Skip to main content

Cerita Pasir dan Ombak

“Apa yang paling kau takutkan di dunia ini, wahai Pasir?” Bertanya sebuah ombak sembari menggulung pelan.
Suara gemericik indah tercipta saat tubuhnya bertemu dengan Pasir halus di tepian pantai. Pasir halus.. yang ditanya terdiam sejenak.
“Sepertinya tidak ada..” jawabnya pelan “mengapa kau bertanya demikian, wahai Ombak?”
Sang Ombak sedang menjalankan tugasnya, bergerak mendekat dan menjauh dari sang pasir bersama dengan irama angin. 
“Aku ingin tahu, apa yang sahabatku paling takutkan.. agar aku bisa melindunginya dari itu” ujarnya bijak. Ombak memang selalu terdengar bijak. Setidaknya bagi Pasir yang selalu mengaguminya.

“Ah.. ada satu hal yang sangat kutakutkan!” Seru Pasir setelah diam sesaat “aku takut ditinggalkan..”
“Ditinggalkan?” Ujar Ombak heran.
“Ya. Aku takut ditinggal pergi. Sejak dulu.. aku sudah dipisahkan dari mereka yang mencintaiku. Angin menerbangkanku ke tanah-tanah asing, bergabung dengan siapapun yang dia kehendaki.
Aku tidak mengenal mereka. Mereka pun tidak mengenalku. Sampai akhirnya Sang Waktu berbaik hati memperkenalkan kami.
Sering terjadi, setiap kali aku menemukan bahagia bersama Para Pasir yang menyukaiku, Angin akan membawaku pergi lagi, jauh dari mereka. Aku pun harus selalu bisa memulai kembali.
Lalu aku memutuskan untuk menyendiri. Aku tidak ingin merasakan perpisahan lagi. Untuk itu aku memilih tuk sendiri. Pergi meninggalkan atau ditinggalkan sungguh pahit. Aku tidak ingin mengingat seperti apa rasanya..”

Sang Angin yang mendengarkan percakapan itu hanya berlalu tak peduli. Ia tahu rasanya ditinggal pergi. Namun sudah tugasnyalah memisahkan Pasir dan membawanya hingga separuh dunia. 

“Baiklah..” ujar Ombak dengan nada menenangkan “kalau begitu aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah pergi. Meski sesekali aku menjauh, bukan berarti aku pergi. Ketahuilah aku sahabatmu. Dan aku berjanji untuk selalu menjadi sahabatmu.”

Pasir tersenyum mendengar kalimat Sang Ombak. Meskipun kini dia sudah berada ribuan kilometer dari tanah asalnya, namun ia tahu ia tidak pernah sendiri.

***
Matahari berganti malam, Bulan nampak benderang. Laut terlihat tenang. Malam itu, Ombak sedang tak datang. Pasir menggeliat malas, menunggu kedatangan Ombak. Ia ingin bercerita tentang banyak hal. Tentang Angin yang membawa kabar dari tanah sebrang. Tentang Bintang yang menyapanya dari kejauhan. Namun Laut terlalu tenang. Tidak ada Ombak disana.

Bulan berganti, Ombak belum juga datang.
Sang Waktu seakan berlari, dan Pasir tak kunjung mendapati sahabatnya.

“Ombak..” bisiknya pelan. Tak ada jawaban.

Angin menatap Pasir dengan iba. Dia tahu kemana perginya Sang Ombak. Namun dia tidak tega jika harus mengatakan hal yang sebenarnya. Maka ia pun berbisik..

“Berhentilah menunggu. Mungkin dia sedang terjerat oleh badai di tengah laut.”

“Tapi.. dia tidak pernah pergi ke tengah laut” bantah Pasir semakin sedih.

Angin pun pergi meninggalkan Pasir, karena ada tugas yang harus dia emban: membawa Ombak ke daratan yang lebih luas.

***
“Kau tidak pernah tahu, kepada siapa kau sedang berbicara” ujar Pasir pada sebuah Batu “dia bisa saja terlihat baik dan pandai membuat hati tenang. Namun entah apa yang ada di dalam hatinya, hanya dia lah saja yang bisa membaca. Janji.. amat mudah untuk terucap. Padahal takdir, bukan pada kita yang menentukan..”

“Apa maksudmu?!” Tanya Batu tak sabar.

“Kau boleh percaya padaku, boleh juga tidak. Tapi suatu hari nanti, kau akan bertemu dengan sosok yang sangat bijaksana, baik hati dan dermawan. Janganlah kau percayakan dia sepenuhnya. Boleh jadi dia terlihat peduli. Untuk tau apa kelemahanmu yang sesungguhnya. Agar bisa menjadikanmu bahan tertawaan, ketika dia bosan menertawakan hidupnya”

Seusai berkata begitu, Pasir memilih untuk diam. Bisu sebagaimana Pasir yang lain. Hanya berbicara jika ada yang bertanya arah. Ia memilih diam. Dan tidak lagi mencari teman.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert