Skip to main content

Insan Cendekia

Menginjakkan kaki kembali di sekolah yang dulu kami sebut sebagai holly jail, menghadirkan perasaan yg familiar di hati saya. Sore itu, selepas menghadiri acara pernikahan salah satu teman kami, saya dan tiga orang lainnya sepakat tuk mengunjungi Insan Cendekia. Sekolah yang dulu menggembleng kami, berusaha membekali kami dengan nilai dan ilmu agama.

Pos satpam yang menjadi penanda pintu masuk sudah menunjukkan sedikit perubahan. Ada absen digital yang dulu hanya berupa lembaran-lembaran menakutkan. Mencatat pukul berapa seorang murid masuk kembali setelah berlibur di luar area kampus. Merekam nama-nama yang terlambat untuk diberi sangsi pada akhir pekan berikutnya. Tak tanggung, sangsi itu bisa berupa pencabutan hak pesiar (ijin keluar kampus) yang diberikan setiap dua minggu sekali.

Kami melewati lapangan sepak bola yang luas di sisi kiri dan lapangan tenis, badminton dan basket di sisi kanan. Ada desir haru yang melintas di batin saya kala melewati Gedung Serba Guna yang bersebelahan dengan lapangan basket. Di sanalah angan saya dulu terukir. Ketika 12 tahun lalu pertama kali menjejakkan kaki di sana, berdesakan dengan ratusan pendaftar lainnya.. saya yang datang dari kota kecil di sudut Timur Indonesia, hanya berbekal doa dan pesan dari orang tua, mengikuti tes diiringi keyakinan yang samar. Apakah saya sanggup sekolah di sini? Katanya ini hanya untuk anak-anak pintar.. Apakah saya mampu tinggal di asrama? 

Keyakinan yang masih samar itu dijawab beberapa malam kemudian. Kami mendapat kabar bahwa pengumuman kelulusan sudah keluar. Bergegas saya, teman saya yang ikut dari Merauke, dan sepupu saya berangkat ke Insan Cendekia menumpang bentor (becak motor) yang merupakan kendaraan umum khas Gorontalo. Saya mendapat peringkat ke-sepuluh, masuk sepuluh besar dalam daftar anak-anak yang lulus. Teman saya peringkat ke-delapan, dan sepupu saya masuk di daftar cadangan.

Kecewa dan bahagia, itu yang kami rasakan sepulang membaca pengumuman malam itu. Selebihnya adalah sejarah. 

Kami memarkir mobil di sebelah Gedung Serba Guna. Arena sekolah masih sepi karena itu hari libur dan guru-guru sedang berada di luar kota untuk rapat tahunan. Tujuan awal saya memang ingin bertemu guru-guru, terutama mereka yang dulu menangani kenakalan saya. Saya ingin mencium tangan dan meminta maaf terhadap apa yang pernah saya perbuat. Tapi mereka sedang tidak ditempat. Jadilah tujuan saya berubah menjadi ingin menuntaskan rindu.

Masuk ke dalam lingkungan sekolah, dan yang saya lihat pertama kali adalah kantin. Bangunan yang sudah tidak secantik dulu lagi, ada beberapa retak di sisi dindingnya, cat yang mengelupas, dan atap yang bengkok. Tapi di sanalah dulu saya menghabiskan waktu tuk makan tiga kali sehari. Favorit saya adalah makan malam. Di mana semua anak memakai baju bebas, lepas solat magrib sembari menunggu Isya. Saat mengantri piring diisikan, adalah saat kami lirik-lirikan. Antara siswa laki-laki dan perempuan.


Oh ya tentu saja, dulu saya punya high school crush. Yang berganti-ganti supaya semangat. Saya pernah naksir kakak kelas diam-diam, pernah ditaksir kakak kelas sampai dikirimi surat-surat biru muda, pernah naksir teman seangkatan,. Sampai akhirnya saya punya pacar betulan di tahun ketiga. Tidak lama. Hanya seumur delapan bulan. Tapi cukup untuk dijadikan kenangan. Haha.

Setelah kantin ada masjid. Juga tempat yang menyisakan kenangan lucu bagi saya. Dulu saya pernah pingsan setelah mimisan hebat saat sholat tarawih. Sebenarnya pingsan itu adalah karena saya terlalu malas solat, dan terlalu takut dengan darah yg bercucuran. Orang-orang menggotong saya tidur di teras poliklinik, yang katanya menjadi bahan tontonan menyeramkan karna bertepatan dengan mati lampu. Suasana kampus gelap gulita, tubuh saya yang ditutupi oleh mukena putih, dan kapas yang menutupi hidung untuk menyumbat darah mimisan. “Persis mayat” kata seorang teman yang menceritakan kejadian itu keesokan harinya. Kami tertawa. Sekarang, kebiasaan mimisan itu sudah jarang terjadi lagi. Bahkan hilang sama sekali.


Saya mendekat menuju masjid, dan rasa rindu yang aneh menyergap begitu saja. Ingin sekali rasanya menunaikan solat ashar di sana. Meskipun tidak ada beda solat di sini atau di sana. Tapi saya ingin.. sekali lagi merasakan bertakbir di dalam bangunan yang dulu berusaha menanamkan kecintaan pada agama di dalam diri saya. Namun sayang, saya sedang tidak bisa solat. Walhasil saya hanya melihat dari dekat, duduk di bawah pohon sambil menunggu teman kami menunaikan ibadahnya.

Di masjid itu juga lah saya pernah mengikuti lomba hapalan Quran, menjadi satu-satunya perwakilan kelas perempuan, melawan mereka-mereka yang lulusan pesantren sedari SD atau SMP. Saya ditunjuk bukan karena saya mampu, tapi karena memang tidak ada lagi yg pantas untuk dijadikan tumbal. Rasa percaya diri yang kelewat tinggi kala itu membuat saya hilang malu tuk tampil sebagai apa saja. Termasuk hafizah yang langsung kalah di putaran pertama. HAHA.

Kami lalu menelusuri jalan menuju asrama. Melewati asrama putra yang semakin menua. Warna hijaunya tidak sesegar dahulu. Kusam di makan waktu. Deretan asrama guru yang dulu bersih dan rapi, kini terkesan agak kurang terawat oleh adanya tumbuhan-tanaman kering di sana sini. Perasaan itu masih sama, ketika kami memilih melalui jalur putra. Teman saya yang mengingatkan bahwa laki-laki tidak boleh lewat jalur putri (jalur yang terhubung dengan masjid) maka akan lebih adil kalau kami lewat jalur ini. Dan saya masih merasa takut, kalau-kalau ada yang datang menegur. Melarang perempuan lewat di jalur ini. Tapi ternyata tidak ada.

Kami sampai di rumah yang dituju. Harap-harap cemas saya mengetuk pintu dan mengucap salam. Berharap benar kata orang bahwa beliau tidak ikut dalam rapat tahunan, dan sedang ada di rumah. Namun saya harus kecewa, karena ternyata rumahnya kosong melompong.

Guru Bahasa Inggris yang membimbing saya dan teman yang ikut berkunjung sore itulah yang ingin kami temui. Guru yang sudah seperti ibu, dengan gayanya yang jenaka dan seolah tidak pernah bersedih. Guru yang mengantar kami ke setiap lomba, kecuali di tingkat nasional. Saya amat rindu pada mereka. Mam Trisna dan Sir Bayu namanya. Yang kami kunjungi saat ini adalah Mam Trisna. Mereka yang dengan sabar membimbing setiap sore hingga malam jelang perlombaan di tingkat nasional. Memberikan tips-tips berguna, mengadirkan pelatih dari luar, yang membuat kami bisa mendapat peringkat ke-16 se Indonesia. 

Haru saya semakin menjadi karena salah satu teman yang ikut berkunjung sore itu adalah partner saya ketika berjuang di semua lomba. Dulu, kami adalah first and second speaker yang saling bertukar, tapi tidak pernah terganti. Third speaker kami selalu berbeda dari satu lomba ke lomba lain. Tapi kami hanya bertukar posisi.

Mendekati asrama putri rasa haru yang sedari tadi menggelayut perlahan menjadi samar. Terganti oleh rasa takut yang sulit dijelaskan. Asrama adalah tempat dengan cerita terbanyak kedua setelah Gedung Pendidikan (yang kita kunjungi di akhir tur). Asrama adalah kenangan lucu, sedih, seram, marah, yang tidak mungkin saya atau siapapun lupakan. Di sana kami diajari tuk mandiri. Tuk disiplin. Untuk mau mengikuti peraturan meskipun tidak ada yang melihat. Belakangan baru saya tahu, itu namanya dignity. 

Kami hanya sebentar berada di dekat asrama putri. Untuk memanggil satu nama yang sudah dititip sejak saya ke Merauke dua minggu sebelum kedatangan di Gorontalo.

***
Gedung Pendidikan. Kami berbalik arah dari asrama putri, berjalan melalui masjid, duduk sebentar tuk berbincang dengan para murid, dan melewati poliklinik. Saya senyum-senyum sendiri saat melewati poliklinik. Karena di sanalah saya pertama kali meresmikan hubungan dgn pacar SMA saya. Saya masih ingat tanggal dan bulan ketika dia meminta saya tuk jadi pacarnya. Malam itu, di antara magrib dan isya, kami bertemu di poliklinik. Sejak saat itu, poliklinik adalah tempat paling ‘aman’ untuk bertemu. Termasuk ketika saya sakit dan dirawat, diam-diam dia diijinkan oleh perawat jaga untuk masuk membesuk. Padahal ruang rawat putri, adalah terlarang bagi siswa laki-laki. Sungguh kenakalan yang amat meh.

Gedung Pendidikan juga tidak banyak yang berubah. Kecuali papan asmaul husna yang ditegakkan di sisi kiri trotoar, dan spanduk panjang yang menampilkan deretan prestasi siswa dari masa ke masa. Foto kami tentulah tidak dipajang. 

Mading, kolam ikan, ruang monitor, saya bahkan belum sempat masuk sampai ke ruang kelas sebelas yang meninggalkan lebih banyak kesan bagi saya ketimbang kelas sepuluh dan dua belas. Belum sempat menengok perpustakaan, dan laboratorium bahasa. Hati saya sudah penuh sesak oleh kenangan, dan saat itu saya hanya ingin diam saja. Duduk diam dan menikmati gambar-gambar yang melintas di kepala. Benar kata orang, masa SMA adalah masa terbaik sepanjang masa. Sulit untuk dilupa.

Jikalah bisa, ingin saya mengulangi tur ini sekali lagi. Tanpa banyak bicara. Tanpa banyak bercanda. Hanya diam, berjalan, dan mengenang dalam diam. Setelah itu saya akan pulang, melanjutkan kehidupan yang sudah dituliskan, dan tidak menoleh ke belakang lagi. Sampai nanti saya menemukan persimpangan (lagi) barulah mungkin saya akan kembali dan mengulangi rute tur yang sama.

***
Di Insan Cendekia saya pernah mencoba beberapa jati diri. Dari orang yang amat pemalu menjadi yang amat tidak tahu malu. Dari yang malas beribadah, sampai pernah mencoba menutupi seluruh badan sampai kaos kaki (walau hanya bertahan beberapa bulan).

Insan Cendekia mencoba tuk menanamkan nilai agama dalam karakter saya, namun gagal selepas lulus dan saya memilih tuk bergabung di pecinta alam. Bergaul dengan orang-orang yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, dan ikut terjerumus meninggalkan-Nya. Namun Insan Cendekia tetap berhasil meninggalkan pelajaran yang saya simpan di laci memori. Hingga kemudian saya menemukan titik balik, mendapati hantaman keras yang membuat saya terpuruk, dan menangis menyeret kaki kembali pada-Nya, ilmu yang pernah Insan Cendekia ajarkanlah yang mengantarkan saya pulang. Sampai sekarang. 

Masih saya simpan kertas yang kini sudah sangat lusuh, berisikan doa-doa yang penting dan berguna bagi saya. Mulai dari doa setelah solat fardhu, maupun setelah solat-solat sunnah. Hanya dua lembar dan di print bolak balik. Namun saya gunakan kertas itu setiap selesai solat hingga sekarang, membukanya harus hati-hati. Karena salah sedikit bisa robek sampai tak berbentuk. Di sudut bawah ada tulisan tangan, yang ditulis oleh si pemberi kertas pada kami dalam satu kesempatan. Beruntung kami masih ditakdirkan tuk bertemu sebelum meninggalkan sekolah. Semoga menjadi amal jariyah beliau, yang dulu pernah mengajarkan kami caranya bahagia di atas nestapa.

***
Bogor, 12 Januari 2019
Hari ini, salah satu teman kami menikah. Dia pernah menjadi third speaker dalam tim yang saya ceritakan di atas. Dan semalaman kepala saya seperti dihantam gong besar. Sakit bukan main. Saya tidur setelah lelah melawan rasa sakit, yang kemudian saya sadar, bahwa itu adalah tindakan percuma. Jadi saya menerima setiap hantaman, sambil membayangkan ini tidak lebih buruk ketimbang nanti saat dikubur, dan ada malaikat penyiksa kubur yang menghancurkan kepala kita, menjadikannya utuh kembali, lalu dihancurkan lagi, begitu terus berulang hingga sangkakala ditiupkan. Tanpa kenal ampun tanpa kenal istigfar karena taubat di alam kubur sudah terlambat. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert