Skip to main content

Embracing Failure

Saya tertegun siang ini, membaca tweet dari orang yang tidak saya follow. Begini bunyinya;
Dulu aku bangga jika doaku cepat terkabul. Aku merasa Tuhan sayang aku banget. Belakangan kurenung2 pengamen kalau ndak enak dan nyebelin cepat dikasih duit, agar cepat nyingkir. Pengamen yg baik ditungguin sampai lagu selesai, kalau perlu imbuh lagu lagi. - Sudjiwo Tedjo

 Karena mendadak saya jadi terkenang akan semua doa-doa yang telah terkabul hingga saat ini, bahkan doa yang hanya saya bisikkan tanpa bermaksud meminta agar terkabul.. (cuma mbatin gitu loh). Doa-doa itu dikabulkan tanpa cela, semua sesuai persis seperti yang saya inginkan. Persis. Bahkan lebih bahagia lagi dari yang dibayangkan. Kecuali satu hal...

Satu hal yang hingga kini masih menjadi keinginan, tanpa tahu bagaimana cara mewujudkannya. Keinginan yang justru membawa saya kemana-mana, membawa kepada kesadaran akan minimalism, akan pentingnya peran perempuan di dalam rumah tangga, dan pentingnya mengejar cinta Dia ketimbang dia.

Keinginan satu ini cukup besar, namun saya belum juga berhasil meraihnya. Dulu sekali, sempat pernah hampir teraih, tapi Allah rupanya masih menyelamatkan saya dari satu hubungan yang tidak membahagiakan. Dibuatnya saya patah hati, sehingga kemudian saya merangkak mendekat.

Memang betul, bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu, dia akan cenderung lebih mendekat pada Tuhannya. Lalu ketika yang dia inginkan sudah didapat, dia akan mulai lupa dengan ibadah-doa-dan amalan seperti ketika memperjuangkan keinginan itu. Manusia memang sudah sifatnya mudah lupa. Sehingga, Allah membuatnya memiliki keinginan lagi, agar mendekat lagi.

Allah memang selalu rindu dengan hamba-Nya. Dia rindu hamba-Nya mengetuk pintu, menyebut nama-Nya.

Saya baru sadar sekarang bahwa adanya sebuah keinginan bukanlah sebuah anugerah melainkan cobaan. Seperti jerawat yang timbul tanpa diundang, sebuah keinginan terpendam bisa menyakiti hati manapun yang disinggahi. Minimalism mencoba untuk mengurangi keinginan-keinginan terpendam itu, namun bukan mudah kita untuk melarang hati mendamba sesuatu. Apalagi jika sesuatu itu juga sejalan dengan kebutuhan kita.

Namun bagaimana jika keinginan itu tidak kunjung terkabul, atau justru jelas-jelas tertolak dan gagal terwujud?

Ketahuilah bahwa Allah tidak pernah tidak menjawab doa seseorang. Setiap doa, sepelan apapun itu, pasti ada balasannya. Hanya butuh frekuensi yang sama agar doa itu bisa terlihat jelas jawabannya, apa yang manusia itu inginkan harus sejalan dengan apa yang Allah kehendaki. Tanpa itu, maka akan berat sebelah, entah itu terlampau baik sehingga memberatkan penerima, atau terlampau buruk sehingga (juga) memberatkan penerima. Allah menyukai keseimbangan, maka ketika keinginan manusia sudah sama dengan kehendak-Nya, barulah kemudian wujud doa yang bahagia itu jadi nyata.

Misalnya, ketika seseorang ingin mendapat penghasilan senilai lima juta per bulan. Dia berdoa, dia menginginkan pekerjaan yang dia yakini akan memberinya penghasilan sebesar itu. Dia berdoa dan terus berdoa. Memohon dalam setiap sujudnya, hingga tiba waktu wawancara. Dia benar-benar yakin pekerjaan ini paling cocok buatnya, terlebih pendapatan yang dijanjikan pun sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Hari berganti, berita hasil wawancara tak kunjung terdengar. Berulang kali dia membuka situs resmi tempat ia melamar kerja, namun nihil. Tak ada informasi. Harap cemas, tak putus dia panjatkan doa, memohon agar diloloskan dalam lamaran kerja itu. Hingga suatu hari, sebuah pesan elektronik masuk melalui ponselnya. Ia gagal memenuhi kriteria dalam tahap wawancara. Pupus sudah rencana bekerja dalam perusahaan yang teramat dia damba. Lebih buruk lagi, dia seperti tak punya rencana cadangan akan kemana setelah ini.

Dalam titik ini tentu mudah bagi seseorang menuduh Allah telah menolak doanya, lalu membiarkan dia terpuruk nelangsa. Tapi berapa banyak kita yang sadar, bahwa saat demikianlah sebetulnya, saat dimana Allah menguji keyakinan dan keteguhan hati seorang hamba.

Saat seseorang itu menyangka dia telah gagal, saat keinginan yang memenuhi hatinya terlampau kuat, saat dia seakan menghadapi jalan buntu.. Di situ sebenarnya Allah melihat - dan Dia Maha Melihat - bagaimana reaksi yang ditimbulkan. Apakah hamba-Nya masih tetap kuat? Masih tetap beriman kepada-Nya? Masih tetap tegap menghadapi hari? Berpikir positif dan percaya bahwa akan ada cahaya? Atau justru lunglai? menyerah dan putus asa? Berdiam diri dan menutup semua jendela? Terpuruk, menolak untuk bangkit?

Allah ingin melihat, jika sudah digagalkan, apakah hamba-Nya akan tetap kembali pada-Nya? Memohon dengan sama keras, meminta dengan kesungguhan yang sama dalamnya?

Jika seorang hamba lolos dalam ujian itu, ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya. Jika Dia berkehendak, dalam semalam bisa Dia jadikan seorang pengemis menjadi saudagar kaya raya. Jika setelah mendapati keinginannya gagal, seorang hamba tadi masih mau beribadah pada Allah dengan kadar yang sama, memohon pada-Nya dengan intonasi dan kesungguhan hati yang sama, dan tidak mengurangi sedikitpun rasa percaya pada Tuhannya, maka Allah akan menjawab doanya, dengan sebuah pekerjaan yang jauh lebih baik. Lebih baik dalam arti kondisi sosial pergaulan di pekerjaan, akses jalan menuju kantor, atasan dan direksi yang baik serta pengertian, dan gaji/penghasilan yang bahkan mungkin jauh melebihi yang dia idamkan.

Allah lebih dari mampu memberikan semua itu pada hamba yang Dia kehendaki.

***

Sebut saja dalam kasus lain, ada orang yang mendamba pasangan. Sangat ingin bisa menikah, dan menghabiskan setiap malam, setiap solat, setiap amalan, agar Allah mengabulkan keinginannya tuk bertemu dengan pujaan hati. Setahun.. dua tahun.. jelang tiga tahun dia mulai khawatir. Karena setiap usaha pasti menemui kegagalan. Pada akhirnya, mereka yang coba datang mendekat tidak sesuai dengan kriteria dasar yang telah dia tetapkan, padahal itu tidak sulit-sulit amat.

Dalam hal ini, bergembiralah jika Allah belum juga mengabulkan doamu untuk mendapat pasangan. Jika kamu perempuan, ini adalah tanda bahwa Allah sedang rindu padamu. Sedang rindu doa-doamu. Rindu suara lirih tangismu. Rindu pada setiap permohonan ampunmu. Saya yakin, kamu pun tahu, bahwa selama bertahun belakangan banyak dosa yang telah kau tumpuk. Bahkan dalam pikiranpun kamu sudah tahu, ada hal-hal yang seharusnya tidak kamu pikirkan tapi tetap kamu putar layaknya rekaman. Allah rindu suaramu, memohon ampun pada-Nya atas dosa-dosa itu.

Jika kamu laki-laki, dalam setiap ikhtiar yang kau jalani dan tidak juga menemukan solusi, bergembiralah karena mungkin Allah sedang menyiapkan dia yang pantas untuk kau temui. Dia yang sedang berjuang menyelesaikan pergulatan dalam dirinya sendiri. Dia yang tengah Allah siapkan, untuk menjadi orang paling pantas mendampingimu. Sementara Allah menyiapkan dia-mu, kamu jadi punya waktu leluasa untuk menyiapkan dirimu sendiri. Merumuskan jenis hidup yang ingin kau jalani, kelak jika kalian telah bersanding. Bukan mudah membina sebuah rumah tangga. Akan ada beban dosa makhluk lain yang akan turut kau pikul. Seberapa siapkah dirimu membekali mereka dengan bekal yang cukup agar terhindar dari siksa neraka?

Allah ingin kau siapkan pengetahuanmu, untuk dia yang kelak akan menjadi hebat untukmu. Suatu nanti jika kalian bertemu, kau akan tahu begitu saja. Kau akan merasakan klik yang sama dengan yang dia rasakan. Klik yang datang dari Allah, untuk tanda bagi kalian berdua. Klik yang tidak lagi bisa kalian bantah atau pura-pura tidak merasakan.

Allah memberi tanda pada siapa yang Dia kehendaki. Allah juga yang membuat setiap nalar bisa menerima dan menerjemahkan tanda yang Dia kirimi. Baik laki-laki maupun perempuan, tidak perlu risau jika sampai bertahun berdoa belum juga dipertemukan seseorang yang tepat. Karena butuh waktu untuk menyamakan frekuensi. Butuh usaha keras, jika ingin berhasil dengan indah.

Ada orang-orang yang membuat jalannya sendiri, dan Allah membiarkan mereka. Berpacaran, menghabiskan waktu berduaan, bahkan melakukan hal-hal yang semestinya tidak boleh mereka lakukan. Allah biarkan mereka bersatu dalam pernikahan. Setiap orang memilih jalan yang berbeda untuk bisa bersama dengan pasangan. Namun jalan yang paling bahagia, adalah jalan yang mengikuti kehendak Allah. Bukan dengan menjalankan apa yang Dia tidak suka.

Saya pernah dicurhati oleh seorang teman perempuan, yang dicemburui oleh istri dari rekan kerjanya. Sungguh sesuatu yang tidak menyenangkan, bukan. Dicemburui. Apalagi cemburu si istri ini hanya karena foto yang diunggah oleh si suami - teman laki-lakinya teman perempuan saya - di media sosial. Rupanya hal sekecil itu menjadi pemicu badai di rumah tangga belia ini. Teman perempuan saya merasa bersalah, sekaligus juga gemas. Karena tidak sedikitpun dia bermaksud untuk menyelingkuhi rekannya, minat pun tidak. Tapi dia menjadi sumber amarah rumah tangga.

Rupanya pasangan suami istri tadi itu adalah pasangan muda belia. Usia masing-masing baru memasuki batas minimum usia menikah. Berangkat dari berpacaran, yang kemudian menikah. Tentu urusan emosi masih menjadi peer rumah tangga mereka, apalagi si istri yang masih belia ini masih belum berpenghasilan. Bagi perempuan yang terbiasa di luar rumah (untuk kuliah dan sebagainya), lalu tiba-tiba lulus dan menikah, tidak bekerja dan tidak berpenghasilan, rasa insecurity nya jauh lebih tinggi daripada mereka yang sudah mengenyam karir terlebih dahulu.

Perempuan dan insecurity memang bukan hal yang bisa dipisahkan, agar bisa mengatasi tingginya insecurity dalam diri perempuan, maka seorang perempuan harus bisa 'selesai dengan dirinya sendiri' dulu baru bisa mendampingi orang lain. Tanpa menyelesaikan soalan diri sendiri, mengenal diri sendiri, mencintai diri sendiri, dia akan terus-terusan menjadi perempuan yang membanding-bandingkan diri kesana dan kesini. Tak apa jika perbandingannya untuk kebaikan dan motivasi untuk terus berbenah, tapi kalau membandingkannya untuk kemudian merasa kecil, merasa tersingkir, dan minta dilindungi.. ya.. berarti dia harus punya suami yang teramat sabar dan mencintai dirinya untuk bisa meloloskan dirinya dari tahap itu.

Anyway, 

Bagi siapapun yang percaya pada Tuhan, tentu tidak akan pernah mengenal yang namanya kegagalan. Setiap doa yang tidak terjawab, pasti akan ada ganti yang jauh lebih baik. Setiap doa yang terjawab tapi butuh menunggu lama, berarti ada hal yang harus diperbaiki agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik ketika menerimanya.

Selalu ada cahaya di setiap ujung lorong. Jika rasanya masih gelap dan masih panjang, teruslah berjalan karena yakin bahwa pasti suatu nanti akan menemukan cahaya yang di damba.

Sembari berjalan, ingatlah bahwa kematian itu adalah suatu kepastian yang mutlak terjadi. Dia bisa datang kapan saja, dan mengingatnya adalah cara untuk tidak terlalu berfokus dalam mencari cahaya. Kadang kita memang harus bisa menikmati gelap, karena dalam gelap ada suara-suara menarik yang tidak kita sadari jika sedang terang. Karena hanya dalam gelap, empat indra lain selain penglihatan bekerja lebih keras dari biasanya. Membuat datangnya pemahaman langsung seperti meresap, tidak melalui mata, diterjemahkan ke otak, di proses gambarnya dan seterusnya, tetapi langsung datang dan seolah menempel. Seolah kita langsung bisa memahami sesuatu tanpa perlu memprosesnya lebih dulu.

***

Bukan gagal, jika setelahnya kita bahagia. Bukan gagal, jika setelahnya kita mendapat banyak pemahaman. Bukan gagal, jika setelahnya kita menjadi lebih bijaksana. Allah hanya sedang menunjukkan, bahwa kita masih bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dan pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Juga Allah ingin kita merasakan, bahwa gelap pun ada untuk dinikmati. Bukan untuk dihindari. Karena Dia ciptakan gelap dan terang berpasangan, maka kita pun harus bisa menikmatinya dalam kadar yang sama. Adil sejak dalam perasaan.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …