Skip to main content

Believing System

Mungkin benar juga jika ada yang mengatakan bahwa bencana di Lombok adalah suatu hukuman. Hukuman akibat melakukan perbuatan dosa. Namun hukuman hanya datang pada mereka yang diberi kasih sayang, seorang guru tidak akan menghukum muridnya jika dia tidak peduli pada sang murid. Allah tidak akan menghukum hamba-Nya jika dia tidak peduli pada mereka. Hukuman datang sebagai bentuk kasih sayang oleh Tuhan pemilik semesta alam, agar manusia menghentikan perbuatan dosa dan kembali kepada-Nya.

Dalam tulisan ini saya ingin mengulas tentang tenangnya hidup dalam kepercayaan. Mempercayai sistem yang sudah Allah ciptakan untuk manusia, dalam satu gugus kesatuan yang saling terkait satu sama lain, bernama; alam semesta.

***

Penciptaan Alam Semesta

Kita semua tahu, dan meyakini adanya alam semesta. Kenapa? Padahal kita hanya hidup di bumi, belum pernah benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri adanya planet lain selain bumi. Lebih kecil lagi, padahal kita hanya tinggal di satu negeri, satu kota, kampung bahkan yang mungkin langitnya sudah tidak lagi dihiasi bintang kala malam. Tapi kita yakin bahwa alam semesta itu ada dan luasnya tidak ada yang mampu memperkirakan.

Tanpa juga kita tahu, kenapa Tuhan mau repot-repot menciptakan alam semesta, padahal Dia lah satu-satunya penguasa seluruh alam. Tanpa ada penciptaan-Nya pun Dia sudah Maha Agung. Dan kita meyakini adanya ciptaan itu, adanya langit yang berlapis, bulan dan matahari, galaksi demi galaksi.

Meski tidak tahu apa alasan Tuhan menciptakan itu semua, kita tetap yakin bahwa semesta itu ada.

Kuncinya apa? Yakin. Meski belum pernah melihat, kita yakin bahwa Jupiter itu ada.

Sistem

Dalam sebuah organisasi atau perusahaan yang baru dibentuk, tentu yang pertama kali dibuat adalah; sistem. Bagaimana tata cara memilih pemimpin, hal-hal apa saja yang membuat kepemimpinan itu berlaku dan bisa dicabut, bagaimana cara merekrut orang baru, apa saja kriterianya, dan seterusnya. Lebih lanjut sistem akan mengatur tata cara berkehidupan sehari-hari, pengajuan dana, pencairan dana, naik level, dan seterusnya.

Begitupun juga dengan penciptaan alam semesta. Allah ciptakan sepaket semua dengan sistem. Apabila ada matahari, maka zat hijau di dalam daun akan bereaksi dengan air dan karbondioksida menjadi karbohidrat dan oksigen sebagai sumber pemenuh kebutuhan utama bagi hewan dan manusia. Apabila ada air, maka akan terjadi penguapan, yang terbendung dalam gumpalan awan, dan menurunkan hujan.

Semua itu diciptakan sebagai sistem yang saling bergantung satu sama lain. Dan tidak ada sistem yang tidak berjalan di alam semesta ini, kecuali dengan pengetahuan Allah Azza wa Jalla.

Sekarang saya ingin mengulas tentang kebutuhan manusia.

Kebutuhan paling dasar manusia yang sudah Allah berikan dengan cuma-cuma, yaitu cahaya, suara, dan oksigen. Ketiga zat ini datang dan kita nikmati setiap hari meski tidak pernah kita lihat wujudnya. Kita tahu mereka ada, karena kita nikmati manfaatnya; karena ada cahaya kita bisa melihat, karena ada suara kita bisa mendengar bernyanyi dan merasakan emosi yang bermacam-macam, karena ada oksigen kita masih bisa bernafas dan tidak kekurangan suatu apapun. Kita tidak bisa melihat mereka, tapi kita yakin mereka akan selalu ada setiap hari, setiap kali kita bangun di pagi hari.

Lalu ada satu lagi kebutuhan paling dasar manusia, yang tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan mereka; berkomunikasi.

Baik itu cahaya, suara, oksigen, semua dapat dinikmati karena ada nya sistem yang telah Allah ciptakan. Allah ciptakan sistem dan keteraturan, agar manusia bisa mengamati betapa teliti Tuhan Pencipta Langit dan Bumi ini.

Dalam berkomunikasi pun ada sistem yang Allah ciptakan. Tanpa sadar, setiap orang akan berbicara dengan cara yang berbeda pada orang lain. Anak kepada ayahnya akan bertutur dengan cara yang lebih santun ketimbang saat dia bersama dengan teman-temannya. Seorang hamba pada tuannya, akan menunduk dan berbicara dengan lemah lembut ketika sedang memohon sesuatu. Ada sistem yang Allah ciptakan untuk bisa berkomunikasi, termasuk juga penciptaan kata-kata, suara, indera pendengar yang menerima suara dan bunyi, memasukkan gelombang itu ke gendang telinga, diproses oleh otak, dan seterusnya.

Sistem. Semua nya tercipta dalam sistem dan keteraturan yang begitu rapih, dan begitu teliti. Yang apabila salah satu komponen dari sistem itu hilang, maka rusaklah keseluruhan proses tersebut. Maha Suci Allah yang menjaga segala keteraturan, termasuk detil terkecil penyangga sistem yang kita gunakan setiap hari.

***

Doa yang kita panjatkan sehari-hari juga punya sistem tersendiri untuk bisa terjawab. Pertama, doa tersebut harus dipanjatkan dengan cara yang benar, cara yang santun, yang bisa kita temukan panduannya melalui Al-Quran dan Hadits. Kedua, memuji-muji Allah. Bukan karena Allah ingin dipuji, tetapi pujian ini justru ada kaitannya dengan poin selanjutnya yang sangat krusial bagi seorang yang berdoa yaitu; yakin. Memuji Allah, memang Allah butuh pujian kita? Tidak. Allah Maha Suci dan Maha Agung, yang puluhan ribu-jutaan-milyaran malaikat bertasbih kepada-Nya setiap hari. Langit dipenuhi oleh malaikat yang sujud dan rukuk kepada-Nya. Apa artinya pujian kita bagi Allah jika dibandingkan dengan pujian-pujian para malaikat itu? Malaikat yang jelas-jelas tidak pernah kufur pada-Nya.

Memuji Allah dengan nama-Nya yang ada sembilan puluh sembilan, gunanya adalah agar hati kita, meyakini bahwa Allah lebih dari mampu untuk mengabulkan atau menjawab semua yang kita minta. Itu saja.

Kuncinya dalam berdoa adalah yakin. Yakin bahwa Dia Mendengar, Melihat, dan Mengetahui segala yang terbaik untukmu. Yakin pada-Nya, dan Insya Allah kita tidak akan pernah kecewa.

Jika sudah terus menerus berdoa, tapi bukannya semakin ringan, cobaan yang dirasa malah semakin berat,. maka keyakinan itu yang akan membantu kita untuk bisa menghadapi hari. Setiap harinya. Tanpa keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar, Pengasih dan Penyayang, kita tentu pasti sudah berputus asa. Dan seburuk-buruk manusia adalah manusia yang berputus asa dari rahmat Allah.

Jika seseorang sudah berdoa, Allah pasti akan memberi jawaban. Dan Allah lebih mengetahui sesuatu, yang apabila Dia kehendaki doa itu terkabul, maka akan mendatangkan kebaikan baginya. Juga sebaliknya, jika tidak dikabulkan, juga karena bisa jadi apabila doa itu dikabulkan akan membuat orang yang berdoa menjadi mungkar. Allah melindungi kita dari hal-hal yang mencelakakan diri kita sendiri, melalui ketentuan-ketentuanNya. Maka itu penting sekali bagi kita untuk yakin bahwa setiap yang Dia kehendaki adalah yang terbaik bagi kita.

Termasuk umur.

Ajal adalah pasti. Setiap yang bernyawa akan merasakan binasa. Semua akan kembali pada-Nya tanpa terkecuali. Bahkan semut hitam kecil yang tiap hari kita injak, juga kembali pada-Nya.

Apabila sudah datang ajal seseorang, tidak ada kekuatan manapun yang bisa menghalangi. Mau dia kelindas truk, tertabrak kereta, kalau Allah belum kehendaki dia mati, dia tidak akan mati. Masih bisa diselamatkan. Sebaliknya, meski sehat, bugar, kaya, dan bahagia, jika Allah sudah menetapkan ajalnya sudah tiba, masa expired nya sudah datang, tanpa sebab pun dia bisa mati.

Jika hal ini diyakini dengan hati, dengan kuat, maka Insya Allah setiap orang yang mempercayai adanya Allah, tidak akan takut mati. Tidak akan takut berperang. Tidak akan takut membela kebenaran.

Tidak takut juga pergi ke tempat yang sedang berperang, seperti Palestina, karena dia tahu jika nanti dia mati di sana, karena memang Allah sudah mentakdirkan dia akan mati di sana. Tidak takut melepaskan suami atau anak yang diberangkat tugaskan ke daerah yang sedang rawan bencana, karena dia tahu tugas yang dia emban adalah bentuk taatnya suami/anak itu kepada Allah. Mencari nafkah adalah bagian dari usaha, dan Allah menyukai orang-orang yang berusaha. Dia tahu apabila suami/anaknya pada akhirnya menjadi korban bencana di sana, sudah demikianlah takdir Allah. Dan itu pasti baik bagi mereka.

Semua unsur dalam kehidupan kita ini sudah Allah ciptakan dalam sistem, yang semuanya kembali pada-Nya. Pada suatu nanti, ketika kita mati, kita pun akan tahu bahwa inilah janji Allah yang sering kita dengar dari kitab suci maupun hadits nabi..

Sistem yang sudah Allah ciptakan untuk menjawab doa, tidak bisa kita prediksi dengan akal manusia kita yang terbatas. Yang perlu dilakukan oleh manusia setelah berdoa adalah berusaha dengan kemampuannya, dan mengerjakan perintah-Nya dengan patuh. Tidak apa jika kita tidak tahu apa gunanya menjalankan perintah itu, karena tidak semua hal harus kita mengerti dahulu baru kita kerjakan.

Nabi Musa tidak mengerti apa maksud dari perintah mengetukkan tongkat ke bibir laut merah, tapi beliau menjalankannya dengan patuh dan tanpa bertanya.
Nabi Ibrahim tidak mengerti apa maksud dari perintah menggerak-gerakkan tubuhnya ketika dilempar ke dalam api, tapi beliau menjalankan dengan patuh dan tanpa bertanya.

Bagi mereka yang patuh menjalankan perintah tanpa bertanya, akan datang jawaban yang tidak disangka-sangka. Semua akan terjelaskan pada waktunya, dan Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat untuk membuat seseorang mengerti, bergantung pada kapasitas pikiran masing-masing menampung informasi dan pengetahuan baru.

Pernah tidak kamu merasa seperti 'mabok ilmu'? Situasi di mana kamu disodori oleh begitu banyak informasi baru, yang mencengangkan, dan ingin kamu cerna semua? Pusing? Sakit kepala? Bingung? Ibarat air yang mengalir terlalu deras dari keran ke dalam botol kecil, sedikit sekali yang bisa tertampung jika ilmu datangnya terlalu bertubi-tubi. Keran pun harus diputar dengan bukaan yang sesuai, mengalirkan air dengan kecepatan yang sesuai, agar dapat ditampung oleh botol kecil.

Allah tidak memberikan pengetahuan pada seseorang, kecuali dia sudah siap menerimanya. Jika Allah masih merahasiakan pengetahuan itu, artinya pengetahuan tersebut masih terlalu besar untuk bisa dicerna orang tersebut.

Maka lagi-lagi, kuncinya adalah; yakin.

Disuruh solat, untuk apa solat? Kenapa lima kali? Kenapa empat rakaat? Kenapa tidak pakai bahasa Indonesia saja yang lebih dimengerti?

Perintahnya adalah solat! Lakukan saja. Yakin. Suatu saat kamu akan menemui jawaban dari pertanyaan itu, datang dari berbagai arah, dan begitu saja.. kamu paham. Tanpa ada penjelasan, akal pikiran manusia mampu menyerap pemahaman yang bahkan kata-kata tak sanggup menjabarkan.

Berdoa.. kenapa belum dikabulkan? Saya ingin kaya, kenapa belum juga dapat pekerjaan?
Allah cuma minta kita untuk; yakin.
Dia akan beri kamu jalan, asal kamu pun berusaha. Membuka koneksi, mencari-cari pekerjaan, menjalin kembali silaturahmi, dan seterusnya. Selagi kamu menyibukkan diri untuk tidak resah dan gelisah dari kerjaan yang belum jelas, selagi itu juga Allah menyiapkan pekerjaan terbaik yang paling pantas untukmu.

Dan kamu akan bersyukur, ketika tiba waktunya Allah menjawab semua permintaanmu, kamu akan bersyukur karena tidak pernah sedetikpun menyerah apalagi meragukan kemampuan-Nya.

***

Kenapa Allah tidak kelihatan?

Kenapa kita bisa meyakini ada nya Venus padahal tidak pernah kita lihat langsung kecuali sebagai satu titik kecil cahaya? Kenapa kita yakin ada gaya gravitasi padahal kita tidak pernah lihat seperti apa dan bagaimana gaya gravitasi menarik benda-benda jatuh ke bumi, dan mempertahankan bobot planet-planet tetap mengambang di angkasa raya? Kita hanya tahu efek dari gaya gravitasi, tapi kita yakin ada gravitasi.

Kita tahu ada penciptaan alam semesta, kenapa kita masih saja perlu melihat dulu Pencipta Semesta baru mau meyakini? Bukan disitu poinnya.

Allah ada di mana?
Di langit!
Tahu dari mana?
Dari perumpamaan-perumpamaan ayat yang Dia turunkan, semisal 'pada sepertiga malam, Allah turun ke bumi untuk mengabulkan dan mengampuni setiap orang yang berdoa pada-Nya' dan hadits pertemuan Rasulullah SAW dengan seorang hamba sahaya wanita, yang ketika ditanya di mana Allah berada, dan wanita itu menjawab di langit, Rasulullah memerintahkan agar wanita itu dibebaskan karena dia beriman pada Allah.

Pada sujud dalam setiap solat pun kita memuji-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Tinggi, Tinggi artinya di atas. Bukan di sekitar dan di mana-mana. Tapi pengetahuan-Nya yang meliputi bahkan debu terkecil pun di alam semesta ini.

***

Kapan kita bisa melihat Allah?

Akan ada satu masa di mana semua penciptaan ini diakhir. Hanya Dia satu-satunya Dzat yang Maha Hidup, Maha Mengawali lagi Maha Mengakhirkan. Ketika semua hancur, Allah tetap berdiri sendiri. Dan membangkitkan kita kembali.

Dia berjanji.. dan janjinya adalah pasti ditepati.. Allah berjanji kelak kita akan melihat wujudnya. Di padang mahsyar, kita akan melihat-Nya dalam bentuk cahaya. Cahaya yang teramat menyilaukan. Karena Allah is light upon light. Lalu setelah semua manusia ditimbang catatan amal perbuatannya, dan dimasukkan ke surga dan neraka, Allah lagi-lagi berjanji, akan menampilkan wujud-Nya yang nyata pada para penghuni surga setiap pagi dan sore hari.

Dan tidak ada nikmat surga lain yang dapat menandingi nikmat bisa menyaksikan wajah Allah Azza Wa Jalla. Itu janji-Nya.

Melalui perumpamaan itu, tidakkah kita berfikir.. bahkan di bumi ini, ketika kita melihat matahari terbit dan terbenam pada pagi dan sore hari, apa yang kita rasakan? Indah. Apakah kata Indah saja cukup untuk mewakili apa yang kita rasakan ketika menyaksikan matahari terbit dan tenggelam? Dan seluruh manusia di dunia, tanpa terkecuali, bahkan yang paling tidak mempercayai adanya Tuhan sekalipun, akan terpesona dengan fenomena alam di pagi dan sore hari.

Sedangkan matahari hanyalah sebagian kecil dari cahaya fisik yang Dia ciptakan. Allah adalah cahaya di atas cahaya, yang jika cahaya sekecil matahari saja sanggup menentramkan hati, mendamaikan pikiran, dan kita takjub dengan keindahannya,. bagaimanalah perasaan kita nanti ketika bisa melihat Sang Maha Pencipta Alam Semesta?

***

Manusia hanya disuruh yakin. Itu saja. Berdoa, lalu yakin Dia Maha Mendengar. Maha Pengampun, meski dosa yang kita berbuat sudah sebesar Gunung Semeru. Ampunan-Nya lebih besar dari dosamu, percaya saja.

Kita hanya disuruh sabar. Lalu menunggu ketentuan-Nya, dan yakin bahwa setiap yang Dia kehendaki adalah yang terbaik untuk kita.

Kita hanya disuruh untuk melakukan yang mampu kita lakukan 'bertebaranlah di muka bumi untuk mencari rezeki Allah seluas-luasnya' karena dengan menyibukkan diri itulah kita terbebas dari prasangka. Boro-boro sempat berprasangka, deadline tumpuk menumpuk di pikiran, menunggu untuk dikerjakan.

Kita hanya disuruh patuh. Patuh hanya pada perintah-Nya dan tidak usah mempertanyakan kenapa begini dan begitu. Selama itu datang dari-Nya, melalui panduan dan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan, kerjakan saja. Sisanya biar Allah yang atur.

Mungkin itu yang Allah maksud dengan mengimani takdir, baik maupun buruk. Sebagai salah satu rukun iman yang menjadi tonggak dasar keyakinan umat Islam. Believing the system. Believing system.

***

Bogor, 12 Agustus 2018
Before side job killing me inside..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …