Skip to main content

Financially, I Love You or Love You Not

Seorang teman saya kemarin bercerita, bahwa pada akhirnya.. laki-laki yang telah lama dia idamkan dalam diam, memilih perempuan lain yang dia anggap lebih 'setara'.

Biar saya ceritakan dulu latar belakang tulisan ini. Karena memang saya mendapat cerita ini dari teman, tapi saya yakin di luar sana banyak juga yang mengalami hal serupa. Saya tidak mau apa yang dialami teman saya, dialami juga oleh perempuan-perempuan hebat yang memendam perasaan pada seorang laki-laki yang tidak tahu harus bagaimana bersikap, tapi kepalanya sudah dipenuhi oleh asumsi terlebih dahulu.

***

Teman saya seorang perempuan hebat. Dia cerdas, karirnya gemilang, di usia masih sangat muda. Memang dia berasal dari keluarga yang cukup mapan, kedua orangtuanya memiliki jabatan terpandang di daerah tempat dia tinggal. Tapi itu bukan yang menjadikannya serta merta bisa meraih sukses yang dia raih sekarang. Karir yang dia dapat bukan dari hasil kolega orang tua, gelar sarjana dan master yang dia raih bukan hanya karena orangtuanya sanggup membiayai, semua dia dapat dengan bekerja keras, sungguh-sungguh dan hasil perjuangan bertahun mencari jati diri.

Kini dia sudah mendapatkan semuanya. Namun masih ada satu yang kurang; pasangan.

Dan memang benar, di usia yang sudah pantas untuk menikah, seorang perempuan dengan karir dan kecerdasan, akan lebih sulit menemukan pasangan. Bukan karena dia seorang pemilih, tapi karena laki-laki pemberani semakin sedikit dan nyaris punah. 

Teman saya sudah lama menjatuhkan pilihannya pada seorang laki-laki, rekan seprofesi. Mereka memang tidak berada dalam satu bidang yang sama, namun saling berkaitan. Kebetulan teman saya ini punya power lebih dibanding laki-laki itu, jadi dia bisa melakukan apapun untuk mendukung laki-laki tersebut. 

Bertahun terlewati, tidak juga teman saya berani mengungkapkan perasaannya pada laki-laki yang dia  cintai dalam diam itu. Padahal, semua sudah dia lakukan agar karir sang pujaan bisa melesat cepat, dan yah.. bisa dibilang berhasil. Ada satu dua momen dimana laki-laki itu mendapat extra cash berkat negosiasi teman saya, agar desain tersebut dikerjakan oleh si laki-laki. 

Mereka berteman baik, cocok dalam segala hal, kalau ngobrol bisa nyambung, tidak ada satu hal pun yang bisa membuat teman saya ini ilfeel terhadap si laki-laki. Dia teramat jatuh cinta padanya.

Namun di sisi lain, laki-laki pun pasti punya insecurity. Tidak bisa disalahkan, karena memang begitu sifat alamiah laki-laki; ingin merasa tinggi. Singkat cerita, dia merasa tidak sepadan bagi si perempuan. Dia merasa, perempuan ini terlalu 'tinggi' untuknya, high maintenance lah istilahnya. Semakin dia merasa teman saya ini semakin jatuh cinta padanya, semakin dia menghindar. Lama kelamaan, tidak ada lagi obrolan basa basi malam hari yang biasa membuat mereka tidur hingga larut malam. Tidak ada lagi chat tidak penting sekedar menanyakan hari hujan atau cerah di siang bolong. Semua percakapan hanya tentang pekerjaan, dan tidak ada lagi sense of friendship yang tersisa. 

Teman saya pernah mendatangi saya suatu ketika, sedih dengan perubahan sikap yang tiba-tiba. Kala itu saya menghibur dengan kemungkinan yang justru mendatangkan harapan. bukan malah membunuh perasaan. Sehingga, teman saya ini masih tetap mencintai laki-laki itu dengan kadar yang sama, meski dinginnya si laki-laki sudah setara dengan kutub antartika. 

Rasanya saya ingin mendeskripsikan satu persatu apa saja yang teman saya sudah lakukan demi mendukung karir laki-laki idamannya, mulai dari menegosiasikan proyek desain, hingga mengenalkan laki-laki ini ke lingkaran bisnis seprofesi yang lebih luas. Teman saya pun di sela obrolan mereka, selalu menyelipkan pujian dan motivasi agar menyemangati laki-laki yang gampang down karena insecurity nya ini. Meski tidak sekalipun laki-laki ini berbalik arah dan menyemangati teman saya, dia dengan tangguhnya berdiri melawan arus, untuk meyakinkan laki-laki pujaannya bahwa dia adalah seorang hebat. (Padahal si laki-laki ini terus menganggap diri sendiri kurang). 

Semua itu teman saya lakukan hanya karena satu alasan; dia cinta laki-laki tersebut. 

Andai saja.. saat laki-laki itu dibantu secara bertubi-tubi oleh teman saya, dan karirnya melesat karenanya, dia menyempatkan diri untuk bertanya 'kenapa kamu lakukan semua ini untuk aku?' mungkin dia akan mendapat jawaban yang sudah dia tahu 'because I love you?' tapi laki-laki itu tidak pernah bertanya. Entah mungkin dia sudah tahu dan tidak ingin memperjelas, atau dia memang tidak pernah terpikir untuk bertanya hal sesepele itu. 

Sekarang kalian sudah tahu kemana kisah ini tlah bermuara. 

Laki-laki itu memilih perempuan lain, yang jauh 'lebih mudah' untuk dipersunting. Seorang perempuan dari kelas pendidikan yang lebih rendah, cantik paras, manis senyum, dan baik hatinya. Mudah menuruti apapun kemauan si laki-laki, dan tidak terbiasa dengan kehidupan di perkotaan. 

Sampai disini.. saya.. jadi ingin menangis.

***

Saya berhenti menilai seseorang dari apa yang terlihat secara fisik (tubuh, rupa, benda-benda), sejak tiga tahun yang lalu. 

Saat itu saya baru mengakhiri hubungan yang sudah lima tahun saya jalani. Hubungan yang permulaannya sangat susah, dan mengakhirinya pun jauh lebih susah. Awal mula kami berdua saling kenal, dia tahu saya bukan perempuan dari 'kelas' ekonominya. Kami masih mahasiswa saat itu, saya mahasiswa baru, dan dia sudah nyaris lulus. Sebut saja uang bulanan saya dua kali lebih besar darinya, dan teman-teman sepermainan saya, berbeda dengan teman-teman sepermainan dia. 

Awalnya dia tidak pernah mau jika saya ajak 'masuk' ke dunia saya. Katanya, dia tidak terbiasa. Saya pun menerima, dan berusaha untuk menyesuaikan diri. Jika sedang bersama dengannya, saya akan menjadi orang yang sepadan untuknya, jajan di pinggir jalan, makan-makanan warteg, dan saya sama sekali tidak keberatan. Bukan karena saya sedang madly in love, tapi karena memang jajanan dan makanan itu enjoyable. Meskipun saya menyesuaikan keadaannya, saya tetap jujur pada diri saya sendiri. Ketika saya tidak suka sesuatu, saya akan katakan itu. Lama kelamaan, dia pun mulai mau mengikuti gaya hidup saya, hingga lima tahun berjalan dan kita sudah bisa masuk ke dunia satu sama lain. 

Namun sesuatu yang dimulai dengan paksaan, pasti tidak akan baik pada akhirnya. 

Hubungan kami kandas, yang diakhiri dengan pernyataan semacam 'kamu terlalu tinggi buat aku' yang membuat saya tertohok sedemikian dalam sampai tidak bisa lagi menangis. 

Saya diamkan, meskipun ngilu sekali. Miris membayangkan hari-hari yang sudah kita lewati. Kerelaan yang sudah saya tunjukkan untuk mau mengikuti arusnya, dan tetap dibilang seperti itu. 

Sejak itu, saya berhenti melihat seseorang dari apa yang dia miliki, atau tidak dia miliki. Saya pun menutup telinga jika ada orang bercerita tentang apa yang si anu miliki, dan seterusnya. Iri hati soal harta, tidak lagi menjadi selera saya. Saya bosan dan muak pada orang-orang yang menilai seseorang hanya karena hartanya.

***

Pada kasus teman saya, yang jatuh cinta pada pemuda biasa-biasa saja, dengan karir biasa-biasa saja, saya menyayangkan jika teman saya akan melakukan apa yang dulu saya lakukan. Jadi saya agak sedikit menghiburnya dengan kutipan ayat suci, bahwa boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk untukmu, dan kamu membenci sesuatu padahal itu baik untukmu. Tuhan Maha Tahu. Karena jika teman saya terus menerus membuka diri untuk seseorang yang sangat tertutup dan terlanjur takut, hanya soal waktu mereka akan berpisah dengan alasan yang sama juga. Kesejajaran bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. 

Ini hanya soal saling membuka pikiran masing-masing. Teman saya sudah bersedia menurunkan ego nya, tinggal bagaimana si laki-laki itu meningkatkan keberaniannya. 

Sejak kejadian tiga tahun lalu itu, saya mulai menilai seseorang dari cara dia bersikap. Cara dia berpikir, cara dia menghadapi masalah, dan cara dia menghadapi lawan bicara. 

Jika saya anggap dia menarik, itu karena dia bisa membawa diri pada suasana di tengah keramaian, membawa diri di saat kita hanya duduk berdua, dan cara dia menceritakan masalahnya (biasanya kalau saya tertarik sama orang, saya akan memancing dia untuk bercerita masalah apa yang pernah dia hadapi dan bagaimana dia menemukan solusinya). Saya akan terkesan pada mereka yang cerdas, yang punya akal cerdik dalam menyikapi situasi sulit. 

Saya tidak peduli jika saat itu dia tidak punya apa-apa, pekerjaan tidak tetap, jalur karir belum terarah, karena yang mendasari kesuksesan seseorang bukan apa yang sudah dia dapat sekarang. Tapi bagaimana proses berpikir yang terus dia latih dari sekarang. Orang dengan kemampuan seperti itu, akan siap menjadi apa saja. Soal dia belum punya pekerjaan, itu hanya urusan waktu dan suntikan motivasi serta keyakinan diri. Perempuan seperti teman saya sangatlah sanggup dalam urusan menaikkan keyakinan diri seseorang.

Tapi memang tidak salah juga sih, laki-laki itu menilai teman saya dari luar dan dari keadaan fisiknya. Karena sudah memang sewajarnya diajarkan, jika memilih pasangan harus lihat bibit, bebet, bobot nya. Tapi bagi saya,. yang terpenting selain ketiga itu adalah agamanya. 

Seseorang mungkin tidak akan sempurna dengan bibit bebet bobot, tapi jika dia memegang teguh agamanya, dan menjadikannya sebagai panduan, pasti semuanya bisa disesuaikan. 

***

Di satu pagi yang sibuk, teman saya yang lain pernah mengirimi pesan. Singkat namun tajam. Ia mempertanyakan pacarnya, yang hendak menolak tawaran pekerjaan dari sebuah perusahaan besar dengan gaji yang sangat lumayan. Teman saya ini sudah sangat ingin menikah, namun pacarnya masih belum siap selama dia belum punya penghasilan tetap. Laki-laki ini juga punya definisi sendiri dengan yang dia maksud sebagai 'penghasilan tetap', yaitu bukan saja menyerahkan diri pada dunia perkantoran tetapi ada misi yang ingin dia emban. Misi idealis, seorang millennial muda berkemampuan tinggi. 

Kebetulan saya mengenal mereka berdua secara baik, jadi saya langsung tahu apa yang sedang terjadi.

Wajar jika perempuan itu khawatir dengan penghasilan pasangannya, wajar jika dia ingin yang terbaik, karena perempuan butuh security dalam hal finansial. Terlebih lagi usia sudah mulai memasuki masa-masa harus menikah, kalau menunda apalagi menolak tawaran besar, belum tentu akan ada lagi kesempatan yang sama. Khawatir itu wajar. Tapi memiliki idealisme, itu juga wajar. Millennial memang susah ditebak. Jadi begini yang saya sampaikan ke teman saya pagi itu, dalam satu baris panjang;

Wajar kalau kamu khawatir, kamu pasti ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Apalagi sepertinya mau sampai kapan terus menunggu pekerjaan yang baik, dan menunda niat baik kalian berdua untuk bersatu. Wajar kalau kamu khawatir, all woman did.

Tapi ini urusan prinsip. Dia bukan seperti laki-laki pada umumnya. Yang satu ini berbeda. Dia punya prinsipnya sendiri, dia punya pandangannya sendiri. Tentu dia tidak akan mudah untuk settle pada satu pekerjaan. Jadi wajar juga kalau dia bete setiap kamu ungkit soal ini. 

Urusan begini adalah urusan prinsip, yang masih harus kalian serasikan frekuensinya. Semakin kamu berkeras pada pendirianmu, semakin dia berkeras juga pada pendiriannya, lama kelamaan sesuatu yang mengeras ini akan retak dengan sendirinya. 

The ugly truth is, when it comes to a fight, to a different opinion, perempuan adalah pihak yang semestinya mengalah. Karena disitu peran perempuan, untuk mendinginkan kepala, dan mendampingi dalam segala situasi. Mungkin sekarang soal pekerjaan, besok mungkin soal tempat tinggal, soal sekolah anak, tempat liburan, dan seterusnya. Kalau tidak dari sekarang berlatih untuk melembutkan diri, menerima keputusan yang dia ambil, kapan lagi? Ke depan akan lebih banyak keputusan kalian yang berbeda, satu pihak harus belajar untuk mengalah lebih banyak. Mau tidak mau.

Coba kamu sampaikan kekhawatiranmu ke dia, kalau dia tidak ambil tawaran ini, apa yang kamu takutkan. Sampaikan saja, tapi bukan untuk membuat dia berubah pikiran, tetap biarkan dia yang ambil keputusan. Yakin bahwa setiap keputusan yang dia ambil, pasti akan mempertimbangkan kamu di dalamnya. Kamu tetap sampaikan juga bahwa kamu akan dukung semua yang dia pilih, no matter what. Sambil berdoa jalan yang terbaik untuk kalian berdua. Itulah kenapa doa seorang istri untuk suaminya adalah hal terbaik di dunia. Tenang saja, dear. Rejeki punya jalannya sendiri untuk sampai ke penerimanya, kok. :)

Only love can do this. Good luck, love.

***

Saya sebetulnya paling tidak senang membahas soal ini, karena akan terdengar sangat matrealistis. Saya juga tidak mau menjadi pihak yang ikut-ikutan menjudge si laki-laki yang tidak memilih teman saya atas semua yang telah dia korbankan, karena.. ya memang benar, kalau seorang laki-laki menghendaki seorang perempuan, dia akan lakukan apa saja untuk bisa bersama dengan perempuan itu. Padahal dia tidak pernah ada usahanya untuk mendekati teman saya selama ini. Entah apa karena terlalu malu, atau memang tidak tertarik.

Di kesempatan lain, saya pernah dinasehati oleh teman saya yang lain, yang kini telah menikah dengan perempuan paling menyenangkan, dia bilang 'jangan pernah memantaskan diri untuk seseorang secara spesifik. Karena bisa jadi dia justru tidak sedang menuju pada mu'. 

Dan itu yang tengah saya rasakan sekarang. Saya mencoba belajar lebih mandiri, bisa bepergian jauh sendiri, berkendara, memasak, mengurus rumah, mengatur keuangan, membenahi halaman, bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk saya sendiri. Dan ternyata saya jadi jauh lebih bahagia, dan lebih lega karenanya. Saya sempat menginginkan seseorang, yang dalam diamnya saya tidak pernah tahu apakah dia menginginkan saya juga atau tidak. Namun sekarang setiap kali terbersit pikiran tentang orang itu, saya mengalihkannya dengan mencoba mengingat Allah. Dan benar bahwa, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi lebih tentram. Itu yang sedang saya rasakan sekarang.

Sambil menunggu orang yang cukup berani untuk datang dan mengutarakan isi hati, saya meluangkan waktu mendengar kisah teman-teman saya yang beragam dan penuh pembelajaran. Kadang saya juga jadi tertegun sendiri dengan kisah mereka, karena boleh jadi saya pun pernah mengalami hal serupa, tapi tidak menyadari. 

Saya sadar bahwa memilih pasangan adalah urusan paling rumit, dan tidak semudah membeli oven listrik. Kita semua mengharapkan pasangan yang dipilih nanti adalah satu untuk selamanya. Kita mempercayakan seluruh hidup kita, keturunan dan keluarga kita pada seorang asing yang baru kita kenal dalam sepersekian fase. Tentu bukan hal mudah dan gampang untuk diteorikan.

Untuk itu saya harap, selagi masih dalam syahdunya Ramadan, kita semua berbalik bertanya kepada diri sendiri, untuk apa kita mencari pasangan. Jika itu karena untuk memenuhi syahwat, atau karena memenuhi tuntutan keluarga dan orang tua, maka sampai disitu saja fungsi pasangan bagi kita. Jika itu untuk mendapat keturunan, dan agar bahagia, maka jika pasangan ternyata (naudzubillahi mindzalik) tidak bisa memperoleh keturunan dan tidak bisa membuat bahagia, maka sampai disitu saja pernikahan yang sudah dibangun. Tapi jika alasan kita mencari pasangan adalah untuk memenuhi ketentuan Allah, bahwa semua makhluk diciptakan berpasangan, untuk mencari ridha-Nya dan cinta-Nya, maka Insya Allah kita dan pasangan adalah dua orang yang tidak berhenti mencintai hingga surga kelak diperoleh. 

***


Bukan uang yang menjadikan seorang laki-laki itu kaya, tetapi iman dan keberanian. Ditambah lagi dengan perempuan yang tepat untuk mendampinginya, maka dia akan menjadi pribadi yang siap melewati apa saja. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert