Skip to main content

Mensyukuri Musibah

Hari ini, saya bangun dengan kondisi istimewa. Bukan saja karena ini hari Senin dan saya sudah cukup banyak waktu istirahat di dua hari sebelumnya, tetapi juga karena mendadak saya kehilangan seluruh tenaga, kecuali untuk menguras isi perut sampai habis tak bersisa selama empat jam pertama pagi ini.

Sembari berjuang menelan suapan makanan yang saya masak secara sederhana pagi itu, dan juga bolak balik ke kamar mandi karena perut menolak setiap suapan tersebut, pikiran saya tidak berhenti memutar ulang kumpulan hari-hari kemarin, apa saja yang saya lakukan, dan apa saja yang saya pelajari, dan apa kemungkinan sebab saya begini. Well, sebagian besar pendapat tentu menjurus pada hal-hal teknis seperti salah makan, kurang istirahat, terlalu capek,. tapi saya ingin kita semua di sini mengerti bahwa, sakit fisik tidak selalu tentang fisik.

Sakit adalah salah satu cara Allah menggugurkan dosa seorang hamba. Sakit, adalah momen di mana seseorang yang jarang beristirahat menjadi banyak beristirahat. Sakit, juga adalah waktu bagi para pemikir untuk bisa berpikir lebih dalam, ke dalam dirinya sendiri.

Jika tiga hal itu kita percayai, maka singkirkan dulu urusan salah makan, kurang tidur, terlalu banyak aktivitas, dan sebagainya.

***

Insta-Story Nadhira Arini 

Dua hari ini saya mengikuti postingan insta-story di akun Nadhira Arini. Putri dari motivator Jamil Azzalini itu memang telah lama menarik perhatian saya, karena selain kita seumuran, dia teramat dewasa dalam berpikir. Teguh memegang keyakinannya, bahkan di saat ujian cinta datang melanda. Saya senang mengikuti tulisan nya, yang sekarang lebih banyak berlanjut di instagram dan insta story.

Nadhira sedang curhat tentang musibah kecil-kecil yang menimpanya baru-baru ini. Ketinggalan pesawat, pintu ATM yang membuatnya harus berputar jauh, makan siang terlambat, hal-hal kecil yang kalau kita mengumpat pasti akan tersebut 'hari sial'.

Mungkin Nadhira mencoba bijak dengan mengambil hikmah di setiap musibah, tapi ya sewajarnya perempuan dua puluhan yang masih penuh emosi, dia pun gagal mengambil hikmah, seolah yang dilihat hanya kemalangan yang terus menerus menimpa. Tapi tidak sampai disitu, akhirnya Nadhira mengambil kesimpulan lain.

Dia justru memikirkan kesalahan-kesalahan apa yang selama ini dia lakukan hingga membuat Allah 'marah' kepadanya dan menegurnya secara bertubi-tubi. Dan tentu saja ada banyak kesalahan yang dia akui di tulisannya itu. Nadhira pun lalu mengajak pengikutnya untuk membagi kisah serupa. Dia menggaris bawahi cerita-cerita penting, yang semuanya saya baca.

Ketika saya jatuh terduduk di kamar mandi pagi tadi, selepas menguras seluruh isi perut, saya teringat kisah-kisah insta story Nadhira. Cerita-cerita orang lain yang juga turut dia pajang disana.. lalu membatin 'ya, mungkin kali ini giliran saya. Teguran Allah atas kesalahan yang saya perbuat'. 

Mungkin bagi kalian ini sepele, tapi tidak bagi saya.

Publish foto makanan.

Sejak dulu saya paling anti namanya memamerkan foto makanan. Karena saya tahu rasanya menjadi orang yang hanya bisa melihat sesuatu dari kejauhan. Saya pernah berada dalam kondisi yang sama, sakit, di kamar kos-kosan sempit sewaktu kuliah, dan saat itu saya melihat foto yang di publikasikan oleh seorang teman, sebuah kue yang sangat menarik dari segi bentuk dan warna. Namanya orang lagi sakit, pasti gampang tergiur dengan makanan-makanan lezat seperti itu. Tapi sayang, kue itu hanya ada di Jakarta. Jadi saya beli yang serupa, mirip-mirip, tapi ternyata tak sama.

Saya tidak puas. Beberapa hari setelahnya saya masih terbayang akan lezatnya kue buatan seorang terkenal itu. Tapi saya belum cukup kuat untuk bisa ke Jakarta.

Berminggu kemudian, setelah saya pulih total, saya mengajak seorang teman yang kebetulan bekerja di sekitar situ, untuk mencari alamat si penjual kue. Dan itu.. saya tempuh dengan berkereta, trans jakarta, hingga bajaj (karena belum ada ojek online). Sangat panjang for a piece of cake. 

Saya masih beruntung karena saya masih diberi kemampuan untuk membeli harga kue yang lumayan (untuk ukuran anak kost tingkat akhir), dan diberi akses jarak untuk bisa sampai di tempat penjual.

Seandainya saya tinggal jauh di pedalaman Ambalau sana, terkoneksi dengan dunia luar hanya dengan akses internet tanpa bisa menyambangi secara langsung,. bagaimana rasanya?

Belakangan ini, mungkin saya agak lupa. Dan sakit yang saya alami pagi tadi, adalah cara Allah mengingatkan apa yang sedang coba saya abaikan. Saya memposting banyak sekali foto masakan dalam beberapa hari terakhir, karena sedang senang masak dan mencoba menu-menu baru. Alhamdulillah percobaan-percobaan itu berhasil. Demi eufori yang meletup, saya publish itu semua dalam audiens yang terbatas.

Entah mungkin seterbatas itu pun masih ada perasaan yang terluka. Masih ada hati di luar sana yang juga menginginkan menu yang sama. Mungkin dia pun akhirnya bisa mendapat apa yang dia lihat dari postingan saya, tapi tetap saja, meskipun saya yakin teman-teman saya berkemampuan untuk membeli apapun yang saya tampilkan tuk mereka, tetap saja saya sudah membuat mereka menginginkan sesuatu. Padahal dalam Islam diajarkan, apabila tetangga mencium bau masakan kita, wajib bagi kita tuk membagi masakan itu dengan mereka.

Kemudian saya teringat lagi buku yang saya baca dua hari yang lalu. Tulisan seorang teman yang saya kenal sejak lama, dan memilih menggunakan nama pena 'Senyum Syukur'. Judulnya Cinta dan Kehilangan. Dari buku itu saya diingatkan kembali, bahwa cara taubat ada empat; menyesali perbuatan, memohon ampun pada Allah, berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan itu, dan meminta maaf pada orang jika ada orang lain yang terlibat/tersakiti dalam kesalahan tersebut.

Ini seperti rangkaian yang acak, tapi terhubung satu sama lain.

Maka pagi ini, sembari menyesali dan memohon ampun pada Allah atas kesalahan-kesalahan yang saya lakukan belakangan ini.. (saya sebut semua daftar panjang itu, tapi tidak disini), saya pun meminta maaf pada mereka yang sempat saya tampilkan foto-foto itu.

yah.. responnya memang tidak seperti yang saya duga. Atau mungkin seperti yang saya duga. Bercanda, dan tertawa. Bahkan disebut lebay. Saya tahu dan sadar itu memang lebay. Saya pun tidak berharap mereka akan mengerti. Karena kesadaran adalah harga yang mahal, yang mungkin bayarannya adalah harga diri. Tapi setidaknya, saya memberanikan diri untuk menulis permohonan maaf yang aneh itu. Dan kemudian, hal yang semakin aneh terjadi.

Lima menit lepas permohonan maaf saya kirim, perut saya seperti dihantam tinju yang teramat keras. Saya lari ke kamar mandi, dan bersandar pada satu tangan ke dinding. Terlalu lemas untuk berdiri sendiri. Saya mengeluarkan seluruh tenaga untuk menguras isi perut, tapi tidak ada lagi yang keluar. Seperti tercekik, saya terdiam dan terus menerus memuntahkan angin kosong. Cukup lama saya berdiri disitu, sampai tidak ada lagi tenaga tersisa. Badan saya menggigil, dan tanpa menyalakan pendingin ruangan, saya tidur bertutupkan selimut.

Setelahnya, saya bangun dan seperti tidak ada apa-apa. Pulih seperti sedia kala. Hanya lemas yang masih tersisa, karena memang sedikit sekali asupan makanan yang masuk di hari ini.

Saya bersyukur.. meskipun penyembuhannya memakan waktu lebih lama, (biasanya hanya tiga sampai empat jam, tapi kali ini sampai sembilan jam), saya mendapatkan kesadaran lebih banyak.

Saya bersyukur Allah masih mau menegur. Bersyukur karena Allah masih memberi kecerdasan nalar untuk bisa menyadari kesalahan-kesalahan yang saya perbuat, dengan sengaja, menyesali, dan memohon ampun atasnya. Bersyukur karena Allah masih mau mengingatkan saya bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Entah apa jadinya jika Allah membiarkan kita berjalan di muka bumi, menenteng dosa dengan bangga, tertawa-tawa bahagia.

Saya bersyukur karena dengan begini Insya Allah, Allah menggugurkan dosa saya. Tidak terbayang apabila justru dibalas dosanya di akhirat... siksa akhirat jauh lebih kejam dari siksa dunia. Saya bersyukur, sebelum Allah benar-benar memberi saya teguran, Allah siapkan saya dengan cara yang acak.. membaca postingan insta-story Nadhira Arini (yang itu tentu membuat Allah berkehendak Nadhira mendapat musibah, menggerakkan Nadhira membagikan ceritanya di media sosialnya, dst), membaca buku teman saya (yang mendadak entah kenapa saking kehabisan bahan bacaan kurang kerjaannya buku itu saya ambil lagi dari rak), Allah mengumpulkan ingatan saya tentang musibah, teguran, kasih sayang, dan cara bertaubat, sebelum Dia menghadiahi saya dengan teguran indah pagi tadi.

Saya bersyukur, dengan begini saya jadi tahu.. bahwa Allah Maha Melihat, dan Dia ada.. tuk melindungi saya disini. Meskipun tinggal sendiri, saya jadi semakin yakin bahwa saya tidak sendiri. Allah mengirimkan malaikat-malaikatnya kesini, membimbing, dan mengawasi.

Saya tidak tahu apakah kalian pernah mengalami hal yang serupa, atau jika kalian bersikukuh mempertahankan logika, atas sakit yang saya derita.. tapi bagi saya, sakit fisik tidak pernah hanya berkaitan dengan fisik. Musibah, tentu ada kaitan dengan dosa dan tingkat keyakinan seseorang. Jika bukan penggugur dosa, maka musibah datang untuk menguji keyakinan seorang hamba. Dan akan selalu ada hadiah di atasnya. Hadiah yang Allah beri, tidak ada siapapun makhluk di muka bumi yang bisa menandingi.

Allah adalah sebaik-baik penulis skenario. Jika memang sakit fisik ingin dijelaskan secara fisik dan logika, bisa saja Allah memang telah berkehendak demikian. Agar saya menyadari kesalahan yang saya perbuat, Allah arahkan saya tuk makan makanan yang tidak boleh saya makan, coklat, es krim, roti, kuah santan, atau Dia buat saya kurang istirahat, main game semalaman, Dan Allah lebih dari mampu mengarahkan saya untuk berbuat kerusakan pada tubuh saya sendiri, agar saya jatuh sakit.

Karena saya hanya akan sakit jika Allah berkehendak saya sakit. Serusak apapun perbuatan saya terhadap tubuh sendiri, jika Allah tidak berkehendak, maka sakit pun tidak akan berani menyentuh walau sesenti. Tapi itu bukan berarti Allah sedang benci, sedang marah. Tidak. Justru sebaliknya.

Saya memang pernah dituduh terlalu sering berprasangka. Meski itu tidak baik, tapi seorang hamba memang perlu memiliki prasangka. Terutama pada Tuhannya. Prasangka baik, dan keyakinan yang kuat. Bahwa apapun yang Tuhannya beri, adalah yang terbaik. Apapun.

***

Dihadiahi Aurora

Siang itu, selepas fase paling dahsyat, saya tidur dalam suhu ruang yang panas, namun badan saya menggigil kedinginan.

Dalam tidur itu saya bermimpi, mimpi kedua yang saya ingat dalam beberapa minggu belakangan,. mimpi saya sedang mengejar foto matahari.

Dalam mimpi itu saya sedang berada di sebuah tempat terbuka, yang langit dan awannya cantik sekali. Saya ingin memotret matahari, tapi terhalang oleh beberapa orang di depan saya. Dengan paksa dan penuh antusias saya menerobos ke depan, namun sayang, kamera saya kosong tanpa batrei. Saya berteriak minta diambilkan batrei. Teman saya lambat sekali menyodorkan nya pada saya, dan saat itu selain batrei, banyak fungsi kamera yang tidak bisa saya pakai. Frustrasi, saya akhirnya memukul-mukul kamera itu.

Tidak lama kemudian hari berganti. Menjadi malam, dan seperti gambaran dalam lukisan, bulan di hadapan saya terbentang indah sekali. Seperti layar yang diganti, tiba-tiba di depan saya bukan lagi padang terbuka dengan langit dan awan cerah, melainkan bulan yang mencium lautan. Indah, dan sekali lagi saya ingin memotretnya. Pemandangan itu ingin sekali saya potret, tapi tidak se-berambisi saat saya mengejar potret matahari. Saat itu kamera masih tidak berfungsi, namun saya sudah mengikhlaskan, jika memang potret ini tidak bisa saya ambil, maka saya akan menghabiskan detik dan menit menikmati keindahan yang terbentang.

Benar saja, saya gagal lagi mengambil potret bulan yang indah itu. Sesaat kemudian, layar seperti ditarik, dan diganti lagi. Dengan sesuatu yang teramat menakjubkan. Sesuatu yang belum pernah saya lihat secara nyata. Sesuatu yang hanya bisa saya lihat melalui potret-potret di internet; Aurora.

Ya, saya melihat Aurora dalam mimpi itu. Terpampang jelas dihadapan saya. Ketika saya sibuk mengagumi keindahannya, lupa sama sekali dengan ambisi memotret, ketika itu juga kamera saya mendadak berfungsi dengan baik. Perlahan, saya potret gemulai sinar indah itu, seolah takut suara kamera dan jepretannya akan merusak tarian cahaya yang berbalut sinar hijau dan putih. Saya tersenyum.. lalu terbangun.

***

Kawan, jika kalian percaya tentang kekuatan semesta, tentang debu-debu kosmik yang berjalan secara beraturan, meski nampak seperti acak dengan mata telanjang,. maka kalian percaya bahwa tidak ada yang kebetulan.

Semua berjalan atas titah Sang Maha Kuasa. Segala yang kita lakukan, ada imbal baliknya, yang membedakan hanyalah, apakah akan dibalas di dunia ini, atau di akhirat kelak.

Harapkan apapun keburukan yang kita lakukan, dibalas tuntas semasa hidup. Agar kita nanti bisa berkumpul di surga, tanpa ada siksa yang harus kita jalani. Apabila kesulitan hidup menyapa, gundah gulana, harap yang tak kunjung nyata, dada sesak seperti tidak ada ruang udara, ingat-ingat apa saja kesalahan yang kita perbuat. Mungkin ada hati yang tersakit sepanjang derai tawa kita gulirkan, mungkin ada hak orang lain yang tidak sengaja kita ambil, mungkin ada kata yang menghujam tajam di hati seseorang tanpa dia mau ungkapkan,.

Dosa itu pasti ada. Jangan sampai kita menjadi orang yang justru mempertanyakan apa salah dan dosa kita ketika musibah dan sesak datang menerpa. Karena itu hanya akan menjadikan kita pribadi yang sombong. Dan Allah tidak menyukai orang sombong. "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. * Ada seseorang yang bertanya, "Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?" Beliau menjawab "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR Muslim No 91). 


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert