Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2018

Kalau Kamu...

Kalau kamu pernah menangis sendirian, di ruang kerja yang sepi dari celoteh yang biasanya ramai,. yakinlah  bahwa Allah Maha Melihat.
Kalau kamu pernah diperlakukan tidak adil, dan merasa terhina sebagaimana kantung plastik yang dilempar dari jendela mobil,. yakinlah bahwa Allah Maha Adil.

Kalau hatimu pernah sakit, tersakiti oleh ucapan yang memang dimaksudkan untuk menyakiti perasaanmu, yakinlah bahwa Allah Maha Penyayang.

Dia dengan segala kuasa-Nya, akan menggantikan setiap tangis yang kau simpan diam-diam. Dia dengan segala kelembutan-Nya, akan memberimu bahagia yang selalu kau idam-idam. Masalahmu tidak seberapa dibanding kehebatan-Nya. Mudah saja bagi-Nya memberi apapun yang kamu inginkan. Asalkan engkau bersabar.

Maka sabarlah sayang..
Setiap yang ada disini memiliki ajal. Sedihmu pun memiliki ajal. Perasaan tertekanmu memiliki ajal. Semakin sulit itu terasa, semakin dekat kau dengan penghujung masalah. Cahaya akan terbit, jika malam telah melalui gelap pekatnya.

Bertawakal ha…

Mencintai Karena Allah itu....

Dulu, sewaktu masih pacaran jaman dinosaurus masih hidup, saya sering bertanya tentang satu hal.. hal yang saya lihat ada pada beberapa teman di sekitar saya, namun saat itu tidak ada pada saya. Hal tersebut adalah 'bagaimana cara mencintai karena Allah". 

Saat itu saya mencoba, tapi gagal dan sudah pasti akan gagal. Bagaimana caranya saya mencintai pacar saya karena Allah, the so called 'dalam ketaatan', saat sedang ingkar. Yang saya jalankan adalah hal yang Allah larang, bagaimana ceritanya saya mencintai dia karena Allah. Dan saya tidak menemukan ketentraman di sana.. hingga akhirnya kami berpisah.

Di tahun di mana kami memutuskan berpisah itulah, saya seperti me-restart pengetahuan saya tentang hidup. Saya pikir saya tahu, dan ternyata yang saya ketahui hanyalah sedikit sekali. Saya pun masih penasaran dengan bagaimana caranya mencintai karena Allah.. seperti apa rasanya, dan bagaimana mengaplikasikannya?

Lalu saya bertemu dengan beragam cerita, dengan orang-orang…

Tahap demi Tahap

Cita-cita saya sederhana. Saya hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga, yang dicintai oleh suami dan dijadikan sahabat serta panutan oleh anak-anak. Sejak dulu saya tidak pernah bermimpi akan berkantor, nine to five, dan mengejar karir. Saya hanya ingin menjadi seorang penulis, dan ibu rumah tangga.

Tapi tahapan yang harus saya jalani, justru berbanding terbalik dengan salah seorang sahabat saya yang sejak dulu memimpikan untuk menjadi wanita karir. Waktu kami duduk di bangku SMP, saya dan sahabat saya ini pernah menuliskan apa yang ingin kita lakukan setelah usia melewati dua puluhan.. saya menulis 'menikah di umur dua puluh dua' dan dia menulis 'menjadi wanita karir dan baru menikah di usia dua puluh lima atau dua puluh tujuh' .. well.. turns out.. dia menikah di usianya yang ke dua puluh dua memasuki dua puluh tiga, dan saya.. di usia yang sebentar lagi dua puluh tujuh.. masih juga.. well.. 

Tentu saya meyakini pasti ada maksud dibalik ini semua. Sampai akhirny…

Cerita Pasir dan Ombak

“Apa yang paling kau takutkan di dunia ini, wahai Pasir?” Bertanya sebuah ombak sembari menggulung pelan.
Suara gemericik indah tercipta saat tubuhnya bertemu dengan Pasir halus di tepian pantai. Pasir halus.. yang ditanya terdiam sejenak. “Sepertinya tidak ada..” jawabnya pelan “mengapa kau bertanya demikian, wahai Ombak?” Sang Ombak sedang menjalankan tugasnya, bergerak mendekat dan menjauh dari sang pasir bersama dengan irama angin.  “Aku ingin tahu, apa yang sahabatku paling takutkan.. agar aku bisa melindunginya dari itu” ujarnya bijak. Ombak memang selalu terdengar bijak. Setidaknya bagi Pasir yang selalu mengaguminya.
“Ah.. ada satu hal yang sangat kutakutkan!” Seru Pasir setelah diam sesaat “aku takut ditinggalkan..” “Ditinggalkan?” Ujar Ombak heran. “Ya. Aku takut ditinggal pergi. Sejak dulu.. aku sudah dipisahkan dari mereka yang mencintaiku. Angin menerbangkanku ke tanah-tanah asing, bergabung dengan siapapun yang dia kehendaki. Aku tidak mengenal mereka. Mereka pun tidak m…

Balancing Self Love and Responsibility - The act of Minimalism

Ada dua kemampuan penting yang harus -dan akan- seseorang pelajari selama ia bertumbuh sebagai manusia. Dua kemampuan ini mesti dimiliki dalam kadar yang imbang, dan keseimbangan keduanya tidak ditentukan berdasarkan umur, melainkan pengalaman dan kemauan untuk belajar (experience and willingness to learn). A wise man once said, 'when it hurts, observe! Life is about to teach you something'. And here is what I learn, from the series of pain that I had these past months. 

The Orientation

Belakangan saya belajar untuk memahami cara seseorang memandang dunia dan lingkungan sekitarnya. Ada yang egosentris, menjadikan dirinya sebagai dasar patokan segala kejadian, dan sebaliknya (namun saya belum tahu istilahnya apa), namun kebalikan dari egosentris yaitu lebih memikirkan dan mengutamakan orang lain untuk dijadikan sebagai dasar patokan.

Misalnya saja orang yang berlaku sesuai dengan keinginan, dia bisa menolak ajakan seorang teman hanya karena dirinya sedang tidak ingin kumpul-kump…