yang sebenarnya jauh tapi didekat-dekatkan.

Saya menggenggam keinginan itu erat sekali. Membisikkan doa-doa setiap kali teringat akan hal itu. Ingin sekali tercapai. Bahkan setiap malam hal itulah yang datang dalam bentuk mimpi. Every. Single. Night 

Tapi dalam doa-doa yang saya panjatkan selalu saya selipkan ucapan jika ini baik bagiku, tolong kabulkanlah, namun jika buruk, cabutlah keinginan ini dariku tanpa ada rasa sakit. Aku tidak ingin sakit hati lagi. Berulang setiap malam. Bahkan saya menjalani ritual ibadah di sepertiga malam demi keinginan itu. Belakangan baru saya menyesal se menyesal menyesalnya. Bahwa ibadah bukan hubungan transaksional seperti itu. 

Allah Maha Baik. Dan Dia mungkin sedang tersenyum geli melihat tingkah saya saat ini.

Perlahan Allah gantikan perasaan keinginan itu dengan menghadirkan perasaan lain. Perasaan cinta yang sama, pada objek yang berbeda. Kali ini lebih nyata. Allah gantikan perasaan keinginan yang bersifat keduniaan itu, dengan keinginan yang sifatnya jangka panjang.

Tidak sampai di situ, Allah tunjukkan kuasa-Nya yang lain. Yang jauh lebih indah dari apa yang saya ingini kemarin. Menjadikan keinginan saya kemarin itu hanya seujung kuku. Keciil tak ada arti apa-apa. Seolah Allah ingin tunjukkan pada saya, bahwa Allah lebih dari mampu memberikan yang berpuluh kali lipat besarnya ketimbang yang saya inginkan itu. Tapi saya harus sabar.

Pesan demi pesan saya temui di sepanjang jalan. Saya baca satu demi satu. Dari arah yang tak terduga, mengalihkan perhatian saya secara total dari keinginan yang pernah mencengkram hati dan pikiran saya erat. Erat sekali sampai berulang kali saya jatuh sakit karena menginginkannya.

Allah Maha Kaya. Maha Mengetahui dan Maha Memberi Keputusan. Kebaikan-Nya lah yang membuat semesta ini berjalan dalam kesinambungan yang rapi. Allah Maha Teliti dalam mengatur urusan hamba-Nya. Tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Tidak pula keinginanmu.

Kini setelah sadar, barulah saya merasa malu. Teramat malu. Malu karena pernah menangis memohon keinginan itu agar diberikan pada saya. Seperti anak kecil yang meminta mainan, robot-robotan kecil, padahal ayahnya sedang membuatkan dia sebuah robot Artificial Intelligence yang bisa diajak main bola.

Sungguh saya malu. Mulai kini saya tidak akan pernah ragu, tentang apa yang Allah mampu berikan kepada saya. Selama saya mau dan memampukan kemampuan saya sendiri, pasti Allah kasih. Kekayaan Allah lebih luas dari Bumi dan seisinya. Jika Dia menghendaki, cukuplah bagi-Nya berkata ‘Jadi’ maka jadilah.

Yakin adalah cara seorang hamba mengabdi. Yakin adalah cara seorang hamba memandang tinggi Tuhannya. Allah Maha Mampu dan Maha Memampukan. Tidak ada Dzat yang patut digantungi harap selain dari pada-Nya. Sebaik-baik pengatur rencana, dan sebaik-baik pemberi keputusan.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…