Skip to main content

Penduduk Langit

Kita mengenal ada tujuh lapis langit..
Langit bertabur bintang yang kita kagumi, adalah langit lapisan pertama
Dari langit pertama.. Bumi ibarat cincin di padang pasir.
Dari langit kedua.. Bumi dan langit pertama disatukan ibarat cincin di padang pasir.
Dari langit ketiga.. Bumi, langit pertama, dan langit kedua disatukan, ibarat cincin di padang pasir.
Dari langit keempat.. Bumi, langit pertama, langit kedua, dan langit ketiga disatukan, ibarat cincin di padang pasir.

Dan dari langit ketujuh.. Bumi, langit pertama, langit kedua, langit ketiga, keempat, kelima, dan keenam disatukan.. ibarat cincin di padang pasir..

Di atas langit ketujuh terdapat lautan..
Dan diatasnya terdapat Sidratul Muntaha.. pembatas antara dua dunia..

Allah, berada diatas segalanya..
yang pijakan-Nya dapat menyapu seluruh langit dan Bumi.

Maha Besar.. Sangat Besar sehingga tidak ada satu pun yang sanggup menampung kedatangannya..

Dalam satu kali berkehendak, Dia bisa meratakan seluruh isi kota. Menenggelamkan manusia paling angkuh. Melenyapkan suatu negeri.

Pada suatu nanti, Dia pun akan mengakhiri ini semua, dalam satu tiupan Sangkakala.

Namun, Dia yang kita sebut Maha Besar itu.. masih mau mendengar bisikan-bisikan doamu. Masih mau mendengar gumaman hatimu, harapmu, impianmu, cita-citamu.. dan Dia kabulkan itu semua. Dia beri kamu rizki, yang tidak pernah diduga arah datangnya. Dia beri nikmat. Dia beri bahagia..

Dia beri segalanya..

Dia beri semuanya.. semua.

***

Langit dipenuhi ribuan malaikat. Yang senantiasa ruku' dan bersujud pada-Nya. Karena demikianlah mereka ditugaskan, dan mereka patuh atasnya. Malaikat yang tidak bisa kita lihat. Yang diciptakan dari cahaya. Memenuhi langit, ratusan, ribuan, bahkan jutaan jumlahnya.

Pikirmu mereka tidak mengamati kita disini?
Mungkin bagi mereka, kita ini tontonan yang menarik. Ada nama yang mereka jadikan favorit, padahal si favorit bukanlah yang favorit di muka bumi.

Malaikat pun tahu, apa yang kita kerjakan. Mereka turut mengamini doa, seorang hamba yang berbuat kebajikan. Mereka memenuhi langit, dengan sepenuhnya tugas menyembah Allah Azza wa Jalla.

Apakah itu sebab, setiap kali memandang langit ada hati yang menjadi tentram?
Apakah itu sebab, langit selalu indah, pada cuaca apapun yang dia bentang?

***

Semesta adalah misteri, bagi mereka yang berpikir.
Dan teka-teki, bagi mereka yang mencari arti,

Jika hidup adalah perjalanan,
maka ketika tiba di tujuan,
bukankah ada lebih banyak hal yang harus kita lakukan?

Seperti saat mudik kembali ke kampung halaman,
Berdiam berpindah mengikuti kendaraan.
Lalu ketika roda telah berhenti berputar,
Ada sambut peluk hangat yang membuat kita betah bersandar.

Lalu ada tawa,
ada cerita
ada mereka yang perlu kita sapa

Tak ada waktu tuk berdiam beristirahat,
sanak saudara berdatangan menggelar tikar menukar sapa
rindu, sahutnya gembira

Pertanyaan digulir,
jawaban digilir,

Jika saatnya telah tiba
dan kita sudah sampai pada tujuan yang sebenarnya,
janji Allah yang pasti nyata adanya..

Siapakah yang akan menyambut ketika kita mati?
Cerita apa yang akan kita beri?
Rindu? Adakah para malaikat itu rindu akan bertemu?
Setelah mereka melihat kita selagi hidup,
adakah mereka rindu melihat kita dalam wujud tak semu?

Tawa?
Adakah tawa masih terukir,
dalam gelap sesak ruang yang kita tahu pasti
ataukah tangis rintih menyesal karena dulu tak peduli?

***

Lalu disini kita hanya sibuk khawatir
pada dia yang jika kelak kita mati,
akankah datang dan menangisi jasad yang pucat pasi

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …