Skip to main content

Balancing Self Love and Responsibility - The act of Minimalism

Ada dua kemampuan penting yang harus -dan akan- seseorang pelajari selama ia bertumbuh sebagai manusia. Dua kemampuan ini mesti dimiliki dalam kadar yang imbang, dan keseimbangan keduanya tidak ditentukan berdasarkan umur, melainkan pengalaman dan kemauan untuk belajar (experience and willingness to learn). A wise man once said, 'when it hurts, observe! Life is about to teach you something'. And here is what I learn, from the series of pain that I had these past months. 

The Orientation

Belakangan saya belajar untuk memahami cara seseorang memandang dunia dan lingkungan sekitarnya. Ada yang egosentris, menjadikan dirinya sebagai dasar patokan segala kejadian, dan sebaliknya (namun saya belum tahu istilahnya apa), namun kebalikan dari egosentris yaitu lebih memikirkan dan mengutamakan orang lain untuk dijadikan sebagai dasar patokan.

Misalnya saja orang yang berlaku sesuai dengan keinginan, dia bisa menolak ajakan seorang teman hanya karena dirinya sedang tidak ingin kumpul-kumpul dan jika ditanya kenapa tidak mau gabung jawabannya hanya 'sedang tidak mau saja' -ini kemudian kita sebut dengan orang yang berpikir dari dalam (dirinya) ke luar- saya tidak ingin menyebut egosentris karena egosentris ini agak terkesan kekanakan bagi saya yang awam.

Sifat yang berlawanan dengan jenis orang ini, yaitu orang yang menolak ajakan seorang teman namun berusaha mencari alasan, dia tidak bisa serta merta bilang 'tidak bisa ikut' karena dia tidak ingin dianggap egois padahal memang sedang malas. Dia akan berdalih ada urusan keluarga, ayah, ibu, atau apapun itu yang harus dia kerjakan untuk menghindari ajakan kumpul-kumpul -yang ini kita sebut dengan orang yang berpikir dari luar (dirinya) ke dalam-.

Saya menyebutnya sebagai orientasi, self oriented people, atau yang saya bahasakan dengan orang yang berpikir dari dalam (dirinya) untuk mengambil keputusan, akan saya sebut memiliki kemampuan self love - dia teramat mencintai dirinya sendiri, akan mendahulukan kepentingan pribadi ketimbang orang banyak. Kemampuan ini akan saya bahas kemudian.

Sebaliknya, meski contoh yang saya pakai di atas tadi agak kurang mewakili, namun yang saya maksudkan dengan orang yang berpikir dari luar (dirinya) untuk mengambil keputusan, akan saya sebut memiliki kemampuan responsible - bertanggung jawab, sehingga baginya segala sesuatu harus ada alasan yang bisa dipertanggung jawabkan, dan dia akan mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi, itulah sebab jika dia ingin mangkir karena malas, dia tidak akan menyebut dia sedang malas, harus ada alasan yang mendasari absen nya dari panggilan bersosialisasi, yaitu tanggung jawab yang harus ia penuhi.

Responsible

Ada orang yang sejak dia lahir dan tumbuh besar, sudah memiliki rasa tanggung jawab. Biasanya terjadi pada anak sulung (atau selain anak bungsu dan anak tunggal), karena sejak dia punya adik, kedua orang tuanya akan mengajarkan untuk ikut 'bertanggung jawab' pada sang adik. Untuk mengalah, untuk menjaga adiknya, menggantikan peran orang tua ketika sedang ditinggal pergi. Setiap manusia pasti harus memiliki kemampuan ini. Namun orang-orang yang terlahir dengan kadar tanggung jawab yang tinggi, juga akan kesulitan jika sudah dewasa.

Mereka ini cenderung akan memikirkan orang lain terlebih dahulu, baru memikirkan dirinya sendiri. Akibatnya, terkadang pengorbanan yang mereka keluarkan jauh lebih besar dari yang seharusnya. Mengambil beban kerja yang tidak semestinya, karena merasa terlalu bertanggung jawab pada pekerjaan sampai lupa bahwa tubuhnya pun butuh asupan ruang yang lebih besar.

Dalam kadar tertentu, tanggung jawab adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap orang. Tapi bagi orang-orang yang terlahir dengan kadar tanggung jawab yang terlalu besar, akan menghabiskan waktu terlalu banyak memikirkan yang di luar dirinya, memikirkan orang lain, dan untuk memikirkan dirinya sendiri. (Dia bisa bersedih dengan orang-orang di Afrika sana yang kekurangan makan, sampai lupa bahwa dirinya sendiri pun untuk bisa makan enak hanya bisa satu bulan sekali).

Orang yang terlahir dengan kadar tanggung jawab terlalu besar, perlu belajar untuk mencintai dirinya sendiri, self love. Pada satu titik dalam hidupnya, dia harus menerima bahwa cinta diri sendiri, bukan sesuatu yang egois dan menjijikkan untuk dikuasai. Tapi tidak ada kadar yang menentukan kapan dan bagaimana seorang yang terlalu bertanggung jawab akan menemukan kesadaran itu, tidak ada indikator matematikanya. Karena ada orang yang bisa hidup sampai umur lima puluh tahun dan masih tidak tahu bagaimana caranya mencintai diri sendiri.

Self Love

Mereka yang sejak lahir telah dibiasakan dengan kecukupan, tidak pernah harus bertanggung jawab terhadap sesuatu, kedua orang tua siap mengakomodasi segala keinginan, biasanya akan tumbuh dengan kadar self love yang tinggi. Orang dengan tipe ini sangat mendahulukan dirinya, orientasinya ada di dalam dirinya sendiri; saya tidak akan mengambil pekerjaan ini, karena saya tidak suka dengan ruang kantornya. Sedangkan orang tipe responsible, akan tetap mengambil pekerjaan apapun meskipun dia tidak menyukai lingkungannya, karena dia sadar dia harus kerja bagaimanapun caranya.

Jika disalah artikan, self love ini dekat sekali dengan egois, sehingga dalam masa bertumbuhnya, dia harus belajar untuk mempertimbangkan orang lain, baru dirinya sendiri. Pada satu titik dia akan belajar untuk bertanggung jawab, dan berhenti mendahulukan keinginannya. Kapan? Itu berbeda setiap orang.

Life is all about balance 

Seperti teori yin dan yang, bahwa ada kebaikan di setiap keburukan, dan ada keburukan di setiap keburukan, kita tidak bisa menelan mentah-mentah dan menghakimi mentah-mentah apapun itu. Pasti ada celah, ada pengecualian yang harus diterima. Karena yang sifatnya absolut hanyalah Tuhan dan firman-Nya. Dia yang bersifat mutlak, dan berhak disembah. Selain daripada-Nya, adalah sesuatu yang pasti memiliki cacat.

Dua kemampuan yang saya sebutkan tadi, akan dimiliki oleh seseorang dan dipelajari secara bergantian. Ada yang memiliki rasa tanggung jawab lebih awal, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi, sehingga dia perlu diajari caranya mencintai dirinya sendiri. Dia yang tadinya memikirkan orang lain (di luar dirinya) lebih dahulu, lambat laun perlu melatih untuk memikirkan dirinya sendiri dulu. Mementingkan diri sendiri bukan tindakan egois bagi mereka, karena self love juga butuh usaha.

Sebaliknya, mereka yang terlalu tinggi kadar self love nya, lambat laun harus belajar bertanggung jawab. Yang tadinya tidak mau melakukan sesuatu karena memang sedang tidak ingin, maka mau tidak mau harus tetap melakukannya karena orang lain menginginkan dia hadir (misal).

***

Saya sadar bahwa beralih untuk bisa mencintai diri sendiri adalah satu perjalanan yang tidak mudah. Apalagi jika seseorang itu sejak dulunya memang tidak pernah diajari untuk mengutamakan diri sendiri. Dia sudah harus meninggalkan rumah yang nyaman sejak usia dini, sebab orang tuanya ingin anaknya menjadi anak pintar yang bisa dibanggakan.. padahal si anak mungkin tidak ingin keluar dari rumah, dia ingin tetap bersama kedua orang tuanya, meski itu artinya dia akan bersekolah di sekolah biasa saja, dan masa depannya tidak terjamin seperti yang digambarkan orang tuanya. Bagi orang-orang seperti ini, yang sudah pernah mengorbankan kesenangannya sendiri sejak masih kecil, bertanggung jawab adalah hal mudah. Mendahulukan orang lain adalah hal mudah. Tapi mencintai dirinya sendiri, adalah satu fase abstrak yang dia tidak tahu memulai dari mana.

Butuh pemicu, yang mungkin bisa berupa.. cambukan bagi dia untuk beralih dan berlatih mencintai dirinya sendiri. Untuk bisa berkata tidak, ketika dia sedang tidak ingin memenuhi ajakan seseorang. Untuk bisa berkata 'tidak' tanpa alasan. Butuh waktu bagi dia mencerna, betapa hal demikian bukanlah egois, namun penting demi keseimbangan.

***

Belajar bertanggung jawab pun bukan mudah, bagi mereka yang terbiasa mencintai diri sendiri. Mereka yang terbiasa hidup sendiri, dengan segala ketercukupan yang selalu tersedia. Yang tadinya bisa bermalas-malasan sepanjang minggu, kini harus rela keluar dan bermacet-macetan demi menemani keluarga mencari hiburan. Padahal biasanya kalau dia tidak mau ya mesti tidak mau. Tidak perlu alasan.

Pemicunya? Yaa.. biasanya berkeluarga sih. Apalagi yang bisa membuat seseorang rela mengorbankan me time nya kalau bukan keluarga.. anak.. istri.. suami.. Lambat laun pasti orang itu akan terbiasa, asalkan dia mau mencoba. Selama itu cinta, kemauan itu pasti ada kok.

***

Pain changes people

Oh ya.. people change. Face it. Semua orang yang kita kenal bertahun-tahun, meski wajahnya tidak berubah dan tetap begitu-begitu saja, pasti berubah. Jika dia tidak menunjukkan dalam laku, perubahan itu pasti ada dalam pikiran dan cara dia memandang masalah. Perubahan itu ada karena pembelajaran, dan seseorang bisa mempelajari sesuatu dari kesulitan. Pain changes people. Jadi jangan heran, ketika seseorang sudah pernah disakiti, dia tidak akan bersikap sama seperti dulu lagi. Jadi usahakan perubahan itu selalu ke arah yang paling benar. Arah yang benar adalah arah yang mana? Yaitu arah ke mana agamamu menginginkan.

And believe me.. every changes in our life.. are hard. It is always hard in the beginning. Dan seseorang tidak akan berhenti merasakan perubahan-perubahan dalam hidupnya, bergantian rasa sakit dan senang, sampai kemudian dia sampai pada keseimbangan, dan selesailah tugasnya di dunia. Kita semua tidak akan pulang, sampai selesai semua cobaan diberikan atas kita. Jadi tenang saja, kita semua pasti diuji kok. Jika terus menerus fokus pada ujian, dan berharap segera terbebas darinya, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah bahagia. There is always a hole, because life will never whole. 

***

Minimalism tries to train you with balance, in order to keep the amount of your stuff balance with the amount that you need. Avoiding excess is one way to avoid loss. When you only have what you need, you will use those things in its maximum capacity. When it reach its end, you'll know it and will let it go easily by saying 'it has accomplished its task, now its time to rest and I'll find a new stuff'. 

Minimalism wants you to enjoy the moment, less worrying the future, and not living in the past. Tomorrow doesn't happen yet, and yesterday has already gone. Live for today, because it will never come back again (and even the moon can't promise you tomorrow). 

You don't go around with anxiety, with  concerning what might happen if certain things happen, while those certain things aren't happening yet, and what might happen may not happen, you'll save some energy when you live with minimalist's thought. Because worrying won't bring anything to the table. When I was driving with my friends, and our fuel unexpectedly hits the lowest bar, and we were stuck in traffic, I can sense they're worrying about the possibility of we ran out of gas. I told them to relax. I told them that worrying or not, if it meant to happen (ran out of gas), it will happen. And when it happen, I will need their energy as much as they have, and worrying is a waste of energy. 

They didn't. They keep asking me how far is the gas station, repeatedly telling me how anxious they are of we ran out of gas, and so on.. (the lists are growing and I stop listening, so I sing). 

When we finally arrived at the gas station, we're all exhale in satisfaction. So I ask.. 'So.. what did the anxiety give you?' and they said.. nothing. 'Well, at least relax help me enjoy the traffic and I found one happy place to eat, along the road side'. They laugh. 

Don't be so blinded by trial. It only comes for a while, as much as happiness lasted. Just a matter of time, and you will experience it all. It is Allah's promise, and He never breaks His promises. 

***

Bogor, Oct 3rd 2018. 22.40
Send our best prayers for Palu-Donggala and Manado. The end is near, Allah has promised that Doomsday will surely come, so here are the signs. Don't be afraid, for Allah is also near. And He Loves you, more than you know.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert