Skip to main content

The Whisper of the Soul

Do you think the souls recognize each other?
Like when you meet someone, and you just click.. or you know you won't click.
It just did.. like.. it just knew, whether or not someone will stay in our life or not.
It maybe wrong, for one or two, but under normal condition.. it always be true.
So be true to your heart. Once the heart says no, don't bother tricking your mind to stay. Like modern saying says.. 'the heart wants what it wants' ..

***

Manusia terlahir dengan seperangkat ego. Bayi yang baru lahir, hanya peduli pada dirinya sendiri. Tak peduli jika itu tengah malam dan ibunya tengah terlelap, jika lapar, dia akan menangis sekeras yang dia bisa. Tidak peduli itu akan membangunkan ibunya atau ayahnya, atau seisi rumahnya.

Beranjak balita, karakter seorang anak tentu egosentris. Menjadikan dirinya sebagai pusat tata surya. Bahwa bumi dan seisinya, bergerak mengikuti kebiasaan dia.. itulah kenapa ibu diajarkan tuk melatih anaknya disiplin dengan memanfaatkan egosentrisme anak. Misal, 'ibu akan pulang kantor kalau kamu sudah tidur siang dan mandi sore ya', suatu hadiah yang dijanjikan jika sang anak berdisiplin terhadap jam tidur dan mandinya. Segala sesuatu diindikasikan dengan diri si anak itu sendiri, setelah dia melakukan hal baik, maka dia akan mendapatkan hal baik yang dia inginkan.

Kenapa saya tahu? Yah.. gini-gini saya pernah ambil beberapa mata kuliah seperti Psikologi Anak dan Pengembangan Karakter di jurusan mayor-minor.

Ego yang dibawa sejak lahir, akan terkikis seiring dengan tumbuh kembang si anak. Dia akan diajarkan untuk berbagi, diajarkan untuk mulai melihat orang lain, dan tidak menjadikan dirinya sebagai pusat segalanya. Beranjak dewasa, normalnya ego itu akan mengecil, seiring dengan tanggung jawab yang dia emban. Memilih untuk tidak menonton pertandingan bola kesayangan, karena ada tugas pekerjaan yang harus dia selesaikan. Mengorbankan jam tidur demi anak yang harus disusui setiap dua jam. Dan seterusnya.

Jiwa yang mengantongi sedikit ego, akan terlihat dari cara ia berperilaku. Dan juga sebaliknya, jiwa yang mengantongi ego penuh, akan terlihat dari cara ia memperlakukan orang lain.

Dan untuk bisa mengurangi, mengikis tumpukan ego itu.. the soul harus melalui segerombolan ujian, cobaan, yang diteruskan ke akal pikiran dan nalar, untuk bisa menerjemahkan makna hingga akhirnya membawa pada kesadaran tuk merendah hati, mawas diri, dan berlapang dada.

***
When the two souls meet..

Kadar ego masing-masing jiwa tentu berbeda. Kadang, salah satu sudah bisa 'mengendus' tingkat ego yang lain dengan satu tarikan napas. Yang tentu akan menjadi semacam pertanda, bagi satu jiwa tuk menjauh dan tidak lagi meneruskan hubungan.

Ego pun juga bisa menjadi penghalang bagi dua jiwa tuk bertemu. Sama-sama tidak mau memulai duluan, misalnya. Sama-sama tidak mau terlihat sebagai pihak yang mencintai lebih dalam, atau sama-sama mau mempertahankan ego sehingga tidak ada pihak yang mengalah.

Ketika dua jiwa bertemu, dan kadar ego mereka seirama, maka yang terjadi adalah.. a beautiful synchronization. Mungkin tidak dalam bentuk satu lebih tinggi dari yang lain, atau satu menyeimbangkan yang lain,. tapi lebih kepada.. ego mereka tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mengungkapkan apapun yang ada di pikiran mereka.

Dan ini tidak selalu tentang pasangan.. suami istri.. lovebird.. ini tentang segala hal universal yang mengatur tata hubungan manusia. Pertemanan, persahabatan, rekan kerja, dan seterusnya.

Percayalah dengan kata hati. Naluri itu (seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, kutipan dari Sherlock Holmes), adalah fakta yang terlalu cepat datangnya untuk bisa diproses oleh otak. Percayalah ketika hati mu berontak untuk mengakhiri suatu hubungan, meninggalkan suatu lingkaran, atau berpindah dari satu komunitas, bahwa memang kau tidak dimaksudkan untuk berada disitu. Itu bukanlah tempatmu untuk tumbuh. Jangan memaksa jika hati sudah tak senang. Tapi ini juga harus dimbangi dengan logika, agar tidak sembrono selalu mengikuti hati, mentang-mentang sedang senang. Wise man once said, don't make decision when you were too happy or too angry. 

***
What happen today.. 

Saya juga tidak tau apakah setiap keputusan yang saya ambil selalu benar, apakah saya sudah mengikuti kata hati, atau mengikuti bisikan setan, atau justru mengikuti bisikan malaikat. Saya tentu tidak pernah benar-benar tahu, keputusan yang saya ambil datang dari kebenaran atau kesesatan, tapi yang saya tahu.. Jika Allah tidak berkehendak, maka keputusan apapun yang saya ambil, tidak akan menemui jalan. Dan sebaliknya, jikapun saya tidak berkehendak, namun Allah berkehendak, maka diputuskan atau tidak, tentu saya akan menemui jalan itu.

Hari ini kembali saya dihadapkan pada pilihan. Setelah berminggu menahan kesal pada -sebutlah pihak keluarga- yang teramat menuntut saya untuk segera menambatkan hati. Bermacam cara mereka coba, dan pada akhirnya.. di satu titik di mana saya sudah menyerah, menyerahkan semua kepada kehendak Yang Maha Kuasa, mereka datang dengan membawa pilihan.

Biasanya saya akan langsung menolak. Mentah-mentah, tanpa berpikir panjang. Namun kali ini, karena saya ingin menjadi dewasa, mengalahkan ego, dan membuat orang lain selain diri saya sendiri bahagia, maka saya iyakan. Sebutnya mereka hanya hendak mengenalkan. Mengenalkan seseorang yang mereka pilih, yang menurut mereka sepadan untuk saya.

Hari ini kami bertemu, dan saya yang tidak dibawai oleh ekspektasi apapun.. terkejut. Karena secara fisik orang itu.. tidak kurang suatu apapun. Dia pun baik, gestur nya ramah, dan ya.. normal. Kami berkenalan, dengan ramah dan selintas. Karena pihak keluarga saya yang mengenalkan kami ingin melihat-lihat suasana Bogor. Lantas percakapan berlanjut selama dalam perjalanan.

Rasanya saya ingin tertawa mengingat apa yang terjadi hari ini. Karena sedemikian jernihnya saya bisa merasakan.. bahwa kami tidak cocok. Hanya dalam satu klik, dan saya tahu. Hanya dalam satu getar, dan saya tahu. Dia bukan untuk saya. (Jika dia baca ini, hari ini.. saya harap dia mengerti).

Bukan karena saya sedang ada orang lain atau apa, karena saya tidak pernah berbohong jika memang sedang menjalin suatu hubungan/berproses dengan yang lain, saya tidak akan pura-pura single. (emangnya cowok). Ini lebih kepada frekuensi yang tidak senada. Ketika saya menyenandungkan lagu yang terputar di mobil, dia diam. Ketika dia menyenandungkan lagu yang terputar, saya yang diam (karena tidak suka). Begitupun bercanda, dia menertawakan fisik orang, sedangkan saya tertawa pada candaan receh di twitter semacam 'beli tekwan ya satu lah, kalo dua jadi tektwo'.. 

Aneh.. tapi begitulah hati membunyikan nada. Bahwa dia seirama atau tidak. Dan sejauh ini saya tidak pernah dikecewakan, dalam memilih pasangan, selama mengikuti kata hati ketika sedang jernih. Pun dalam memilih pekerjaan, atau pertemanan. Ingat cerita ketika saya dan housemate pertama bertemu? We're just click. Dan itu berlangsung hingga kini. ya satu dua beda pendapat, ya wajar. Namanya berteman.

Kami berada di frekuensi yang berbeda. Ego kami pun menolak kehadiran masing-masing. Saya yakin dia pun merasa yang sama. Mungkin kalau dari tulisan ini, terlihat hanya 'yaelah Mim, selera musik doang itu mah' tapi percayalah.. ini bukan hanya soal musik walau itu penting karena gue doyan roadtrip tapi lebih dari itu, lebih dari sekadar topik obrolan berbeda, hobi yang berbeda, dan dunia imaji yang terlalu berbeda.

Bukankah perbedaan itu bisa menyatukan? 

Ya. Dalam frekuensi jiwa yang sama.

***

The Whisper of the Soul

The Soul never lies. Dia mungkin bisa dibutakan oleh emosi yang tidak jernih atau ego yang terlalu meluap tinggi. Tapi bagi jiwa yang jernih, yang mampu dan mau memasrahkan segala kepada Yang Maha Berkehendak, the soul never lies. 

Di sini saya ingin mengajak siapapun yang datang menyempatkan diri membaca tulisan ini, untuk menjernihkan hati dan pikiran. Merendahkan ego, dan memasrahkan segala kepada Sang Maha Perencana. Jernih hati dan pikiran akan mampu menghubungkan jiwa kita kepada semesta. Mampu membaca tanda, agar tidak salah arah. Sering orang salah arah, bukan sebab dia tidak pintar membaca peta. Namun karena dia terperdaya bisikan yang salah.

Menjernihkan hati, bisa dengan meyakini adanya Illahi. Kamu tidak jernih, ketika ayat suci tidak kau senangi. Ketika ceramah ustadz kau benci. Dan ketika nasihat sahabat tuk kembali pada-Nya kau tepis dengan dalih 'tentu aku tahu bagaimana harus berdoa'.

Menjernihkan hati adalah soal mengembalikan segala urusan pada-Nya. Pada Dia, kemana semua kan bermuara. Kepada Dia.. yang pada-Nya lah kita semua akan kembali. Pada Dia, yang kasih sayangnya menyertai seisi bumi.

Jika hati sudah jernih, kamu bisa mengenali suara-suara bising yang tidak sesuai untukmu. Kamu bisa dengan mudah membaca siapa yang pantas atau tidak pantas bersamamu. Dan kamu akan terhindar dari ketakutan terbesar setiap orang di muka bumi: menikah dengan orang yang salah.

Menjernihkan hati adalah tentang koneksi. Agar kamu selalu bisa membaca tanda. Mampu bernavigasi, dan mengambil keputusan yang tepat. Bukankah setiap keputusan akan membawamu pada level yang berbeda?

Bisikan hati akan menjadi lemah jika kamu terlalu dipenuhi oleh emosi. Terlalu senang, terlalu sedih, sampai lupa mendengar ada petunjuk kecil yang sedang dia sampaikan. Bisikan hati juga akan hilang jika kamu terpapar ego terlalu tinggi. Memalingkan muka dari kebenaran, tidak mau mengakui adanya Tuhan. Karena bisikan hati sedianya adalah lemah.. kecil sekali. Karena dia jauh di dalam sini.. tidak terdengar oleh indera. Untuk itu, kita hanya harus bisa mempertajam naluri. Agar bisikan lemah itu bisa terdengar, dan bisikan lemah itu.. tidak pernah berbohong.

Pernahkah kamu dengar seseorang berkata 'aku pernah mbatin, pingin ini dan itu.. lalu terkabul'.. atau jangan-jangan kamu sendiri pernah mengalaminya? Membatin ingin sesuatu, lalu terwujud padahal dalam sujud dan doa mu, tidak pernah kau panjatkan itu. Biasanya ini memang hal-hal sepele, dan bukan hal besar seperti ingin dapat pasangan, ingin punya pekerjaan, mobil mewah, dan seterusnya. Biasanya mbatin ini justru untuk hal-hal kecil, hal-hal ringan, yang jika terwujud bahagianya bukan main..

Itulah bisikan hati, kawan. Dan Tuhanmu mendengar, bisikan hati terlemah apapun. Dia lebih dari mampu tuk mengabulkan itu semua. Coba ingat-ingat, bisikan hati apa, atau kamu pernah mbatin apa yang kemudian terwujud..

Coba ingat, dan ceritakan padaku.
Mungkin bisa kutulis disini suatu nanti.

***

Follow the Click 

Ini khusus untuk mereka yang sedang menunggu untuk ditemukan..

Jangan pernah takut untuk berkata tidak. Jangan pernah takut untuk menghindar. Ketika hati sudah berteriak dan berontak, jangan pernah takut untuk menolak. Jadikan agama sebagai tolak ukur. Selama itu yang kau pegang, Allah menjamin kamu tidak akan salah arah.

Jadikan Allah sebagai alasan setiap pilihan,. kau pergi ke Bali karena Allah suka orang-orang yang memenuhi janji. Kau datang ke pesta pernikahan, karena Allah suka orang-orang yang memenuhi undangan. Kau tolak pinangan, karena Allah tidak suka orang yang tidak mempercayai keberadaan-Nya (dan itu ada pada orang yang meminangmu). Jika itu sudah kau lakukan.. maka tunggu saja.. perlahan Allah pun akan mengarahkanmu pada seseorang yang tepat, yang memang patut kau tunggu.

Menunggu memang menjemukan. Tapi kau harus tetap tenang. Seorang sahabat saya pernah berpesan 'create a distraction!' ketika saya mulai lelah menghadapi semua urusan sendirian. Distraksi terbaik adalah yang memperkaya diri. Dengan ilmu, dengan cerita, dengan pelajaran hidup, yang bisa kau dapat dari mana saja saat ini. Internet menyajikan seisi dunia, tinggal kau arahkan mana cerita yang ingin kau dengar. Pastikan dirimu bertumbuh, menjadi sosok cerdas. Karena seburuk apapun masa lalu mu, sebodoh apapun keputusan yang kau ambil dulu, anakmu adalah jiwa yang masih murni. Masih sangat murni, dan dia pantas untuk lahir dari jiwa yang jernih dan akal yang cerdas.

Jangan kau korbankan bahagiamu hanya karena tidak ingin sendirian. Kau tahu kalian tidak senada, dan tidak ada klik, namun kau paksakan untuk bersama.
Pun demikian, kau tahu kau dan dia ada klik, namun sulit sekali bagi kalian untuk bersama.. maka tunggulah. Tunggu hingga kalian berada dalam satu bidang datar, dimana tidak ada lagi gunung yang menghadang atau ego yang menjulang. Tunggulah. Jika semesta mengizinkan, jika Tuhan berkehendak, klik itu akan semakin nyata. Namun jika tidak,. maka klik itu pun akan hilang. Dengan sendirinya jiwa mu pun akan berpaling dan tidak lagi berhenti menunggu.

Semudah mengikuti klik, semudah itu kita mempercayakan pilihan hidup. Pada pilihan apapun yang terbentang di depanmu. Meskipun sekedar membeli piring mana yang cocok kau bawa pulang.

***

and so the waiting continue.. to the soul whom I don't know. But I believe in the absence of click, is the absence of happiness. I was wrong for once, by disbelieving the click, and I won't make the same mistake for more. 

and so the waiting continue.. for the soul who is worth to wait. 

The soul with whom we could sing to the same song, and feel the similar joy. We share the same stare, and we knew exactly we knew each other forever. 

I am waiting here for the soul, who were made to be mine. In clarity, for I believe it will come when the time is right. Allah never disobeyed His promise. He would come closer to those who are willing to. 

I believe that God created us in pair. Our name has written in the star.. 
and whoever that soul named is..

I love you.
Always have, always will.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert