Skip to main content

When the sun goes down..

Pada malam ketika ia sedang hitam,
Pada bulan ketika ia sedang terbenam,
Kenapa kita harus berdoa, memuji dan memuja? Tanyaku ketika mereka datang..

***

Suatu ketika saya pernah merasa amat kesal. Teramat kesal hingga dengan sengaja saya mengeluarkan senyum sinis di sebuah forum diskusi malam hari, ketika semua peserta sedang berjuang melawan lelah fisik dan emosi. Malam itu saya kesal pada sebuah logika berpikir yang terlalu terbawa emosi hati, padahal semestinya peran itu dimainkan oleh perempuan. Bukan justru laki-laki.

Dalam kesal itu saya mencoba untuk tetap pada jalur semestinya dan tidak mencampuradukkan perasaan sendiri dengan perasaan forum. Saya tahu orang lain pun lelah, saya tahu mereka pun kesal, dan saya tahu mereka pun menahan diri. Jadi setelah forum ditutup, tanpa banyak bicara saya kembali ke kamar, menenangkan diri, berwudhu, sholat, lalu menangis dalam doa dan lantunan ayat suci.

Al-Qur'an sungguh adalah mukjizat, karena hanya dengan membacanya (belum tahu artinya) saja hati bisa menjadi tenang. Apalagi ketika tahu arti serta maknanya.. setiap hati yang lembut pasti akan menangis mendengar ayat-ayat itu dibacakan.

Pada suatu ketika yang lain, saya berpikir sembari menatap lalu lalang kendaraan yang melintas. Sebelum dibuyarkan oleh pertanyaan menyenangkan semacam 'sedang lihat apa?' saya berpikir.. kenapa Allah yang begitu Agung, masih menginginkan hamba-Nya untuk memuji dan memuja-Nya, dengan menyebut nama-nama Dia yang sembilan puluh sembilan banyaknya. Kenapa? saya bertanya dalam hati, sebelum pertanyaan menyenangkan tadi datang.

Lalu saya teringat akan satu sifat manusia yang selalu menginginkan perhatian dari orang yang dia sayang. Semisal kamu dan sahabat baikmu. Kalian berdua tahu bahwa kalian saling menyayangi, dan untuk itu setiap pendapat kalian terhadap satu sama lain akan memberi makna lebih dalam daripada pendapat orang lain di sekitar kalian. Suatu saat kamu mendapat prestasi hebat, semua orang memberi selamat dan mengelu-elukan kehebatanmu. Tapi sahabatmu bungkam. Bagaimana perasaanmu?
Ketika semua orang berbicara padamu, namun sahabatmu justru diam dan tidak menyapamu, bagaimana perasaanmu? Padahal ada lebih dari sepuluh orang yang ingin bercakap denganmu, tapi tidak bagi sahabatmu..

Sedih?
Bertanya-tanya?
Marah?

Kecewa kah kamu dengan sikap sahabatmu?
Tentu iya, kecewa. Tapi kenapa? Kenapa pendapat satu orang demikian berharga di hatimu, mengalahkan sepuluh pendapat yang lain?

Jawabannya sederhana. Karena dia sahabatmu. Karena dia penting bagi hatimu.
Sesederhana itu alasan bagi Allah untuk merindukan untaian doa dan kalimat memuji dari hamba-Nya. Sesederhana itu.

Hamba yang baik, tidak akan menyia-nyiakan kesadaran itu. Jika dia tahu dia berarti bagi Tuhannya, maka tidak akan pernah dia berbuat sesuatu yang mengecewakan Tuhannya. Lantas di saat yang sama, Tuhannya pun akan semakin sayang padanya, dan akan memberi ganjaran sebaik-baiknya di dunia maupun akhirat..

Oh boy.. tell me what is better than that..

***

Kenapa kita masih harus berdoa padahal Allah tahu apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan?
Kenapa kita masih harus menyebut nama-Nya yang sembilan puluh sembilan, jika Dia lah Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa?

Karena sebegitu berartinya kita bagi Sang Pencipta. Teramat berarti, hingga Allah akan mendekat dengan kecepatan dua kali lebih cepat dibanding hamba-Nya yang juga berusaha mendekat kepada-Nya.

Jikalah saja seseorang bisa selalu menyadari betapa luas kasih sayang Tuhannya kepadanya, maka dia tidak akan lagi sempat punya waktu untuk mengeluh. Apalagi untuk terus menerus komplain tentang keadaan yang tidak sesuai.

Jikalah saja seseorang bisa selalu mengingat kebesaran Allah, bahwa apapun dapat Dia lakukan untuk memenuhi permintaan-permintaanya, maka tentu dia tidak akan punya waktu untuk khawatir. Mengkhawatirkan hal yang tidak bisa dia ubah, karena percaya Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang meminta.

Bersabarlah..
Allah punya semuanya. Allah bisa melakukan semuanya. Allah lebih dari mampu untuk memberimu mimpi-mimpi yang kau pendam lama dalam diam.

All we need to do is  just do what we can do, have faith, and live the life as it is. 
The best is yet to come, Sinatra was once said. It will come, for those who believed. 

***

At the end of the day,
When the sun goes down..
All you need to believe is,.
You matter. 

Tapin, Kalimantan Selatan 31 Agustus 2018

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert