Skip to main content

Kereta Waktu

Kereta adalah cara menikmati waktu, tanpa perlu terburu-buru. Begitu yang saya tulis pada perjalanan Jakarta-Surabaya. Menikmati matahari tenggelam, atau terbit bersisian. Ya.. bandara sudah terlalu menjemukan untuk bisa dinikmati. Tempat yang disebut-sebut sebagai tempat cinta terkespresi sempurna, makin kesini makin terlihat membosankan.

Kereta adalah cara menunda waktu, bagi saya yang ingin tidak cepat sampai di kota tujuan. Menunda waktu, dengan melihat atau bahkan sekedar berpikir. Hidup ini untuk apa,? Hidup ini tentang apa,?

Pernah suatu ketika, bersama seorang kawan, saya melakukan perjalanan lintas negara. Menggunakan semua moda transportasi, udara, air, darat, termasuk kereta. Semalaman itu saya mendengarkannya bercerita tentang perjalanan mencari kebenaran Tuhan. Saya yang waktu itu belum sampai ke tahap pencarian tersebut, hanya diam mendengarkan. Sebagai referensi bahwa hal ini memang patut dipertanyakan. Bukan untuk diragukan, tetapi untuk semakin menambah keyakinan.

***
Seperti kereta, waktu berjalan tanpa kenal mundur. Perubahan satu demi satu mulai terlihat, sebagian nyata dan sebahagian lain masih samar. Seperti penumpang pada umumnya, kita ini hanya sedang menunggu titik tiba. Karena pasti akan tiba, di penghujung perjalanan yang sedari awal sudah direncanakan.

Semesta ini berjalan penuh dengan keteraturan. Tidak ada yang terjadi tanpa makna di dalamnya. Tidak ada perjumpaan, tanpa meninggalkan pelajaran. Sungguh rugi orang yang menolak tuk membaca tanda di sekitar. Karena sebagaimana perjalanan sebuah kereta, waktu pun akan berhenti di titik tertentu, menaik-turunkan penumpang, yang membawa bagasi mereka masing-masing.

—-
Bangunkarta, 1 Januari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert