Skip to main content

Walking Solo, but Never Alone

From forties-single mother, until an Italian barista. My trip to Pacitan, is a moment worth remember.

***

At some point in our life, we should really understand what it feels like to be alone. To walk alone, take the trip, and wandering with our self. Why? Because being alone means clarity. We see things clearly than before, understand deeper, and there.. you can see the reason behind everything.

Ada satu moment dimana pertama kali saya bepergian solo yang masih saya ingat sampai sekarang. Itu adalah hari pertama dari rangkaian sembilan belas hari perjalanan yang akan saya tempuh. Masih terbayang rasa takut, kaku, gugup, dan terasing karena berada di negeri orang, yang bahasanya saya tidak kenal. Apakah saya akan menyelesaikan rencana perjalanan ini? kenapa rasanya tidak se-antusias ketika merencanakan setiap tujuan di dalam buku catatan? Kenapa gugup sekali rasanya? 

Kami - waktu itu masih berdua dengan teman sebelum benar-benar sendiri - tetap memutuskan untuk mengeksplor isi kota yang sedang merayakan festival. Kami habiskan waktu berkeliling, melihat-lihat benda yang dipajang dan dijual, atraksi-atraksi yang dipamerkan untuk anak-anak hingga dewasa. Memuaskan hasrat memotret objek-objek tidak penting, yang statis dan tidak juga terlalu menjadi ikon kota. Saat itu yang ada di pikiran saya hanya satu: begini ya rasanya sendirian di negeri orang..

Lalu saya melewati sebuah kafe yang penuh sesak. Mereka berteriak ramai seperti layaknya orang yang tengah merayakan sesuatu. Ketika saya di sampai di dekat jendela, seseorang membentangkan syal merah dan naik ke atas meja. Bersorak dan bernyanyi yang disambut tepukan tangan dari orang-orang di sekitarnya.

Rupanya mereka tengah merayakan kemenangan sepak bola. Klub Liverpool yang entah saat itu melawan siapa. Gol yang disebut-sebut cantik itu, telah membahagiakan puluhan pasang mata, dari berbagai negara. Pastilah mereka adalah para traveler yang kebetulan menyukai klub yang sama, dan menonton di kafe yang sama. You will never walk alone! begitu terpajang jelas di syal merah yang dibentangkan pesorak.

Sejak itu saya mengerti, mengapa semboyan klub Liverpoolian begitu mengena di hati. None like to walk alone.

***

Ibu itu meminta saya untuk menunjukkan caranya memesan tiket pesawat melalui aplikasi online. Sebelumnya dia bertanya banyak hal tentang mekanisme berkereta, termasuk makan siang. Rupanya, dia belum pernah bepergian, atau setidaknya belum pernah bepergian sendiri. Saya jelaskan satu persatu dan menjawab semua pertanyaannya, meskipun saya masih sibuk mengunyah sarapan yang dibeli di restoran cepat saji stasiun.

Usianya empat puluh empat, tanpa ditanya dia menjelaskan. Berkisah tentang putri semata wayangnya yang kini akan masuk kuliah. Saya mendengarkan, mengangguk, tersenyum, dan menanggapi sebisanya. Mata saya terlalu berat karena semalaman tidak tidur demi menunggu kereta. Jadi saya tidak turut bercerita.

Kereta berjalan pelan meninggalkan stasiun. Ibu itu mulai menutup ceritanya dan bersiap mengenakan baju hangat. Rupanya diapun tidak tahan dengan suhu dingin. Saya pun pamit untuk tidur. Ketika bangun, saya pikir kita sudah sampai di Yogyakarta. Saya pikir jam tangan saya rusak karena baru menunjukkan pukul sembilan, artinya baru tiga jam lewat sejak kita berangkat. Tapi ternyata memang baru tiga jam perjalanan yang ditempuh.

Ibu itu segera membuka headphone nya ketika melihat saya bangun. Rupanya dia belum selesai memesan tiket pesawat melalui aplikasi online untuk pulangnya nanti. Kembali saya ajarkan tahap demi tahap hingga pembayaran dilakukan.

"Kalau sudah dibayar, trus bagaimana? Perlu di print?"
"Gak usah juga gak apa-apa sih, bu. Ibu tinggal tunjukkan email tiket nya saja ke petugas check in nanti"
"Kalau pesawat saya jam 21.00, berarti saya harus sudah di bandara jam berapa?"
"Jam 19.30 setidak-tidaknya, bu"
"Hmm.. berarti saya harus berangkat dari Yogya sekitar jam..?"
"Wah saya kurang paham juga, tapi mungkin jam 18.00 - 19.00 aman juga"

Ibu itu lalu berkisah tentang perjalanannya baru-baru ke Singapura bersama adik dan kakaknya. Betapa antusias dirinya, di usia empat puluh akhirnya bisa keluar melihat dunia. Di akhir perjalanan baru saya mengerti, kenapa ibu ini begitu semangat ingin bepergian lagi. Sebutnya dia ingin mengajak anaknya ke Thailand setelah ini, jika ada rejeki.

Rupanya, masa mudanya habis untuk bekerja. Membanting tulang demi menghidupi sang putri kecil. Usia dua puluh empat tahun memutuskan menikah, dengan seseorang yang belum lama dia kenal. Sebulan setelah menikah, mereka sudah dikaruniai anak perempuan. Usia dua puluh lima, anak itu lahir, dan drama keluarga sudah mulai terjadi. Usia dua puluh enam, ibu itu memutuskan untuk berpisah dari suaminya. Pergi dari rumah dengan hanya membawa pakaian dan anak bayi. Menolak membawa harta benda yang berhubungan dengan sang suami. Sebabnya apa? Tak perlu saya ceritakan. Karena saya berfokus pada apa yang terjadi setelahnya.

Sendirian, dia bekerja keras siang dan malam. Gaji dari kantor tidak cukup untuk membesarkan sang anak yang sakit-sakitan. Biaya vaksin dan berobat sudah menghabiskan lebih dari separuh gaji. Ibu itu memutar otak untuk bisa menutupi segala kekurangan, tanpa harus berhutang. Katanya, ia pernah punya uang tinggal dua puluh ribu rupiah. Dan hanya mengandalkan gaji keesokan harinya pukul lima sore. Hari itu adalah hari terakhir sebelum gajian, dan dia mempertaruhkan uang terakhirnya untuk berangkat ke kantor, naik bis, dan membeli makan siang.

"Pertolongan Allah itu selalu ada, dek. Saya juga tidak ingat bagaimana awalnya saya bisa berjualan baju-baju bermerk. Saya mendapat tawaran begitu saja, dan bahkan saya bisa menjual baju sebanyak tiga mobil dengan pinjaman modal sana sini yang langsung saya kembalikan".

Saya tersenyum mengangguk takjub. Mendengarnya harus membesarkan anak sendirian, selama sembilan belas tahun, menjadi janda sejak usia dua puluh enam dan tidak pernah menikah lagi, bukan sesuatu yang mudah bahkan hanya untuk dibayangkan. Namun ibu ini menceritakan semuanya dengan senyum, santai, tertawa, dan ringan. Seolah tidak ada beban.

Ia pun baru saja pulih dari operasi tumor. Mengangkat seluruh rahimnya karena telah ditumbuhi empat atau lima buah benjolan sebesar bakso rudal dan bakso kecil. Bakso-bakso yang ditunjukkan kepada saya, dan setelah itu saya tidak berselera lagi makan bakso.

"Saya periksain anak saya, eeh.. malah emaknya yang lebih parah"
"Ya ampun, bu. Sebanyak itu.. apa gak kerasa selama ini?"
"Yaa.. kerasa sih sebenarnya. Tapi namanya emak-emak yak. pasti ditahan."

Saya geleng-geleng kepala mendengarnya. Belum habis takjub, dan tertarik dengan caranya bercerita dengan enteng, yang tidak dibuat-dibuat. Tidak berusaha menyembunyikan sedih, tidak juga terlalu menunjukkan kesengsaraan. Biasa saja.

Ibu itu mengajarkan saya untuk biasa saja dalam merasakan sesuatu. Tidak perlu terlalu diambil pusing, katanya begitu. Toh we don't promise tomorrow. 

"Kita hidup kan untuk hari ini. Besok belum tentu bakal bangun, ya kan? Makanya gua sih pengen enjoy aja dah. Emang sih, makanan banyak pantangan, kata dokter gak boleh ini dan itu. Tapi kalau lagi pengen makan banget, the heck with it. I'll eat anyway."

***

Kereta sudah tigaperempatan jalan. Si Ibu masih terus bercerita tentang segala yang disenanginya. Tentang teman-teman SMA nya, sahabat semasa kuliah, termasuk sahabat yang akan ditemui di Jogja dalam kunjungan kali ini.

"Saya juga pernah di tembak sama sahabat saya sendiri. Dia mau berangkat ke Los Angeles waktu dia meminta saya tuk jadi istrinya. Asalkan saya mau menunggu, begitu katanya. Dua tahun bukan waktu yang lama, dong. Jadi saya tolak. Bukan juga karena saya tidak mau menunggu, tapi itu.. awkward! He's my best friend, anyway" tuturnya selepas kita meninggalkan Stasiun Kroya.

Saya membelalak kaget.. menikah dengan orang yang salah lalu bercerai, membesarkan anak sendirian, ditaksir oleh sahabat sendiri.. what a... 

"Coincidence? I guess not" kata Si Ibu setelah saya mengungkapkan saya mungkin pernah punya pengalaman yang sama. "Ya mungkin ini lah makanya kita dipertemukan. Kita butuh satu sama lain, untuk saling mengingatkan. Tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Semua ada karena pertolongan Allah, dan terjadi atas izin Allah." Ibu itu tersenyum bijak, mengambil botol minum berwarna ungu dan menenggak habis seluruh isinya.

Saya menghela napas dalam. Betul. Tidak ada yang kebetulan. Tiba-tiba saya ingat, sebelum memulai perjalanan ini, saya berdoa. Memohon pada Sang Kuasa, untuk diberi kekuatan. Karena saya tahu, perjalanan ini akan sangat panjang dan melelahkan. Saya tidak ingin jatuh sakit ditengah-tengah. Dan saya memohon juga, agar perjalanan ini tidak berujung sia-sia. Harus ada pelajaran yang bisa saya ambil, entah darimanapun datangnya. Saya memohon kepada Tuhan, agar diberi kecerdasan nalar, dalam menerjemahkan kode-kode semesta yang mungkin akan datang di sepanjang jalan. Karena seringkali itulah yang terjadi dalam setiap perjalanan. Jauh maupun dekat.

"But I still believe in true love, dek" Ibu itu membuyarkan lamunan saya yang sedang menatap bentangan sawah di luar jendela. "saya yakin, suatu saat nanti pasti ada, orang yang tepat untuk saya. Yang bisa membuat bahagia, dan menerima kondisi saya apa adanya. Saya yakin itu. Karena semua yang terjadi dalam hidup ini, adalah bagaimana kita meyakini sesuatu. Jika keyakinan itu selalu positif, maka hal-hal baik akan datang dalam hidup kita, bagaimanapun caranya"

"Yeah, universe works in mysterious ways, don't you think?" Saya menanggapinya. Si Ibu tersenyum.

"Asal kita tidak sibuk mendikte Tuhan. Terlalu menginginkan sesuatu atau seseorang sebegitu dalam, sampai-sampai lupa bahwa Tuhan jauh lebih tahu yang terbaik dari kita. Bisa saja kita diberi lebih dari yang kita inginkan itu."

Sampai disitu, saya mendadak lemas. Tertohok dengan kalimat Si Ibu barusan. Mendikte Tuhan.. 

Jangan-jangan selama ini.. ketika kita sibuk memimpikan seseorang, ketika kita sibuk berdoa, dan doa kita ditujukan untuk seseorang, jangan-jangan itulah saat dimana kita sedang mendikte Tuhan.. Astaghfirullah al adzim.. 

***

Setiba di Stasiun Tugu, saya dan Si Ibu bersamaan mencari toilet dan mushola. Tingkah kami sudah seperti dua perempuan yang bepergian bersama. "Kita kayak lagi jalan bareng, yak" cetus Si Ibu jenaka. Kami tertawa.

Kami berpisah tepat di pintu keluar stasiun. Sambil tersenyum, saling mengakui bahwa kita tidak tahu nama masing-masing. Bersalaman, berpelukan, barulah bertukar nama. Nice to meet you, Bu Maya, sahut saya sebelum berlalu. Beliau melambaikan tangan dan bergumam kalimat yang sama.

***

Dari Yogyakarta ke Pacitan saya masih harus menempuh perjalanan selama tiga jam berkendara (which turns out to be five hours, due to the traffic and stuff), perjalanan yang tadinya saya niatkan untuk driving solo, dengan menyewa mobil dari Yogya namun batal karena saya sadar keputusan itu terlalu impulsive untuk dilakukan.

Nyaris tengah malam saat saya sampai di penginapan pinggir pantai yang saya book secara online. Saya disambut oleh pemilik penginapan, seorang wanita berkebangsaan Prancis, yang sudah lumayan lancar berbahasa Indonesia. Dia menjelaskan secara singkat tentang tata cara penggunaan kamar mandi, dapur dan kamar (tentu saja, karena saya ditempatkan di tengah taman, di sebuah bungalow tanpa dinding yang hanya ditutupi kain tebal dan tirai bambu). Meskipun kaget dengan suasananya, antusiasme saya tidak terbendung demi mendapati suara debur ombak dan taburan bintang jelas dan nyata sekali menyambut, dan menyertai sepanjang malam.

God knows what's best for us. Dan saat itu, sepanjang malam, tidak berhenti saya bersyukur. Membayangkan besok pagi, bisa bangun dan lari ke pantai, tanpa perlu pakai make up, apalagi sepatu bersih. Hanya sendal jepit, celana jeans, dan senyum yang manis.

***

"So... tell us how was the wedding?"

Allice, bule Prancis pemilik penginapan, menyambut begitu saya memasuki gerbang berpasir putih. Matahari sudah menggantung tepat di atas kepala, pukul dua belas dan saya baru kembali ke penginapan. Gubuk - sebut saja begitu - saya masih berantakan, dan sudah saatnya saya check out. Allice menagih cerita karena kami telah saling berjanji. Sebabnya, pagi sebelum berangkat saya sempat panik karena tidak bisa mengakses aplikasi transport online. Akad nikah berlangsung jam delapan, dan jam delapan kurang lima belas saya masih berdiri di rooftop mencari sinyal dan mencari bantuan. Saat saya memutuskan untuk menyewa motor dari penginapan, Allice menawarkan diri tuk mengantar saya pergi. "But after that, you should have a coffee with us" katanya. Saya mengangguk cepat, "sure! with pleasure!". Dan disitulah saya merasakan tuk pertama kali, kondangan dibonceng motor sama bule melewati pematang sawah dan debur debur ombak. Haha.

"Well, I'll tell you everything, but I have to change, first" saya melambai sambil masuk ke cottage kamar gubuk.
"Don't you wanna join us for lunch?"
"Thanks. But I've got plenty of food from the wedding. haha"

Mereka bersiap makan siang, di meja kayu panjang dapur-yang juga open air (semua yang ada disini, termasuk kamar saya dan kamar mandi, dikonsep dengan ruang terbuka).

Setengah jam saya habiskan untuk berganti pakaian, berkemas, dan membersihkan semua sisa selama saya tinggal, sebelum bergabung dengan mereka yang masih bercengkrama di meja makan.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sederhana, seperti; siapa yang menikah, mengapa sejauh ini datang hanya untuk pesta yang cuma sebentar dan langsung pulang dengan penerbangan terakhir, bagaimana kehidupan pertemanan setelah menikah (di Indonesia pada umumnya), yang kemudian bergulir menjadi obrolan seputar society vs community di Prancis, dan pemilahan sampah plastik di Itali.

Stephano, laki-laki berusia 36 tahun asal Itali, bercerita tentang perjalanannya bermotor dari Jakarta menuju Pacitan. Dengan bangga dia menunjuk motor biru ber plat B yang terparkir gagah di bawah atap bambu. Saya mendengarkan antusias, dan menghabiskan sisa dua jam menunggu mobil jemputan mendengar kisah perjalanannya selama lima bulan terakhir.

"But in three days, I have to go back to Italy. I have a job waiting for me, you know" ujarnya sambil tersenyum agak sinis,
"It doesn't sound happy, does it?" Saya bertanya sambil mengangkat alis,
"Yeahh..." dia mengangkat bahu "I don't know.. same shit everyday, waiting, serving, and smiling.. Oh I'm a barista for a coffee shop. We make a greatest coffee in town"
"Whoa, really? I love coffee. I read that a lot, the greatness of Italian coffee.. so you're an expert!" dia tertawa ketika saya menyebutnya demikian.

Lalu dia bercerita tentang kampung halamannya, Florence, sebuah kota tua di Itali. Terkenal karena keindahannya, yang juga membuatnya menjadi pusat wisata terindah di sana.

"But it's too crowded now. The road is busy. But not with the traffic. You can barely walk on the side street, because it's loaded with people"
"Well.. As busy as it may sounds, Jakarta seems to have a pretty similar problem. But not with the pedestrian, of course. It's empty all the time" kita tertawa bersama. Dia setuju dengan macetnya Ibu Kota Jakarta.

"I took two hours by motorbike for only thirty kilometers. that's crazy" Ujarnya sambil geleng-geleng kepala.

Kami menghabiskan kopi sambil terus bercengkrama dan menertawakan banyak hal. Mulai dari semesta yang tidak mengijinkannya pulang (karena ombak sempat menggulungnya saat surfing, which makes him half deaf dan bisa bahaya kalau dibawa naik pesawat), traumanya terhadap penerbangan karena pernah terkena badai selama dua jam terombang ambing saat terbang menuju German, sampai gerombolan turis Korea di Angkor Wat yang selalu menghalangi jalan.

Sampai mobil saya menjemput, saya sudah menghabiskan waktu berbincang bergantian dengannya, dan pengunjung lain dari Prancis dan Jakarta. Mereka semua adalah orang-orang yang memutuskan untuk pensiun dini, mengejar kebahagiaan dengan hidup sederhana, berleha-leha, sambil sesekali mengambil pekerjaan lepas (kecuali Stephano).

Saya tidak ambil pusing dengan topik yang diangkat, ketika mereka merutuki kehidupan kota yang penuh rutinitas, formalitas, dan kebisingan tak berkesudahan. Pun tidak tergiur untuk turut hidup seperti mereka, yang bisa bertualang, dan bebas tanpa ada ikatan.

Toh setiap orang punya jalan dan caranya masing-masing untuk bahagia. Tidak perlu sibuk mendefinisikan bahagia, dari kamus kita yang kosa katanya pun masih terbatas.

Ketika mobil menjemput, mereka berkumpul dan menyiapkan segala sesuatu. Membuka pagar, membawakan tas, dan melambai ramah, melepas kepulangan seorang tamu asing, berjilbab dan datang sendirian, hanya untuk mendengar seuntai kalimat yang menggetarkan Arsy. 

Berpisah dengan orang asing, akan selalu jauh lebih mudah ketimbang berpisah dengan kawan lama. Mereka membawa sedikit bagian dari cerita kita, dan kita pun membawa sedikit bagian dari cerita mereka. Masing-masing mungkin mengambil sedikit pelajaran dari kisah masing-masing, baik yang terucap, maupun yang tersirat. Mereka berdiri di gerbang, sampai mobil saya hilang dari pandangan.

***

Perjalanan kembali ke Yogya ditempuh dengan waktu lebih singkat. Saya berhasil tiba tepat waktu dan terbang dengan selamat.

Sama seperti saat pertama tiba di Pacitan, saya pun baru menginjakkan kaki kembali di rumah jelang tengah malam.

And even though the house was empty, I realised that this is the life I'm doing right now, it may not be forever. But even if it does, as the Woman in the Train said;

'Being alone is a powerful thing to do. It's not pathetic. Instead, we could have so many people who care about us. Until the right one arrived, be content with your self first."

***

People are changing everyday. Every one of us have had some past we need to bury deep. It doesn't matter who we were, as long as we're open to every opportunity. As for me, it's every trip that changed me. A realisation of being a grown up, being a responsible daughter, and having my life together, comes within an unexpected conversation and unplanned decision. 

If you believe in fate, then you'll believe there is no coincidence. All set and written by the Perfect Scenario of all. People are crossing your path to deliver some messages you won't read out loud (even if you want it too). It's the deep understanding that you could only use to your self, on why certain things goes as it is. 

Accepting the fact that being alone is a powerful thing to do, then I believe that we are never be lonely. And if all people are alone, then let's just sink it in, that we're all alone together. 



Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …