Skip to main content

Sedikit Lagi

Dia akhirnya beranjak
“Aku pamit,” ujarnya sembari meletakkan sehelai undangan
Dia diam tak bergerak
Matanya nanar menatap lembaran yang tergeletak.

***
Dia.. dia.. juga dia
Satu persatu mereka pergi
Dengan atau tanpa pamit pun tetap pergi
Mengulurkan tangan pada jemari yang lain
Uluran yang dulu pernah tertuju untuknya,
Namun ragu tuk ia remas

***
Pada jumawa ia bertanya
Adakah ini hukuman karna tak mau membuka ruang
Padahal bukan enggan yang ia pegang,
Ketakutan masa silam yang tak ingin lagi dia kenang
Lalu semua pergi
Uluran demi uluran pun ditarik kembali
Tak menyisakan seutaspun untuknya berdiri
Dia hanya bisa duduk dalam diam dan sendiri
Bertanya pada sang semilir yang membisik

***
Wahai jiwa yang tengah menengadah
Salahmu terlalu kecil jika dibandingkan ampunan-Nya
Tidak ada yang mustahil bahwa semua kan indah
Bukan karenamu mereka berpindah
Tapi Dia yang mengaturnya untukmu mengularkan kisah

***
Wahai cahaya yang tengah redup
Jika mereka tak memilihmu tuk menjadi pendamping hidup
Berhentilah menyalahkan dirimu yang tertutup
Bukan itu nafas yang harus kau hirup

***
Karena kelak sejatimu akan tiba
Pasti seperti yang telah Dia janjikan
Tahap demi tahap akan kau rasa
Dan sejati tidak akan berteka teki membuatmu ketakutan

Akan kau dapati takutmu lenyap
Kau buka hati pada dia yang bersiap
Melangkah mantap
Tanpa kalimat bersayap

Kalian dua jiwa yang telah ditakdirkan bersama,
Bersabarlah sedikit lagi.
Sedikit lagi
Sedikit lagi
Sedikit lagi

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert