Skip to main content

13 Days of Sweetness

Jadi laki-laki sebaiknya jangan suka menyakiti perempuan. Perempuan sudah mengalami sakit rutin, tanpa perlu kalian sakiti. Setiap bulan, menstruasi datang bagai siksaan. Ada yang sakit kepala, sakit perut, ada yang sampai muntah-muntah, bahkan ada yang sampai pingsan. Itu terjadi setidaknya satu minggu sebelum datang bulan. Belum lagi emotional pain yang melanda; perasaan sedih tiba-tiba tanpa ada alasan, mudah tersinggung, mudah merasa tersingkirkan, merasa tidak dipedulikan, kesepian tanpa alasan.. dan hal-hal yang sulit dijelaskan lain, yang mungkin menurut kalian sepele, tapi tidak bagi kami. Biasanya itu terjadi satu minggu atau tiga hari sebelum datang bulan.

Pada saat harinya tiba, ketika gumpalan darah keluar dari vagina, pada saat itulah kami tahu bahwa emosi cengeng yang kami rasakan kemarin adalah karena ini, sama sekali bukan karena kami lemah, tapi karena perubahan hormon semata. Rasa lega akan datang untuk sementara waktu, membuat kami bisa sedikit bernapas nikmat. Tapi tidak sampai disitu. Keram perut, sakit kepala, dan nyeri-nyeri yang lain akan mengiringi sampai setidaknya tiga hari ke depan. Ditambah lagi, di hari kedua, darah seakan membanjir membuat siapapun yang melihat tumpukannya akan jijik sendiri. Meskipun itu darahnya sendiri.

Hingga darah itu semakin hari semakin berkurang, hingga tiba di penghujung masa, yang berbeda bagi tiap wanita. Ada yang lima hari, ada yang tujuh hari, bahkan ada yang sampai lebih dari delapan hari. Selepas usai, pun biasanya masih ada sakit fisik yang menyertai, meskipun sakit emosi nya sudah berkurang. Setidaknya sampai tiga hari selesai datang bulan.

Dalam satu bulan kita punya 30 hari, jika datang bulan datangnya 7 hari, dan periode PMS nya datang sejak 7 hari sebelum, lalu selepas datang bulan masih ada sisa-sisa perubahan hormon yang ikut memberi dampak selama 3 hari, maka total ada 17 hari seorang perempuan menderita rasa yang tidak biasa pada tubuhnya. Selama 17 hari itu apakah dia libur? Woho.. mana mungkin! Dia tetap kerja seperti biasa, membersihkan rumah, syuting bagi yang syuting, meeting bagi yang meeting, sekuat tenaga mengabaikan rasa sakit yang diderita. Lama-lama, ada yang terbiasa dengan rasa sakit itu, dan bisa membunuhnya dengan obat-obatan, ada juga yang berhasil berdamai dengan rasa sakitnya dan membiarkan rasa sakit itu menjadi teman dalam keseharian.

Hanya ada 13 hari, di mana perempuan bisa bernapas lega, menjadi dirinya sendiri seutuhnya, tanpa ada gangguan-gangguan nyeri karena perubahan hormon.

Kalian para lelaki, cari waktu 13 hari yang berharga itu, dan perlakukan perempuan mu dengan istimewa. Jaga perasaannya, karena jika sudah memasuki waktu yang 17 itu, kamu pun bisa jadi akan ikut kena imbas. Mungkin hanya rasa sayang yang membuatmu bertahan digituin terus-terusan, selama 17 hari setiap bulan. Tapi yakinlah, Puto, kalau kamu memperlakukan dia dengan baik pada 17 hari itu, kamu akan diperlakukan dua kali lebih baik pada 13 hari saat dia sedang menjadi gadis manis yang selalu kamu sanjung.

Good luck!

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert