Skip to main content

Kode Semesta tentang Cinta

Dua hari yang lalu, saya menulis tentang cinta. Hari ini, saya menemukan kalimat hadits relevan, di catatan kaki halaman yang sedang saya baca. Bunyinya seperti ini;

Dari Anas Ra., Ia berkata, Nabi SAW bersabda. "Ada tiga hal yang barangsiapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka." (HR Muslim)
Bisa dibilang tiga hal tadi adalah diurutkan berdasar hal tersulit hingga termudah. Sebut saja kita tidak suka kembali ke dalam kekufuran setelah Allah menyelamatkan kita. Mudah, bukan? Saat seseorang menemukan jalan 'pulang' ia tentu akan merasakan nikmatnya berada di 'rumah' dan tidak ingin kembali menggelandang di jalanan. Begitupun dengan hati. Saat sudah mencicipi damainya berada dalam 'Islam' yang baik, taat, dan tidak suka membandingkan, tentu tidak mau lagi kembali merasakan galau, benci, dan sedih berkepanjangan akibat kehilangan iman.

Dalam tulisan sebelumnya juga saya menuliskan tentang doa yang saya panjatkan mengenai hubungan cinta yang saat itu sedang saya jalani dengan ilegal. Sebetulnya saya lupa satu hal, bahwa..  saat itu saya juga meminta untuk diberi petunjuk bagaimana caranya mencintai seseorang karena Allah.

Ya, saya sering mendengar kalimat itu. Tapi mempraktekkannya saat itu sulit sekali, saya terdengar seperti seorang munafik bahkan untuk diri sendiri.

Bagaimana tidak, saya berusaha mencintai seseorang karena Allah, tapi masih pacaran. Saya melakukan hal yang jelas-jelas Allah larang. Nalar mana yang bisa menjelaskan caranya mencintai seseorang karena sesuatu, tapi yang dilarang oleh sesuatu itu malah dijalani. Seperti meledek. Astaghfirullah.. 

Berkali-kali saya mencoba, tapi selalu gagal. Saya pun dinasehati oleh seorang teman yang saat itu membantu penelitian skripsi, disela-sela pengerjaan hitung-hitungan matematika demi membuktikan penelitian saya sah secara logika, dia bilang 'Insya Allah mencintai seseorang karena Allah itu indah, Mim. Cobalah..' karena teman saya itu pun menikah dengan suaminya melalui cara taaruf.

Saya hanya mengangguk sok mengerti, padahal tidak sama sekali. Lagipula.. pikiran saya cukup tersita dengan persamaan-persamaan, standar eror, angka yang hilang, dan seterusnya.

Rupanya Allah masih sayang sama saya.. Allah mengajari saya bagaimana caranya mencintai seseorang karena-Nya, dengan cara menyelamatkan saya dari hubungan yang salah. Lalu Dia buat saya jatuh berkali-kali. Dia buat saya menangis setiap malam, dan jatuh hati lagi. Berulang kali, hingga tiga tahun kemudian, saya menemukan cara untuk mengalir mengikut arus. Dan disitulah saya mengerti, cara mencintai seseorang karena Allah.

***

Kita tentu yakin bahwa setiap individu diciptakan berpasangan, bukan? Dengan keyakinan itu, maka kita pun yakin bahwa jodoh kita ada di luar sana. Dia ada.

Sebelum kita bertemu dengannya, maka kita harus yakini dulu bahwa siapapun dia, dialah pilihan Allah dan dia lah yang terbaik. Allah tentu menyiapkan sesuatu yang paling tepat bagi hamba-Nya. Tidak ada ketentuan yang lebih baik selain ketentuan Pencipta untuk makhluk-Nya.

Pada proses itulah, proses kita tidak mengetahui siapa jodoh kita, dia siapa, dari mana, senyumnya manis atau tidak, dia listener atau talker,.. kita sudah percaya bahwa siapapun yang Allah kirim.. tentu adalah yang paling sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Disitu sebetulnya letak mencintai seseorang karena Allah. Mencintai Allah terlebih dahulu, baru orang nya menyusul kemudian.

Sehingga akan mudah bagi kita menerima kehadirannya seutuhnya, karena kita mencintai Dia yang menghadirkannya. Sudah mencintai cara Allah menghadirkan hadiah untuk hamba-Nya. Itu akan terasa sangat indah. Sangat mudah.

Coba bandingkan, jika kamu mencintai seseorang karena fisiknya. Karena wajahnya, karena senyumnya, matanya, hidungnya,. lalu kamu meminta dia agar dijadikan jodohmu pada Allah.

Kalau yang pertama tadi kamu jatuh cinta dulu dengan Allah (sehingga kamu percaya dengan siapapun yang kelak Dia hadirkan), maka yang kedua ini kamu jatuh cinta dulu dengan manusia baru mendekat ke Allah. Ring any bells? See the difference? 

Oh.. haha, jangan khawatir. Saya pernah merasakan keduanya. Yang kedua, juga pernah. Lalu patah hati berkali-kali karenanya. Jungkir balik menangis sambil driving highway. Untuk yang poin pertama, saya masih bisa berteori saja. Karena dia yang akan Allah hadirkan masih belum menampakkan tanda Tapi boleh lah teori dulu dikuasai, agar lebih lihai nanti saat praktek. :p

***

Dalam tulisan yang lain saya juga pernah berteori bahwa seseorang bisa mencintai lebih dari satu orang dalam kadar yang sama. Ia bisa membagi-bagi cintanya, tanpa mengurangi kadar cinta masing-masing.

Well, dalam paragraf lain pada halaman yang saya baca malam ini, saya menemukan lagi kalimat yang berbunyi;
Menurut Ibnu Batal dan Qadi 'Iyad, ada tiga macam cinta: pertama, cinta yang penuh penghormatan, seperti seseorang mencintai ibu bapaknya; kedua, cinta yang penuh dengan kasih sayang, seperti cinta seseorang kepada anaknya; dan ketiga, cinta untuk melakukan kebaikan, seperti cinta kepada sesama. Semua kecintaan tadi tidak melebihi kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Kecintaan kepada Rasulullah SAW lebih utama dari kecintaan kita kepada keluarga kita, anak-anak kita, dan sesama manusia karena Rasul telah menolong kita dari api neraka dan yang memberikan petunjuk dari kesesatan. 
Sebagai bentuk kecintaan kita kepadanya adalah dengan cara menolong agamanya, mengharapkan kehadirannya, dan berjuang dengan harta dan jiwa untuk membela agamanya dan inilah hakikat iman yang sesungguhnya. (Imam Nawawi, Syarah Sahih Muslim, jilid 1, Juz 2, 1995:14).

Dan itu adalah bagian dari poin pertama dari kutipan hadits sebelumnya. Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apapun. Well, tough luck my friend, long way to go. 

Beruntungnya, Allah Maha Penyayang lagi Maha Bijaksana. Dia tahu kadar keimanan dan kapasitas seorang hamba. Yang Allah mau bukan saja bukti dan janji, tapi selama seorang hamba mau berusaha, mau memperbaiki diri, mau mengubah kebiasaan buruknya dan mengarah pada poin pertama, tentu Dia akan berikan jalan.

Bermohonlah agar selalu dibimbing oleh Allah. Agar selalu diberi petunjuk, dan diberi kecerdasan nalar untuk membaca dan menerjemahkan setiap petunjuk. Allah seringkali memberi petunjuk dalam bentuk kode-kode. Saya sebut sebagai Kode Semesta. Kode yang membuat kita merasa diintai. Membuat kita merasa ada yang memperhatikan, sehingga takut untuk berbuat jahat. Kode yang menghibur ketika kita sedang sedih, jatuh dan terpuruk, agar kita teringat kembali bahwa sesedih apapun, kita masih punya Tuhan yang selalu ada dan mengawasi.

Kode Semesta bertebaran dimana-mana. Tinggal bagaimana kita mau membuka hati dan pikiran untuk menerimanya. Maka bermohonlah agar dilembutkan hati, supaya bisa mudah menerima kode-kode tersebut.

***

Jika kamu seorang yang sedang jatuh cinta, tengah mendamba, dan bersedih karena yang dicinta tidak kunjung membalas perasaanmu.. Coba berhentilah sejenak. Bukan untuk berhenti mencintai, karena saya tahu itu mustahil. Berhenti dari memikirkan tentang cintamu yang tanpa kabar itu, dan justru berpikir tentang kenapa dia kau cintai. Apa yang sudah dia beri, sehingga sebegitunya kamu mencintai dia. Dalam sehari kamu punya 16 jam, yang hanya kamu gunakan 50 menit untuk memikirkan Allah dan sisanya (15 jam 10 menit) kamu gunakan tuk memikirkan dia. Padahal apa yang Allah beri, jauh.. jauh dan tidak bisa dibandingi dengan si pujaan hati mu itu.

Belajar mencintai Allah itu sulit. Tapi jika kamu menikmati prosesnya, pasti ada hadiah-hadiah yang akan kamu dapati. Di ujungnya nanti, kamu akan mencintai Pemilik Semesta. Yang Kuasa-Nya tidak ada yang menandingi. Yang Cinta-Nya, lebih luas dari langit dan bumi. Apa kamu bisa membayangkan bagaimana nanti jika ternyata cintamu pada-Nya berbalas? Dan.. berbeda dengan pujaan hatimu yang tak jelas itu.. Cinta Allah luas tak berbatas, diberikan cuma-cuma bagi mereka yang mau berusaha. Tanpa syarat, tanpa perlu membelikan emas atau berlian.. cukup dengan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, melakukan hal-hal yang Dia sukai, dan meninggalkan keburukan yang Dia murkai.

Karena begitulah cara cinta bekerja. Kita menuruti apa yang dia (atau Dia) kehendaki. Cinta itu.. nurut. Patuh. Taat.

***

Mencintai seseorang karena Allah, adalah dengan mencintai Allah terlebih dahulu. Melakukan segala yang Dia perintahkan, bersungguh-sungguh dalam memperbaiki dan mendekatkan diri, serta perlahan meninggalkan apa yang Allah tidak sukai.

Pelan-pelan saja. Bahkan jatuh cinta pun butuh proses, apalagi belajar mencintai. Jika selama ini ibadah hanya sebatas pada yang wajib, maka selagi Ramadhan, bolehlah kita pelan-pelan mengerjakan yang sunnah. Jika selama ini masih melakukan hal buruk yang Allah tidak senangi, bolehlah pelan-pelan meninggalkan forum-forum gosip yang menjelek-jelekkan orang lain. Ini bukan proses semalam jadi, butuh waktu, dan saya yakin Allah pasti akan mengerti jika sekali dua kali kita masih melakukannya lagi.

Mulai melakukan ibadah yang tidak biasa kita lakukan. Memelihara isi kepala dengan hapalan ayat Al-Quran, menjaga hati dan pikiran agar jangan sampai hapalan itu hilang berhamburan, dan menunjukkan kesungguhan seorang yang tulus ingin mencintai Tuhan.

Kenakan pakaian yang bagus, karena Allah mencintai keindahan.
Bersihkan rumah dan tempat tinggal, karena Allah mencintai kebersihan.
Bekerja keras di siang hari, karena Allah mencintai orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki.
Menghadiri undangan pernikahan, karena Allah mencintai orang yang memelihara silaturahmi.

Belajar mencintai, artinya belajar melakukan segala sesuatu karena yang dicintai menyukai itu. Bersiaplah kecewa jika melakukan sesuatu karena orang lain, karena ingin dipuji, dihargai, atau dibayar dengan nilai tinggi. Tapi jika melakukan sesuatu karena Allah, balasan yang kelak didapat adalah damai di hati. Tidak akan sia-sia suatu pekerjaan jika dilakukan karena mengharap ridho-Nya. Karena Allah Maha Kaya, jika balasannya positif maka limpahan rezeki itu pantas kita nikmati namun jika terjadi sesuatu musibah, maka hati kita tetap tenang karena niat sejak semula adalah untuk Allah, dan hanya kepada-Nya lah semua akan kembali.

***
Jumat, 18 Mei 2018
Ramadhan baru hari ketiga, tapi rasanya sudah tinggal sedikit lagi..

 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert