Skip to main content

A Busy Mind from A Baby Vlogger (and her mommy)

Saya miris melihat anak kecil yang sedari masih belum bisa bicara sudah disodor-sodorkan kamera. Okelah kalau masih kamera ponsel yang adalah godaan terberat ketika melihat anak lucu untuk tidak direkam. Masih mafhum. Tapi ini.. kamera profesional, dengan yang besarnya seperti senjata, mengajak si anak berbincang sambil menghadapkan kamera ke arahnya. Si anak seperti sudah diajari tuk berbicara dengan robot sedari kecil. Ditanyai ini itu, dan dijawab dengan lucu. Ditonton oleh para netizen di channel youtube, banjir like dan subscribe, keesokan harinya diulang kembali.

Pikiran ini datang setelah menonton video seorang youtuber terkenal, yang dulunya dia di Bandung bikin video-video lucu, setelah punya anak memutuskan untuk pindah ke Bali. Yep. Kayaknya sebagian orang sudah familiar dengan clue itu. Inisialnya Sa, belakangnya scha. 

Bukan cuma itu.. trend anak SD jaman sekarang yang sudah kenal gadget, adalah bikin vlog. Kemana-mana menghadapkan ponsel ke wajah dan berbicara tanpa henti. Ini bahaya. Bahkan ponakan saya pun ada yang seperti itu. Untuk pertama kalinya saya ajak dia jalan-jalan ke sebuah monumen, dan yang dilakukan sejak turun dari mobil, sampai kembali lagi ke mobil adalah berbicara dengan ponselnya. Tidak peduli ketika menyebrang ada mobil yang hendak lewat, dia melenggang tanpa menengok. Kalau bukan karena orang tuanya yang meneriaki.. mungkin dia sudah.. ah.. tidak mungkin.

Bahaya sekali. Kenapa?

Dulu waktu saya masih kuliah dan mengambil jurusan minor Perkembangan Karakter, saya belajar bahwa karakter anak mulai terbentuk sejak dia masih kecil (yaiyalah masa terbalik, karakter terbentuk dari tua dulu..). Bahwa pengalaman-pengalaman, pembelajaran, dan apapun di lingkungannya, akan dia serap seperti spons kering menyerap air, dan itu menjadi pijakannya bertumbuh. 

Bayangkan jika anak dari kecil suka nge-vlog. Tertanam dalam otaknya bahwa seluruh dunia ingin tahu apa yang dia lihat, dia makan, dia alami, dia sambangi, bahwa dia akan membangun dunia di sekitarnya dan menjadikan dirinya sebagai pusat peredaran tata surya.

Orang dewasa saja.. kalau sudah kepalang menjadikan dirinya sebagai central of the universe, sudah sangat susah untuk disadarkan bahwa pusat tata surya adalah matahari, bukan elu Somaad. Apalagi ini dipupuk dari kecil.. bayangkan bagaimana kuatnya akar pikiran itu mencengkram pola pikirnya.

Yang kedua, adalah tidak bisa diam. Sedangkan Rasulullah SAW ketika ada seorang sahabat datang meminta nasehat, yang pertama beliau sampaikan adalah untuk berakhlaq baik, dan yang kedua adalah diam untuk waktu yang lama. 

Diam adalah manifestasi tertinggi dalam bentuk pencarian jati diri. Tanpa diam, seseorang tidak bisa menemukan apa tujuannya, apa keinginannya, apa kebutuhannya.. tanpa diam orang akan banyak bicara dan banyak bicara sejatinya memblok semua informasi yang masuk ke telinga. Tidak ada kan orang mendengar sambil bicara? Orang bicara sambil berjalan ada, bicara sambil melihat ada, tapi mendengar sambil bicara? Nonsense. Anak kecil yang sudah kepalang bicara dengan kamera, akan menganggap bahwa dirinya selalu punya teman bicara. Apapun yang dia rasa, di utarakan, supaya lega, katanya. Padahal selagi masih kecil, adalah penting bagi mereka untuk mendengar kisah-kisah terdahulu, cerita perjuangan para sahabat yang tidak terbayangkan dengan kehidupan yang sudah serba teknologi sekarang. Mereka yang masih kecil itu perlu diperdengarkan hal-hal baik karena mereka mudah sekali terpengaruh dari apa yang indera mereka terima. 

Saya tidak kuat jika membayangkan harus mendidik anak, lalu sebutlah saya berhasil menghindarkannya dari segala bentuk vlog, self center, dan hal-hal mulia lain yang saya juga belum tentu kuasai., tapi apa saya bisa mencegahnya dari pengaruh pergaulan di sekolah?

Atau apa anak saya nanti saya home schooling kan.. tapi nanti dia gak bisa bersosialisasi..
Hiks.. jodoh saja belum menunjukkan tanda-tanda kemunculan, saya sudah sedih takut gagal menjadi ibu.

***

Saya tiba di rumah pukul tujuh malam. Menerjang macet yang luar biasa menggila. Tumben, pikir saya sambil kepanasan di angkot sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dan jalan kaki sedikit lalu naik ojek pangkalan. Tapi itu bukan rute ke rumah saya, itu ke rumah ibu yang membantu menjahit baju saya, untuk dipakai besok lusa.

Saya melempar semua barang sembarangan, takut tidak terkejar solat magrib. Dan setelahnya.. menjatuhkan badan ke kasur sambil memeluk.. gery salut..

***

Allah Maha Menjawab Doa.. Setiap kali ingin menulis tentang Allah, rasanya saya selalu kurang. Selalu ada lebih banyak yang ada di pikiran ketimbang yang bisa tertuang menjadi tulisan. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Menentukan.

Sekarang ini sebenarnya saya sedang malu, apakah Allah sedang tersenyum geli melihat saya yang akhirnya sadar bahwa apa yang selama ini saya pinta-pinta, ternyata tidak ada apa-apanya. Kecil secuil saja dibanding dengan apa yang Dia mampu beri..
Sungguh saya malu..

Dulu saya pernah meminta-minta satu cinta. Tapi tidak saya utarakan kepada yang bersangkutan. Hanya meminta penuh harap dalam diam, bahkan saya menjadikan ibadah saya agar pinta itu terkabul. Namun tidak juga terkabul. Menunjukkan tanda tertolak pun tidak. Saya terus berusaha, dan berusaha, hingga kemudian saya berada pada titik.. yasudahlah. Kalau memang bukan jalannya.

Di titik itu juga kemudian secara bertubi-tubi Allah tunjukkan bahwa apa yang saya pinta kemarin itu.. tidak ada apa-apanya. Bahwa apa yang saya khawatirkan itu, tidak ada artinya. Lalu malam ini sambil cuci piring saya mendengar ceramah, bahwa hubungan dengan Allah tidak semestinya menjadi hubungan transaksional. Di sini hati saya menyesal dan malu sekali.. bertubi-tubi memohon ampun.

Isi ceramahnya seputar akhlaq, bahwa ibadah janganlah dijadikan alat pengabul doa. Ibadah adalah cara menunjukkan keinginan seorang hamba untuk dekat dengan Tuhannya. Setulus itu makna ibadah.

Dan inilah pentingnya diam. Kita tidak pernah tahu hati kita ini sedang dibisiki apa. Susah sekali mengalahkan bisikan di dalam sini. Jangankan untuk berakhlaq baik. Untuk meyakini bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah saja belum tentu benar-benar kita maknai. Meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tapi masih mengharap rejeki datang dari bos, kerja mati-matian lembur bagai quda tapi solat di qodho. Meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah, yang berarti beliau adalah manusia paling mulia di dunia, tapi lebih mengidolakan Mat Solar dan meniru-nirukan gayanya. Mengidolakan kan berarti menirukan ya, coba siapa di sini yang mengidolakan seseorang tapi tidak meniru gayanya.

Lebih lanjut adalah soal bagaimana melawan hati kita merasa riya, ingin dilihat orang agar dipuji, tidak ingin melakukan sesuatu karena takut dipuji, itu dua-duanya riya loh. Lalu ujub, bersombong, menundukkan hati agar senantiasa rendah hati itu sulitnya bukan main. Kalau ramai, kita mana sempat untuk memikirkan ini semua, yang ada di pikiran selalu adalah; apa yang harus dikatakan, bagaimana menimpali, bagaimana membuat orang tertawa. Ituu terus sambung menyambung. Boro-boro mau mikir untuk beristighfar atas kalimat yang salah ucap..

Saya baru sadar ini di umur dua puluh enam, dan selama itu pula saya sudah menjadi orang seburuk-buruknya orang. Rasulullah bersabda bahwa neraka terbuka lebar bagi orang-orang yang mulutnya penuh dengan keburukan, yang ketika dia bicara orang akan berjengit sambil membatin apa nih yang akan dia katakan, dan tidak ada kebaikan yang keluar dari mulutnya selain celaan, sindiran, dan membanggakan diri. Saya pernah berada di dekat orang seperti itu, bawaannya panas bo.

Semoga anak saya kelak bisa menyadari hal ini semua sedini mungkin. Menumbuhkan karakter pemimpin di dalam jiwa seorang anak itu bukan satu bulan dua bulan kan moms, perjalanan minimal dua puluh lima tahun lah itu. Karir terhebat seorang ibu, adalah ketika anaknya bisa memimpin umat kembali ke jalan yang di ridhoi Allah. Masya Allah..

***

Pikiran saya lagi berisik akhir-akhir ini. Saya lebih suka berdiam diri untuk mendiamkan mereka-mereka. Susah juga. Kalau sudah terlanjur dianggap cerewet, diam akan disangka marah. Atau lapar. Mending disangka lapar sih.

***

So yeah. You're not the centre of the universe, baby darling. Wake up! the world isn't always wanna know everything about you, heck no. Learn to keep happiest things for your self. People will ruin everything, don't do things so that you can have something on your vlog, they don't care. Do things, because you want to, and your God will love it too. 

Inget-inget pesan nenek itu ya, cu. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …