Skip to main content

[Fiksi Mini] Pamit

“Jadi apa alasan sebenarnya kamu menolakku?” Dia bertanya pada akhirnya, di antara hening yang menyapa.
Aku tersenyum, meski kutahu dia tidak bisa melihat senyumku ini.

“Bukan menolak, aku hanya..”
“Hanya menginginkan yang lebih tampan? Lebih muda?” Potongnya tak sabar. Hanya tidak bisa bersama dengan orang yang tidak mencintaiku, jawabku dalam hati.

“Kenapa kamu masih ingin tahu? Bukankah kamu sekarang sudah jauh lebih bahagia?” Tanyaku berusaha membalik posisi.

“Ya, tentu saja aku bahagia. Aku hanya ingin menuntaskan rasa penasaran ini. Kamu tidak pernah memberi alasan, kenapa.. I bought you flowers! I can build you a city! I give you all..” 

But I never felt loved when I’m with you.. lagi-lagi dalam hati. Aku masih diam sambil berpikir, berusaha menyusun kata-kata dalam menghadapi Singa yang tengah marah. Aku takut.. sejujurnya aku takut. Mereka mengenalku sebagai perempuan pemberani, tapi sejatinya aku penakut. Auman garang Sang Raja Rimba membuat nyaliku ciut. Selalu begitu.

Dulu.. ketika kami masih bersama, dia kerap bercerita. Tentang pergumulan batin di ruang kerja, tentang sikap tak menyenangkan di jalan raya, tentang amarah yang tersulut dalam ruang bicara. Bahkan hanya dengan mendengarkan itu semua, di seberang telpon aku menangis. Meringkuk di bawah selimut. Takut, seolah-olah kemarahan itu ditujukan untukku.

Aku tidak pernah memberi alasan kenapa bait syairnya hanya kuterima dengan setengah hati, padahal itu adalah hal yang paling kusukai. Aku tidak pernah memberi tahu, kenapa aku menghindar setelah menolak bangunan megah yang dia tawarkan untukku, This party will be for you. Just for you, ujarnya syahdu. Aku ketakutan. Tidak bisa membayangkan sebesar apa pengorbanan yang akan dia berikan, untukku yang tidak menyimpan rasa.

Bukankah rasa bisa ditumbuhkan? Tanya seseorang yang lain.

Ya, tentu saja. Rasa bisa ditumbuhkan. Tapi dasarnya harus kuat, alasan mengapa aku mencintainya. Dan bagiku, haruslah sederhana; karena dia mencintaiku, dan mencintai-Nya.

Dia mungkin mencintai Tuhannya, tapi dia tidak mencintaiku. Semua yang dia berikan, semua yang dia anggap dilakukan untukku, semuanya hanya untuk memastikan bahwa aku terkunci untuknya. Bukan karena benar-benar mencintaiku.

Setidaknya, itulah yang aku rasakan. Aku tidak merasa nyaman. Tidak menemukan tenang. Dalam setiap percakapan, selalu tentangnya dan tentang dirinya. Hanya sedikit sekali dia peduli tentangku, bahkan ketika aku sakit sekalipun. Yang begitu kau bilang cinta?

Telepon masih tersambung. Dia diam menunggu jawab yang tak kunjung keluar dari mulutku. Aku berusaha menyusun kata demi kata, namun kubongkar begitu saja. Persis seperti permainan yang dulu sering kita mainkan berdua,. Permainan menyusun balok huruf menjadi kata.. yang dia susun menjadi sebuah ungkapan cinta. 

“Kamu aneh..” ujarnya setelah hening cukup lama “kamu bahkan tidak punya orang lain yang sedang mendekatimu waktu itu. Dan anak-anak seusiamu, semua mencari kemapanan yang sama seperti yang sanggup aku tawarkan. Kamu tolak. Apa yang sebenarnya kamu cari? Ya meskipun hak mu menerima atau menolak suatu pemberian.. tapi aku hanya ingin mengerti. Dan ijinkan aku untuk mengerti jalan pikiran perempuan seperti kamu..”

“Mas sebelumnya aku minta maaf. Dan terus terang aku menyukai semua yang mas berikan, semua yang mas lakukan, tidak pernah terjadi dalam hidupku sebelumnya. Aku merasa sangat berharga, merasa sangat tersanjung, dan berada di atas awan.

Mas orang baik, dan aku menyayangi mas seperti aku menyayangi kakak-kakakku yang lain. Ketika mas mengeluh kesakitan, aku menangis. Aku ingin berada di samping mas, tapi kalaupun bisa, saat itu aku belum siap menjadi istri yang akan membuatkan minuman hangat dan sehat ketika mas mengeluh kesakitan. Aku takut.. jika mas berakhir denganku, dengan segala keterbatasan kemampuanku mengolah bumbu dapur, mas akan semakin kesakitan.

Aku memilih mundur begitu tahu dia lebih mencintai mas. Karena aku ingin mas berada di tangan yang tepat. Bersama seseorang yang mencintai mas lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Yang bisa membuatkan jamu jamu hangat, ketika tenggorokan mas sakit karena kebanyakan tampil di atas panggung. 

Tapi setelah itu aku belajar. Aku belajar untuk mengolah racikan dapur. Aku belajar untuk bisa mencintai diri sendiri, agar tidak menunggu orang lain melakukannya untukku..”

“Maksudmu.. kamu merasa.. aku tidak mencintaimu?” Potongnya lagi. Aku mengangguk. Anggukan yang lagi-lagi tidak bisa dia lihat “hahaha... kamu lucu. Setelah semua yang aku lakukan..? Kamu masih menganggap itu kurang??”

“Bukan kurang..” sergahku cepat, “hanya bukan itu caranya. Bukan cinta seperti itu yang aku inginkan..”

“Hahahaa.. kalau aku tidak kenal kamu.. akan kubilang kamu ini orang yang tidak bersyukur” ujarnya tertawa. Aku ikut tersenyum. Suasana agak sedikit cair sekarang. “Baiklah, coba sekarang aku ingin tahu.. seperti apa caranya kamu ingin dicintai?”

Pertanyaan itu membuatku tersenyum.

“Aku ingin dicintai dengan pikiran, to tell me that he love my mind..”

“I did!” Sergahnya cepat. Aku nyaris tersedak. Menepuk jidat pelan, lupa bahwa dia pernah berkata, intelligence is the new sexy, yang ditujukan padaku.

“Yaa.. tapi mas hanya mengatakannya tapi tidak membuktikannya. Mencintai pikiranku, adalah dengan membutuhkan pendapatku dan mengikuti saranku. Tapi rupanya, aku tidak sebanding dengan mas. Apapun yang aku sarankan, tidak pernah mas gunakan. Aku hanya seperti boneka pendengar yang mas datangi ketika ingin meluapkan kekesalan saja..”

“Yaa.. itu betul. Kaum kami memang sulit menerima masukan dari orang lain. Apalagi anak kecil seperti kamu” ujarnya tertawa “trus apalagi?”

“Itu saja sih, selebihnya biarlah hubungan ini tentang aku, dia dan Dia” ujarku sambil memberi penekanan pada kata Dia yang terakhir “aku menginginkan seseorang yang bisa mengajariku tentang kebijaksanaan hidup dalam ketaatan, karena itulah yang akan kami ajarkan pada anak-anak kami..”

“Maksudmu.. aku kurang taat?” 

“Memang.. mas merasa sudah taat?” Aku balas bertanya,
“Ya iyalah...”

“Mas, kata Ustad Salim A Fillah, yang merasa saleh itu biasanya salah.. dan yang merasa salah itu biasanya saleh.. mas yang mana?”

Dia tertawa. Aku memberanikan diri mengutip kalimat barusan, tidak ingin terkesan menuduh tapi begitulah adanya. Aku tidak bisa menggantungkan hidup pada orang yang jumlah sholatnya saja tidak cukup sampai lima waktu. Apalagi mau mengharap dia melakukan yang sunnah.

“Aku sudah menemukan tujuanku mas, baru-baru ini”

“Oya? Apa itu?”

“Tidak akan aku ceritakan, karena ini sesuatu yang sangat dasar. Aku hanya ingin mas tahu, bahwa jika aku menolak sesuatu, itu tidak pernah karena fisik, ataupun materiil. Begitupun alasan penerimaanku, tidak karena hal-hal yang sifatnya sementara. Tujuanku jangka panjang, dan tidak hanya terpatri pada satu alam”

Kami menutup pembicaraan dengan kalimat perpisahan. Mungkin kali inilah baru benar-benar berpisah. Keganjilan yang dia rasa sudah terbayar. Mungkin ini saatnya kami melangkah berlawanan arah. Tapi setidaknya, kami menyepakati akhir yang bahagia. Bahwa tidak mesti cinta itu berupa kebersamaan yang terus menerus, atau pemberian yang tiada tandingan. Dia mencintaiku tapi tidak membersamaiku, dan aku menyayanginya dan menolak untuk membersamainya.

Cinta tetap harus memiliki. Tapi kasih sayang boleh ditebar seluas-luasnya di muka bumi. Terlebih bagi mereka yang seiman, tidak boleh kan kita saling membenci. Dia mengajarkanku rasanya dicinta. Tapi tidak untuk caranya mencinta. Jadi aku memilih pergi, menyimpan cinta yang kelak akan aku beri, pada dia yang juga mencintai ku dengan cara yang aku ingini.

***
Sebuah Fiksi, jangan terlalu diambil hati
Bogor, 3 Januari 2019
Workday, Day Two.
Roughh

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert