Skip to main content

Ternyata saya.. (The one rule about self-loving mother)

Actually, it's true that a person could never really understand another person. Because they, them self, don't understand their self. People change by time, and the part of a person that you know, is giving you two a bond. That bond, will gradually disappear as the person change. Because she/he's not the same man you once know. 

And it also true, that one can understand them self better when they spent time alone. In my case, live alone, and try to share a roof with another, and then live alone (again). See how much difference you'll make. 

So in this post, I'll write more about me. Don't bother, leave the page if you will. 

***

Selama ini saya tumbuh besar meyakini bahwa saya adalah seorang yang 'berantakan'. Saya dibuat percaya bahwa 'berantakan' adalah bagian dari kreatifitas. Dari tingginya tingkat intelijensi seseorang, sehingga kemampuan fisiknya tidak bisa mengimbangi kecepatan berpikirnya. Kamar saya berantakan (sejak kecil), dan selalu dirapikan oleh Papa jika beliau sedang libur sambil marah-marah tentunya.  Selama masih tinggal di rumah orang tua (sampai umur 14 tahun), saya tidak pernah peduli dengan kerapihan kamar karena selalu ada orang yang akan masuk dan merapikan semuanya. Pun kalau tidak rapi, saya juga tidak keberatan. Saya punya ranjang besar ukuran dua badan yang saya pakai sendiri, sepulang sekolah saya habiskan waktu mengunci diri di dalam kamar, membaca buku atau mengumpulkan berita-berita menarik dari majalah bekas untuk dijadikan kliping.

Beranjak dewasa, saya dikirim ke sekolah berasrama. Sempat menyandang kamar terjorok, karena saat itu saya sekamar dengan dua orang yang karakternya unik. Satu anak tunggal, yang tidak biasa bebersih (persis seperti saya), dan satu lagi princess yang barang bawaannya bejibun. Kombinasi dua orang malas bersih-bersih dan satu orang yang barang-barangnya memenuhi seantero kamar, menjadikan kamar kami terlihat berantakan. Padahal teman saya yang princess ini rajin bersih-bersih tapi bukan beres-beres. Beda loh ya.

Di tahun berikutnya, saya pernah menyandang kamar terbersih. Karena kebetulan satu kamar dengan anak-anak rajin yang amat keibuan. Yang sabar sekali menghadapi saya (dan satu orang lagi yang karakternya mirip saya), tapi kami bisa mengimbangi kesabaran dan keibuannya yang kami rasa cukup mengayomi kemalasan kami untuk bebersih dan beberes. Oiya, di asrama saya itu setiap pergantian semester ada pergantian kamar juga. Semua orang akan dipindahkan, dan diacak oleh pembina asrama.

Memasuki fase kuliah, jangan ditanya. Asrama saya biasa saja, karena sudah belajar bebersih dan beberes di waktu SMA, dan juga punya teman kamar yang keibuan untuk urusan bersih-bersih itu. Tapi kontrakan saya.. Saya pernah mengontrak di tahun kedua kuliah, selepas dari asrama. Hanya bertahan satu tahun lalu saya memutuskan pindah ke kos-kosan. Ternyata saya tidak bisa sharing the roof. Pun kamar saya, tidak pernah saya buka, dan saya biarkan orang lain masuk. Karena terlalu berantakan bahkan untuk diceritakan.

Kejadian itu berlanjut di dua kamar kos saya selanjutnya. Saya hanya pindah tiga kali selama kuliah, di kontrakan, kamar kos dengan kamar mandi di dalam (yang mewajibkan saya membersihkan kamar mandi sendiri tentunya), dan di kamar kos dengan kamar mandi di luar. Yang terakhir justru bertahan agak lama, nyaris empat tahun.

Di ketiga tempat itu, tidak pernah saya tertarik untuk rutin bersih-bersih dan beres-beres. Bahkan saya sampai hampir memutuskan tidak akan berusaha untuk jadi cewek rajin, dan mungkin memang ditakdirkan untuk jadi rajin di bidang lain yaitu berkarir. Kerja, kumpulin uang, dan urusan bersih-bersih diserahkan ke asisten rumah tangga nanti. Sama sekali tidak tertarik untuk belajar dan berusaha menjadi bersih dan beres.

Sampai satu ketika, saya menemukan minimalism. Prinsip yang membawa saya pada keputusan besar yang sampai sekarang saya syukuri: pindah rumah.

Meski ragu, saya tetap mencoba untuk mengenal calon teman serumah saya. Tidak butuh waktu lama, saya tahu kita akan klik. Dan benar saja. Lalu saya merubah cara berpikir terhadap benda-benda kepunyaan saya secara besar-besaran, dan pindah dengan bawaan yang lebih ringan. Minimalism makes letting go easier. 

Sampai disitu saya masih belum begitu suka beres-beres dan bersih-bersih. Meski sekarang kamar saya jauh lebih rapi dibanding kamar-kamar saya yg terdahulu. Teman serumah saya orang yang bersih, jadi mau tidak mau saya pun ikut menjaga keberesan dan kebersihan dia di semua ruang; ruang tamu, dapur, kamar mandi.

Kebiasaan itu saya bawa ketika saya pindah ke rumah saya sendiri. Dan Bang! Tiba-tiba saja saya berubah. Saya benar-benar memberesi segala sesuatu dengan teliti. Lipatan baju tidak ditumpuk melainkan susun vertikal berdasarkan gradasi warna. Susunan piring dan sendok. Besar api ketika masak tuk menjaga keutuhan pantat panci dan wajan. Warna sabun cuci piring, sponge, dan sabun cuci tangan yang senada. Semua saya tata sedemikian rupa dengan konsep Spark Joy nya Marie Kondo.

Ketika ada keluarga yang datang dan tinggal untuk beberapa saat, saya pikir saya akan biasa saja. Tapi ternyata tidak. Sekuat tenaga saya tahan stress ketika melihat susunan sendok tidak pada tempatnya. Ketika saya lihat penggunaan gelas tidak pada fungsinya (cangkir bukan untuk air putih, sebagaimana gelas bening bukan untuk kopi). Dan seterusnya. Saya berusaha mengendalikan marah, dan malam ini.. Selepas uji coba pertama saya terhadap peralatan baking.. saya akhirnya mengakui satu hal. Kesadaran ini sudah lama saya rasakan (sejak minggu awal tinggal di rumah ini, enam bulan yang lalu), tapi baru kali ini saya benar-benar mau mengakui.

Ternyata saya adalah seorang clean freak.

Kamu tahu karakter Monica di serial lawas F.R.I.E.N.D.S? Monica adalah karakter yang gila masak dan bersih-bersih. Dia suka menata ruangan, memastikan penataannya pas dengan susunan berdasarkan warna, ukuran, atau fungsi. Dia suka bersih, bahkan setelah bersih-bersih dengan Vacuum cleaner, dia akan membersihkan vacuum cleaner nya itu juga. Dia suka masak, dan pada akhirnya menjadi ketua chef ternama. Dan dia menikah dengan sahabatnya, Chandler.

Anyway. Saya mengerti sekarang, kenapa orang yang suka masak, suka membuat kue, akan juga suka bersih-bersih. Karena setelah sore ini saya habiskan waktu satu jam tuk baking, selebihnya saya habiskan 2,5 jam untuk membersihkan seantero dapur. Termasuk knob kompor. Saya bersihkan semua piring, gelas, wadah cetakan, dan peralatan memanggang lainnya. Lalu berlanjut membersihkan kompor hingga ke akar. Membersihkan magic com. Membersihkan lantai dan seisinya. Membersihkan tempat sampah. Dan diakhiri dengan mengepel seisi rumah, pukul sepuluh malam.

Baru kemudian saya mandi, solat, dan menulis tulisan ini pukul 12.26. (Ow happy half way to anniversary for me and the house. Yay).

Saya tidak tahan jika melihat crumble berjatuhan di karpet, dan akan memunguti satu persatu. Tidak tahan melihat tutup bak penampungan sampah tidak tertutup rapat, dan akan merogoh apapun di dalamnya agar dia bisa tertutup rapat. Saya tidak suka jika tempat sampah di dalam dapur kotor, dan tidak suka jika plastik sampah terbuka ketika dimasukkan ke bak pembuangan di luar.

Saya tidak suka jika piring terlalu lama di rak pengering, dan tidak dimasukkan kembali ke dalamnya. Tidak suka jika ada tumpukan yang terekspos (misal kotak donasi benda-benda yang akan saya donasikan, diletakkan di tempat terbuka semisal dapur). Tidak suka jika di dalam lemari pakaian saya yang tersusun vertikal, ada selapis atau dua lapis pakaian diletakkan horizontal (supaya muat), dan menutup pandangan terhadap pakaian yang disusun vertikal di bawahnya.

Saya tidak suka..

Ya. saya ternyata clean freak. Saya takut jika ada penggunaan yang tidak semestinya pada rumah. Meletakkan furnitur yang tidak saya sukai di rumah. Ternyata saya clean freak yang tidak bisa berbagi rumah dengan siapapun kecuali dengan mereka yang se frekuensi.

***

Jika Monica ketakutan pada awal hubungannya dengan Chandler, bahwa ternyata dia juga punya sisi gelap - menyembunyikan pintu gudang dari semua orang, yang isi gudangnya super berantakan - maka saya juga punya sisi gelap, bahwa saya pernah teramat berantakan. Sisi itu bisa saja muncul kembali seiring kondisi psikologi saat itu, tapi sekarang, saya sedang tidak berada di fase itu.

Dan saya hanya bisa berdoa, siapapun kelak yang akan menjadi jodoh saya, adalah orang sepengertian Chandler, bahwa china hanya boleh digunakan saat perjamuan istimewa, dan ada beda antara pembersih keramik, dan pembersih porselen.

Anyway, saya juga baru beli pembersih sepatu berbahan kanvas tadi siang di mall. Oh tuan..

***

Tapi itu lah yang seharusnya setiap perempuan lakukan. Mengenal dirinya sendiri. Mengetahui kekurangan dan kelemahan yang paling jujur dari dasar hati. Yang hanya bisa disadari, kalau pernah menghabiskan waktu sendiri. Ketika hendak berbagi, kita tahu mana yang kita keluarkan karena ikhlas ingin berbagi, dan mana yang kita keluarkan karena ingin membuat orang lain senang hati.

Bagian mengenali diri sendiri, adalah satu cara kecil untuk mencintai diri sendiri. Seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri, akan tahu caranya mencintai suami dan anaknya dengan cara yang tepat. Cara yang tidak membuat siapapun merasa sungkan. Ibu yang mencintai dirinya, tau bagaimana cara menyenangkan hati nya sendiri. Sehingga anaknya pun akan tumbuh menjadi anak yang bahagia, tidak terbebani dengan keharusan membahagiakan orang tua. Dia akan membahagiakan orangtuanya karena dia ingin, bukan karena dia harus. Beda kan?

Ibu yang mencintai diri sendiri, bukan berarti dia egois. Tapi dia tahu bagaimana cara membuat gelasnya penuh sebelum menuang ke gelas sang anak. Seperti ibu yang makan dulu sampai kenyang, baru menyuapi anak.. Karena dia tahu, kalau anaknya susah makan, dan dalam keadaan lapar, ibu pasti akan mudah kesal dan marah. Tapi kalau dia sudah kenyang, anaknya lari kemanapun sanggup dia kejar.

Seorang ibu harus tau caranya mencitai diri sendiri, mengenal dirinya sendiri, dan terbuka terhadap segala perubahan. Tidak terburu-buru bereaksi ketika ada satu kejadian, tidak terburu-buru marah dan berkomentar ketika sedang diliputi emosi, memperbanyak berdiam diri dan mengenali diri sendiri jauh ke dalam hati. What do you want? 

Membahagiakan buah hati, karena dia pun bahagia.
Membeli kopi kedai harga tinggi, karena dia bahagia, dan dengan bahagianya itu bisa menambah energinya tuk mempedulikan anak-anaknya.
Menabung sebanyak-banyaknya untuk masa depan anak, karena dia ingin tidak bekerja keras di usia yang nantinya lanjut.

Melakukan sesuatu karena buah hati itu baik, tapi harus ada juga sebab yang dicari, yang alasannya adalah bahagia diri sendiri.

***

Ini yang saya pelajari dari resep crumble cake yang saya browsing dari berbagai sumber: Bahagia dengan diri sendiri. Meskipun crumble cake nya menjadi lain dari yang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert