Skip to main content

Sabar

Ada satu hadits yang mengisahkan tentang kisah Nabi Ayub a.s, beliau dengan kesabarannya menjadi contoh dan panutan umat Islam dalam menjalankan sabar di kehidupan dunia ini. Sebut saja, Nabi Ayub adalah seorang terkemuka, seorang Nabi dan Rasul yang diutus pada kaumnya. Hartanya berlimpah, tanah pertaniannya luas, ternaknya banyak, dan hasil perikanannya pun luar biasa banyaknya. Beliau pun dikaruniai 12 orang putra, yang sempurna. Sehat rupa, cerdas akal, baik pekerti, tidak kekurangan suatu apapun. Istrinya pun cantik dan setia mendampingi. Nabi Ayub mendapat karunia tersebut selama 20 tahun. Seorang terpandang, Nabi dan juga raja.

Kemudian Allah memberinya cobaan, dalam empat tahun berturut-turut satu persatu nikmat yang ia miliki diambil oleh Allah. Tahun pertama, ternak nya mati semua dalam semalam. Tahun kedua, tanah pertaniannya habis terbakar, hitam bagai arang. Tahun ketiga, ke dua belas anaknya meninggal secara bersamaan. Lalu tahun keempat, beliau diserang penyakit kusta - penyakit kulit yang membuatnya harus diasingkan.

Nabi Ayub, didampingi oleh istrinya, pindah dari rumah mereka, ke gubuk kayu kecil di tengah hutan. Tidak ada siapapun yang mau menengok, karena takut akan tertular.

Selama dua puluh tahun Nabi Ayub menjalankan kehidupannya yang terasing, dengan istrinya yang senantiasa merawat beliau dengan penuh sabar. Tidak sedikit pun mempertanyakan 'kenapa Allah memberi cobaan ini'. Mereka hanya tahu, ini adalah kehendak Allah dan ikhlas dalam menjalankannya.

Setelah genap 20 tahun, Allah mengembalikan seluruh nikmat Nabi Ayub a.s, bahkan berlipat ganda jumlahnya. Tanah pertanian, hewan ternak, hasil laut, dan istrinya kembali hamil dan melahirkan setiap tahun berturut-turut hingga anaknya berjumlah 24 orang.

***

Allah berulangkali mengingatkan dalam Al-Quran bahwa disetiap penjuru semesta, terdapat tanda dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Maka kisah Nabi Ayub a.s tadi, sudah semestinya menjadi bahan renungan bagi kita dalam menjalani hidup yang pasti penuh dengan cobaan ini.

***

Sabar adalah cahaya iman, begitu Ustad Khalid Basalamah menyampaikan dalam ceramahnya.

Sabar bukan hanya tentang seberapa lama seseorang bersedia menunggu, tetapi seberapa baik seseorang tersebut berperilaku selama dalam masa penantian. Apakah ia tetap menunaikan ibadah? tetap berbuat baik pada sesama? bersedekah? Apakah ia tetap berbaik sangka pada Allah?

Memang sulit sekali ketika seseorang sedang dilanda cobaan, untuk bisa tetap berbaik sangka. Saat sedang sedih, akal pikiran mudah sekali terpengaruh oleh bisikan setan. Apalagi jika ditambah dengan mendengarkan musik-musik sendu, semakin sedih, semakin kelabu. Bagaimana akan berbaik sangka jika ketakutan sudah menguasai alam pikiran.

Sabar bukan hanya tentang berdiam diri menerima cobaan, tapi juga tentang berpikir positif, dan mengendalikan hati dengan logika. Hati memang tidak bisa mengambil posisi jika sedang dirundung emosi, untuk itu Allah berikan logika sebagai penyeimbang.

Banyak yang bilang, perempuan identik dengan dominansi hati ketimbang logika, untuk itu saya ingin mengajak setiap perempuan yang mampir ke tulisan ini, untuk mengenali diri sendiri, dan melatih logika agar bisa menyeimbangkan ritme hati.

Cobaan yang sedang kamu hadapi saat ini, akan bergulir bagai bola salju di kemudian hari, dia tidak akan mengecil, meski kamu berharap dia akan mengecil dan hilang seperti bayangan. Tidak. Dia akan membesar, dan semakin membesar seiring dengan tanggung jawab yang kamu emban.

Tanpa melatih keseimbangan logika selagi dirundung emosi, maka kamu akan menjadi perempuan tua yang ngamuk tanpa alasan ketika polisi menilang, padahal kamu berkendara tanpa jaket, helm, dan sarung tangan.

***

Sabar itu cinta, setidaknya begitu yang saya rasakan.

Perempuan yang menunggu untuk ditemukan, tanpa tahu kapan dan oleh siapa dia akan ditemukan, sedang membuktikan kecintaannya pada makhluk tanpa rupa. Dalam hatinya dia menguatkan diri, untuk selalu berbaik sangka pada sang pencipta. Sebagaimana Nabi Ayub, yang meyakini bahwa akan ada cahaya suatu saat nanti. Kecintaan Nabi Ayub terhadap Rabb nya lah yang membuatnya bersabar menjalani tahun demi tahun yang pasti terasa lambat ketika sedang ditimpa cobaan.

Perempuan harus punya sabar, karena sabar itu meneduhkan. Cinta yang disertai dengan kesabaran, adalah cinta yang merindukan surga.

***

Saya pernah terjebak pada masa lalu yang gelap, lebih buruk lagi, masa lalu itu diketahui orang banyak. Sekuat apapun saya berusaha, saya tidak akan pernah bisa menghapus ingatan masa lalu saya pada orang-orang yang dulu sempat menyaksikannya.

Jebakan itu kemudian berbuah jawab, ketika sebuah undangan menyapa dalam grup chat .. (yang saya juga heran untuk apa dia sebar disitu, karena dia sudah pasti tau tidak akan ada yang datang dengan jarak sejauh itu, kecuali kalau memang niatnya untuk pamer). Alih-alih mengirimkan secara personal, dia memilih tuk mengumumkannya secara massal.

Kebencian saya memuncak ketika teringat janji yang pernah dia utarakan tepat sebelum pergi meninggalkan saya, janji yang memang tidak pernah saya ingat lagi, kecuali untuk mengingatkan betapa seseorang bisa begitu keji mempermainkan perasaan perempuan.

Sabar.. adalah satu-satunya senjata menghadapi fase ini. Mengulang lagi proses tertatih saat dulu dikhianati untuk pertama kali, bisa tetap tegak berdiri, dan berpikir positif, berbaik sangka pada Allah.. sambil terus berbisik 'sakit sekali hati ini, namun jika dengan begini Allah menjadi ridho pada saya, dan mengampuni dosa-dosa saya, maka saya ikhlas dan akan menikmati setiap perih yang dia beri'. 

Namun tidak cukup sampai disitu, saya bukan hanya harus menerima, tapi juga menyusun strategi. Agar diri tidak terlalu lama berkubang dalam rasa sedih. Saya biarkan satu hari berlalu dengan tangis membanjir seperti menangisi orang mati, namun esoknya saya berjanji dalam hati untuk tidak lagi membenci orang itu, dan akan mengajarkan pada anak laki-laki saya nanti agar berhati-hati dalam berinteraksi. Saya tidak akan pernah membiarkan pangeran kecil saya, menjadi seorang brengsek.

Untuk itu saya belajar, melalui artikel dan ceramah, atau talkshow, atau apapun yang bisa saya temukan di internet. Belajar dalam mendidik anak, agar akhlaknya tidak serupa orang yang saya benci itu. Jika suatu saat nanti dia punya anak perempuan, saya yakin dia akan dihantui perasaan bersalahnya terhadap perempuan yang pernah dia sakiti, dan dia akan mati-matian menjaga anak perempuannya itu. Mari kita doakan saja.

***

Cinta memang adalah hal terindah dalam hidup. Setiap orang ingin dicintai dan juga memiliki orang lain untuk dia cintai. Namun hidup bukan selalu tentang cinta. Jika cinta yang halal belum kau dapatkan, jangan terburu-buru untuk mem booking cinta secara tidak halal. Bahkan tiket pesawat pun hanya punya waktu 45 menit untuk di book, kenapa cinta bisa berbulan, bahkan bertahun lamanya.

Cinta yang sejati adalah cinta yang menunggu. Menunggu untuk ditemukan, menunggu untuk dipantaskan. Cinta yang sejati, adalah yang berusaha. Ketika sudah yakin, barulah datang menghadap.

Apa yang membuat seseorang itu kuat selama ia berusaha, memantaskan diri, memantapkan hati,.? Ialah sabar, yang menjadi energi.

Yakin bahwa semua usaha ditujukan untuk Allah. Cinta terbaik adalah cinta yang melibatkan Allah didalamnya. Saya pun teringat, bulan bulan sebelum saya dan masa lalu saya itu berpisah.. saya sempat memanjatkan doa dengan penuh harap agar ditunjukkan pada cinta yang Dia ridhoi. Cinta yang tidak menyesatkan, dan cinta yang membahagiakan. Itulah sebab Allah memisahkan kami. Allahu 'alam.

Hanya sabar dan solat lah yang menjadi penolong umat manusia. Tidak mudah mempertahankan pikiran tetap jernih ketika sedang tertimpa musibah, namun mereka yang senantiasa berlatih dalam kesabaran, pasti suatu saat akan bisa menjadi pendamping yang tenang, menghadapi badai sedahsyat apapun.

***

Saya ingin seperti itu.
Ingin menjadi sabar, ditengah amukan.
Ingin menjadi teduh, diteriknya siang.
Ingin menjadi rindu, ditengah jarak yang membentang.

Karena hanya sabar yang bisa saya latih, selagi menunggu dia yang gagah berani. Agar tidak lagi terjebak pada ilusi, yang berujung pada patah hati.

***

Bogor, 09 Juli 2018.
00.25

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …