Skip to main content

Decluttering a.k.a Beres-Beres Tengah Malam!!

Perlu diakui, 2019 adalah tahun yang bikin deg-degan bagi perempuan seusia/seangkatan saya. Walaupun usia saya setahun lebih muda dari angkatan, tapi tetap saja usia ini sudah masuk level mengkhawatirkan (bagi normal nya opini publik tentang usia menikah). Dan meski saya bahagia tiap hari, bukan berarti saya tidak was-was dalam hati. Tapi kalau saya sih lebih cepet baper kalau lihat anak bayi.. barusan pulang kantor, nonton youtube nya The Bramantyos, saya nangis nonton Bhai Kaba lari-lari muter-muter panik kegirangan liat mini cooper. Dalam hati saya membatin.. Ya Allah saya saja bahagia.. apalagi orang tuanya. Priceless ya.. itu bahagia yang benar-benar tidak bisa dibeli dengan uang. 

Siang tadi juga saya dan nyonya manager di ruangan membahas hal yang agak sedikit berfaedah. Begini bunyinya:

Saya : “aku tu mikir.. dalam setahun sebenernya kita tu bener-bener pake uang kita berapa kali.. 2017 aku bangun dapur, beli laptop.. 2018 aku gak bangun apa-apa dan gak beli apa-apa, makanya bisa bayar jalan-jalan, ke Gorontalo sampe dua kali, ke Bali, Surabaya.. 2019.. baru mulai udah bangun benteng..”

Bu Manager : “apa kabar guee.. pulang kampung sekeluarga, bayarin pesawat buat berapa orang tuh,. Nyewa mobil nyewa ini, itu..”

Saya : “O iya.. eh tapi.. ibu mah kan berdua ama suami duitnyaa..”

Bu Manager : “Iya juga ya.. tapi kan.. tetep ajaa..”

 Hening.

Bu Manager : “Eh tapi kalau uang dipake buat anak tu buat kita juga tau, Ma. Mereka minta apa trus kita bisa beliin.. itu kepuasan tersendiri untuk kita..”

Saya : “Nah iya.. itu aku belom ngerasain.. belom bisa ber empati..”

Bu Manager : “Yaa gakpapa. Nikmatin aja. Kamu bersimpati aja.. dan coba.. berkontribusi...” ujar Si Ibu yang bikin saya tertawa terbahak-bahak. Mohon maap.. kontribusi banget nih? HAHAHAHAH..

***
Teras rumah saya berantakan minta ampun. Benteng sudah nyaris sempurna, tapi rumput terinjak-injak luar biasa. Sebagian malah kena semen berlapis. Sungguh sedih rasanya.

Masuk rumah dengan membawa perasaan seperti itu.. bawaannya suntuk. Rumah berantakan. Saya sedang mencoba declutter tapi tidak tuntas. Jadinya clutter di mana-mana.

Pukul setengah sembilan saya memutuskan tuk masak dan makan malam. Satu jam kemudian barulah saya menyadari ada yang salah pada tiang gantungan baju yang saya beli setahun lalu, sesaat setelah pindah rumah.

Selama ini saya pikir saya salah beli tiang. Saya lihat di hotel-hotel, atau rumah orang, kok tiangnya kokoh-kokoh. Digantung apa saja kuat.. tiang saya kok.. gak seimbang. Kalau digantung baju berat seperti jaket atau jeans, langsung doyong dan jatuh. Walhasil selama setahun ini saya biarkan tiang itu berdiri doyong bersandar di dinding. Baru ditegakkan kalau ada tamu datang berkunjung. Pencitraan.

Tadi sambil berpikir ngalor ngidul. Habis nangis lihat Bhai Kaba dan Bhre Kata.. saya tiba-tiba terpikir soal tiang gantungan. Entah kenapa tertarik mengamati bagian sekrup bawah yang menjadi sumber masalah. Selintas (bagi yang awam barang rakitan seperti saya), sepertinya tidak ada yang salah dengan sekrup itu. Tapi kok doyong.. batin saya. Saya amati lebih lama dan seksama dan barulah saya ber.. “oh” pelan. 

Rupanya posisi plastik penyangga nya terbalik. Dengan langkah gontai saya ke dapur mengambil obeng dan mulai membuka sekrup, membalikkan plastik penyangga, dan menutup sekrup. Tak lupa mengabadikan kebodohan itu dan mempublikasikannya di instagram.

***
Decluttering akan menjadi sulit jika dilakukan tanpa rencana. Jadi yang pertama-tama harus dilakukan adalah hasil seperti apa yang kamu inginkan setelah declutter. Apakah ruang kosong? Mengurangi barang-barang?

Siapkan kardus atau box yang bisa kamu pakai untuk mensortir. Bedakan box antara barang-barang yang mau dikeluarkan dan disimpan. Kalau saya, saya bedakan antara barang yang mau di donasi dengan yang bisa dijual lagi. 

Susun strategi. Mau mulai dari mana. Baju kah. Buku kah. Biasanya orang mulai dari baju. Karena itu yang paling banyak dan paling mudah. Selepas itu kamu bisa beralih ke kategori demi kategori dengan sendirinya. Usahakan dalam prosesnya jangan main handphone dulu. Sekali buka instagram, nge post kalau lagi beres-beres, ada yang komen, ketawa-ketawa, trus capek, tidur siang.. selesai lah. Tau-tau sudah Senin. 

Makanya decluttering saya biasa lakukan malam hari. Seperti tadi itulah walau tidak tuntas juga. Lebih kecil distraksinya, karena weekend pasti ada saja sesuatu yang mengganggu konsentrasi.

***
2019 baru dimulai, tapi Januari sudah nyaris kehabisan masa. Yuk yuk mulai lakukan perubahan. Allah tidak akan mengubah nasibmu kalau bukan kamu sendiri yang mengubah kebiasaanmu terlebih dahulu. Barusan saya juga nonton video Nouman Ali Khan yang berjudul In Between the Lines, dan dia kasih pesan yang sangat powerful tentang pentingnya pursuing. Mengejar sesuatu, tapi bukan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah level terendah dalam satu pengejaran.. pun prestis, atau popularitas, atau manfaat.

Penilaian Allah lah yang kita kejar. Allah adalah satu-satunya Dzat yang tidak menilai sesuatu berdasarkan hasil akhir, melainkan usaha. Bagaimana setiap hari seseorang menghabiskan umurnya, apa yang dia lakukan, kebaikan apa yang dia lakukan dibanding kemampuan yang bisa dia lakukan.. semua ditimbang dengan adil. Dia Maha Adil, dan tak mungkin ada yang luput di penghitungan-Nya.

Berlomba tuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah, adalah hal yang membuat hidup menjadi lebih bergairah. Karena ketika kita gagal, kita tahu Allah tidak sedang menilai kegagalan, tapi menilai bagaimana sikap kita setelah gagal. 

And these realisation about Allah are the best things that ever happened to me. All my life I was taught to pray, to believe in Allah, to love Rasulullah but never had a chance to really feel it in my heart and bone.. but now. When Allah makes me wait of something that I want the most.. when people is leaving me., abandoning me.. when the man that I believed that he was the one left me.. got married and say nothing to me.. when I wasted five years in relationship for nothing.. that I finally learn. The ultimate lesson that Allah wants me to learn. 

And still there are much more to learn. Nouman Ali Khan says that people are what they hear. What we hear repeatedly, form our way of thinking. Therefore, we need to repeating the story of Islam about all aspects over and over again. For we are Insaan.. and ‘forget’ is part of the word Insaan. 

He left me. They left me. I lose my self. I fall. I stand. On top of it all: I found Him and I found me. 
***
Bogor, 17 Januari 2019
Once you consider your self a minimalist, there will be people who judged you and told you you’re not minimalist enough. And that’s okay. People do it all the time. You just have to believe what you are and where you stand. Let the dog barks and sing.. “who let’s the dog out.. who! Who! Who!”

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …