Skip to main content

Titik Temu

"...Fa-inni qoriib" ~ ...I am indeed near [QS Al-Baqarah: 186]

***

Perempuan itu melepas belenggu yang mengikatnya di hadapan rembulan. Awan hitam menutupi sebagian cahaya, yang tinggal separuh terlihat. Tidak lagi sama, dengan bulan bulat sempurna yang ia saksikan di hari lalu.

Tangisnya pecah kala menyadari bahwa Tuhannya berjanji untuk mendekat. Bahwa Dia dekat.. dan berjanji untuk mendekat lebih cepat ketimbang hamba-Nya. Allah itu dekat.. bisiknya dalam isak. Ampuni aku.. isaknya semakin keras.

Ia memohon ampun berkali-kali sembari bertanya. Apa yang sedang terjadi pada diriku, duhai Tuhan Yang Maha Mengetahui? Apa yang sedang Kau rencanakan untukku, duhai Tuhan Yang Maha Menentukan? Maukah kau senantiasa menyayangiku, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang? Maukah kau untuk selalu ada bersamaku, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih?

Ia menangis tanpa jeda. Tak peduli langit malam yang kian murung selepas menurunkan hujan. Tidak ada lagi gemulai bintang yang bersinar lemah seperti yang ia lihat malam lalu. Bulan pun murung seolah tahu apa yang tengah perempuan itu tempuh.

Ampuni aku.. bisiknya lagi.

Ampuni aku...

***

Tenang itu baru dia dapat setelah membaca ayat-ayat suci yang Tuhannya turunkan ribuan tahun silam. Berkisah tentang sekumpulan pemuda yang tertidur selama tiga ratus sembilan tahun di dalam gua. Serta makna dari perselisihan di antara mereka.

Berapa jumlah pemuda itu?
Tiga?
Lima?
Tujuh?

Tidak ada  yang mengetahui secara pasti kecuali Dia. Yang menginginkan hamba-Nya untuk tidak berfokus pada hal kecil seperti jumlah, sedangkan ada pelajaran yang lebih penting untuk diambil hikmahnya.

Bukankah semua ini adalah tentang memetik hikmah? Perempuan itu mulai mengerti. Ia masih tidak paham mengapa Tuhannya menurunkan perasaan ini kepadanya. Mengapa Tuhannya menghendaki semua ini terjadi padanya. Namun ia mulai mencoba menemukan cara agar bisa mengerti alur cerita yang telah dituliskan untuknya. Jika Allah tidak menghendaki, tentu mereka tidak akan pernah bertemu. Jika Allah tidak menghendaki, tentu perasaan ini tidak punya tempat untuk bertumbuh.

Perempuan itu sadar, bahwa bukan hanya harta dan keturunan saja yang Allah titipkan pada hamba-Nya, melainkan juga perasaan.. cinta serta kasih sayang. Jika bukan karena Allah yang menghendaki, maka perasaan cinta yang sedang ia pendam ini tidak akan menemui jalan, dan akan mati ditengah-tengah keramaian.

Kala rembulan masih bersinar begitu terang, ia melemparkan secarik kertas. Bertuliskan seluruh isi hatinya terhadap cinta yang telah lama ia pendam. Ia lemparkan agar bulan mau membaca. Ketika sedang cantik, bulan biasanya sedang gembira dan mau membaca setiap apapun yang manusia kirimkan. Perempuan itu bertutur tentang perasaan yang muncul secara tiba-tiba. Begitu kuat tertanam bahkan hanya dalam satu kali tegur sapa. Ia pun menuliskan tentang betapa telah berkali-kali ia meminta, agar dialihkan jika memang mereka tidak ditakdirkan untuk bersama. Pada Dia Sang Maha Pemilik Hati, perempuan itu memohon dengan lirih dan teramat mengharap, agar dihindarkan dari patah hati lagi. Entah sudah keberapa kali ia begini, dan ia tidak ingin itu terulang kembali.

Ia bahkan meratap agar Tuhannya mau mencabut perasaan itu, jika memang dia bukan miliknya. Atau sebaliknya.. membukakan dan memudahkan jalan jika mereka memang ditakdirkan untuk satu sama lain..

Lalu dia menunggu..
Purnama berganti pun ia tetap menunggu..

Perempuan itu tidak ingin habis kesabaran, maka setiap kali bulan hadir di tengah langit malamnya, dia kan berlari menemui sang rembulan. Mengisi ulang daya tahan sabar nya tuk bertahan.

***

Perempuan itu tanpa sadar telah berevolusi menjadi karakter yang berbeda. Karakter yang hanya dia kenali lewat buku-buku dan cerita sejarah yang dia baca. Ia menjadikan Tuhannya sebagai sandaran, dan menemukan cara untuk mencintai dirinya.

Pada satu ketika seseorang datang mengulurkan lengan, ia hanya bisa menatapnya penuh harap. Dalam hatinya hancur berantakan, puing benteng yang ia bangun runtuh tak bersisa. Ia berharap ini bukan candaan, namun tidak bisa ia ungkapkan karena memang semua tertawa. Lengan yang disodorkan untuknya, didorong halus dalam balutan tawa, sebab ia terlalu takut untuk menitikkan air mata.

Ia takut jika yang lalu terulang kembali..
Ia takut menggantungkan harap pada manusia yang bisa sewaktu-waktu pergi..
Ia takut.. jika ia sambut uluran hangat itu,
Ia takut tidak bisa melepasnya tanpa desir di dalam hati..

Ia ingin uluran itu nyata untuknya. Namun terlalu takut untuk bertanya. Benteng yang telah ia bangun kini terlanjur runtuh tak bersisa. Ia harus mengumpulkan puing demi puing dan memulai ulang dari awal. Menguatkan hati, agar bisa menunggu dengan lebih setia. Pada seseorang yang Tuhannya telah siapkan untuknya. Meski sosoknya masih berupa sebuah tanda tanya.

***

Maka pada rembulan dia bercerita,.
Pada Tuhannya dia bertanya..
Mengapa setelah sekian lama.. perasaan ini tidak mengecil jua? Justru sebaliknya.. 

Perempuan itu menenggelamkan wajahnya yang basah oleh air mata. Berharap malam ini rembulan akan pergi sembari meninggalkan jawaban. Karena dia pun tahu, waktu lah yang akan memperlihatkan ujung penantian ini. Karena nya ia berhenti menangis. Puas bertanya dan bercerita. Melipat ujung sajadah, meletakkannya rapi di dalam laci.

Bersiap tuk menunggu lebih sabar ini, dengan satu keyakinan di dalam hati. Bahwa penantian ini, akan berbuah pasti. Allah itu dekat. Allah itu Tahu Segalanya. Allah Mendengar dan Melihat segalanya. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert