Skip to main content

Tahap demi Tahap

Cita-cita saya sederhana. Saya hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga, yang dicintai oleh suami dan dijadikan sahabat serta panutan oleh anak-anak. Sejak dulu saya tidak pernah bermimpi akan berkantor, nine to five, dan mengejar karir. Saya hanya ingin menjadi seorang penulis, dan ibu rumah tangga.

Tapi tahapan yang harus saya jalani, justru berbanding terbalik dengan salah seorang sahabat saya yang sejak dulu memimpikan untuk menjadi wanita karir. Waktu kami duduk di bangku SMP, saya dan sahabat saya ini pernah menuliskan apa yang ingin kita lakukan setelah usia melewati dua puluhan.. saya menulis 'menikah di umur dua puluh dua' dan dia menulis 'menjadi wanita karir dan baru menikah di usia dua puluh lima atau dua puluh tujuh' .. well.. turns out.. dia menikah di usianya yang ke dua puluh dua memasuki dua puluh tiga, dan saya.. di usia yang sebentar lagi dua puluh tujuh.. masih juga.. well.. 

Tentu saya meyakini pasti ada maksud dibalik ini semua. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah ayat yang berbunyi

"...Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja,
demi malam dan apa yang diselubunginya,
demi bulan apabila jadi purnama, 
sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)..." QS Al-Insyiqaq 16-19.

Tahapan ini semua dimaksudkan untuk mempersiapkan kita, dalam pencapaian yang kita inginkan. Ternyata, untuk bisa menjadi seorang ibu rumah tangga dan menikah dengan pria yang saya cintai (dan Insya Allah juga mencintai saya), maka saya harus melewati fase patah hati, ditinggal pergi (berkali-kali), menemukan (ditemukan) oleh pekerjaan yang sangat cocok dengan karakter saya, dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai tingkatan usia. Sehingga dari sana saya belajar untuk melihat kehidupan secara lebih luas lagi, bahwa ternyata.. menjadi ibu rumah tangga.. atau menjadi pantas untuk dicintai.. tidaklah semudah memiliki paras cantik, dan bermanja-manja. Justru, terlebih dahulu saya harus belajar untuk kuat, menghadapi apapun sendirian, dan bisa mengandalkan diri sendiri sebelum nanti Allah kirimkan sepasang tangan yang akan membagi beban bersama.

Saya pernah membaca sebuah kutipan, 'when it hurts, observed! life is trying to teach you something' yang kemudian membawa saya pada kesadaran demi kesadaran tentang bagaiman sejatinya seorang perempuan harus bersikap dan membawa diri.

***

Cara kerja Tuhan memang unik dan penuh misteri. Namun Dia lah Maha Perencana yang paling rapi. Dia selalu ingin kita mempelajari sesuatu yang kita butuhkan, dan Dia lah yang lebih mengetahui apa yang kita butuhkan. Dia pun akan mengambil orang-orang yang tidak sesuai dengan kita, dengan cara-Nya. Dengan cara yang tidak kita duga-duga.

***

Berdoalah pada-Nya, karena Dia sedang merencanakan sesuatu untukmu. Yakinlah pada-Nya pada tahapan yang sedang dia hadapkan untukmu. Benahilah dirimu, agar lulus dari tahapan ini. Kuasai sesuatu yang baru. Pelajari keahlian baru. Buka duniamu selebar langkah yang kamu bisa. Karena.. pada akhirnya setiap orang pasti akan sampai di tahapan yang memang sudah sepantasnya dia dapatkan. Jika pikirannya mampu membayangkan satu tahap terbesar yang mampu dia bayangkan, maka kakinya pun akan mampu membawanya sampai pada tahap itu. Janji Allah itu pasti, bagi mereka yang meyakini.

Doa tetaplah doa, meski jawaban terkadang tidak kasat mata. Yakin bahwa Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat. Dia tahu semua yang sedang kau hadapi, dan Dia tahu semua pergulatan batin yang sedang kau pendam.

Menangislah jika kau ingin. Ketika malam terlalu sunyi dan kau merasa sendiri, meski engkau yakin Dia ada, menangislah pada-Nya yang paling pantas menjadi sandaran ketika kau bersedih hati. Tidak akan gugur kekuatan seorang raja, jika mengalirkan air mata.

Kau pantas mendapatkan yang terbaik, itulah kenapa Tuhanmu membuatmu menunggu. Sesuatu yang terbaik, tidak mungkin selesai dalam waktu yang sangat singkat. Butuh proses, butuh persiapan yang matang untuk bisa meraihnya.

Kemanapun arah pikiranmu melesat, pastika dia berujung pada keyakinan akan kehendak-Nya. Baik ataupun buruk, semua berjalan dengan sepengetahuan-Nya. Dia tidak akan mungkin menghendaki sesuatu yang sia-sia, bagi hamba-Nya yang berharap.

***


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …