Skip to main content

Surat Kecil Untuk Lombok

Tuhan sedang menunjukkan kebesaran-Nya. Malam kemarin kita semua dikejutkan dengan kabar peringatan tsunami di Lombok, yang disertai dengan gempa tektonik susul menyusul.. Malam ini kabarnya langit malam akan menampilkan empat planet berjajar, sebagai salah satu fenomena langit yang patut disaksikan.

Baik kejadian di Lombok maupun keindahan langit malam ini, keduanya adalah tanda. Dan bukankah Allah seringkali menyebut, terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir? 

***

Gempa hebat yang terjadi di Lombok diikuti dengan sejumlah opini. Sebagian memiliki dalil dan referensi yang cukup, sebagian lagi asbun. Sayangnya, kebanyakan orang tertarik untuk membaca yang asbun. Bukan untuk menambah pengetahuan, melainkan untuk mencaci maki cara berpikir yang dianggap aneh dan asal bunyi.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan malam ini. Justru saya ingin menuliskan tentang 'kebesaran' yang sedang Allah tunjukkan kepada kita. Karena malam kemarin, selagi peringatan tsunami diluncurkan, saya mengikuti beritanya melalui streaming dan twitter sembari berpikir.. apakah ini cobaan? ataukah ini hukuman?

Mereka yang berada di Lombok malam itu, pasti punya rencana. Ada yang berada di rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga, ada yang berbelanja di pusat perbelanjaan, ada yang tertawa sambil menikmati deburan ombak.. Setiap orang punya rencana bagaimana mereka akan menghabiskan malam. Namun semua rencana itu buyar seketika dikala bumi bergetar hebat. Gedung-gedung hancur, rumah rubuh, semua orang lari tunggang langgang berusaha menyelamatkan diri. Sempatkah terpikir bagi mereka rencana yang sudah tersusun rapi untuk menghabiskan malam? Tidak. Semua sibuk menyelamatkan diri.

Begitupun mereka yang tidak berada di Lombok, namun memiliki sanak saudara atau kerabat dekat. Sore yang tadinya tenang berubah menjadi petang penuh ketakutan. Memanjatkan doa-doa dalam berbagai cara dan agama, karena hanya itu yang mereka bisa lakukan. Berdoa.

Dalam seketika setiap orang ingat untuk berdoa. Semuanya ingat untuk melemparkan harap pada sesuatu yang tidak terlihat. Doa.

Dan ketika langit dihujani oleh doa yang berdatangan dari segala penjuru dunia, ketika semua perhatian terpusat dan setiap kata yang dirapal adalah untuk perlindungan mereka yang berada di tempat kejadian., kita semua menyaksikannya sendiri.. bagaimana doa-doa itu terjawab dan peringatan tsunami dicabut.

***

Apa yang terjadi di Lombok adalah musibah. Bencana yang disebabkan oleh kehendak alam, dan bukan buatan manusia. Namun sebagian orang menduga itu adalah hukuman. Akibat mereka yang di Lombok lalai dengan perbuatannya, bermaksiat, dan membuka lebar-lebar pada jalan yang sesat.

Tapi, hey.. tunggu dulu. Hukuman?

Apakah itu berarti mereka yang di Lombok lebih berdosa daripada mereka yang di Jakarta, misalnya? Apakah itu berarti mereka yang bermaksiat di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, bebas dari hukuman? Kenapa hanya Lombok yang di hukum sedangkan zina terjadi di setiap kota negeri ini. Kehidupan malam, pergaulan bebas, pun terjadi di negeri barat sana, tapi kenapa hanya Lombok yang diberi gempa?

Adakah kamu pernah mendengar, bahwa Tuhan memilih hamba-Nya yang diberi petunjuk? Dan petunjuk tidak selalu datang dengan manis dan cantik. Petunjuk bisa datang dengan guncangan atau muntahan lahar. Allah memberi petunjuk pada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan ketika orang-orang itu Dia kehendaki untuk mendapat petunjuk, kau sebut orang-orang itu sedang dihukum?

Bukankah itu tanda Allah sedang sayang pada mereka? Allah mengingatkan kita semua, melalui mereka, untuk kembali kepada-Nya. Untuk tidak meneruskan dosa-dosa yang sering kita perbuat. Kenapa Allah mau repot-repot mengingatkan hamba-Nya padahal Allah tidak diuntungkan maupun dirugikan jika manusia-Nya percaya atau tidak kepada-Nya?

Jika kita sayang pada seseorang, tentu kita akan terus menerus mengingatkannya pada kebaikan. Ibu yang marah pada anaknya, bukanlah untuk menghinakan si anak melainkan untuk kebaikan si anak. Agar anak itu tidak mengulangi perbuatan yang bisa mencelakakan dirinya.

Allah juga sama.

Dan jika peringatan itu adalah tanda sayang Allah pada kita.. dan jika itu agar kita sadar bahwa Allah sayang pada kita.. apalagi yang kita butuhkan di dunia ini?

Allah sedang menyampaikan pesan pada hamba-Nya, Hey! I Love You! Why don't you see it? I LOVE You! So stop doing what could be harmful to you. I Love You! 

Terkadang musibah memang datang pada satu orang, untuk menyelamatkan ratusan bahkan ribuan orang lain. Kali ini, Lombok lah yang didatangkan musibah, namun hidayah itu menyebar di segala penjuru bumi. Tinggal kita mau menangkapnya atau tidak.

Sebagaimana Allah menjerumuskan Nabi Yusuf ke dalam sumur. Seorang anak yang lugu dan tidak berdosa, dibuang oleh saudaranya sendiri. Lantas jika itu kau anggap sebagai hukuman, apa kesalahan fatal yang bisa diperbuat seorang anak kecil seperti beliau saat itu? Tidak. Justru Allah sedang menyelamatkan ribuan orang melaluinya. Terbilang ribuan anak kecil tidak jadi kelaparan dan tetap bisa mendapat makanan, ribuan perempuan tidak jadi kehilangan bayi nya akibat bencana kelaparan, oleh sebab Nabi Yusuf yang dibuang ke sumur. Karena tanpa itu, beliau tidak akan diangkut oleh saudagar kaya, dijual sebagai budak, memikat hati istri bangsawan, hingga dijebloskan ke penjara. Belasan-puluhan tahun Nabi Yusuf berpisah dari ayahnya yang ia cintai,. patah hati berkali-kali dia rasakan. Jika itu hukuman, apa yang telah dia perbuat hingga pantas dihukum sedemikian rupa?

Tidak. Allah memberinya ujian, bukan untuk menghukum Nabi Yusuf. Melainkan untuk memuliakannya, dan menyelamatkan seluruh penduduk negeri.

Siti Maryam, perempuan suci yang senantiasa menjaga diri. Tidak pernah tersentuh laki-laki, dan bahkan doanya dikabulkan oleh Allah dalam bentuk fisik tanpa tedeng aling-aling. Buah-buahan Allah berikan langsung, khusus untuk Siti Maryam yang berdoa ingin buah-buahan. Sebegitu sayang Allah kepadanya, sehingga apapun yang beliau pinta pasti dikabulkan.

Namun Allah memberinya karunia, yang sekaligus juga ujian baginya. Mengandung seorang anak, tanpa pernah menikah. Bayangkan tekanan batin yang dia rasakan, bahkan baginya lebih baik menghilang dan terlupakan. Siti Maryam, seorang perempuan terhormat yang dekat dengan Tuhannya, sampai memohon untuk dilenyapkan saja dari muka bumi, dan menghilang dari ingatan setiap orang yang mengenalnya. Begitulah jalan berpikir seorang yang depresi, they shut people off, don't wanna talk to anyone, wishing their gone and be forgotten forever. Siti Maryam, perempuan yang sangat dekat dengan Tuhannya, sampai merasakan pergumulan batin sedemikian hebat.

Apakah itu hukuman?
Apa yang beliau lakukan sehingga pantas untuk dihukum sedemikian rupa? Beliau seorang suci, senantiasa beribadah dan menjaga diri. Kenapa dihukum?

Tidak. Allah tidak sedang menghukum Siti Maryam dengan kandungannya. Juga tidak menghukumnya dengan pandangan sinis serta negatif dari orang-orang sekitarnya. Tekanan tinggi yang ditujukan padanya, bukan untuk menghukum perempuan yang kesuciannya tidak diragukan. Namun Allah sedang memuliakannya. Dari rahimnya, lahir seorang nabi yang kelak akan menjadi penyelamat umat di akhir zaman. Yang akan turun dan membunuh fitnah terbesar di muka bumi; Dajjal. Allah juga memuliakannya dengan terus menerus menyebut namanya setiap kali nama anaknya disebut; Isa Binti Maryam, Isa Binti Maryam, sebagai satu-satunya nama orangtua dari seorang nabi yang selalu disandingkan namanya dengan nama anaknya di dalam kitab suci.

Ingatlah bahwa ketika musibah itu datang, bukan karena Tuhan sedang membencimu. Meskipun memang apapun yang terjadi dalam hidup seseorang, adalah balasan terhadap apa yang dia perbuat. Namun musibah selalu datang dengan kasih sayang Allah yang mengiringi. Selalu. Karena jika Allah berkehendak, Dia bisa saja membiarkan seseorang dalam kesesatan selama-lamanya. Tidak mengingatkan kepadanya bahwa perbuatan itu sebenarnya salah. Tapi nanti di akhirat ganjaran yang akan dia terima beratus kali lipat ketimbang jika dia bertaubat.

Allah selalu rindu dengan hamba-Nya. Allah rindu hamba-Nya memanggil-Nya. Dia akan datang dua kali lebih cepat apabila ada hamba-Nya yang mau datang mendekat. "....Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat." (HR Bukhari No 6970 dan Muslim No 2675). 

Kenapa?

Bukankah Dia Maha Agung, Maha Besar, apakah Dia kesepian?
Tentu tidak. Allah tidak pernah kesepian dengan segala penciptaan yang jikalah Dia berkehendak, dapat dilipatgandakan-Nya semesta ini. Kenapa Dzat Yang Maha Tinggi, merindukan seonggok tanah macam kita-kita ini?

Karena kita berharga bagi-Nya. Itulah tanda sayang Allah pada manusia. Dia memuliakan manusia. Dia menunggu kedatangan manusia. Pinta apa saja pasti akan dijawab. Manusia, makhluk yang Dia bekali segala macam kemampuan., termasuk kemampuan menganggap-Nya tidak ada.

***

Tidaklah berada dalam kerugian bagi seorang mukmin, kecuali dia ingkar. Karena dalam setiap kebaikan ada berkah dan ridha Allah yang menyertai, dan dalam setiap musibah ada pertolongan serta janji Allah yang menanti.

Beruntunglah bagi mereka yang mengalami musibah, dan melalui musibah itu ia kembali menghadapkan wajahnya ke rumah Tuhannya. Kembali mengingat Tuhannya, karena sifat dasar manusia adalah mudah lupa. Beruntunglah bagi mereka yang diberi musibah, lalu dengan musibah itu memberi hidayah pada sebanyak-banyaknya orang disekitarnya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain.

Musibah datang dalam bentuk bermacam-macam. Setiap orang diuji dengan kadar kemampuannya masing-masing, namun yang dirasakan bisa jadi sama berat. Tidak perlu membandingkan musibah siapa yang lebih berat, sehingga bisa merasa lebih mulia. Allah yang menentukan siapa yang Dia muliakan, besar kecilnya musibah tidak menjadi tolak ukur.

Meski begitu, tidak semua musibah mendatangkan hidayah. Ada juga orang yang justru menyalahkan Allah dan berburuk sangka pada-Nya. "Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata 'Tuhanku telah memuliakanku'. Namun apabila Tuhan mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata 'Tuhanku telah menghinakanku.' Sekali-kali Tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram), dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan." QS Al-Fajr 15-20. 

Musibah, ujian, cobaan, adalah paket bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Cukuplah bagi kita mengetahui Allah menyayangi kita. Tuhan pemilik semesta alam, sayang sama kita. Coba kalau kita disayang sama pak presiden, pasti bahagianya bukan main, segala yang diminta pasti dikasih, sekali telepon presiden langsung utus ajudan-ajudannya untuk memenuhi yang kita mau. Ini Allah loh yang sayang..

***

Di dalam kutipan hadits yang sama seperti yang di atas tadi, Allah juga berfirman; Aku prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka apa yang terjadi pada Lombok saat ini, jika kita berpikir itu adalah hukuman, maka jadilah itu hukuman. Namun jika kita berpikir itu adalah hadiah, karena Allah sedang mengampuni dosa-dosa mereka, meringankan adzab mereka di akhirat kelak, maka jadilah demikian. Bagi mereka yang beriman, tentu tidak akan menegasikan adanya hari akhir.

Hari di mana semua orang diperlihatkan perbuatannya selama di dunia. Buku diserahkan kepada setiap individu, tidak terlewat satu orang pun. Ada yang menerimanya dengan tangan kiri, dan ada yang menerimanya dengan tangan kanan. Dan satu sama lain tidak bisa menjadi penolong bagi yang lain. Semuanya menunduk, sebagaimana hari ini kita semua menunduk, menyaksikan dunia yang sudah berada dalam genggaman kita masing-masing. Besok, yang ada di genggaman kita adalah catatan perbuatan baik dan buruk selama di dunia. Pastikan kita lebih banyak membaca yang baik-baik ketimbang yang buruk.

***

Lalu apa yang membuat saya bahagia hari ini?

Well, semalam lepas mengikuti berita Lombok, sebuah kesadaran menghantam saya. Kesadaran yang sama ketika dulu saya di delay pesawat selama delapan jam (sehingga harus menunggu di bandara selama total sepuluh jam). Bahwa sebaik-baik manusia berencana, Allah lah yang punya kuasa atas segala kejadian di muka bumi. Daun yang gugur, ombak yang berdebur, semua terjadi dengan kehendak-Nya.

Saya tersadar bahwa hidup bisa saja berubah sewaktu-waktu. And all it takes is just one day. One day to change everything. Tsunami yang menimpa Aceh dua belas tahun silam, hanya terjadi dalam satu malam. Kota yang dibangun selama puluhan tahun, hancur dalam semalam.

Allah hanya butuh satu hari, satu malam, satu jam, bahkan satu detik untuk merubah hidup seseorang. Termasuk saya. Apapun bisa terjadi. Dan saya yakin apapun yang terjadi dengan kehendak-Nya adalah yang terbaik.

Untuk itu pagi tadi saya bangun kesiangan, dan memutuskan untuk bahagia. Bahwa hari ini saya bahagia. Karena saya bahagia.

Saya berangkat ke kantor dengan pilihan bahagia. Saya menyapa setiap orang, dengan bahagia yang sebenar-benarnya. Sampai ada yang bertanya, apa yang membuat saya bahagia. Saya hanya tertawa, dan mengajak semua orang tuk berbicara. Ketika saya diminta tuk memimpin rapat pagi itu karena alasan yang sederhana 'karena kayaknya lagi bahagia'. 

Lalu saya diminta untuk menemani seorang rekan, mencari buket bunga pengantin yang akan dia gunakan minggu depan, dengan bahagia saya turut menemani, lalu membawa pulang sebuket bunga yang saya beli sendiri. Bunga putih yang menambah bahagia saya di tengah hari. Rekan lain bertanya dari mana bunga itu, dan apakah si pemberi bunga itu yang membuat saya bahagia, saya menggeleng dan saya jawab 'ini saya beli sendiri' lalu dia tertawa. Kita tertawa bersama, menertawakan perempuan yang membeli bunganya sendiri.

Ya. Saya bahagia.
Karena saya memutuskan untuk bahagia. Karena saya tahu bisa saja Allah cabut nikmat ini sewaktu-waktu. Kedua mata yang diperkenankan tuk melihat, telinga tuk mendengar, tubuh yang sehat, teman-teman baik di sekitar, dinding utuh pelindung, bumi yang tidak berguncang, semuanya adalah nikmat yang bisa saja pergi kapanpun Allah kehendaki.

Maka selagi itu semua utuh saya miliki, saya memutuskan untuk bahagia.
Karena bahagia tidak selalu butuh alasan.

***

Bogor, 6 Agustus 2018
Semoga mereka yang kehilangan sanak saudara, kerabat serta harta di Lombok, bersedia tuk menabahkan hati, meyakini bahwa ini semua terjadi karena kehendak Allah. Dan jika Allah yang berkehendak, maka tidak akan ada yang pergi dengan sia-sia.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert