Skip to main content

Second Chance

Suatu kali saya pernah ditelpon oleh Danar Gumilang, penyiar Delta fm dalam sesi petangnya bertajuk A Letter to Danar. Bahasannya sederhana, tentang kebingungan seorang perempuan berusia 22 tahun, yang sudah putus dari pacar 5 tahun nya, dan sekarang sedang mengenal orang baru dari tempat kerja. Di saat bersamaan, sang mantan dan si orang baru ini mengajaknya menikah. Jadi, dia bertanya ke Delta fm, siapakah yang harus nya dia pilih. padahal mestinya nanya ke Tuhan. Istikharah kek apa.

Jawaban saya selewat saja, go for the new one. Tapi cukup untuk saya mendapat direct message dari admin Delta fm, dan ditelpon saat itu juga. Setelah menjelaskan sedikit alasan saya menjawab demikian, Danar kemudian bertanya 'so you don't believe in second chance?' 

***

Second chance, dinyanyikan dengan indah oleh Mbak Raisa, Kali Kedua,  yang membuatnya terdengar seolah masih romantis, menyisakan bahagia, dan berakhir penuh cinta.

In fact, saya selalu percaya bahwa once a cheater, always a cheater. 

Second chance hanya berlaku bagi mereka yang berpisah karena ego masing-masing. Karena tidak mau mengalah, atau karena menuntut terlalu banyak, tapi bukan karena orang ketiga. Jika ditanya 'you don't believe in second chance?' maka jawabannya: depend. Selama itu bukan karena orang ketiga, mungkin bisa saja memaafkan. Toh tidak ada orang yang sempurna.

Tapii..

Saya juga tidak mau membuat ini jadi kontras dengan tulisan saya sebelumnya, tentang cinta yang bisa diberikan ke lebih dari satu orang, dalam kapasitas yang sama besarnya. Berbeda antara selingkuh, dan menyimpan perasaan pada orang lain selain pasangan. Maksud saya, selama si pasangan itu hanya suka-suka saja, naksir-naksir saja, ya wajar. Jangan langsung kebakaran jenggot, mbak kalau laki nya nengok cewek lain. Mending ke salon coba. Tapi kalau hubungannya sudah lebih jauh dari itu, apalagi kalau sampai bertemu berdua dan sampai menjalin hubungan diam-diam, itu yang sudah tidak pantas lagi untuk dapat second chance. 

***

Status saya saat ini membuat saya banyak dimusuhi perempuan. Di takuti, tapi di kepo-i. *lol
Sejak akun instagram saya gembok, banyak akun-akun anonim tanpa status yang mencoba untuk mengikuti akun saya. Saya tidak mau berhusnuzon, bahwa itu adalah akun mbak-mbak yang takut pacarnya saya rebut, maka lebih baik tidak saya approve. (kecuali kalau online shop atau akun gossip girl).

Cinta itu.. aneh. Bisa membuat orang mengambil tindakan paling tidak waras sekalipun demi mengejar butterflies. Tapi cemburu... lebih brutal lagi. Lebih aneh dan tragis. Tidak enak jadi objek yang dicemburui, sama tidak enaknya dengan jadi subjek yang mencemburui. Maka solusinya, ya.. gausah cemburu.

Biarkan pasangan bergaul dengan siapa mereka suka. Apalagi kalau belum berstatus menikah, biarkan dia berteman dengan siapapun, tanpa harus kamu cemburui. Toh kalau dia nyaman, dia akan kembali ke kamu. Kalau dicemburui, justru bikin jengah dan trauma.. dih baru pacaran aja sudah begini. Dan di sisi yang lain, objek yang dicemburui pun jadi tidak nyaman. Bukan salahnya dia manis, cerdas, lucu, tegas, penuh pesona, penuh wibawa,  berteman dengan pacarmu in the first place, kan.

Dan kalau sudah tahu pasangannya temenmu itu cemburu sama kamu, udah cut the rope. burn the bridge kalau perlu. Jangan malah kasih-kasih harapan, segala nge-chat duluan nanya udah makan apa belum. Tidak ada api yang tidak menghasilkan asap. Sudah. Tutup pintumu, bangun bentengmu, dan diam di dalamnya.

Sembunyi itu sesekali diperlukan, untuk tahu siapa yang benar-benar peduli dan mau datang mencari.

Kamu tidak sendirian kok. Meski bentengmu tinggi dan kokoh, orang yang benar-benar sejati untukmu pasti akan datang dan memanjatnya untukmu. Dalam penantian, kamu sebetulnya bukan sedang menunggu seseorang lain yang datang. Kamu, sedang menunggu dirimu sendiri. Menunggu versi terbaik dirimu, yang telah diolah oleh waktu. Yang telah menyerap ilmu dan pengalaman, sehingga menjadi pribadi yang baru. Kamu bahkan mungkin tidak kenal lagi siapa dirimu, jika terus berusaha berbenah dan memperbaiki diri.

Dia yang telah diperuntukkan untukmu, sedang menunggumu untuk mencapai satu titik. Titik yang sama dan setara. Agar kalian bisa berjalan berdampingan, bukan saling mengejar susul menyusul.

Tahukah kamu, berjalan berdampingan rasanya jauh lebih indah ketimbang mengejar dari belakang?

Dia yang telah diperuntukkan untukmu, bukan dia yang masih mempermainkan hati perempuan lain. Mengibaratkan mereka sebagai gelayut tali, untuk dipegang satu sebelum berpindah ke yang lain. Dia yang sejati, tidak akan bermain hati, bahkan jika itu demi untuk bersama denganmu. Dia akan tegas memutus tali, dan mengambil resiko jika memang kamu yang diinginkan.

Kamu.. pantas mendapatkan pengorbanan demikian. Kamu pantas dibahagiakan, dan dijadikan satu-satunya sandaran. Bukan malah dijadikan pilihan satu dari sekian. Kamu pantas diperlakukan istimewa, tanpa harus merebut istana sesama.

Berbuat baiklah pada kaum-mu, begitu pesan dalam kitab suci untuk para perempuan. Karena sudah demikian jelas, perempuan sulit untuk menyatu satu dengan yang lain, sampai harus dititah secara lugas.

Hanya perempuan dengan hati teramat besar, mau berbuat baik dengan sesamanya.
Dunia sudah terlalu rumit, untuk kita buat rumit lagi hanya gara-gara.. rebutan laki-laki.

Let a cheater be gone. dia yang mempermainkan perasaanmu demi keamanan hati nya sendiri, tidak pantas mendapat kali kedua. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert