Skip to main content

A Lesson from Nouman Ali Khan’s Video

I learn my big lesson today. Huge actually. That never will I ever.. buy fish from motorbike-vegetables-trader again. Beside the price, they don’t provide cleaning-service like what they do in traditional market or supermarket. Ngomong opo sehh.. ya intinya saya gak mau lagi beli ikan di tukang sayur karena dengan harga yang sama (dan agak lebih mahal), ikan nya tu gak di bersihin. Dan karena saya sakit sejak pagi, (gara-gara kebanyakan makan kripik balado), jadinya baru bisa ngurusin ikan itu jam sembilan malam. Sekarang saya mengerti kenapa orang-orang memilih jadi vegan.

***

Allah never put something in your heart without giving you the ability to achieve that. He won’t make you wanting something, without giving you the willingness to change.

Seharian dari pagi sambil melawan rasa sakit, saya memberesi rumah dengan sangaat lambat, sedikit-sedikit istirahat, sambil memutar video Nouman Ali Khan secara marathon. Biasanya setelah satu video saya akan pindah ke penceramah lain, entah itu Omar Suleiman atau Khalid Basalamah. Tapi hari ini mood nya lagi ingin dengar Nouman Ali Khan saja.

Dari sejumlah video yang saya dengar, saya jadi sadar satu hal: bahwa doa-doa yang diajarkan di dalam Al-Quran dan hadits Nabi SAW, kebanyakan adalah tentang memperbaiki diri. Meminta petunjuk, memohon ampun, meminta kekuatan,. Seolah-olah Allah ingin menunjukkan bahwa masalah apapun yang seseorang hadapi, solusinya sama: berubah. Merubah diri sendiri. Meng upgrade kedekatan dengan Allah. Mengokohkan pondasi keimanan. Sudah itu saja. Begitu itu sudah dikuasai, apapun jadi mudah.

Saya jadi mengerti sekarang, kenapa Allah menjanjikan pengabulan doa dari arah yang tidak terduga-duga. Bukan karena Allah ingin kita berhenti menduga, atau kalaupun sulit berhenti, berpura-pura tidak menduga. Tapi karena orang yang sudah tidak menduga, adalah orang yang fokusnya sudah teralihkan kepada hal lain.

Misal seseorang minta rumah. Dia ingin punya rumah. Setiap waktu berdoa ingin punya rumah. Setiap kali lihat rumah darahnya berdesir ingin memiliki. Tapi tidak kunjung Allah beri.

Jika si orang ini akhirnya paham, bahwa dengan punya rumah dia akan mengemban tanggung jawab yang lebih besar, maka pikirannya tidak lagi terpatri pada keinginannya itu. Mulailah dia membiasakan diri, mengubah kebiasaan layaknya seseorang yang punya rumah. Mulai merawat hunian yang dia tempati, memperbaiki sisi yang rusak, belajar untuk mengerti cara merawat bangunan, lambat laun dia akan belajar tentang pengeluaran-pengeluaran yang harus dia bayarkan jika sudah memiliki rumah, dan itu tidak hanya soal bayar hutang cicilan. Ada uang kebersihan, keamanan, belum lagi ramah tamah tetangga, kas perumahan bulanan, pajak tahunan, listrik, air, internet, tukang rumput, (bukan curhat).

Jadi dia mulai membiasakan diri menyisihkan uang sebesar biaya-biaya tambahan itu. Dan beradaptasi dengannya. Semakin dia lakukan kebiasaan-kebiasaan itu, semakin dia lupa dgn keinginannya semula (karena boleh jadi dia baru tersadarkan bahwa apa yang sebenarnya dia punya itu sudah cukup). Barulah disitu Allah mengerahkan karunia-Nya. Menghadirkan rejeki yang tidak diduga., untuk memenuhi janji-Nya. Selain memenuhi janji tuk mengabulkan doa dari arah tidak terduga, juga Allah memenuhi janji bahwa Dia akan melipatgandakan rejeki bagi mereka yang bersyukur.

Rasanya pelajaran ini lebih enak di dengar daripada di baca. Nanti kapan-kapan mau saya transkrip isi ceramah yang paling saya suka itu.

***
Hakikat ilmu bukan saja tentang mendapatkan informasi baru, tapi juga mengolah rasa agar senantiasa ingat untuk menerapkan ilmu itu (kata Ustad Salim A Fillah).

Manusia ni makhluk yang mudah lupa. Atau bisa saja ingat, tapi tidak ingat apa pentingnya yang diingat itu. Tahu bahwa bersyukur itu penting, tapi lupa untuk bersyukur setiap kali ada masalah. Makanya mengulang-ulang mendengar pelajaran, juga mesti dilakukan supaya ingat terus kenapa kita ada disini. Itulah sebab anak kecil mudah menyerap pelajaran, mereka bisa mendengar satu cerita berulang kali dalam sehari tanpa merasa bosan. Jadi orang dewasa ni mudah bosan. Dengar sekali, besoknya sudah tidak mau dengar lagi. Ah, saya sudah tahu. Padahal yang dia ketahui hanya sedikiiit sekali. Itupun lupa.

Seperti halnya sholat yang harus diulang lima kali dalam sehari. Supaya terus ingat bahwa kepada Allah sajalah kita akan kembali. Kalau tidak solat, pasti lupa bahwa ada Allah.

Jumlah sholat yang berulang juga seolah mengingatkan, bahwa tidak ada yang terus-terusan di dunia ini. Pasti ada interupsi. Lagi meeting, seru dan produktif. Harus berhenti untuk solat. Lagi senang, nonton film lucu marathon seharian, harus berhenti untuk solat. Pasti ada interupsi. Begitupun emosi. Tidak mungkin seseorang hidup dalam kesedihan terus menerus, atau kebahagiaan terus menerus. Ini supaya mengingatkan, bahwa kalau mau yang terus menerus, adanya di surga. Supaya semangat kita tuh untuk mengejar surga. Bahwa Allah sudah menyiapkan rumah di surga Firdaus (surga tertinggi) untuk SETIAP manusia tanpa terkecuali. Bedanya ada yang mau mengambil rumah itu, dan ada yang tidak. Semoga rumah-rumah kita di sana tidak kosong melompong ya, aamiin..

***
Dibalik setiap keinginan besar yang kita simpan diam-diam, pasti diiringi dengan kesadaran untuk berubah. Mengubah kebiasaan dari yang tadinya subuh kesiangan jadi subuh tepat waktu (trus tidur lagi). Dari yang malas mengantar ibu ke pasar jadi membiasakan diri bangun pagi dan antar ke pasar. Pasti hati tergerak tuk berubah jika sedang punya keinginan. And that’s the beauty of hoping. 
***

Semoga saya, kamu, dan siapapun yang membaca tulisan ini, dimudahkan geraknya tuk menuruti keinginan hati tuk berubah. Saya yakin, sebejat-bejatnya seseorang, pasti ada rasa tidak nyaman ketika dia tahu dia melakukan dosa. Ada yang abai terhadap hati kecilnya, ada juga yang akhirnya tergerak untuk kembali pulang. Allah senantiasa mencintai hamba-Nya. Tidak peduli sudah seberapa keterlaluan perilakunya. Pertolongan Allah itu dekat. Dan cinta-Nya adalah cinta terbaik dan paling tulus yang seseorang miliki.

***
Bogor, 20 Januari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Tipiss.. (Beda antara sepaham dan salah paham di dunia kerja)

Kamu akan kaget kalau tahu betapa tipis beda antara sepaham dan salah paham. Bahwa uluran tangan yang kamu maksudkan baik, boleh jadi dianggap menghina.
Misal.. Ada rencana yang sudah disusun rapi. Kamu tidak terlibat di dalamnya, tapi kamu punya akses tuk mewujudkannya. Beberapa minggu setelah dicetuskan, si penyusun rencana ini diam seribu bahasa. Tiba-tiba menghilang dari peredaran. Lalu dengan rendah hati kamu mencoba menawarkan bantuan, seperti ini: “Hey, bagaimana rencana yang sudah kau susun itu? Mau diteruskan? Kalau mau besok akan kuhubungi pihak-pihak yang akan bekerjasama”
Penerimaan si orang yang ditawarkan bantuan, bisa jadi dua; pertama, dia menyambut senang karena merasa diperhatikan. Bahwa orang yang tidak terlibat saja mau repot-repot menawarkan bantuan, dan itu menandakan adanya kepedulian. Jika dia berpikir begini, maka reaksinya tentu baik dan dengan setulus ikhlas menyambut uluran tangan itu. Atau..
Reaksi kedua, yaitu si penerima sebetulnya diam karena tengah menyusun…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …

How to Love your Job in a Minimalist’s way:

Now that you’ve considered your self as a minimalist, we may need to move forward. To think beyond space. Not only that we need to mind the clutter and the possessions but also, we need to think about the way we live the day.
As you can see minimalists like to live their ‘now’. And how to live the ‘now’ if the current job you have is the one you least enjoyed.
I’ve googled some pages and talk videos with keywords: “how to love your job”. Got the answer I’ve already know. Not bad, because that’s the only answer ever exist. Be grateful, don’t compare, have positive energy, be enthusiastic. All the be’s came with a question: how.
Now that I have to dig deeper on what affected people in the office emotionally, I finally learned that mostly, its not the job that they hate. Its the people. Could be the boss, or the managers, or the coworkers. I know how frustrating it is to work with unprofessional people who made tons of excuses a day for their incomplete tasks, but their sigh of relieve once…