Skip to main content

"Lalu, siapakah aku?"

"Siapa yang disebut asli? Nenekku budak dari Bali, kahwin dengan juru masak Belanda yang ingin belajar masakan Hindia-Belanda. Aku tidak pribumi. Tidak Belanda, lalu siapakah aku, Tuan Tjokro? Bahkan pastur Belanda pun tidak mau membaptisku, Tuan Tjokro. Siapakah yang akan melindungi aku?" Stella, dalam film Tjokroaminoto.

***

Film Tjokroaminoto tayang di bioskop pada tahun 2015. Tahun di mana saya berhenti melakukan rutinitas gabut enak (masa tingkat akhir tapi belum penelitian, dan sehari-hari saya habiskan dengan menonton film, minimal satu film setiap hari). Tahun 2015 saya sudah mulai penelitian -yang sudah terlambat karena rata-rata teman seangkatan saya sudah lulus semua- dan berlanjut dengan kelulusan, wisuda, lalu bekerja. Tahun 2015 adalah tahun saya berhenti menonton semua film Indonesia di bioskop dengan dalih ingin mendukung karya anak bangsa. Tahun 2015 adalah tahun di mana cerita cinta yang mestinya tidak saya jalani mulai menemui titik akhir. 

Saya baru menonton film Tjokroaminoto sore tadi, dan menitikkan air mata pada bagian dialog yang dibawakan Chelsea Islan yang saya kutip di atas. Tapi bukan karena pembawaan aktingnya yang teramat mendalami karakter Stella, melainkan karena saya bisa mengerti ketakutan dan kebingungan yang coba ditampilkan oleh dialog itu. 

Ya.. orang memang senang berkumpul. Golongan demi golongan, mengkotak-kotakkan setiap kaum dan menjadikannya sebagai identitas. Sebagian identitas diterima sejak lahir tanpa bisa diubah, sebagian lagi ditentukan sendiri oleh manusianya. Dan diantara semua identitas, tentu yang terkuat adalah identitas suku bangsa.

Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Banjar,. mereka yang memiliki identitas nyata itu tentu bangga bukan main dengan daerah tempat mereka berasal. Kalau-kalau ada perang yang tersulut, mereka tahu di mana harus berpihak, dan siapa yang harus dibela. Mereka bisa berteriak dengan lantang 'Saya Orang Batak! Saya Orang Jawa! Saya orang Sunda!' dan menjadikannya dasar dalam setiap pilihan hidup.

Saya suka iri ketika melihat bagaimana orang Batak berinteraksi, ketika mengunjungi Danau Toba saya melihat sendiri betapa bangganya mereka dengan tanah kelahiran mereka. Simbol-simbol persatuan dipajang di jalanan. Bahasa daerah digunakan dalam setiap percakapan. Kain-kain khas diperjual-belikan dengan harga murah karena sering dipakai untuk adat sehari-hari. Begitu kental identitas mereka sehingga siapapun yang datang akan langsung mengenali ciri khas orang Batak.

Begitupun dengan mereka yang berasal dari Jawa. Setiap kali berada di tengah-tengah orang Jawa, mereka kerap berinteraksi menggunakan bahasa mereka sendiri. Bangga dan merasakan kedalaman makna yang hanya bisa dipahami tanpa bisa diterjemahkan. Sesekali saya ikut tertawa jika ada selintas kalimat yang saya mengerti, namun selebihnya adalah bungkam. Saya hanya bisa iri dengan mereka yang mampu berinteraksi sedemikian akrab, meskipun baru kenal, hanya berbekal kesamaan daerah asal. 

Kuatnya karakter di masing-masing suku ini lah yang membuat Indonesia susah-susah-mudah untuk disatukan. Masing-masing memiliki ego masing-masing untuk menjadi suku terhebat. Ah.. tapi bukan Indonesia namanya kalau mudah disatukan. Justru disitulah kekuatan bangsa ini, sehingga harus melahirkan tokoh perjuangan sehebat Mahapatih Gadjah Mada. 

Saya iri karena saya tidak punya yang demikian. Saya tidak punya karakter yang kuat yang didasari oleh tempat saya berasal. 

Orang tua saya berbeda suku. Ayah saya orang Gorontalo asli, yang sejak kecil sudah hijrah ke Manado. Oma dan Opa saya keduanya orang Gorontalo asli, dan masih saudara sepupu. Mereka menikah, memiliki sepuluh anak, lalu pindah sejak ke Manado sejak ayah saya masih kecil. Ayah saya tumbuh besar di Manado sebelum berangkat kuliah ke Bogor dan bertemu dengan Ibu saya. Ibu saya campuran Sunda-Jawa. Eyang (ayah dari ibu) saya asli dari Ambarawa, Solo sedangkan Nenek (ibu dari ibu) saya berasal dari Cianjur namun sejak kecil tinggal di Pamanukan, Subang. Saya pun lahir di Manado, namun mengenyam pendidikan awal di tanah Sunda (Pamanukan dan Bogor), sebelum bertolak ke Merauke dan menghabiskan masa kecil di sana. Beranjak remaja saya bersekolah di Gorontalo, lalu menghabiskan masa remaja dan jelang dewasa di Bogor. 

Jika dihitung, kota terlama yang saya tinggali adalah Bogor, karena saya hanya tinggal di Manado selama dua tahun, sebelum pindah ke Pamanukan dua tahun dan Bogor dua tahun, lalu di Merauke delapan tahun. Saya habiskan masa SMA di Gorontalo selama tiga tahun, sebelum akhirnya berpindah sendirian ke Bogor selama sembilan tahun kini. 

Tapi apakah itu lantas membuat saya menjadi orang Bogor? Tentu saya tidak akan diterima jika menyebut diri sebagai orang Bogor. Orang akan lebih mempertimbangkan saya sebagai Orang Manado, karena lahir di Manado. Atau Orang Gorontalo, karena keturunan Gorontalo. Atau Orang Merauke, karena pernah tinggal di Merauke. 

Bagi orang-orang seperti kami, yang bingung akan identitas asal, terkadang sulit sekali menemukan kelompok yang bisa menerima kemajemukan ini kecuali di ibukota. Jakarta, yang katanya gak berbudaye justru mampu menampung kami-kami yang tidak bisa mengklaim diri sebagai orang dari satu suku tertentu. Tapi saya bukan bagian dari warga Jakarta. Maka jika suatu waktu pecah perang saudara, mungkin saya pun akan melontarkan pertanyaan yang sama dengan yang dikutip di atas 'siapakah yang akan melindungi aku?' .

***
Kita tidak pernah tahu, dunia seperti apa yang akan kita tempati ke depan. It keeps changing, and it changes fast. Semua berubah dari yang penuh budaya adat-istiadat, modern dan melupakan adat, lalu kembali lagi menghidupkan adat-istiadat. Kita tidak pernah tahu apakah kemajemukan seseorang bisa terus diterima atau semakin tersingkir dengan banyaknya pernikahan silang yang dituduh sebagai sumber terkikisnya budaya daerah.

Yang kita harus tahu, adalah bagaimana menjadikan kemajemukan sebagai satu pondasi kokoh untuk bisa saling mencintai. Jangan malu jika berbeda, dan tidak punya satu karakter, karena dengan begitu kita bisa selalu berbagi atap dengan siapapun meski sedikit. Teman saya pernah bilang 'aku sampai sekarang masih berpikir kamu ini orang Gorontalo, Mim..' yang langsung saya jawab dengan cepat 'ya, aku orang Gorontalo' lalu teman saya menjawab lagi 'bukan, maksudnya tujuan mu untuk pulang itu ke Gorontalo..' yang ditutup dengan tertawa. 

Saya bilang pada teman saya, bahwa kemanapun saya bisa pulang. dan saya akan selalu menjadi bagian dari siapapun yang sedang bersama saya, 'kalau lagi dengan ngoni (kalian) ya aku orang Gorontalo. Kalau lagi dengan mereka (teman-teman di Bogor), aku jadi orang Sunda,.' karena saya lebih bisa Bahasa Sunda ketimbang Gorontalo. Saya pun ada darah Jawa dari Eyang, jadi kalau lagi sama orang Jawa.. yaaa.... ngerti-ngerti aja lah obrolan mereka, tapi gak sampai nge klaim jadi orang Jawa juga sih. Haha!

Dulu saya pernah malu, karena di kampus tempat saya berasal ada organisasi namanya Organisasi Mahasiswa Daerah (Omda). Saya malu karena saya tidak tahu kemana harus bergabung. Mestinya saya otomatis tergabung di Omda Gorontalo. Namun sesampainya di sana, saya seperti merasa tidak diterima, karena tidak berdomisili di sana. Pun kalau saya gabung di Omda Papua, saya sama sekali tidak diterima karena memang tidak ada yang saya kenal juga. Jadi saya seperti mahasiswa daerah tanpa Omda, yang melampiaskan minat bakat di organisasi pecinta alam, BEM KM, dan HMI. 

***
Kuatnya karakter-identitas yang didasari oleh daerah asal ini menjadi berbahaya jika dijadikan patokan untuk memilih pasangan. Sahabat saya semasa SMA, pernah gagal taaruf hanya karena ibu calon suaminya tidak suka dengan orang Sulawesi. Bayangkan bagaimana sakit hati dan perasaannya, merasa terhina seolah orang Sulawesi tidak pantas bersanding dengan keluarga mereka. 

Saya bisa membayangkan hal-hal semacam itu dari obrolan-obrolan selewat tentang laki-laki yang sedang mencari pasangan, dan umumnya mengutamakan mereka yang berasal dari daerah yang sama. Seperti dicubit, saya ingin menangis karena gemas..

Kemajemukan bukan aib. Bukan juga sumber luruhnya budaya. Kelak jika saya punya anak, akan saya ajarkan semua hal yang saya ketahui tentang latar belakang saya dan suami saya nanti. Dia bebas memilih ingin menguasai tarian apa, bahasa daerah apa. Dia bebas memilih, namun dengan satu syarat.. dia akan menguasai minimal satu pengetahuan secara mendalam tentang budaya yang dia pilih. (Saya ingat waktu TK di Pamanukan, saat karnaval dan memakai baju daerah, saya dipaksa memakai baju adat Gorontalo dan saya tolak sambil menangis meraung-raung, minta dipakaikan baju adat... Palembang!! Kenapa Palembang? Karena saat itu, ayah saya sedang tugas di Palembang. Sesimpel itu).

***
Sebagai perempuan, penting bagi kita untuk mengenali diri sendiri sebelum punya pasangan. Sebelum menikah dan menyandang label istri si anu, penting bagi kita untuk menjadi seseorang, dan dikenal karenanya. Terserah jika itu adalah identitas daerah, atau karakter lainnya. Tapi mengenali diri sendiri bisa dimulai dari situ, identitas daerah asal sebelum berlanjut ke golongan darah, tanggal lahir, zodiak, briggs myer, dominansi otak, etcetera etcetera.

Karena kita yang akan menurunkan karakter itu kepada anak-anak kita nanti. 
Mereka yang sudah berhasil mengenali karakter sejak dini, akan punya waktu lebih banyak untuk mengembangkan karakter tersebut. Seseorang dengan karakter yang kuat, akan lebih cepat siap menghadapi arus perubahan dunia. Kita hidup di zaman serba cepat, karakter lemah akan mudah terombang-ambing dan tenggelam di tengah keramaian. Pola adaptasi terkini sudah bukan lagi dengan siapa cepat berlari dia dapat makan lebih banyak, tapi dengan meneguhkan pondasi sejak dini agar seberubah apapun kondisi lingkungan, keyakinannya tetap satu dan teguh di situ. Dan hanya seorang ibu yang berkarakter saja yang mampu.

Belum terlambat jika sekarang kamu sudah punya anak, sudah sekolah, sudah SD, atau bahkan sudah tamat kuliah, tapi kamu sendiri pun belum mengenali dirimu sendiri. Masih bisa. Masih bisa mencari tahu siapa dirimu sebenarnya. 

Ambil waktu sejenak tuk menyendiri, dan tanyakan di dalam hati.. 'siapakah aku?' 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert